Umat Kitab: Perjalanan Lima Abad Sebuah Kitab Anak

in Esai by

Kata YHWH mulia

Seperti perak dan emas mulia

Saat huruf ini muncul, semua mulia,

Terukir rapi, berkilau, berpijar.

Seluruh Israel melihat huruf

Terbang di angkasa ke segala arah,

Mengukir diri pada loh batu.

—Zohar

/1/

Aku, juga barangkali Anda, bahkan mereka yang tak hendak mengakui atau belum tersadarkan, adalah bagian dari sejarah panjang umat kitab. Kita sebagai umat kitab: manusia yang gerak kaki, tangan, kepala, dan seluruh roh kemanusiaannya melalui sejarah jalan-jalan berhuruf. Umat yang berhuruf melaju melewati jalur-jalur yang terilahiahkan, mencoba menghindari titian setaniah, berusaha melawan kebuasmanusiaan, dan terus tetap berusaha mengilahi dalam arus-arus huruf ilahiah, meski semakin mengecil dan mengecil jalan-jalannya, tinggal yang tertera dalam tiap jalan roh-hati manusia.

Aku, sebelum membaca People of the Book karya Geraldine Brookes (2015), hanya sekian persen atau barangkali tidak lebih dari sepuluh persen punya kesadaran pada penghadiran kitab suci, belum hendak tersadarkan pada peristiwa penulisan kitab-kitab suci: yang suci. Dahulu, pada masa aku bocah, kitab suci sudah bisa dibeli di pasar kecamatan. Hanya dengan sekian ribu rupiah, aku yang diantarkan kakekku yang pedagang sapi, bisa membeli dan mempunyai kitab suci, dan bisa sedikit pamer atas kitab suci terbaru yang masih mulus mengkilap pada teman-temanku. Bayangkan: bocah berumur awal sepuluh tahun mempunyai kitab suci! Seorang bocah mempunyai kata-kata yang berusia lebih dari 1000 tahun! Tentu, meski kata-kata berhuruf Arab dan berbahasa Arab itu tak satu makna pun bisa aku pahami pada masa bocahku.

Sekian tahun-tahun berikutnya, aku mulai dibuat memahami kalimat-kalimat dalam kitab berhuruf Arab itu. Memang tidak mungkin seluruhnya bisa aku tahu (yang belum tentu aku pahami) makna kalimat-kalimat kitab suci yang menjadikanku termasuk dalam umat kitab. Lalu, perlahan aku mulai mencoba menghafal surah-surah kecil, berlanjut pada satu kesempatan mencoba menghafal seluruh kalimat-kalimat itu sampai sekian juz, sebelum akhirnya terhenti satu momentum aku pindah ke Sidoarjo untuk belajar di Pesantren Al-Khoziny.

Di pesantren ini, aku melakukan percobaan belajar: tidur sekitar tiga jam, dikurangi waktu makan, shalat, mandi, mencuci, dan sekian aktivitas sebentar, lalu waktu selebihnya aku gunakan untuk menghadapi dan mempelajari kitab-kitab berhuruf Arab dengan pemaknaan berbahasa Jawa berhuruf pegon (satu bahasa yang aku pelajari setelah bahasa Indonesia dan Inggris, selain bahasa ibuku). Sampai sekarang, aku masih selalu menganggap bahwa selama di pesantren itu, meski hanya sekitar empat tahun saja, aku benar-benar mengalami masa belajar yang menggairahkan, penuh rasa ketakjuban ilahiah, penuh penghormatan pada ilmu, rasa petualangan belajar, dan semacam pernah merasakan semacam nikmat hidup-belajar (sebelum pada tahap selanjutnya memasuki masa penuh pengkritisan dan pencemoohan).

Namun, pada masa-masa itu, sayang sekali aku lupa menghayati proses peristiwa penulisan sebuah kitab suci. Ini memang bukan satu hal yang hanya aku rasakan, barangkali. Ribuan bahkan jutaan santri juga tidak hendak dibuat mempunyai kesadaran historis pada peristiwa penulisan kitab suci, pada tangan-tangan yang tergetar dengan gerak goresan ilahiah. Aku sudah semacam dibuat telanjur menerima: kitab suci ada, diturunkan melalui wahyu ilahiah. Begitu saja. Tanpa diberikan kisah-kisah percobaan bahkan usaha ketertakjuban manusia menulis-ulang kitab-kitab suci dengan usaha sebisa mungkin mengulang peristiwa mukjizat. Menulis untuk mengulang mukjizat!

