Tokyo Ghoul dan Ernest et Célestine Menginterpretasikan Perseteruan Berasaskan Perbedaan

in Hibernasi by
Tokyo Ghoul dan Ernest et Célestine Menginterpretasikan Perseteruan Berasaskan Perbedaan
Tokyo Ghoul dan Ernest et Célestine. Sumber gambar: IMDB

“We need to stop fighting and start talking.

Because when it comes to the state of the world, you can’t point your finger at ghouls or humans.”

—Kaneki Ken

 

Tokyo Ghoul: Saling Buru antara Ghouls dan Manusia yang Berakhir Tragis

Barangkali kau belum pernah menonton anime Tokyo Ghoul atau membaca manga-nya (aku sendiri belum membacanya), kubocorkan sedikit padamu: jangan coba-coba menonton ini jika kau tidak tahan melihat darah dan tidak suka anime bernuansa gelap, sedih, dan berakhir tragis.

Tokyo Ghoul ber-genre goreaction-drama, diangkat dari manga laris karya Sui Ishida. Anime ini terdiri dari dua seasons (atau mungkin akan ada season ketiga?), yaitu Tokyo Ghoul dan Tokyo Ghoul √A, yang masing-masing terdiri dari 12 episode. Di season pertama, kau akan mengikuti jalan cerita bagaimana Kaneki Ken, si tokoh utama, bertransformasi dari manusia biasa—seorang mahasiswa yang hobi baca buku—menjadi setengah-ghoul, setengah-manusia. Ah, barangkali kau bertanya-tanya, apa itu ghoul. Ghoul adalah makhluk yang hidup dengan memakan daging manusia. Penampilannya memang seperti manusia biasa, tapi mereka lebih kuat; punya kagune, senjata perang yang akan muncul dari punggung mereka bak tentakel, dan mata mereka akan berubah—bola mata jadi merah dan sekelilingnya hitam—jika mereka sedang dikuasai naluri predator.

Kau akan segera tahu bahwa dalam dunia Tokyo Ghoul, ghoul dan manusia memang hidup bersama di Tokyo, tapi mereka tidak hidup bersama dengan damai. Kedua belah pihak tampak tidak berusaha berdamai. Tentu, sudah selayaknya manusia membenci ghoul dan ingin balas dendam karena, ada keluarga atau sahabat mereka yang jadi korban bagi ghoul dari golongan yang suka membunuh manusia sebelum memakannya. Maka, sudah sewajarnya juga jika para manusia itu membentuk Commission of Counter Ghoul (CCG) yang beranggotakan para agen terlatih untuk memburu dan membunuh ghoul—sebelum para ghoul memburu mereka. Tapi, mungkin kau akan gemas menyaksikan agen Mado dan rekan-rekannya membunuh Ryouko, seorang ghoul perempuan, di depan mata putrinya yang masih kecil, Hinami. Tidak, Ryouko tidak menyerang atau membunuh manusia. Tetap saja, ia diburu karena ia ghoul. Stigma bahwa semua ghoul berbahaya sudah kadung melekat di benak para manusia. Yah, ghoul memburu mereka karena harus bertahan hidup. Ghoul dilahirkan dengan naluri memakan manusia; mereka tak bisa disalahkan, kan?

Maka, kau akan mengerti juga jika setelah tragedi yang menimpa Hinami itu, ada ghoul yang merasa tidak terima dan membalas dendam, yang berakibat terbunuhnya agen Mado. Namun, kau akan tahu bahwa Touka, ghoul itu, tak bisa disalahkan sepenuhnya; ia terpaksa membunuh Mado karena agen itu hendak menghabisi Hinami. Kau juga akan tahu bahwa sesungguhnya ada rasa penyesalan timbul dalam benak Touka ketika melihat cincin kawin di jari Mado yang sudah tak bergerak lagi. Mado memang berambisi memburu kaumnya, tapi tetap saja, agen itu punya keluarga yang akan bersedih setelah mengetahui kematiannya.

Tidak ada yang diuntungkan dengan pertarungan berkepanjangan itu. Tapi, toh, mereka terus saling memburu dan pada akhirnya pecahlah perang besar antara keduanya. Apakah perang membawa akhir yang bahagia? Tidak, tentu saja. Kedua pihak sama-sama merugi dan menderita. Kau mungkin akan didera kegelisahan serupa dengan yang menggerogoti Kaneki, apakah tidak mungkin bagi ghoul dan manusia untuk berhenti saling bunuh dan hidup berdampingan secara damai?

