Ternyata Bahagiaku Bernama Maria

in Hibernasi by

il_fullxfull.590020259_6ih8

Seharusnya aku yang menjadi mempelai prianya. Yang duduk bersamanya di pelaminan malam ini. Seandainya saja…

***

Perempuan itu bernama Maria. Dia penyayang, selalu ceria, dan mudah sekali tertawa. Bahkan untuk sesuatu yang menurutku tidak terlalu menarik. Tapi justru tawa itu yang membuatku betah bersahabat dan berbagi banyak hal dengannya. Maria tak pernah kehabisan cara untuk membuat suasana menjadi meriah, meski hanya ada kami berdua. Sudah banyak waktu yang kami habiskan bersama. Orang-orang menyangka kami sepasang kekasih. Sehingga, berkali-kali harus kujelaskan kepada mereka, Maria sudah seperti adikku sendiri.

Kedekatan kami bermula sejak mendapat dosen pembimbing skripsi yang sama. Aku dan Maria masing-masing mempunyai kekasih. Pacar Maria kuliah di kampus lain, sedangkan pacarku, Renata, kuliah di luar kota. Tapi hubungan kami berempat sangat baik satu sama lain.

Setelah lulus, aku dan Maria mendapat pekerjaan di perusahaan yang sama. Ah, takdir seolah tak ingin memisahkan kami. Tak jarang Maria membawakanku sarapan ke kantor. Sebagai gantinya, aku biasanya mentraktir dia makan siang jika tidak sedang ditemui oleh Rama, pacarnya. Persahabatan antara lelaki dan perempuan yang harmonis sekali, bukan? Ungkapan “cinta lahir karena kebiasaan” sungguh tak berlaku di antara kami. Aku sangat mencintai Renata, kurasa begitu pula Maria kepada pacarnya. Kedekatan kami tak pernah mengubah segalanya menjadi cinta. Aku bahkan tak pernah berpikir hal itu akan terjadi….

Beberapa bulan setelah aku bekerja, Renata diwisuda dan kembali ke kota ini. Tiga tahun kami menjalin hubungan jarak jauh, akhirnya sekarang bisa berada di kota yang sama dan bertemu hampir tiap hari sepulang kerja. Namun kebersamaan itu hanya berlangsung sekitar dua bulan, karena Renata meninggal akibat kecelakaan. Jangan tanya bagaimana perasaanku mendapatkan kenyataan ini. Jelas sangat terpukul.

Maria sebagai satu-satunya yang tahu betapa cintaku sangat besar kepada Renata, tak pernah berputus asa menguatkan. Dia bak malaikat penghibur saat aku terpuruk karena kehilangan. Maria selalu ada waktu untukku, melalui telepon atau sekadar menemani saat aku memintanya datang. Hari-hari setelah kepergian Renata tak pernah mudah kujalani. Rasanya keadaan ini nyaris membuat frustrasi jika saja tidak ada Maria. Entah dengan apa Tuhan menciptakan hati Maria hingga begitu tulus dan sabarnya dia membantuku bangkit.

“Kamu jangan ceria terus. Sesekali sedih, dong. Gantian,” ledekku suatu hari. Setelah mulai bisa melupakan kesedihanku karena kepergian Renata. Bertahun-tahun kami bersahabat, aku tak pernah melihatnya menampakkan wajah muram, apalagi menangis. Tidak pernah!

“Sedih untuk apa? Aku masih punya kamu di sini,” ujarnya santai.

Seketika tanganku terayun mengacak rambutnya. “Kalaupun aku pergi, kamu nggak akan sendirian. Masih ada pacarmu.”

“Tidak seperti itu. Kalian punya tempat masing-masing di hatiku,” sahut Maria tanpa melihat ke arahku.

Aku diam.

“Ah, apaan, sih, mendadak melankolis begini.” Maria meninju ringan lenganku sambil tertawa ringan.