Menulis kitab suci, sejak zaman bangsa Israel, Nasrani, sampai Islam, adalah usaha terbesar manusia untuk tetap menghadirkan getar-getar purba azali yang paling ilahiah murni. Berbagai prosesi ritual diajarkan Tuhan dan diciptakan manusia agar kata-kata purba dari langit itu tetap bermukjizat. Namun, semua ini tidak begitu aku sadari sejak kecil, pada masa di pesantren meski aku sempat mempelajari penulisan kaligrafi, meski aku termasuk yang begitu cepat menguasai dan juga cepat melupakan, sampai akhirnya aku mendapatkan kisah dalam novel Seniman Kaligrafi Terakhir, karya Yasmine Ghata. Novel ini menampilkan kisah para pemabuk-penulis ilahiah yang terakhir dalam sejarah penulisan sakral dalam Islam, sebelum pada 1928 Kemal Atatürk mengganti huruf (bahasa) Arab dengan bahasa Turki berhuruf Latin dan menyingkirkan para pemabuk-penulis kitab suci dari sistem pendidikan formal di Turki untuk selamanya. Sejak itu, tangan-tangan manusia yang teraliri getar suara Allah mulai terhapus. Para kaligrafer ilahiah lama menangis terisak-isak sampai ke alam kubur mereka.

Aku, yang memasuki alam kebocahan setelah sekian puluh tahun sejak peristiwa yang agak sudah terlupakan itu dan sejak mesin teknologi cetak mengambil alih, semacam terseret arus pelupaan pada peristiwa penulisan penuh ekstase kemabukan ilahiah melalui getar huruf-huruf melangit memukjizat—aduh! Betapa fakir miskin tak ilahiah kata “penulisan” ini pada zaman kita sekarang!

/2/

Novel Seniman Kaligrafi Terakhir karya Yasmine Ghata (2008) memang sempat membuatku takjub sampai aku berkali-kali mengabarkan pada sekian orang agar membaca. Aku juga sempat menulis esai “Islam Huruf Latin” yang, menurut Bandung Mawardi “tidak bisa dipahami apa maksudnya”. Tentu saja, aku mengutip novel Seniman Kaligrafi Terakhir, sebagai ilustrasi dan argumentasi perihal huruf yang kehilangan aura ilahiah dan betapa begitu banyak konsekuensi yang wajib ditanggung umat Islam akibat huruf Latin yang sudah dibuat kehilangan aura ilahiahnya—barangkali hal ini tidak hanya ditanggung umat Islam, tapi juga umat Yahudi dan Nasrani atau bahkan umat agama lain.

Saat membaca Seniman Kaligrafi Terakhir, aku tidak begitu cukup mendapatkan gambaran latar historis khususnya bagaimana proses peristiwa manusia memelihara-menukis huruf-huruf mukjizat sejak zaman agama Yahudi (agama monoteisme pertama) sampai agama monoteisme termuda Islam—agama yang di Indonesia sangat dibuat kehilangan tautan historis yang saling mengisi dan membenarkan dengan dua agama sebelumnya. Bukan berarti Seniman Kaligrafi Terakhir jelek dalam penggambaran peristiwa ilahiah penulisan. Cuma, aku lebih mendapatkan penggambaran-imajinatif peristiwa penulisan yang penuh kemabukan ilahiah dalam novel People of the Book. Judul berbahasa Inggris ini jauh lebih benar secara kebahasaan dan lebih pantas secara aura tekstual diterjemahkan sebagai Umat Kitab, menurutku, mengingat isinya perihal tiga umat monoteis yang menyelamatkan satu buku. Kata “people” sering dimaknai rakyat, masyarakat, atau kaum, jarang dimaknai umat. Namun, dalam bahasa Indonesia, aku merasa lebih pas dimaknai umat kitab, agar kesan lawas, antik, dan ilaihiah. Rasa bahasa Indonesianya jauh lebih terasa daripada bahasa Inggris bagi para pembaca Indonesia. Maka, secara sepihak aku akan menggunakan judul Umat Kitab yang mengacu pada novel People of the Book untuk seterusnya dalam esai ini.