Trailer Tokyo Ghoul:

 

Ernest et Célestine: Perseteruan “Sunyi” antara Tikus dan Beruang

Dalam dunia Ernest et Célestine, kau akan lihat bagaimana para tikus sejak kecil sudah diindoktrinasi melalui dongeng sebelum tidur, bahwa beruang adalah pemangsa yang jahat dan mengerikan. Mereka tidak boleh dekat-dekat dengan beruang mana pun jika tak ingin dijadikan santapan. Namun Célestine, seekor tikus muda yang kritis, menolak memercayai dongeng itu. Bagi para tikus lain, ia dianggap berpikiran radikal karena memimpikan persahabatan dengan beruang. Sementara itu, para beruang menganggap para tikus adalah makhluk yang menjijikkan. Bahkan mungkin boleh juga dijadikan santapan saat kelaparan, seperti yang nyaris dilakukan Ernest pada Célestine.

Kau akan melihat bahwa segregasi yang terang-benderang terjadi di antara mereka. Di kota itu, para tikus hidup di bawah tanah dan para beruang hidup di atas. Maka terjadilah kekacauan ketika Célestine dan Ernest terlibat bersama dalam sebuah tindakan kriminal di dunia atas. Di masa-masa mereka menjadi buron, baik bagi para polisi tikus maupun polisi beruang, persahabatan di antara keduanya terjalin erat. Pada akhirnya, Ernest dan Célestine berhasil ditangkap dan kemudian diadili. Kau mungkin akan terkekeh melihat Ernest diadili di pengadilan tikus dan Célestine diadili di pengadilan beruang. Nahas, saat pengadilan berlangsung, ruang pengadilan tikus di bawah tanah terbakar dan menjalar ke ruang pengadilan beruang yang berada tepat di atasnya.

Kau akan berpikir bahwa mungkin kebakaran ini menyimbolkan luluhnya batas antara dunia bawah dan dunia atas. Kebakaran ini menjadi titik balik perubahan paradigma bagi masing-masing kaum: beruang sadar bahwa tikus ternyata tidak semenjijikkan keyakinan mereka dan tikus sadar bahwa beruang ternyata tidak semengerikan sosok dalam dongeng masa kecil mereka. Perseteruan “sunyi” yang selama ini terjadi di antara mereka, bisa dibilang berakhir. (Perseteruan itu “sunyi” karena, tidak seperti ghouls dan para manusia yang saling memburu dengan terang-terangan, para tikus dan para beruang ini berbagi kota dengan sebisa mungkin tidak saling berinteraksi.)

 

Jadi, Mungkinkah Hidup Berdampingan dalam Perbedaan secara Damai?

Menonton Tokyo Ghoul dan Ernest et Célestine mungkin akan membuatmu melihat relevansi inti kedua kisah itu dengan kondisi kebhinekaan Indonesia yang saat ini sedang dalam kondisi rawan. Kita seolah hidup berdampingan dengan damai, seperti para tikus dan beruang itu, tapi begitu ada angin berembus sedikit, bara—yang ternyata selama ini tersimpan di dalam ceruk pasir—langsung menyala berapi-api. Berbagai golongan dengan berbagai kepentingan saling menyerang, memanfaatkan isu SARA sebagai senjata—bukan lagi kagune dan quinque. (Ah, kau pasti ingat apa itu kagune. Kalau quinque, itu adalah senjata milik agen CCG yang dibuat dari kagune milik ghoul yang sudah mati.)

Ghoul dan manusia sama-sama tak memilih dilahirkan seperti itu, tapi kenyataannya dilahirkan sebagai ghoul dan manusia. Tikus dan beruang juga tidak memilih ketika mereka dilahirkan sebagai tikus dan beruang. Ghoul dan manusia memilih untuk saling buru, meski ada golongan ghoul dan manusia yang sebenarnya memimpikan kedamaian antara kedua kaum mereka. Tikus dan beruang, yang awalnya memilih untuk tidak saling mengganggu tapi tetap saling benci dalam sunyi, akhirnya sadar bahwa seharusnya mereka bisa hidup berdampingan secara damai tanpa terus merawat stigma yang telah ditumbuhkan terhadap satu sama lain.

Kita tak bisa memilih kita terlahir sebagai suku apa, misalnya. Namun, kita bisa memilih untuk menjadikan perbedaan itu sebagai alasan untuk hidup berdampingan secara damai sebagai saudara setanah-air. Apakah kita harus berperang dulu seperti ghoul dan manusia dalam Tokyo Ghoul untuk menyadari bahwa pertempuran itu sia-sia dan seharusnya kita bisa berdamai saja? Atau mungkin, kita hanya butuh sosok seperti Ernest dan Célestine yang memilih untuk mendobrak batas-batas antargolongan dan menyadarkan kaum mereka masing-masing bahwa hidup berdampingan secara damai itu sangat mungkin.***

Trailer Ernest et Célestine:

Frida Kurniawati

Frida Kurniawati

Alumnus Kampus Fiksi 12 ini sedang melewati masa-masa menyenangkan menjadi pengangguran banyak kesibukan yang dibikin-bikin sendiri. Eh, apakah saya yang pengangguran ini benar-benar pengangguran? Ah, tidak juga. Pencitraan saya bisa dikepoin di @kimfricung (Twitter dan Instagram).
Frida Kurniawati