***

“Dia tahu perempuan yang selama ini dicintainya lebih mengharapkan laki-laki lain, tapi dia tetap bertahan. Bahkan sampai sejauh ini. Sampai akhirnya perempuan itu luluh oleh ketulusannya.”

“Maksudmu?” Aku tidak mengerti arah pembicaraan Maria.

Maria menoleh kepadaku yang duduk di sampingnya. Kedua bibirnya ditarik ke samping. Senyum yang sulit kuterka.

“Rama. Dia laki-laki yang kumaksud.”

Belum sempat aku membuka mulut, tiba-tiba Maria mengangkat kedua tangannya dan memelukku. Sangat erat! Aku terkejut. Ini tak pernah terjadi. Sedekat apa pun persahabatan kami selama ini, aku dan Maria tidak pernah berpelukan. Ragu-ragu kulingkarkan lengan di punggungnya. Dan Maria terisak.

“Adikmu ini akan menikah sebentar lagi.” Suara Maria terdengar pelan di balik bahuku. Terasa tubuhnya berguncang. Pelukannya kian erat. “Dengan Rama.” Kali ini setengah berbisik.

Maria menarik tubuhnya. Dan untuk pertama kali aku melihat wajahnya berurai air mata. “Maaf…,” katanya.

“Untuk apa?”

“Aku tahu kamu benci melihat perempuan menangis.”

“Heii, ini tangisan bahagia, kan? Perempuan mana sih yang tidak bahagia jika sebentar lagi akan dinikahi oleh kekasihnya?” Aku tergelak. Kuusap air mata di pipinya. Sedikit kaku. Tiba-tiba ada perasaan aneh dalam diriku yang tak bisa dijelaskan.

“Kamu keliru, Bi.”

“Maria?”

“Bukan dia yang kuharapkan, tapi kamu. Aku jatuh cinta kepadamu, Abimana Hassan. Sangat mencintaimu. Bahkan sebelum kita lulus kuliah.”

Seketika seperti ada hentakan keras di dadaku. Degup jantung yang tiba-tiba memburu serasa menggedor setiap ruas tulang rusukku. Tatapanku menelusup jauh ke dalam mata cokelat Maria, berharap menemukan kebohongan di sana. Tapi aku gagal. Hatiku mengatakan Maria bersungguh-sungguh.

“Aku bekerja di tempat yang sama denganmu. Tak jarang juga kuabaikan ajakan Rama untuk bertemu agar aku punya lebih banyak waktu denganmu. Menemanimu sampai larut malam setelah kepergian Renata meski kenyataannya aku sangat kelelahan. Tapi aku tak pernah berani menunjukkan perasaanku yang sebenarnya kepadamu. Aku tak mampu jujur karena takut kamu marah dan menjauh. Apalagi kamu sangat mencintai Renata meski dia sudah tiada. Dan aku, aku selamanya hanya kamu anggap sebagai sahabat. Tidak akan pernah berubah, seperti yang sering kamu katakan. Karena itu, aku terlalu cinta tapi memilih bungkam!”

“Maria…”

“Sampai akhirnya aku sadar, ada orang lain yang benar-benar mencintaiku.”

“Maria, kumohon, pertimbangkan sekali lagi pernikahan ini.” Tanganku menempel di kedua sisi wajahnya. Kutatap matanya lekat seperti ingin menyeret seluruh tubuhku masuk ke dalamnya. Dan tinggal selamanya di sana.

“Untuk apa? Aku sedang mengandung anak dari Rama. Aku sudah memberikan kepadanya segala yang tak bisa kuberikan padamu. Kupikir kamu tak pernah mencintaiku.”

   Kutarik Maria ke dalam dekapanku. Tak kubiarkan ada sela di antara kami. Aku tak pernah sangat ingin memeluknya seperti saat ini.

Sebenarnya aku juga mencintaimu, Maria, tapi aku terlalu egois untuk mengakuinya.