Ulul Albab: Menakjubi Karya Tuhan dan Manusia

in Esai by
indoartnow.com

Sedari kecil, setiap hari, dari pengeras suara masjid pesantren terdekat, saya mendengar lantunan qiraah al-Qur’an. Surah yang dibacakan berbeda-beda, sesuai pergantian hari, misalnya al-Kahfi di hari Jum’at dan Yaasiin di Kamis sore. Namun, yang diputar menjelang Subuh sajalah yang selalu sama, yakni 10 ayat terakhir Surah Ali ‘Imran. Nah, karena hingga dewasa saya hanya dan selalu mendengar qiraah yang sama, ayat yang sama, langgam yang sama untuk waktu malam menjelang Subuh, saya pun menyimpan penasaran dan keheranan: pertama, mengapa hanya yang itu saja yang dibaca, yang diulang-ulang; dan kedua, kok bisa takmir masjidnya tidak pernah bangun kesiangan?

Akhirnya, saya tahu, bahwa 10 ayat terakhir surah tersebut (Ali ‘Imran, ayat 190-200) merupakan bacaan yang di-dawam-kan oleh salah seorang pengasuh pesantren pada masanya, dulu. Ayat-ayat tersebut merupakan serangkaian ayat yang juga disukai Nabi dan dianjurkan untuk dibaca setiap bangun tidur. Penjelasan tentang ini dapat ditemukan—salah satunya—di dalam kitab Risalah Muawanah.

Sebelum meneruskan esai tentang “ulul albab” ini, saya minta izin kepada Anda, pembaca, untuk bercerita secara sorot balik ke suatu masa, 10 tahun yang lalu….

Pada zaman dahulu kala, tidak terlalu lama, sih, tepatnya pertengahan tahun 2007, kawan saya (Januar) memperkenalkan kawannya. Namanya Hendro Setyanto. Dia adalah—berdasarkan rekom Januar—salah seorang ahli astronomi dan juga ilmu falak. Singkat cerita, Januar lalu mengajak Mas Hendro ini ke tempat saya. Saya menghormatinya dengan cara menyiapkan majlis ilmu untuknya: menyiapkan tempat, proyektor, guru, dan beberapa orang dari unsur masyarakat sekitar. Di forum itu, penulis buku “Membaca Langit” tersebut menjelaskan fenomena semesta sarwa, terutama langit dan benda-bendanya. Visualisasi benda-benda langit di layar dan hujah al-Qur’an yang menyela-nyelai penjelasan, membuat hadirin mengap-mangap, bahkan ada yang sampai bilang “Berasa makin mantap saya beriman,” katanya selepas acara, setelah ia mengintip Venus dari teleskop yang disiapkan di halaman.

Kebetulan, malam itu, Hendro Setyanto membuka pertemuan dengan mengutip ayat ke-190 dan 191 dari Surah Ali ‘Imran, seperti yang saya sebutkan di paragraf pertama tadi. Dan pada malam itu pula saya jatuh cinta kepada fenomena langit malam dan segala hiasan gemintangnya. Saya tidak punya ketertarikan sama sekali terhadap “urusan besar yang tampak kecil ini” sebelumnya, kecuali hanya sebatas jika ia berhubungan dengan astrologi yang sering ditayangkan di sebuah rubrik di koran, di akhir pekan, dengan fokus ramalan keuangan dan asmara. Astronomi? Tidak sama sekali. Ya, mulai saat itu, ketertarikan saya lantas ditandai dengan perkenalan terhadap beberapa perangkat lunak bertema astronomi, termasuk Celestia dan Starry Night Backyard.

Salah satu fenomena langit yang paling menarik adalah kemunculan Hale Bopp, komet berekor biru (silakan cari data sendiri, tentang dan semacam apa benda langit ini). Begitu mewah penjelasan-penjelasan tersebut hingga membuat saya arik, tidak dapat tidur semalam suntuk. Maklum, sebelumnya saya tidak pernah masuk planetarium, makanya jadi kagetan begitu. Kala itu, saya nyaris menghabiskan waktu semalam di halaman, mendongak ke langit, mencoba memikirkan jarak antarbintang atau jarak bintang ke bumi dan seterusnya. Cluster, galaksi, Bimasakti, tata surya, terus-menerus mengikuti imajinasi saya, berpikir dan merenung, hingga tak terasa saya mendengar qiraah itu. “Wah, sudah hampir subuh, deh!” Demikian saya membatin.

Baik, sekarang, balik lagi ke soal 10 ayat terakhir Surah Ali ‘Imran, Pembaca budiman….

Jadi, ayat-ayat yang dibicarakan tadi adalah soal fenomena penciptaan dan keagungan yang hanya akan ditemukan kedahsyatannya oleh ulul alab, orang yang berpikir namun juga beriman. Maka dari itu, jika Anda temukan kata “ulul albab” ini, seperti misalnya digunakan untuk nama masjid, jurnal, kelompok, biasanya ia berasosiasi dengan kampus, mahasiswa, dan kaum terpelajar, kelompok cendekia, orang-orang yang tidak malas berpikir.

