Telembuk: Kekacauan Kampung Cikedung dan Visi-Misi Kedung

in Rehal by

Judul               : Telembuk

Penulis                        : Kedung Darma Romansha

Cetakan           : I, Mei 2017

Penerbit          : Indie Book Corner

Tebal               : xiv + 414 halaman

ISBN               : 978-602-3092-65-9

Kampung dan kota, jikalau kita melihat dari sudut pandang oposisi biner, tentu merupakan dua hal yang kentara berlawanan. Tetapi bagaimana jika seandainya dalam kenyataan, kita hanya menemukan kampung tanpa keberadaan kota, atau sebaliknya?

Membincang novel Telembuk karya Kedung Darma Romansha, sedikit tidak kita akan dipaksa bersinggungan dengan dua setting yang secara hakiki berpasangan dan saling melengkapi tersebut. Sutan Takdir Alisjahbana, lewat sudut pandang masing-masing puisi hasil karya-cipta masyarakat lama dan masyarakat baru (modern), menarik ke belakang penjelasannya hingga sampai pada penjabaran karakteristik kedua situasi dan kondisi masyarakat (lama dan modern). Setting kota sebagai tempat berjubelnya masyarakat penghalal terjangan gelombang besar bernama modernisme yang memupuk jiwa-jiwa resah, pencari, dan para pesaing “kelas kakap” pada akhirnya menumbuhkan manusia-manusia yang individualis dan penumpuk materi tanpa henti. Sementara di satu sisi lagi, masyarakat kampung yang menonjolkan ciri-ciri pemertahanan nilai-nilai lama turunan nenek moyang yang dianggap adiluhung, berjiwa lebih kolektif (lazimnya karena alasan satu nasab), dan semacamnya. Dalam pandangan orang kota, mereka adalah orang-orang yang—untuk tidak mengatakan mutlak—cenderung kolot, terbelakang, dan pastinya kurang update style kids zaman now. Namun pada perjalanan selanjutnya, terjadilah ketegangan ketika wilayah-wilayah bernama kampung ini sedikit-demi sedikit dimasuki oleh “misionaris” dari modernisme seperti radio, dan terutama televisi. Alhasil, lamat-lamat terjadilah imitasi perilaku yang kurang ditahutempatkan, bahkan tidak terkendalikan dalam masyarakat kampung. Paling tidak, inilah posisi nahas dari kampung bernama Cikedung dalam novel Telembuk.

Tidak dapat kita sangkal, kampung mengandung nilai-nilai adiluhung yang mulai terkesampingkan, misalnya nilai kolektivitas berupa sikap kepedulian atau saling menguatkan tatkala ada permasalahan yang menimpa salah seorang di antaranya, lantas dikuatkan, malah berubah menjadi hobi kasak-kusuk yang menusuk-nusuk hati. Meskipun, di satu sisi, kasak-kusuk mungkin dapat dimaklumi sebagai pengejawantahan sebuah hukuman terhadap laku buruk seseorang yang telah dilakukannya. Tetapi, lebih jauh ia berdampak pada keretakan-keretakan hubungan sosial masyarakat.

Masalah-masalah semacam itu, yang mulai digambarkan dalam novel Kelir Slindet (pendahulu dari Telembuk), tidak kepalang berdampak hebat pada perjalanan-perjalanan awal dari Safitri, salah seorang tokoh sentral di dalam Telembuk: ia menjalin kasih dengan Mukimin (anak Kaji Nasir, keluarga terpandang di Cikedung), lantas menjadi kasak-kusuk di masyarakat, lebih-lebih setelah nahas menimpanya, ia diperkosa, hamil, terjadi tuduh-menuduh antara keluarganya dengan keluarga Kaji Nasir, dan makin panaslah kasak-kusuk tentang dirinya yang berpuncak pada keputusan minggat dari kampung. Dari kasus Safitri tersebut, saya melihat, lewat Telembuk Kedung berusaha menuntut secara tidak langsung masyarakat kampung tetap memegang nilai-nilai adiluhung, namun bukan berarti tidak menyerap sikap-sikap masyarakat kota di lingkup yang lebih intim: tidak kelewat ingin tahu dan mengurusi privasi orang lain, atau sikap semacam berpikiran maju sambil melakukan “reboisasi” pada pohon-pohon nilai dalam diri yang perlahan mulai tumbang satu demi satu.

Kondisi kontradiktif semacam rutinitas pertelembukan plus “fardu” minum-minum dengan keberadaan pesantren, kumandang azan dan pelaksanaan pengajian dengan tanggapan tarling secara bersamaan, atau penyelenggaraan ceramah yang kalah telak oleh rutinitas mengumpat di suatu tempat bernama Cikedung, Indramayu yang dirujuk dalam Telembuk, sebenarnya tidak menutup pembukaan ruang-ruang tafsir baru yang menjangkau kondisi suatu tempat dalam skala lebih luas atau sepadan. Katakanlah Indonesia dengan mayoritas penduduk muslim, tetapi karakter manusianya tidak bisa dijamin “halal” dipakai, atau konflik-konflik di dalamnya yang kian hari kian meruncing. Dalam hal ini, saya pun berhak untuk teringat tanah kelahiran saya: Negeri Seribu Masjid, simbol tonggak-tonggak agama cinta kasih, akan tetapi sangat sering terpantik konflik oleh senggolan sepele yang berakibat pada kobar keributan dan berujung dengan, “Bacok!”

