Tere Liye yang “Segala Warna”

in Esai by
Tere Liye yang “Segala Warna”
Sumber gambar: pinimg.com

Dunia literasi menuntut pegiatnya selalu kreatif. Ya, kita tahu banget itu. Tetapi, mengapa kita tak bisa selalu kreatif, ya?

Melihat deretan buku di rak toko, mestinya sudah lebih dari cukup mendorong para penulis muda seperti saya untuk (segera) bisa beradaptasi secara kreatif. Pikir punya pikir, saya akhirnya menyadari bahwa fakirnya kreativitas kita disebabkan kita kurang piknik!

Mari tanya Tere Liye, kenapa para penulis perlu piknik? Jawabnya akan sangat simpel: dengan piknik, pikiran menjadi segar, pengetahuan bertambah luas, dan dengan sendirinya kreativitas akan selalu berkembang.

Setelah membaca novel-novel Tere Liye, saya kian yakin bahwa beliau ini hobi piknik. Tanpa piknik, nama beliau tidak mungkin sebesar kini. Agak sok tahu memang, tapi sudahlah jangan didebat. Apa belum capek juga berdebat-debat setiap saat tentang segala hal, yang sebagiannya jelas hanya membuatmu terlihat sangat lucu? Ups….

Boleh jadi Tere Liye bisa berpiknik di banyak “lokasi” sekaligus dalam sehari. Ini bukan lelucon. Lihat saja semua novelnya. Hampir tiap genre dijajal, tho?

Negeri Para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk, misal. Dwilogi yang agak berat. Ada Thomas yang gigih dan Tuan Shinpei yang penuh misteri. Mengambil tema action, politik, ekonomi, teori konspirasi. Kalau dibaca sambil main Angry Bird, pasti tidak pas sejodoh teh panas dan pisang goreng.

Lalu coba bandingkan dengan Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin; sebuah novel yang pas buat dedek-dedek gemes. Lain lagi dengan Rembulan Tenggelam di Wajahmu, yang cocok buat mereka yang suram butuh pencerahan. Dan, ketika kita membuka serial Bumi, deg! Sontak kita dikelebatkan jadi manusia super!

Luar biasa jelajah piknik Tere Liye!

Saya sering mendengar banyak penulis berkata: saya pengen jadi penulis dengan genre anu. Ya, ya, ya, itu tak salah, monggo, semua bebas memilih jalannya. Lagian, bila di toko buku cuma ada satu genre, niscaya bakal sepi, paling banter hanya diisi pengunjung yang menggilai genre tersebut. Maka dari itu memang dibutuhkan keragaman genre untuk meramaikan industri perbukuan agar semua pembaca dapat jatah adil sesuai minat.

Belum lagi kuatnya kenyataan bahwa pasar buku selalu berubah dari waktu ke waktu, berdinamika, bermusim-musiman. Habis boom genre K-Pop, geser ke genre J-Pop, lalu berubah ke genre horor, lantas ganti genre komedi, dan seterusnya, dan sebagainya. Sebuah dinamika hukum pasar yang niscaya meresahkan bagi sebagian fanatikan genre, tetapi biasa saja bagi sebagian lainnya yang bisa keluar masuk ke berbagai genre sekaligus, kayak Tere Liye.

Itulah sebabnya bagi Tere Liye soal genre adalah soal kecil belaka. Soal icik-icik! Dan plis jangan nyinyir, ya, beliau menulis banyak genre pasti bukan karena “lapar” atau butuh banyak anggaran untuk memuaskan hobi pikniknya. Lha wong buku-bukunya laris semua, kok. Tere Liye sudah jadi Raja Midas; genre apa pun yang ditulisnya selalu jadi emas, dibeli banyak orang. Mana ada Raja yang lapar, tho?

Mau menulis kisah cinta melow di Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, atau nguri-nguri jagat politik di dwilogi Negeri Para Bedebah, ya jadi emas. Bahkan, yang belakangan bikin wow, beliau menjajal genre yang tak terbayangkan akan digarapnya suatu hari, yakni fantasi, lha ya sukses juga.

Dalam novel Bumi dan Bulan, misal, Tere Liye kembali memperlihatkan kelasnya sebagai pengarang “segala warna” yang digdaya. Mudah membuktikannya: memukau dari segi ide cerita, pengolahan konflik yang gelegar, deskripsi imajinasi yang kuat, serta penokohan yang berkarakter. Padahal genre ini jelas jauh nian dari citra Tere Liye yang terpaten di kepala pembacanya selama ini sebagai “pengarang spesialis kehidupan”.

