Tentang Ular-ular dan Tuannya

in Cerita Pendek by

Pertemuan ini sudah disepakati sebelumnya. Sudah kuduga. Dia akan mengenakan gaun merah juga sepatu hitam itu. Aku mendengar suara langkahnya yang mantap. Suara sepatunya membuat hatiku ngilu. Dia melambaikan tangan diiringi senyum semringah. Aku menyambutnya dengan hal yang sama.

Gaun merahnya menyibak sedikit sewaktu dia duduk, tampak sengaja memamerkan pahanya yang putih mulus. Ah, sebulan yang lalu aku menginginkan gaun dan sepatu itu. Yang awalnya kuduga Mas Ryan membelinya untuk kado pernikahan kami. Namun ternyata, sepatu dan gaun itu untuk istri mudanya. Sial. Aku tidak lagi mengerti milik siapa raga dan hati suamiku

Istri tua, yang sebenarnya belum pantas dikatakan tua sebab usianya masih tiga puluh enam tahun itu, menyilakan si istri muda duduk. Kedua tangan mereka saling terpaut, seakan-akan mereka saudara kembar yang baru dipertemukan setelah dipisahkan berulang kali oleh inkarnasi.

Ah, tetapi bayangan ular dari tubuh mereka yang terpantul di dinding mengatakan cerita yang lain. Kau baru saja mendengar suara hati istri tua tadi.

Suasana menjadi kaku. Sejujurnya meraka tidak tahu mengapa harus bertemu. Kata “hai, apa kabar”, “baik”, dan bla bla bla itu hanya sedikit menolong kekakuan mereka. Seminggu ini istri tua tidak ada di rumah, menenangkan diri di tempat yang tak perlu diceritakan. Hari ini dia kembali lagi di rumah yang seolah terbagi dua. Tentu bukan tanpa alasan dia pergi meninggalkan suaminya selama itu. Laki-laki itu sudah berjanji padanya atas nama keadilan. Tapi sebenarnya tak satu pun manusia tahu arti kata itu yang sebenarnya.

Pertemuan ini sudah disepakati sebelumnya. Sudah kuduga. Dia akan mengenakan riasan yang agak menor untuk menutupi keriput-keriput yang mulai bermunculan di wajahnya. Dia juga menggunakan gaun hitam yang longgar untuk membuat ilusi agar tubuh gendutnya tersamarkan.

Haha! Penampilannya yang teramat menyedihkan itulah yang membuatku dengan mudah merebut suaminya. Menjadi istri muda dan tinggal di rumah mewah ini. Dan sebentar lagi, aku akan pastikan, hanya aku, istrinya. Begitulah cerita yang disampaikan bayangan ular di dinding milik si istri muda.

“Bagaimana dengan anak-anak?” tanya istri tua. Istri muda tersenyum. Itik-itik menyebalkan itu sudah merepotkannya seminggu ini. Bagaimana tidak, belum pula siap dia menjadi ibu, sudah harus mengurus tiga anak yang ada saja kenakalannya.

“Baik, mereka masih di sekolah sepertinya, mau minum apa? Mbak baru datang, kan, biar aku saja yang membuatkanmu minum,” jawab istri muda.

“Apa saja, terserah kamu membuatkanku minum apa,” jawab istri tua.

Istri muda pergi ke dapur, dengan perasaan lega. Paling tidak dia terlepas dari ketidaknyamanan bersama istri tua.

Begitu pula dengan istri tua. Sekarang dia menunduk. Kepalanya pening, bagaimana bisa dia akan selamanya tinggal di rumah yang sudah runtuh ini? Dia tahu anak-anaknya tidak baik-baik saja. Dia tahu bagaimana kecewa anak pertamanya dengan kelakuan ayahnya. Dia sendiri lupa bagaimana ini semua terjadi, tiba-tiba saja perempuan itu datang sudah sebagai istri.  Semudah itu?

Di dinding hanya ada bayangan ular milik istri tua. Bayangan ular itu menjulang ke atas, kepalanya lonjong dan menjulurkan lidah. Bayangan mulut ular milik istri tua tidak memiliki taring, tentu tak punya bisa. Tak punya kekuatan untuk mempertahankan diri.

Ketika istri muda itu kembali ke ruangan itu, bayangan ular di dinding pun kembali menjadi dua. Oh, tidak! Bayangan kepala ular istri muda berbentuk mirip segitiga, dengan mulut terbuka, mempelihatkan taring yang penuh bisa. Siap memangsa. Siap membunuh.

Air di gelas itu tidak bergetar sama sekali di tangan istri muda. Dia biasa saja memberikan air teh itu ke istri tua. Jangan dulu kau berpikir minuman itu terdapat racun. Tentu ular berbisa satu ini lebih pandai dan bijak dalam menggunakan racunnya. Membuat segelas minuman tidaklah sebanding dengan apa yang dia rebut dari istri tua.

Mobil hitam terlihat dari jendela. Tuan kedua ular itu datang. Istri muda tersenyum semringah. Hal yang bagus bukan. Cerita selanjutnya sudah bisa tertebak, Suami yang berasa raja itu akan membuka pintu, tersenyum pada istri mudanya, memberikan tasnya kepada istri muda, lalu bertanya, “Masak apa hari ini?”

Ular berbisa itu berdiri dari duduknya, mendekati sang tuan dengan mulut menganga. Sedang ular yang satunya hanya diam saja di tempatnya, menonton kematian tuannya karena terkena bisa.

“Tuhan memang tidak pernah menciptakan laki-laki dengan hati yang waras,” gerutu istri tua.