Sekarang, kita pindah bahasan. Jika dahsyatnya penciptaan dihubungkan dengan Tuhan, terkait dengan kecendekiaan, baiknya kita bicara ketakjuban lain: anugerah Tuhan yang disematkan pada diri manusia yang berpikir tadi. Supaya pembicaraan lebih mudah, tidak ke sana-kemari, mari saya sebut satu saja contohnya: sosok Imam Suyuthi.

Konon, Jalaluddin Abdurrahman as-Suyuthi ini baru mulai menyusun kitab-kitabnya di usia 40 tahun. Memang, sejak mula, saya tidak pernah iseng menghitung jumlah karya seorang ulama—terutama ulama-ulama zaman dulu/salafush shalih—yang fantastis secara kuantitas jika dibagi dengan masa hidupnya; yang fenomenal secara kualitas jika dilihat dari daya tahannya melintasi masa ke masa. Angka-angka produktivitasnya menakjubkan, namun ketakjuban saya itu hanya sebatas “kok bisa, ya!”. Oh, ya, Imam Suyuthi sendiri konon menyusun lebih 600 karya.

Kalau dipikir, rasanya, kok, tidak masuk akal kalau hanya dalam kurun waktu 20 tahun dapat menghasilkan karya tulis sebanyak itu. Bahkan, andaikan angka-angka tersebut diamputasi, semisal usia sang Imam diturunkan ke angka 30 dan jumlah karyanya diturunkan ke angka 400 (karena alasan dasar dugaan hanya “konon”, hanya berdasarkan Wikipedia, hanya data mentah dari ensiklopedia sekelas Munjid), tetap saja ia belum logis di hadapan akal saya. Pasalnya, karya as-Suyuthi ini bukan karya sembarangan, melainkan karya pemikiran yang sebagiannya menjadi “babon”, bahkan terus dibaca hingga 4 abad berikutnya, sampai sekarang.

Kitab Itmam ad Dirayah li Qurra’ Annuqayah saja, syarah yang dia tulis untuk kitabnya sendiri, “Annuqayah”, meliputi 14 disiplin ilmu, termasuk pengobatan/kedokteran, anatomi, retorika, hadits, ushul fiqh, dll., padahal kitab ini tidak digolongkan ke dalam senarai karya-karya masyhurnya, tidak seperti Tafsir Jalalain (disusun bersama Jalaluddin al-Mahalli) yang terkenal di dunia Islam itu. Gus Dur, dalam pengantar buku Islam Sufistik-nya Alwi Shihab, menyatakan bahwa kitab “Itmam” tersebut merupakan usulan as-Suyuthi untuk kurikulum dasar ilmu keislaman.

Untuk mengurangi rasa takjub dan agar tidak terkesan gumunan, bolehlah kita menghibur diri dengan dalih: wajar kalau ulama dulu itu begitu sebab mereka tidak disibukkan oleh gadget dan main ke kafe sehingga mereka lebih punya banyak waktu. Namun, wajib kita juga berpikir adil, bahwa generasi sekarang mestinya malah lebih produktif karena sudah dipermudah oleh perangkat digital yang serba-memudahkan: pencarian entri dengan mesin peramban, indexing, tagging, dll. Bahkan, di zamannya, abad 15, Imam Suyuthi mestinya lebih repot karena jika salah tulis ia belum bisa “di-undo” dan “redo”;  “type-X” juga belum ada, cari lema belum bisa pakai “Control+F”. Jadi, jika hanya pertimbangan keluasan waktu, mestinya generasi kita lebih hebat, kan?

Sebetulnya, proses mengarang kitab-kitab yang dilakukan oleh para ulama itu dianggap tidak masuk akal karena asumsi kita selalu berorientasi kronologis terhadap kelahirannya, yaitu: “membaca-mengolah-menulis”. Dalam tradisi Islam, ada juga, bahkan ini yang menonjol, tradisi “bimbingan langsung”, “bimbingan wahyu”, “tuntunan ilhami”, dan juga “ladunni”. Menurut Buya Ismail Idris Mustofa, penyusun buku Matematika al-Qur’an, hal itu dapat dilihat salah satunya pada Surah Asy-Syuura, ayat 50-51. Ada isyarat “bimbingan langsung” dalam ayat-ayat itu: bahwa ada “faktor X” yang terkadang membuat kapasitas wawasan seseorang itu bagai digerojok saja ke dalam kuali pengetahuannya, berkebalikan dengan pandangan umum (membaca-mengolah-menulis).

Akan tetapi, ada cetak biru yang harus diperhatikan. Untuk memperoleh bimbingan semacam itu tidaklah mudah. Hanya nabi dan orang-orang khusus (sebut saja “shalih”) yang mendapatkannya. Maka dari itu, ketika kita mengidentifikasi “ulul albab” hanya berdasarkan sisi rasionalitasnya, semisal karena mereka berpikir atas mahakarya Allah yang ada di langit dan ada di bumi, sembari merenungkan betapa kecilnya tempat tinggal kita jika dibandingkan dengan galaksi-galaksi dalam keluarga tata surya, maka ia kita akan terjerumus pada sudut pandang artifisial. Sebab, dalam ayat yang mendefinisikan ulul albab tersebut, sebelum aktivitas berpikir, ada definisi identitas berdzikir. Kata Buya Ismail, “Inilah yang sama sekali ‘terlupa’, atau ada kelompok yang sengaja membikinnya tertutup, tidak dibicarakan, agar ia raib dari konstelasi pengetahuan kita.”