Sebagian besar novel Tere Liye sudah saya baca. Selepas membaca Bulan, saya merenungkan nasib penulis yang hanya berdiri di atas satu kaki genre (ya termasuk saya). Saya melamun: alangkah bahagianya jadi Tere Liye yang sukses dengan buku “segala warna” itu. Kok dia bisa gitu, ya? Kok kami tidak, ya?

Ujungnya, saya menyimpulkan bahwa inilah berkah piknik! Tere Liye yang rajin piknik terlesatkan oleh berkahnya sebagai penulis yang berani menerobos zona amannya, jeli membaca situasi, lentur beradaptasi, dan buahnya adalah kokoh bertahan dalam “bisnis buku” yang tak terhindarkan akan selalu dinaungi oleh musim-musim “segala warna” itu.

Memang betul bahwa tidak lantas semua karya Tere Liye yang “segala warna” itu mulus-mulus saja. Dalam bahasa ahli hikmah, “Kesempurnaan hanya milik Allah.” Ada beberapa spot dalam buku-bukunya yang saya pikir menjadi cela bagi Tere Liye.

Bulan, misal, lemah dalam menarasikan detail jarak rumah salah satu tokoh dengan sekolah (hal. 48), yang ditulis berbeda dengan Bumi (hal. 76-77). Lalu kerancuan keterangan waktu di adegan pertempuran melawan tikus raksasa; di satu narasi berbunyi: “Malam itu…” dan seterusnya (hal. 341), padahal waktu aslinya di sisi lain dituliskan pukul 8-9 pagi (seperti dijelaskan di halaman 343). Kemudian, tak seperti Bumi yang membawa kita ke dunia Klan Bulan, novel Bulan fokus ke perjalanan Raib dan kawan-kawan yang dihadang makhluk-makhluk di alam Klan Matahari. Saya terganggu dengan deskripsi yang kurang sahih ini.

Namun demikian, Bulan tetap saya sebut karya bagus karena punya kekuatan istimewa; saya menyebutnya novel cinematic sci-fi, karena dikemas bagai paduan scene demi scene film, dengan watak sains. Plus beberapa informasi berharga seputar alam raya yang barangkali kita belum tahu.

Sekali lagi, saya kuatkan terkaan bahwa kegemaran beliau piknik telah menghadiahkan kemampuan menulis “segala warna” itu. Saya bahkan pernah mendengar langsung dari Pak Edi AH Iyubenu, bahwa Tere Liye pernah berkata kepada beliau, betapa persoalan mendasar para penulis muda adalah keterbatasan sudut pandang. Benar juga, ya! Keterbatasan sudut pandang akibat kurang piknik, kurang bergaul, kurang tertawa.

Bukankah jika kita demennya diam saja di pojokan, menjadi manusia kamar yang kurang piknik, fakir pengetahuan tentang ramainya warna-warni jalanan, kurang tahu luasnya dunia, (kayak saya, hiiks!) hanya akan muter-muter menuliskan sesuatu yang itu-itu saja, segitu-gitu saja? Yang genre-nya itu-itu saja, gayanya gitu-gitu saja, kreativitasnya begitu saja, yang kalaupun mujur suatu hari diterbitkan juga setelah berdarah-darah, laporan penjualannya segitu-segitu saja. Hiiks!

Ken Hanggara

Ken Hanggara

lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, dan novel. Freelance editor yang belajar jadi wiraswasta. Juara 2 kategori bahasa Indonesia di ASEAN Young Writer Award 2014 dan menjabat Unsa Ambassador 2015.
Ken Hanggara

Latest posts by Ken Hanggara (see all)

  • Winda S Septiana

    Tulisannya kereennnnnnnnn .. haha
    Saya merasaa tersindir karena menulis yang genrenya itu itu saja. Dan sepertinya memang karena saya kurang piknik. Btw, terima kasih banyak mas untuk tulisannya. Menginspirasi saya untuk piknik 😀

    • Muara Ibrahim Husein

      Ya intinya lebih sering saja mengamati sekitar kita dengan berbagai sudut pandang. Misalnya kita ‘pura-pura’ jadi orang lugu, jadi orang tolol, jadi orang bego, jadi orang jenius, jadi orang miskin papa menderita tak berharga (hahaha). Ya gitu dah pokoknya, piknik, jalan-jalan, dan rekreasi itu sangat penting karena di situlah letaknya.

      • Winda S Septiana

        Yap, melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda :’)