Aku membeli novel Umat Kitab pada 28 Juni 2015 di Togamas. Tentu, novel seharga 98.000 rupiah ini tidak akan bisa segera terbeli seandainya kita (aku, Mutim, Setyaningsih, Bandung Mawardi) tidak mengerjakan pemindaian sekian ratus buku Tionghoa lawas. Dengan sangat cukup sombong, kita berlima (plus Abad) pergi ke Togamas untuk belanja buku. Seingatku, aku menghabiskan sekitar satu juta lebih untuk membeli sekian banyak buku.

Saat aku memegang novel Umat Kitab, seperti pada waktu bocah aku memegang kitab suci dengan kalimat-kalimat berusia 1000 tahun lebih, aku tidak mendapatkan nuansa aura ilahiah. Satu hal yang kemudian aku sesali bahkan aku pisuh-pisuhi secara mendalam: sampul buku. Kita hanya disuguhi warna sampul krem cokelat muda yang diberi tekstur nuansa lawas penuh bercak-bercak, dan pilihan huruf-judul yang sungguh keliru fatal: sebentuk font miring biasa (bentuk hand writing atau sekarang disebut lettering) yang disatupadukan dengan ornamen garis-garis yang membentuk kupu-kupu, jelas tidak bisa menggambarkan kupu-kupu parnassius. Tak ada kesan bahwa pilihan tipografi tersebut bakal menyirat dan menyuratkan satu novel yang mengisahkan satu kitab dari abad ke-15. Apalagi, latar tipografinya tidak dipadukan dengan ornamen bernuansa klasik sama sekali. Pilihan sampul yang keterlaluan mutakhir! Dan tentu saja akhirnya jelek.

Kesan lawas, antik, bahkan purba seharusnya dimasukkan sejak pilihan huruf dan ilustrasi sampul buku. Cuma, sungguh sayang sekali aku tidak mendapatkan kesan itu. Praktis, sejak sampul, buku ini mengesankan bukan buku yang bagus, mendalam, berkelas internasional, dan pantas mendapatkan penghargaan dari suatu lembaga dan terutama dari para (calon) pembacanya (kelompok kaum beriman dan berkitab suci, terkhusus)—Geraldine Brooks mendapatkan penghargaan Pulitzer Price bukan karena novel Umat Kitab, tapi novel Kapten March (terbit tahun 2005 dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia tahun 2006).

Terkadang aku merasa bahwa di Indonesia, termasuk dalam tradisi sampul buku agama, sampul tidak hendak diberi kesan lawas atau klasik, selalu hendak dibuat mengikuti sampul terbaru—yang bertahan adalah sampul yang diberi ornamen warna emas agar terkesan mewah, megah, dan mungkin ilahiah. Dan ini membuat estetika sampul di Indonesia tidak mempunyai pakem yang cukup jelas: dari sampul buku klasik sampai sampul mutakhir sering tak ada bedanya. Akibatnya, menurutku, sampul buku yang ditulis pada tahun-tahun lawas tidak hendak diberi kesan pertautan historis dengan masa lalu. Pesan sampulnya selalu sama: buku yang bagus adalah yang selalu terbaru bahkan kitab suci agama sekalipun.

 

/3/

Sejak bagian awal novel Umat Kitab, kita disuguhi adegan penting perihal sejarah suatu buku. Hanna, tokoh utama pembuka sejarah perjalanan buku sudah mengingatkan, “orang-orang Bosnia itu bahwa sebentar lagi akan kedatangan naskah abad kelima belas.” Hanna adalah seorang konservator buku profesional terkemuka dari Australia yang bahkan bergelar doktor di bidang spesialisasi ini—aku baru tahu bahwa di dunia ini ada profesi konservator buku antik bahkan ada jurusannya segala sampai tingkat doktoral! Di ruang museum yang dijaga dua satpam yang dijaga dua polisi Bosnia dan yang juga dijaga (polisi) penjaga perdamaian PBB, Hanna mengeluarkan peralatan kerja sebagai konservator buku: kamera dokumentasi, batang kecil, pisau, gelatin dalam gelas kimia, pasta gandum, benang linen, lembar emas yang sudah tertata.

“Ada juga kertas glasin, kalau-kalau aku beruntung dan menemukan serpih dalam jilidnya—sungguh luar biasa apa yang dapat diketahui tentang suatu buku dengan menelaah sifat-sifat kimia remah roti,” kata Hanna. Jejak evolusi historis yang dibawa suatu buku bisa mengungkapkan banyak hal dari sejarah suatu buku—bahkan, aku membayangkan bekas segar getar suara Tuhan yang masih membekas sejak diwahyukan pada manusia pada pertama kalinya. Pendekatan saintifik ini, terkadang, bisa jauh lebih banyak mengungkap makna suatu kitab suci daripada kalimat-kalimat yang digunakan di dalamnya.