Tidak sampai di situ, di dalam Telembuk ada juga kelompok “berlabel” pendakwah yang sibuk dengan majelis sendiri dan cenderung membiarkan kesemrawutan di satu sisi terus berjalan, semacam tindakan mengeliminasi diri dan tidak acuh pada kondisi. Alhasil, yang terjadi adalah kondisi sebagaimana kicauan akun Instagram NU Garis Lucu, “Kesenjangan sosial tidak hanya terjadi antara si kaya dengan si miskin, tapi juga antara si awam dengan (yang merasa diri mereka) si alim”, dua elemen yang harusnya saling melengkapi satu sama lain.

Barangkali, Telembuk dapat dikategorikan sebagai novel yang tidak layak dibaca tergesa-gesa, Anda mesti menikmatinya sebagaimana menyeruput kopi pagi. Di dalamnya penuh kode-kode yang harus disatukan, dan merupakan kunci pembuka “gerbang misteri berupa terali besi”: kita bisa melihat dan membaca konflik-konflik dalam alur, tetapi tidak pernah benar-benar bisa masuk, apalagi sampai menyentuh kepastian kausalitas konflik. Sebagai contoh, yang menggiring kita dari awal (Kelir Slindet) sampai pada ujung cerita (Telembuk) sebenarnya adalah dua hal sederhana: pertanyaan pergi ke mana dan bagaimana kondisi Safitri? Lalu, siapa pula pemerkosa yang sesungguhnya?

Kode-kode yang diberikan Kedung berupa kesaksian seorang Didi yang hanya sampai pada permukaan, sempat terjadi maraknya kasus pemerkosaan, gelagat-gelagat aneh dan mencurigakan tokoh-tokoh lain (Sondak, Kuwu Darmawan, Ustad Mustafa), ataupun ingatan Safitri tentang proses penindihan dirinya di sebuah kamar yang selanjutnya telah terbangun di bawah sebatang pohon pisang, namun pada akhirnya tetap tidak tersentuh kepastian sampai akhir cerita lantaran trauma berat yang dialaminya. Kedung menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada pembaca (lihat Bab 29, Bagian II: Sepenggal Kabar dari Kota Mangga, hlm. 408-410).

Dibanding dengan pendahulunya, Kelir Slindet, di dalam Telembuk Kedung menaburkan lebih banyak bumbu cerita, katakanlah sepintas tentang pemberontakan DI/TII, riwayat Kampung Amis, KRISMON ‘98, PETRUS, ramalan Rota Kembang, dan beberapa lainnya di samping politik kampung. Akan tetapi, yang cukup mencolok adalah penggunaan konsep polifonik dari Dialogisme Bakhtin yang memungkinkan kita selaku pembaca tidak hanya melihat sebuah realitas tunggal yang dihadirkan oleh pencerita, namun banyak realitas yang dimunculkan oleh masing-masing tokoh. Para tokoh pun bebas bersuara, dalam arti mereka mampu berdiri di samping, mampu tidak sependapat, atau bahkan memprotes dan memberontak kepada Si Pencerita (lihat Bab 38, Bagian I: Kisah yang Tak Selesai, hlm. 196 dan Bab 22, Bagian II: Sepenggal Kabar dari Kota Mangga, hlm. 370).

***

Jika melihat latar belakang seorang Kedung sebagai sastrawan-santri, barangkali dengan cukup mudah akan kita temukan visi-misinya sebagai penulis Telembuk, baik dalam bentuk isi-isi percakapan dengan Mukimin (hlm. 271-278), lewat tokoh Aan (Si Pencerita) pada beberapa bagian, maupun bab-bab terakhir dari novel ini, meskipun ada strategi nyeleneh penyangkalan lewat Dialogisme Bakhtin di tengah-tengah percakapan dan protes tokoh kepada Si Pencerita: tiba-tiba muncul seorang penyair tengil bernama Kedung, hanya sepintas, lalu menghilang (lihat Bab 22, Bagian II: Sepenggal Kabar dari Kota Mangga, hlm. 375). Pada intinya, bagaimanapun kacaunya kondisi yang digambarkan di dalam Telembuk karya Kedung Darma Romansha ini, sangat perlu kita menggarisbawahi beberapa kalimat akhir dalam penutupnya: sebagaimana Cikedung dengan segala cerita-ceritanya, pun novel Telembuk ini, setidaknya segala kisah di dalamnya dapat menjadi guru dan cermin bagi penulisnya, pembacanya, dan bagi kita semua.

IR Rabbani

IR Rabbani

Aktif menulis di kelompok belajar sastra Jejak Imaji, juga sebagai ketua Forum Apresiasi Sastra (FAS) UAD dan “mahasantri” Ngaji Filsafat di Masjid Jendral Sudirman (MJS) Yogyakarta.
IR Rabbani