Mudahnya begini. Jika kita meyakini bahwa ilmu yang didapat itu selalu dan semata bersumber dari yang kita baca, yang kita pelajari, maka itu adalah cara pikir pedagang saat kulakan. Kita bawa pikap: ambil pisang di Klakah; ambil tepung di Sidoarjo; ambil minyak di Gresik, lalu kita ecer barang-barang itu dalam seminar-seminar, pada lembar-lembar buku, dan beberapa majlis taklim. Kita turunkan barang-barang itu dari pikap baik sebagai pisang dalam setandan atau seiris, baik satu ons atau sekilogram; baik dalam seliter atau satu jeriken, atau bahkan kita jual itu dalam wujud pisang goreng (gabungan ketiganya) atau “asrep” (gabungan keduanya), dan seterusnya. Ketika kita menjual (menulis/ngomong) dan tidak pernah lagi kulakan (membaca/mendengar), maka barang-barang tersebut akan habis. Kalau terpaksa dijual, ya, ia akan jadi barang dagangan yang basi, kedaluwarsa, tidak laku.

Sementara di sisi satunya, ilmu yang berasal dari “bimbingan” dan “ladunni”, tidaklah seperti itu. Ia menjadikan kita seperti mata air yang melimpah tak habis-habis. Allah akan terus menuangkan ilmu-Nya ke dalam diri kita secara langsung karena kita terus mendekat kepada-Nya dengan cara berdzikir, bukan melulu berpikir. Ingat, kan, bagaimana Allah meng-install ilmu pengetahuan kepada Nabi Adam secara langsung dan karenanya Nabi Adam tidak perlu masuk sekolah lebih dulu untuk mengetahui “nama-nama”, atau seperti ilmu yang diberikan kepada Nabi Muhamad, seperti pengetahuan tentang enzim dan makanan pada liur dan jemari setelah makan, sehingga tidak perlu penelitian panjang lebih dulu sebagaimana dilakukan oleh Prof. Hiromi Sinya?

Apabila kita tidak percaya pada pilihan kedua, maka sudah barang tentu kita harus percaya pada cara pertama. Tidak ada pilihan lain di luar itu.

Dengan demikian, ulul albab bukan semata orang yang mau berpikir (tentang ciptaan-ciptaan Allah), melainkan berdzikir cum berpikir. Jika mengacu pada ayat 191 Ali ‘Imran, berpikir berada di urutan kedua sebab penyebutan pertamanya adalah yadzkuru (berdzikir). Dzikir, menurut seorang arif, adalah asas jalan tasawuf, kunci penahkikan, senjata sang murid, dan semboyan kewalian. Dan umumnya, dzikir disandingkan dengan wirid, yakni kegiatan yang dilangsungkan terus-menerus secara dawam, pada waktu tertentu.

Mari berpikir dan merenung karena ia adalah ibadah yang sangat besar pahalanya. Ia adalah jalan menuju derajat ketakjuban penciptaan manusia, menuju derajat ulul albab, manusia paripurna. Berpikir akan ciptaan Allah akan menambah keimanan. Isyarat untuk ini begitu banyak disampaikan oleh ulama yang tentunya didasarkan atas nash al-Qur’an dan hadits. Namun begitu, jangan lupakan dzikir karena hanya dengan cara ini seseorang dapat menjadi ulul albab seutuhnya. Dan melalui kedua cara itulah para ulama mendapatkan anugerah langsung dari Allah.

Namun, apakah mungkin seseorang dapat mengingat Allah terus-menerus pada saat konsentrasinya sedang diarahkan kepada hal lain, sekadar contoh: seperti seorang pilot yang hendak take off atau ketika kita sedang bersin? Ketika melakukan suatu aktivitas, lebih-lebih aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi, kita tidak ingat apa pun kecuali pekerjaan yang sedang kita kerjakan. Maka, yadzkuruna (dalam ayat itu) baiknya diterjemahkan dengan “berdzikir”, bukan sekadar “mengingat”. Seorang sufi, dengan “dzikir khofi”, dapat melakukannya sembari melakukan apa pun, bahkan dalam keadaan tidur. Dan untuk mencapai itu, ia butuh seorang guru, seorang pembimbing yang sanad keilmuannya tersambung kepada Nabi. Derajat ini tidak serta-merta bisa diperoleh hanya dengan jalan latihan berpikir dan berdzikir semau-mau gue. Makanya, inilah alasan mengapa para ulama terdahulu itu (salafush shalih) cenderung berstatus poli: polimath dan poliglot, sebagaimana mereka juga mungkin menjadi ilmuwan sekaligus sufi.

M. Faizi

M. Faizi

kiai penikmat kopi di Pesantren An-Nuqayah Sumenep, Madura.
M. Faizi