Namun, seperti yang terjadi pada kasus penemuan al-Qur’an Birmingham pada tahun 2016, yang konon dianggap manuskrip al-Qur’an paling tua yang masih bertahan (ditulis sekitar 13 tahun setelah wafat Nabi Muhammad Saw., meski masih diperdebatkan), umat Islam hanya berhasil berdebat dan berpolemik, tapi tidak cukup berhasil menghadirkan pendekatan saintifik terhadap artefak religi itu. Bahkan, aku terkadang membayangkan, umat Islam di Indonesia seperti yang aku alami tampaknya tidak begitu peduli perihal kepurbaan itu, seakan al-Qur’an baru saja terbit, bukan diwahyukan pada abad ke-6.

Novel Umat Kitab sejak bagian awal begitu kuat dialiri kesadaran historis perihal perjalanan satu kitab yang semacam menjadi objek penelitian dan penyelidikan Hanna. Novel bergerak dari zaman modern abad ke-20 yang punya perangkat ilmu sains dan peralatan yang canggih pada tahun 1996, lalu bergerak pada pada tahun 1940 saat terjadi Perang Dunia II, melompat jauh pada 1894 di Wina pada puncak kolonialisme Eropa, berlanjut pada 1609 sampai pada 1492 atau tahun-tahun awal mula kodeks Ibrani umat Yahudi ditulis, yang lebih dikenal sebagai Haggadah Sarajevo. Perjalanan kitab ini menjadi saksi bahwa ternyata penyelamatnya bukan hanya umat Yahudi, tapi juga orang Islam bernama Enver Imamovic, lalu diselamatkan pada 1941 oleh Dervis Korkut (juga orang Muslim) dari mata jenderal Nazi, Johann Hans Fortner (yang dikemudian hari dihukum gantung karena kejahatan perang), sampai pada Hanna yang tak begitu jelas identitas agamanya namun barangkali adalah seorang Katolik atau Protestan.

Tugas Hanna, sebagai konservator buku antik, bukan terutama memperbaiki buku lawas yang barangkali sudah hampir rusak bahkan hendak punah tapi terutama menjaga nilai perjalanan historis buku. “Saya tidak tahu sejauh apa buku ini [Haggadah Sarajevo] perlu digarap sampai saya selesai memeriksa naskahnya, tetapi intinya begini: saya dipekerjakan bukan untuk pembersihan kimiawi atau restorasi berat. Makalah saya yang mengkritik pendekatan itu sudah banyak. Merestorasi buku seperti semula ketika pertama kali dibuat adalah tindak yang tidak menghormati sejarahnya. Menurut saya, kita harus menerima buku dalam keadaan sama seperti saat kita mendapatkannya dari generasi yang lalu, dan dalam derajat tertentu, kerusakan dan keausan mencerminkan sejarah itu. Menurut pandangan saya, tugas saya adalah membuat buku cukup stabil agar dapat ditangani dan dipelajari dengan aman, memperbaiki hanya di bagian yang benar-benar perlu. Bagian ini,” kata Hanna sambil menunjukpada noda cokelat kekuningan di atas kaligrafi Ibrani yang berapi-api, “saya bisa mengambil sampel mikrokopis serat itu, dan kita dapat menganalisisnya, dan mungkin mengetahui apa yang menyebabkan noda itu—tebakan pertama saya anggur. Tetapi, analisis lengkap dapat mengungkapkan petunjuk tentang lokasi ketika buku itu terkena noda. Dan kalau sekarang kita belum mampu mengetahuinya, lima puluh, seratus tahun lagi, saat teknik lab sudah lebih maju, konservator di masa depan pasti bisa. Tetapi, jika secara kimiawi saya melenyapkan noda—yang dianggap sebagai kerusakan—kita akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh pengetahuan itu selamanya.”

