Tentang Pemilik Mata yang Begitu Indah dan Mereka yang Memelihara Ular dalam Mulutnya

in Cerita Pendek by
pinterest.com

“Warga desa kami akan menjadi orang-orang yang tersohor, orang-orang yang pandai mengambil hati, dan tentu mahir bersilat lidah. Kelak mereka akan menjadi pemimpin-pemimpin yang tak terkalahkan. Bahkan mereka mampu menjatuhkan semua lawan yang menghadang hanya dengan sedikit ucapan. Warga desa kami sangat pandai berdusta. Kata-kata yang keluar dari mulut warga desa kami sangat berbahaya. Dan itulah senjata ampuh yang diajarkan secara turun-temurun oleh nenek moyang kami.”

            “Kami pernah mendengar tentang kehebatan warga dari desamu yang kabarnya memangsa siapa saja yang jadi lawan bicaranya. Tapi kami tak pernah takut dengan siapa pun, kami tak pernah takut dengan lawan yang memiliki kekuatan besar sekali pun, sebab nenek moyang kami mengajarkan kepada kami tentang keberanian hakiki. Dan kami hanya takut kepada Tuhan. Apa kau tahu bagaimana warga desa kami melumpuhkan lawan-lawannya? Warga desa kami adalah orang-orang yang memiliki mata yang indah. Lawan-lawan kami akan terdiam hanya dengan sekali tatapan. Dan mata kami adalah senjata yang paling sempurna. Tapi kami bukan pembunuh. Itulah kenapa nenek moyang kami selalu berpesan agar selalu menjaga mata dari hal-hal yang dapat merusak kekuatannya.”

***

            Seorang lelaki pandai cerita menoleh ke berbagai arah. Komidi putar yang ada di belakangnya sudah berhenti. Suara motor dari dalam tong setan tak lagi berbunyi. Pasar malam sudah sunyi. Satu per satu para pengunjung pergi sebab hari sudah terlalu larut. Lelaki pandai cerita mencoba menutup lapaknya, tapi gadis kecil yang ada di hadapannya belum juga berdiri.

            “Kenapa kau tak melanjutkan ceritamu? Apa yang terjadi dengan kedua ibu yang sedang bertengkar mulut di pasar itu?” tanya gadis kecil kepada lelaki pandai cerita.

            “Sudah sangat larut, pulanglah wahai gadis kecil! Tentu ibumu akan gelisah jika kau belum juga pulang dari pasar malam ini,” balas lelaki pandai cerita.

            “Apa hari ini kau tidak mendapatkan pelanggan?”

            “Begitulah wahai gadis kecil. Sekarang orang-orang sudah tak suka lagi mendengar dongeng. Kata mereka, dongeng hanyalah obat tidur anak-anak zaman dahulu. Alat-alat canggih yang ada di pasar malam ini jauh lebih manjur untuk membuat anak-anak kelelahan, kemudian mereka akan tertidur. Dongeng tak lagi diperlukan untuk menidurkan anak-anak.”

            “Aku ingin mendengar lanjutan ceritamu tadi wahai lelaki pandai cerita!”

            “Akan aku lanjutkan jika kau mau membayar sepuluh ribu saja.”

            “Tentu aku akan membeli ceritamu. Apakah ini dongeng yang membosankan untuk didengar?”

            “Kali ini tidak. Hanya padamu wahai gadis kecil aku bercerita tentang perseteruan warga di dua desa yang menelan banyak korban jiwa. Tentu kau tidak akan bosan mendengar ceritaku ini. Akan kulanjutkan ceritanya. Setelah kedua ibu tadi bertengkar mulut, dan orang-orang di pasar hanya bisa menonton dan tertawa, kedua ibu tadi diam dalam beberapa saat. Namun diam mereka bukanlah diam biasa. Keduanya saling anggar kesaktian. Ibu dari desa yang warganya mampu menjatuhkan semua lawan hanya dengan sedikit ucapan menampakkan senjatanya yang paling ampuh. Dari mulutnya keluar bermacam dusta yang menjelma ular-ular kecil. Ular-ular itu mencoba menelan lawannya. Ibu dari desa yang warganya mampu membuat lawan-lawannya terdiam hanya dengan sekali tatapan juga menampakkan senjatanya yang paling sempurna. Ia menatap lawannya dengan mata yang indah, dengan tatapan yang membuat ular-ular yang keluar dari mulut lawannya tak mampu bergerak. Dan anehnya, setelah mata yang indah itu mengatup, ular-ular yang keluar dari mulut sang lawan menggigit tuannya sendiri hingga mati.”

            “Apa yang terjadi selanjutnya?” tanya gadis kecil kepada lelaki pandai cerita.

            “Mayat sang ibu yang dari mulutnya keluar ular itu dicampakkan ke desanya. Tentu warga desa tidak terima. Mereka berembuk, mencoba mencari solusi bagaimana cara mengalahkan warga yang matanya indah itu.”

            “Cara apa yang mereka lakukan wahai lelaki pandai cerita?”

            “Setahun lebih mereka tidak keluar desa. Dalam kurun waktu itu, mereka membesarkan ular-ular yang ada di dalam mulutnya. Setiap hari mereka memberi makan ular-ular itu dengan makanan yang sehat dan sempurna. Mereka beranggapan bahwa kekalahan yang diderita adalah karena ular yang keluar dari dalam mulut salah satu warganya itu terlalu kecil dan sangat kekurangan gizi. Tapi kematian harus tetap dibayar dengan kematian. Nyawa dibayar nyawa. Mereka menginginkan kematian untuk semua warga desa yang matanya begitu indah.”

