Tiga Komik, Tiga Koran, Satu Basuki

in Esai by

Dunia jurnalistik di Indonesia pernah memberi ruang mewah bagi komik strip. Dua koran bertiras besar di Jakarta, Kompas dan Pos Kota, bahkan membuka lembaran khusus dari mana lahir komik-komik strip legendaris semacam Doyok, Ali Oncom, dan Panji Koming. Di luar lembaran khusus, Kompas punya komik lain yang tak kalah dahsyat, Oom Pasikom.

Komik strip juga mendapat ruang di koran besar yang terbit di kota-kota lain di Jawa. Ada Mang Ohle di Pikiran Rakyat Bandung dan Pak Bei di Suara Merdeka Semarang. Bagaimana di Medan? Tidak berbeda. Hampir semua koran punya komik strip jagoan.

Namun masa keemasan ini surut di akhir 1990an. Satu per satu komik strip berguguran. Lantaran mendapat protes keras dari warga Medan akibat satu edisi penayangannya yang dinilai menyinggung SARA, Harian Sinar Indonesia Baru (SIB) terpaksa meminggirkan komik stripnya yang—paling tidak menurut saya—sangat unik, Nasib Si Suar Sair. Pula demikian komik strip “ajaib” lain, Si Gumarapus di Waspada.

Kondisi ini membuat “persaingan” komik strip praktis menjadi milik dua koran saja, Analisa dan Harian Global. Di masa yang sama, tiga surat kabar lain, yakni Medan Pos, Pos Metro, dan Andalas, sebenarnya juga memiliki komik strip. Namun Jaluntung di Medan Pos dan Lae Togar di Pos Metro (Jawa Pos Grup), lebih bersifat menghibur. Di saat toto gelap marak, kedua komik ini kerap dijadikan “petunjuk” untuk menafsir mimpi.

Cek A’an di Andalas pada dasarnya memiliki konsep dan segmentasi pasar lebih jelas. Persoalannya, komik strip yang terus mencari-cari bentuk ini, yang antara lain disebabkan seringnya berganti penggambar, berhenti tayang seiring pergantian manajemen Andalas. Hal yang pada gilirannya juga dialami Pak Bas di Harian Global.

Berakhirnya masa tayang Pak Bas membuat Pak Tuntung di Analisa melenggang sendirian. Begitupun, disebabkan dua alasan, jejak Pak Bas tetap patut dicatat.

Pertama, bahwa Pak Tuntung pada awalnya juga digambar oleh Hu Wie Tian atau Basuki, penggambar Pak Bas. Alasan kedua, dan barangkali ini yang terpenting, adalah kerasnya usaha Basuki untuk membuat Pak Bas keluar dari “tudingan” sebagai epigon Pak Tuntung.

Epigon Absurd

Bahwa Pak Tuntung dan Pak Bas memiliki kesamaan adalah fakta sahih. Paling nyata pada karakteristik penarikan garis gambar dan konsep minikata. Dari sisi karakteristik tokoh juga mirip satu sama lain. Ada lelaki setengah baya berpenampilan ketinggalan zaman (gaya anak muda di era The Beatles) yang didukung tokoh-tokoh lain (laki-laki dan perempuan) anonim. Selain itu, serupa Pak Tuntung, kecenderungan “cerita” dalam Pak Bas juga tidak sambung-menyambung meski satu topik yang sama bisa diangkat beruntun selama beberapa hari.

Jadi benar Pak Bas epigon Pak Tuntung? Tunggu dulu. Nirwan Dewanto, sastrawan yang pernah 14 tahun menangani halaman budaya Koran Tempo, dalam satu esainya menggugat penilaian yang menyebut sebuah cerita pendek (cerpen) yang dimuat di koran itu adalah epigon (bunyi tuduhan itu sendiri sebenarnya lebih sadis karena disebutkan sebagai plagiat alias jiplakan) karya lama. Menurut Nirwan, dalam karya seni sesungguhnya epigon menjadi kata yang absurd. Menurut dia, saat ini tidak ada lagi orisinalitas karena memang segala topik dan permasalahan cuma berkutat pada hal yang itu ke itu juga. Dengan demikian sebuah karya akan muncul sebagai karya baru jika dihadirkan dengan semangat, penyampaian, perlakuan, dan sentuhan yang baru pula.