Aku sengaja mengutip hampir secara utuh perkataan dan sekaligus pendirian profesional Hanna sebagai konservator buku yang sungguh sangat sadar arti sejarah untuk generasi masanya dan terutama bagi masa depan. Saat kita memegang atau membaca buku, kita jarang sekali peduli pada hal-hal mikro yang menghinggapi buku: bahan tinta, bahan kertas, sistem cetakan dan pilihan huruf yang dipakai, coretan di halaman depan, noda-noda kecil masa lalu, teknologi cetak yang digunakan (teknologi tulis tangan, atau sudah litografi, tipografi, atau bahkan sudah teknologi offset termutakhir), dan sebagainya. Dari hal-hal kecil itu, kita bisa juga memahami buku, bukan hanya melalui huruf-huruf bermaknanya. Semua ini adalah jejak sejarah masa lalu yang penuh makna, sebagaimana diungkapkan Hanna.

Semua bekas jejak itu, bayangkan jika pada kitab suci, adalah barangkali jejak hasrat spiritual untuk tetap sedekat mungkin bersama getaran pertama suara Tuhan saat mewahyukan kitab suci pada seorang nabi. Betapa takjub mukjizatnya bisa mendeteksi dan mendapati getar pertama suara Tuhan. Betapa sungguh berharganya kitab suci yang pertama ditulis sesaat setelah Tuhan mewahyukan kata-kata sakralnya! Betapa penuh getar jiwa manusia mendengarkan getaran suara Tuhan sesaat setelah mengucapkan wahyu!

Siapa yang mempunyai kitab suci pertama di dunia ini, baik kitab suci agama Yahudi, Nasrani, Islam? Atau, jangan-jangan pertanyaan kita masih sampai pada: siapa yang pernah terpikirkan untuk memiliki edisi kitab suci pertama?

Pandangan ini, terutama dalam pemikiran teologi universalitas agama, dalam pengandaian bahwa kitab suci pasti sesuai dengan segala zaman, dianggap bisa menyalahi akar teologis agama. Kitab suci yang ditulis pertama kali dan yang dicetak pada zaman sekarang sering diandaikan sama, tidak berubah sehuruf dan setitik pun. Tak ada jejak historis dalam menulis atau mencetak kitab. Seakan semuanya baru saja diwahyukan. Maka, kitab suci menjadi kitab yang universal, melampaui waktu, melampaui kuasa sejarah. Seakan tidak pernah bercak kecil setitik pun hinggap pada kitab suci. Tentu saja, siapa yang punya mata dan melihat dan benar-benar melihat pasti wajib tahu: kitab suci terus berubah, terkena goresan arus sejarah. Dan meski barangkali tatanan kalimatnya tidak cukup berubah, namun kita sebagai manusia yang terus terseret sejarah sudah pasti berbeda dengan manusia-manusia pertama yang menerima kitab suci.

Umat pertama yang mendengar suara kitab suci hampir pasti sudah berbeda dengan umat termutakhir yang memegang kitab suci edisi cetak komputer termutakhir. Kitab suci, yang mengikuti historisitas manusia sudah pasti memasuki alam historisitas dan berubah meski tidak diakui. Inilah yang sering tidak hendak kita akui dalam berhadapan dengan kitab suci, takut menghilangkan nilai universalitasnya yang diandaikan melampaui waktu. Tentu, pendekatan historis sering dihindari, lebih memilih pendekatan normatif dalam beragama.

Namun, ada hal penting yang dilakukan Davind Ben Shoushan, satu tokoh penting dalam novel Umat Kitab ini, yang tampaknya melampaui pendekatan normatif dan historis.

/4/

Terkadang, ada cara beragama dengan kitab suci yang bisa dikatakan melampaui yang historis dan normatif: menjadi pemabuk-ilahiah dalam jerat aura kewahyuan kata-kata. Dan inilah yang dilakoni David Ben Shoushan, sebagai seorang sofer, “juru tulis bahasa-bahasa suci Tuhan”, penulis-aura-ilahiah kitab suci Yahudi. Dalam sejarah agama Ibrahimi, barangkali agama Yahudilah, sebagai yang tertua dibandingkan Nasrani atau Islam, yang begitu gigih berusaha mempertahankan aura mukjizat kitab suci yang diwahyukan pada Musa. Para penganut agama Yahudi, terkhusus para penulis kitab suci awal, adalah manusia yang paling bertanggung jawab untuk terus mempertahankan aura getar suara awal Tuhan.