            “Makanan apakah yang sehat dan sempurna itu wahai lelaki pandai cerita?”

            “Setiap hari mereka berdusta, menyebarkan fitnah, juga menyulut api permusuhan. Bahkan untuk membesarkan ular-ular itu, mereka rela memangsa sesamanya. Itu demi mendapatkan ular yang paling sakti dan ular yang paling besar.”

            “Apakah mereka berhasil mengalahkan warga desa yang matanya indah itu?”

            “Sebagian dari mereka yang memelihara ular dalam mulutnya datang ke desa lawan. Mereka mengibarkan bendera peperangan. Tapi kejahatan tak akan pernah bisa duduk bersanding dengan kebaikan.”

            “Apa maksud perkataanmu itu wahai lelaki pandai cerita?”

            “Mereka yang memelihara ular dalam mulutnya kalah dalam peperangan. Itu karena hal yang sangat sepele. Mereka lupa membawa penutup mata. Tiap kali mereka mengeluarkan ular dari dalam mulutnya, dengan sigap pula mata yang indah itu melumpuhkan gerak ular mereka. Ternyata ular yang sakti dan besar sekali pun tak mampu menatap mata yang begitu indah.”

            “Sungguh kasihan nasib warga desa yang memelihara ular dalam mulutnya sebab dendam mereka tak terbalaskan,” ujar gadis kecil.

            “Tidak begitu wahai gadis kecil. Beberapa hari setelah kejadian itu, mereka yang memelihara ular dalam mulutnya kembali lagi dengan persiapan yang lebih matang dan dengan ular yang jauh lebih besar dan tentu jauh lebih sakti. Mereka berhasil memangsa warga desa yang matanya indah sampai tak ada yang tersisa. Mereka yang memelihara ular dalam mulutnya berhasil memenangkan peperangan. Setelah itu, mereka kembali ke desanya. Namun hal buruk terjadi di desa itu.”

            “Apa itu wahai lelaki pandai cerita?”

            “Ular-ular itu meminta lebih. Ular-ular itu tidak cukup diberi makan hanya dengan dusta dan fitnah sebab pada hakikatnya ular adalah binatang karnivora. Ular-ular itu ingin memakan daging warga desa yang matanya begitu indah. Mereka yang memelihara ular dalam mulutnya tahu betul kalau warga desa tersebut sudah tak ada lagi yang tersisa, karena dalam peperangan terakhir semua warga desa yang memiliki mata yang indah telah mati. Akhirnya ular-ular itu memangsa tuannya sendiri. Dan pada suatu waktu, ular-ular yang ada di dalam mulut itu membuat perjanjian dengan tuannya sendiri. Pemelihara ular harus menemukan setiap orang yang memiliki mata indah untuk dijadikan makanan. Jika tidak, ular-ular itu akan menelan mereka.”

            “Tentu mereka tak akan menemukan warga yang matanya indah sebab mereka sudah punah. Apakah ular-ular itu menelan habis tuannya?”

            “Tidak. Sebagian dari mereka masih hidup. Mereka itulah yang pandai mengendalikan ular dalam mulutnya. Mereka pergi meninggalkan desanya untuk memulai hidup baru. Tapi tak ada yang tahu ke mana mereka pergi. Kelak mereka akan menjadi orang-orang tersohor, orang-orang yang pandai mengambil hati, mahir bersilat lidah, dan akan menjadi pemimpin-pemimpin yang tak terkalahkan.”

            “Aku suka dengan ceritamu wahai lelaki pandai cerita.”

            Gadis kecil tersenyum. Ia memberikan satu lembar uang sepuluh ribu kepada lelaki pandai cerita. Gadis kecil terlihat gembira.

            Hari sudah begitu larut. Ternyata sudah pukul satu dini hari. Pasar malam sudah sangat sepi. Dari kejauhan terdengar suara perempuan seperti berteriak memanggil-manggil nama seseorang.

            “Maaf lelaki pandai cerita. Aku harus pulang. Lain kali aku akan mendengar cerita-ceritamu yang menarik.”

            “Terima kasih wahai gadis kecil. Senang bisa bertemu denganmu.”

            Ternyata perempuan yang berteriak itu adalah ibu sang gadis kecil. Ia marah-marah sambil menarik tangan anaknya. Perempuan itu berkata kepada anaknya kalau ia sangat khawatir. Gadis kecil menunduk kemudian menatap mata ibunya. Ibunya tersenyum dan menghentikan marahnya sembari membalas tatapan dengan sedikit senyuman. Mereka pulang dan melambaikan tangan kepada lelaki pandai cerita yang matanya begitu indah. Lelaki pandai cerita menyusun lapak miliknya. Ia menggeleng-gelengkan kepala. Jantungnya berdetak tak keruan. Sementara itu, sang ibu dan gadis kecil terlihat begitu gembira sebab ular menjulur keluar dari dalam mulut mereka.

Muhammad Pical Nasution

Muhammad Pical Nasution

Lahir di Medan 3 Januari 1986. Beberapa karya fiksinya pernah dimuat di beberapa koran seperti Analisa, Harian Global, Medan Bisnis, Sumut Pos, Sinar Harapan, Suara Merdeka, Suara Pembaruan, Surabaya Pos, Berita Kota Kendari, Riau Pos, dan Radar Surabaya.
Muhammad Pical Nasution

Leave a Reply

Your email address will not be published.