Pak Bas sekilas boleh mirip Pak Tuntung. Sekali lagi ini fakta tak terpungkiri. Akan tetapi Pak Bas tidak secara otomatis dapat disebut epigon sebab Basuki mengetengahkan sejumlah sentuhan baru. Sentuhan yang membuat Pak Bas memiliki beda cukup mendasar dari Pak Tuntung yang telah menjadi legenda.

Basuki menyentuh sisi sifat. Basuki dengan cemerlang menghadirkan ironi dan kontradiksi. Pak Bas, sedemikian rupa diperkenalkan sebagai sosok lelaki setengah baya yang (maunya) serius, namun lantaran kurang ilmu akhirnya berhenti pada satu titik di mana keseriusan tersebut jatuh jadi lelucon. Dalam keserbasoktahuannya, karakter utama dan karakter-karakter pembantu hadir sebagai pengejewantahan “sosok” rakyat lugu yang memang selalu merasa paling tahu dan paling benar—terlebih jika sudah berada di dunia yang memberikan kebebasan paling mewah untuk mempraktikkan sikap itu: warung kopi.

Di lain sisi, lantaran keluguan ini pula cara berpikir Pak Bas jadi sangat sederhana. Pak Bas adalah karikatur rakyat Indonesia pada umumnya. Rakyat yang tidak neko-neko, rakyat yang tidak punya ambisi politis culas busuk seperti para pengamat karbitan dan selebritis LSM, rakyat yang berupaya menjalani hidup dengan apa adanya, namun juga bisa menggugat apabila terus-menerus ditindas dan dicurangi. Dan cara penyampaian gugatan ini, yang cukup sering terasa sangat kritis (bahkan sarkastis), diketengahkan Basuki dengan unik sekali.

Pak Bas, juga karakter-karakter pendukung lain, dihadirkan bukan sebagai karakter yang konsisten. Mereka bisa menjadi apa saja. Bisa menjadi pejabat, bisa pengusaha, artis, dan bukan tak sering hanya menjadi tokoh numpang lewat. Seluruh karakter juga bisa berganti-ganti peran. Pak Bas tidak selalu harus menjadi kere. Sesekali ia juga ditampilkan sebagai bos. Bahkan yang paling unik, Basuki dengan enteng menyatukan tokohnya dengan karakter dari dunia fantasi semacam Superman atau Batman atau Spiderman. Di balik topeng manusia laba-laba itu tersembunyi wajah Pak Bas, lengkap dengan rambut jambulnya.

Pengetengahan Spiderman tentu saja bukan semata dimaksudkan sekadar untuk lucu-lucuan. Bukan pula mengekor tren. Benar memang, karakter-karakter fantasi ini dimunculkannya tatkala popularitas mereka sedang berada di puncak. Pada umumnya ketika filmnya sedang diputar di bioskop-bioskop. Namun pengetengahan mereka punya maksud lain. Entah itu Superman, Batman, atau Spiderman dihadirkan sebagai senjata untuk menguatkan gugatan.

Tak jarang pula figur-figur yang nyata dihadirkan tanpa sungkan. Misalnya Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama pada edisi 8 November 2008. Terdiri dari dua panil, Obama tampil di panil satu. Obama menjadi Superman dan terbang melintasi Patung Liberty. Sedangkan di panil dua terdapat “keluarga besar” Pak Bas yang nyaris kelelep dan melambai-lambai ke arah Super Obama.

Saya, yang kebetulan saat itu satu kantor dengan Basuki (saya memanggilnya dengan sapaan Pak Bas), menanyakan apa maksudnya menampilkan Obama dalam edisi itu. Kenapa di panil dua dia menampilkan “keluarga besar” Pak Bas yang nyaris kelelep dan menggambarkan mereka dalam gestur sedang berteriak-teriak minta tolong?