Para penulis melakukan berbagai ritual seperti puasa, menahan makanan tertentu, dan sebagainya, sebelum menulis kitab suci agar aura getar kitab suci tetap seperti awal mula pewahyuan. Para penulis kitab suci itu mempunyai tugas penting: mempertahankan aura mukjizat: sesuatu yang melampaui makna, melampaui bahasa, melampaui sejarah. Kitab suci yang ditulis melalui tangan mereka hendak dikembalikan pada suara asali Tuhan. Tangan mereka hanyalah perantara ilahiah yang berada di luar kendali ego kesadaran mereka. Dalam tangan mereka, wahyu terus mengalir meski sang nabi sudah meninggalkan mereka. Wahyu itu terus terwahyukan, melalui tangan para sofer, seakan seperti sedia kala awal.

Mereka sungguh sadar bahwa tanpa aura mukjizat, kitab suci hanya sejenis buku-buku biasa: terdiri dari rangkaian huruf, lembar-lembar kertas, jilid sampul. Sungguh tidak pernah begitu berbeda antara kitab yang berisi seruan setan dan seruan tuhan. Maka, sejak sebelum manusia menulis, ia sudah mempersiapkan jiwa raga hati untuk sebentuk persiapan peristiwa pewahyuan-penulisan. Ornamen sakral kitab suci hanya sedikit pelengkap, hanya pengantar awal penampakan luar dari aura sakralitas bahasa kitab suci. Kitab suci wajib tampak penuh aura sakralitas total, seperti saat pertama kali diwahyukan, sepenuh getar aura ilahiah.

Dan itulah yang berusaha dipertahankan David Ben Shoushan: sofer miskin penuh kerelaan ilahiah, tak pernah memikirkan jabatan atau kekakayaan berlebih, tapi begitu mengagungkan penulisan kitab sucinya. Tangan Ben Shoushan “dikaruniai keterampilan untuk menghasilkan tulisan yang selaras” dengan aura ketuhanan. Tubuhnya terpelihara untuk selalu dalam keadaan siap berekstase dalam menulis kalimat-kalimat suci Tuhan.

Dan, begitulah, meski kitab haggadah shel pesach yang hendak ditulisnya pagi itu bukanlah untuk pembelajaran agama Yahudi, tapi sebagai hadiah pernikahan keponakannya dan butuh menghabiskan uang gaji selama dua bulan, Ben Shoushan begitu sangat antusias menulis kali ini. David mendapatkan satu kitab berisi lukisan-lukisan yang sungguh keterlaluan sangat berkualitas indah dan menawan. Kitab yang penulis lukisan ini “berhias emas, lapis lazuli, dan malakit”, sangat cocok untuk konsep ilustrasi kitab haggadah shel pesach yang hendak ditulisnya. Kitab ini akan menjadi hadiah pernikahan yang sangat istimewa dan bakal diwariskan pada anak cucu selama sekian generasi. Kitab yang ditulis Ben Shoushan akan menjadi satu-satunya kitab Yahudi yang mampu menyaingi kitab mazmur Kristen terbagus.

Pagi-pagi sekali, saat cahaya pagi mulai muncul kelabu, Ben Shoushan pergi ke tempat semedi penulisan kitabnya, scriptionale. Ben Shoushan membuat garis-garis sebagai pengukur tulisan. “Leshem ketivah haggadah shel pesach,” bisiknya dalam hati. Lalu Ben Shoushan mengambil pena bulu kalkun dan mencelupkannya ke dalam tinta yang terbuat dari “gallnut, resin, dan vitriol tembaga”. Perlahan, pikirannya seakan kosong, tangannya tergerak mengikuti goresan kalimat-kalimat suci. Sesekali, di goresan awal, pikirannya teringat pada rasa lapar, belum sarapan dan ancaman tidak bisa makan, tapi Ben Shoushan segera mengendalikan pikirannya. “Seorang sofer harus mengisi pikirannya hanya dengan huruf suci. Perhatiannya tidak boleh teralih ke urusan sehari-hari,” katanya. “Leshem ketivah haggadah shel pesach,” gumamnya dalam hati, berusaha menenangkan pikiran. Tangannya membentuk huruf shin—huruf akal. Perlahan, bersama gerak tangan dalam bimbingan huruf-huruf ilahiah, pikirannya berada dalam ambang antara sadar total dan ngelantur pada kisah bocah yang telah membawa kitab lukisan untuk haggadah shel pesach yang sedang digunakan sebagai dasar bakal terindahnya. Seharian Ben Shoushan pikirannya bertarung melawan mengelantur, untuk menulis huruf demi huruf dengan saksama.