Si suami itu tidak mendengar ucapan istri tua. Bahkan keberadaan istri tuanya itu saja bagai semut yang diijak dan tidak dipedulikan lagi. Mau mati atau setengah mati. Biarlah. Bukan urusannya. Si suami merangkul pinggang ramping istri muda dan mengecup singkat bibir yang semerah buah ara yang dibelah itu. Lalu mereka menuju ke meja makan.

“Eh, Mbak. Ayo kita makan siang bersama, aku sudah masakan banyak untuk merayakan kedatangan Mbak,” ajak istri muda. Bayangan ular miliknya membuka mulut dan lagi-lagi memamerkan taring berbisanya.

“Oh, tidak usah. Aku tidak lapar. Tadi sebelum ke sini aku sudah makan.” Istri tua tetap duduk di tempatnya. Bayangan ular di dinding miliknya tampak lemas dan tak berdaya.

Ular layu ini pernah pula menyerang tuannya. Penuntutan hak itu sudah pernah dia lakukan. Tetapi dengan sigap tuan itu memegang erat kepala ular itu dengan kedua tangannya. Dia tidak bisa apa-apa.

“Apa yang kau cari? Apa secantik itu dia?” tanya istri tua, yang pada waktu itu masih menjadi istri satu-satunya.

“Kau hanya perempuan yang mengungkit cantikmu terdahulu saja. bagaimana dengan sekarang?” tanya si suami.

“Apa cantik itu penting? Aku sudah bersamamu dan bertahan bahkan sebelum kau menjadi kau yang sekarang! Kau tidak ingat itu?!”

Aku tetap akan menikahinya.”

Tetapi tuan tetaplah tuan. Istri tua tidak bisa keluar. Alasan cinta, anak, dan kehidupannya selanjutnya membuat dia tidak bisa lagi berkutik. Semua itu menumpuk di kepalanya. Dia hanya ibu rumah tangga, hidupnya bergantung pada suaminya, terlebih untuk menyekolahkan ketiga anaknya. Belum lagi pandangan miring di tengah masyarakat soal janda membuat dia belum siap untuk dibebaskan dari ikatan ini. Tetapi di sini pun dia sudah tidak mengerti, sebagai apa dia. Hanya daging hidup yang ikut menumpang.

Istri tua dengan bayangan ular tanpa bisa itu mencoba menguatkan diri. Mendengar tawa dari meja makan yang menyerang jiwanya sampai hancur. Air mata yang sekuat tenaga dia penjara dalam kelopak matanya mendobrak ingin bebas. Dia hanya ular tanpa bisa. Jika dia melarikan diri, kemungkinan terbesar dirinya akan dimangsa. Mati. Tetapi berada di sini dia yakin jiwanya juga akan mati lebih mengenaskan.

“Ibu!” teriak anaknya yang terakhir. Masih kelas dua SD. Dia masuk dan langsung memeluk ibunya yang sudah seminggu ini meninggalkannya. Air mata itu akhirnya bebas juga. Namun, ketika memeluk anaknya, anaknya mengaduh. Istri tua menemukan luka memar di tangan anaknya itu.

“Kenapa tanganmu? Kamu jatuh di sekolah?”

Si anak menggeleng.

“Bertengkar dengan temanmu?”

Sekali lagi gadis kecil itu menggeleng.

“Lalu kenapa?”

“Kemarin aku enggak sengaja menginjak kaki Tante Lusi, terus aku dipukul.”

Dia tidak bisa lagi berpikir. Apa ini yang dikatakan, baik-baik saja? Tidak habis pikir, bagaimana bisa seorang perempuan menyakiti seorang anak? Bukankah perempuan dilahirkan sudah berbekal hati pengasih. Ah, begitu banyak yang harus dia pikirkan. begitu rumit dan riuh berdesakkan di kepalanya. Semua menuntut kebebasan. Setelahnya tidak ada lagi pertanyaan, “kebebasan macam apa?” Dia sudah menemukan jawaban dari pertanyaan terakhir itu: bebas di mana tidak ada lagi pertanyaan tentang hidupnya. Bebas dengan kehidupan baru. Iya, dia ingin hidup yang baru. Lahir baru sebagai manusia.

Tanpa berkata-kata, dia memasukan semua bajunya dan baju anak anaknya ke koper. Menggandeng anaknya dan keluar rumah.

“Ada apa denganmu? Kau mau ke mana?” tanya si suami.

“Aku akan bawa anak-anak pergi!”

“Kau gila!”

“Aku akan jemput Rama dan Hisa di sekolah. Aku akan membawa pergi mereka juga!”

“Hahaha! Jika kau pergi, aku tidak akan memberikan apa pun pada kalian!”

“Itu tidak penting lagi.”

Bayangan ular berbisa si istri muda tersenyum menang. Bayangan ular tak berbisa si istri tua tampak lebih kuat dan besar. Bayangan ular tanpa bisa itu keluar dari sarang mewahnya bersama anaknya. Dia akan membuat sarang sendiri. Walaupun kecil, sederhana, yang penting sarang itu bisa melindungi dirinya sendiri dan anak-anaknya.

Dia sudah tidak terikat apa pun dengan sarang mewah dan penghuni di dalamnya. Ular ini melepaskan diri. Dia sendiri tidak yakin sarang itu masih memiliki dasar yang kuat, dia ikut membangunnya. Mungkin dia pun tidak akan melihat bagaimana tuannya mati tergigit ular berbisa peliharaannya sendiri. Dia tidak peduli. []

 

 

Semarang dan Pemalang, 17 Desember 2017

Zahratul Wahdati dan Ratna Purnamasari

Dua perempuan yang bertemu di UKM KIAS (Kajian Ilmu Apresiasi Sastra) Universitas PGRI Semarang.

Latest posts by Zahratul Wahdati dan Ratna Purnamasari (see all)