Menurut Pak Bas, ini merupakan sindirannya terhadap kecenderungan orang-orang di Indonesia, yang sangat menggila-gilai Barrack Obama. Begitu banyaknya Obama menyita perhatian sehingga membuat masyarakat Medan melupakan masalah sehari-hari mereka. Satu di antaranya banjir.

“Saya membayangkan waktu kebanjiran orang-orang teriak minta tolong ke Obama, yang sudah barang tentu sama sekali tidak akan dipedulikan,” ujarnya.

Keistimewaan lain dari Pak Bas adalah susunan panilnya. Sebagian besar komik strip di Koran-koran di Indonesia setia pada susunan tiga hingga (maksimal) lima panil sejajar. Di Medan, komik-komik strip itu bahkan dimunculkan untuk menaati susunan tiga panil sejajar secara fanatik. Kecuali “mendiang” Nasib Si Suar Sair, runutannya pun nyaris seragam tanpa variasi: panil pertama sebagai pembuka (yang sering kali dari sini jarang bisa ditangkap ke mana arah cerita strip dimaksudkan), panil kedua masalah, dan panil ketiga penyelesaian.

Pak Bas dikeluarkan Basuki dari keseragaman ini. Tidak hanya (sering) tampil lebih atau kurang dari tiga panil, susunannya pun terbilang lebih variatif.

Basuki menggambar Pak Tuntung selama 33 tahun. Dia tidak hanya bisa bertahan, namun ide-idenya mampu membuat strip itu menjadi bagian tak terpisahkan dari Analisa. Saat dia menggambar Pak Bas untuk Harian Global, muncul harapan serupa. Sayang usia Pak Bas teramat singkat. Cuma empat tahun. Apa alasan di balik kematiannya tidak pernah terungkap. Basuki hanya tersenyum dan menggelengkan kepala saat saya tanyakan. Sampai dia keluar dari Global jawaban tidak pernah saya dapatkan.

Namun satu yang saya kira pasti, bukan lantaran ide yang tersendat. Sebab tak berselang lama setelah Harian Global berhenti terbit dan berubah nama menjadi Jurnal Medan, Basuki pindah ke Waspada untuk menggambar ulang Si Gumarapus.

Jejak Samar

Dibanding perpindahannya dari Pak Tuntung ke Pak Bas, transformasi Basuki ke Si Gumarapus tidak mulus. Tarikan garis gambar Basuki yang sangat khas dan memang tidak bisa hilang justru membuat jejak Si Gumarapus jadi samar.

Dalam “bahasa Medan” Gumarapus bermakna sembrono. Mendekati urakan namun lebih konyol. Penggambar awal memvisualkannya dalam bentuk laki-laki bertubuh tambun, berkepala setengah botak dengan janggut lebat menjuntai semacam sarang lebah.

Penggambaran kembali Gumarapus oleh Basuki tak berhasil menghidupkan kembali karakter ini. Fisiknya sama namun tanpa roh. Bukan semata tarikan garis yang berbeda. Penempatan karakter-karakter yang “dibawa” Basuki dari Pak Bas dan Pak Tuntung juga semakin menjauhkan Gumarapus dari dunianya.

Apalagi kemudian Basuki sering menempatkan karakter Gumarapus bukan sebagai sentral cerita. Bahkan hilang sama sekali. Dan akibatnya jelas. Si Gumarapus versi baru ini, yang oleh Basuki diberi judul Gumarapus dkk, jadi semakin asing, dan pada akhirnya memang gagal membangkitkan nostalgia pembaca-pembaca tradisional Waspada.

T Agus Khaidir

T Agus Khaidir

Wartawan dan fotografer. Sesekali ikut-ikutan menulis sastra, bermusik, dan main sepakbola. Masih tetap mengidolakan Jhonny Iskandar.
T Agus Khaidir

Latest posts by T Agus Khaidir (see all)