Tentang Kita yang Gampang Terkesima

in Esai by
sothebys.com

Gampang sekali kita terkagum-kagum dan terkesima. Bagaikan remaja yang sedang jatuh cinta, kita yang dulu garang dan ganas tiba-tiba bisa mendadak melo, romantis, teduh, dan sendu. Tak peduli apakah pacar pernah menyakiti, menyelingkuhi, bahkan meninggalkan kita. Ya, bersebab itu, kita memang akan geram, garang, lalu mendadak antisosial. Kita akan mengurung diri di kotak kecil. Tetapi, ini hanya sementara. Benar-benar sementara. Sebab, selekasnya, manakala sang pacar membawakan bunga mawar, kita akan kembali pada kebiasaan lama.

Sang pacar yang kemarin kita kutuk sebagai pecundang akan berubah dalam sekejap menjadi pahlawan. Bunga mawar di tangannya tiba-tiba menjadi mahkota. Bunga mawar itu secara menakjubkan berubah bukan menjadi bunga mawar lagi. Karena itulah, bagi saya, agaknya William Shakespeare keliru ketika mengatakan bahwa nama tak berarti apa-apa. Bahwa mawar akan tetap mawar ketika kita menamainya anggrek. Bahwa mawar akan tetap berduri meski namanya ditukar menjadi kamboja. Betulkah?

Tidak! Mawar bisa menjadi mahkota, bisa juga menjadi selokan. Artinya, mawar tak selamanya akan menjadi mawar. Bagi kita yang baru diputuskan, terutama ketika masih cinta pada sang mantan, siapa pun yang membawakan bunga mawar, hati kita akan tetap pekat. Mawar itu akan terbuang ke selokan. Sebaliknya, ketika sang mantan kembali dengan mawar di tangannya, entah itu layu atau segar, kita akan terkagum-kagum. Kita akan menangis terharu. Sang mantan, yang membuat kita tersiksa, terkurung, bahkan terkubur dalam kesedihan, sekejap akan dipandang menjadi pahlawan sejagat. Kita akan lupa pada alam siksa yang telah kita lalui bermuram-muram durja.

Sinonim dan Tahapan

Nah, demikianlah kiranya penjelasan paling mutakhir untuk menarasikan bangsa ini. Sebagai contoh, beberapa dari kita, misalnya, sempat menuduh Jokowi sebagai begundal, pengkhianat, dan pecundang hanya karena tak menemui demonstran. Tetapi, tak lama berselang, hanya karena membawa payung biru melewati gerimis, Jokowi menjadi pahlawan. Dia dielu-elukan. Tak banyak lagi orang yang mengeluhkannya. Karena itu, jika menjelang demonstrasi 411 Jokowi mengurungkan niat pergi ke luar negeri, maka selekas 212, Jokowi sudah leluasa ke luar negeri. Dia mengunjungi Iran, negara muslim syiah itu dengan bebas.

Jokowi selamat dari “pecundangnya” hanya karena payung birunya. Payung itu berubah menjadi mawar meski tak ada duri, daun, apalagi bunganya. Tidak hanya pada Jokowi. Kita pun dulu pernah terkagum-kagum pada seorang polisi karena berhasil menumpas teroris di Gedung Sarinah. Seketika, wajah gantengnya menghiasi dinding media sosial kita. Pakaiannya bahkan laris manis. Polisi itu menjadi superhero. Dia menjadi pacar idaman. Hanya karena dia, pamor polisi lalu naik setinggi-tingginya. Kita mendadak terkesima hingga polisi bukan lagi buaya. Ya, kita adalah bangsa yang dikaruniai bakat untuk mudah terkesima.

Tetapi, selain mudah terkesima, kita juga rupanya gampang menghina dan mencaci maki. Sumpah dan serapah seakan setarikan napas dengan puji dan puja, bahkan seakan sinonim. Kita, misalnya, begitu simpatik pada perilaku demonstrasi Ahok yang pertama sekali dilakukan sebelum 411. Masyarakat dengan jumlah ribuan berkumpul dan rela berpanas-panasan. Oh, entah siapa gerangan yang mengumpulkan itu. Kita tak tahu, lalu kita kagum. Namun, hanya karena rumput terinjak-injak, simpati lalu bertukar tempat menjadi antipati. Demonstran berubah predikatnya menjadi begundal bayaran.

Kita tak lagi memuja, tapi menghina dengan sedemikian gesitnya. Inilah yang menurut saya membuat pemahaman bahwa menghina dan memuja bukanlah hal yang berlawanan. Justru, itu seumpama siklus, juga tahapan. Siapa yang dipuji, kelak juga akan dihina. Siapa yang dihina, kelak akan dipuji. Ini hanya siklus. Ini hanya tahapan demi tahapan. Ini hanya menunggu giliran. Gampang sekali melihat ini. Tolehlah pada demokrasi periodik kita. Ada banyak waktu yang kita habiskan untuk menghina para pejabat yang terpilih. Agak jarang kita mendukung. Bagi kita, pejabat terpilih itu ibarat binatang busuk.

Lalu, kita muak, kita alergi. Setiap mereka berkata dan bertitah, bagi kita itu ibarat radio rusak-rusak: diabaikan saja. Kita mendadak amnesia bahwa sebelumnya kitalah yang memuja-muja mereka. Kitalah yang menempatkan mereka pada singgasananya yang megah itu. Bahkan, nanti, setelah musim pemilu tiba, manakala pejabat-pejabat terpilih itu datang dan berencana memperpanjang jabatan lagi, kita yang dulu menghina-hina akan balik memuja-muja. Mereka langsung menjadi pahlawan. Mereka langsung menjadi raja. Setiap kata-kata yang berasal dari mereka menjadi janji dan sabda.

Apalah Artinya

Mereka menjadi pemberani sejagat jika berlebihan disebut sebagai malaikat, apalagi Tuhan. Kita tak pernah berhasil mengambil hikmah bahwa betapa selama ini, mereka yang berjanji, mereka pula yang mengkhianati. Mereka yang jaya, kita yang terpuruk. Persis seperti tulisan William Shakespeare dalam As You Like It: “Dia menulis ungkapan berani, bicara dengan kata-kata berani, bersumpah dengan sumpah berani, dan melanggarnya dengan berani.” Kita tak peduli pada masa lalu tentang bagaimana mereka mengingkari janji. Kita lebih-lebih tak peduli pada masa depan tentang bagaimana mereka hanya begundal-begundal panggung.

Bagi kita, janji itu hanya pelunak hati. Kita sudah puas ketika mereka mendatangi desa kita. Lalu, mereka berjanji mengaspal jalan, menata taman, membangun posyandu, mendirikan musala, hingga memudahkan pembangunan gereja. Namun saat terpilih, semua janji itu melayang. Pemberi janjinya lupa, bahkan untuk sekadar berkunjung menyapa. Saat itulah kita akan kembali menghina. Itulah siklusnya. Kita terkesima untuk kelak menghina. Kita menghina untuk kelak memuja. Barangkali, inilah maksud nasihat leluhur kita bahwa roda berputar.

Bedanya, jika maksud leluhur agar kita sabar, bagi kita, artinya itu adalah agar kita tak usah peduli. Maka, berlontaranlah kata-kata caci maki tanpa saringan, berhamburanlah teriakan-teriakan menghujat. Norma dan agama lantas tenggelam, bahkan menjadi fosil. Gunanya sudah tinggal referensi. Kadang akan ditarik-tarik menjadi alat untuk membenarkan hujatan dan makian, kadang pula untuk sebaliknya. Siapa peduli? Roda, toh, akan berputar. Di mana Tuhan dan nurani? Ah, itu jangan ditanya lagi! Tuhan, seperti kata Nietzsche sudah mati, apalagi nurani.

Karena itu, sangat mungkin, di alam baka sana, Voltaire meringis lantaran Tuhan sudah wafat. Soal agama, Voltaire tak peduli. Voltaire adalah orang yang menghikmati bahwa agama hanyalah alat untuk membunuh. Hanya saja, satu-satunya yang barangkali tak terpikirkan Voltaire adalah bahwa agama tidak hanya membunuh manusia. Lebih tragis, agama ternyata bisa digunakan untuk membunuh “Tuhan”. Oh, sangat mengerikan. Tetapi, apalah arti mengerikan bagi orang yang sudah latah membunuh, bahkan meraup kekaguman dari ulah membunuh itu sendiri. Sebab, bagi mereka, kalau bisa membuat terkesima, membunuh pun menjadi pilihan, termasuk bunuh diri! Bagi mereka, kekacauan menjadi jalan untuk merebut kekaguman.

Riduan Situmorang

Riduan Situmorang

Pegiat Literasi, Aktif di Pusat Latihan Opera Batak Medan, serta Konsultan Bahasa di Prosus Inten Medan.
Riduan Situmorang

Latest posts by Riduan Situmorang (see all)

  • Nata Timothy

    Kita terkesima untuk kelak menghina. Kita menghina untuk kelak memuja.

  • feny nida

    Keren tulisannya kak 🙂

    • Riduan Pebriadi Situmorang

      Wah terima kasih…

  • Yudik Wergiyanto

    Kita memang sering sekali mudah terkesima. Keren!!!