Saat petang, ia meminta anak perempuannya, Ruti (Ruth Ben Shoushan), membawakan jubah bersih, dan ia berjalan kaki ke mikvah, berharap dengan perendaman ritual Yahudi ia dapat membersihkan diri dari hiruk pikuk sehari-hari dan membuka pikiran sepenuhnya untuk penulisan sucinya hari ini. Setelah kembali dengan lebih segar, ia meminta Ruti mengisi lampu agar dia bisa bekerja sepanjang malam. Sumbu lampu menguarkan aroma harum. Ben Shoushan memegang kalam, menatap kertas perkamen kitab, dan mulai menulis dengan khusyuk. “Masih awal malam, saat bintang-gemintang cemerlang di langit hitam, ketika hal itu terjadi. Karena puasanya, udara dingin, kobar terang lampu: tiba-tiba huruf-huruf terangkat dan berputaran menjadi roda gemilang. Tangannya terbang di atas perkamen. Setiap huruf menyala. Setiap aksara naik dan menari berputar-putar dalam ruang hampa. Lalu huruf-huruf itu menyatu menjadi satu api besar, dan dari dalamnya muncul hanya empat, berkobar dengan kemuliaan nama suci Yang Mahakuasa. Kuat dan manisnya nama itu tak tertahankan bagi Ben Shoushan, dan ia pingsan.”

Itulah satu peristiwa penulisan ilahiah yang menjalari seluruh tubuh Ben Shoushan. Tangan manusia menjadi perantara wahyu ilahiah Tuhan, seakan kitab suci terwahyukan kembali, berkali-kali melalui tangan seorang sofer yang melakukan ritual puasa sebelum menulis, mengosongkan diri agar tersentuh kalimat ilahiah. Itulah penulisan penuh aura pewahyuan, dan kitab suci penuh aura sakralitas melangit dan membumi. Betapa beruntung dan berbahagia manusia penulis yang berhasil berekstase ilahiah saat menulis! Sungguh!

Selama aku di pesantren, dan sempat belajar kaligrafi Islam dengan begitu cepat dan cepat memutuskan berhenti, aku tidak sempat berpikir bagaimana kitab suci awal Islam ditulis. Apakah penuh aura ilahiah? Apakah mereka memikirkan untuk tetap mempertahankan aura sakralitas al-Qur’an agar tetap punya aura sakralitas seperti pada awal mula diwahyukan. Aku baru mendapatkan kisah para kaligrafer muslim yang berusaha mempertahankan aura sakralitas dalam novel Seniman Kaligrafi Terakhir.

Sekarang, di satu zaman yang hampir tak memberikan peluang pada penulisan tangan yang ilahiah, aku justru mendapati satu paradoks: Satu dosa dan pahala terbesar Gutenberg: menghilangkan kemabukan ilahiah yang membuncah saat tangan manusia dirasuki kata-kata Tuhan! Mesin percetakan mekanistik modern yang sungguh berkuasa menyingkirkan tangan manusia dari kalimat-kalimat Tuhan di dalam kitab suci tak punya lagi aura ilahiah. Aku tidak tahu apakah ini sedikit boleh dikutuk atau malah berkah.

/5/

“Buku indah memperkuat jiwa… Salah satu sifat mulia bangsa kita adalah orang-orang yang kaya dan penting dalam setiap generasi berusaha menghasilkan naskah yang indah,” kata Rabi Duran agung, sebagaimana selalu diingat Ben Shoushan. Namun, hanya naskah yang ditulis Ben Shoushan yang benar-benar indah di atas indah. Tidak seperti naskah Yahudi sebelumnya, yang lebih banyak mengandalkan pola estetika huruf, naskah Ben Shoushan ditulis dalam kulit perkamen yang penuh dengan lukisan indah bernuansa geometris, dedaunan apik, dan terutama tata galaksi langit menurut aturan bumi mengelilingi matahari. Inilah untuk pertama kalinya seorang sofer menulis Taurat dalam perkamen yang dihiasi lukisan luar biasa indah.

Namun, karya penulisan ilahiah dari Ben Shoushan itu bahkan tidak sempat dipegang dan dikagumi sendiri oleh Ben Shoushan. Pada hari itu juga, pagi-pagi sekali, seorang perempuan hamil tua datang ke rumahnya. Dia adalah istri Rueben Ben Shoushan (anak lelaki Ben Shoushan), yang datang hendak melaporkan suami yang ditahan karena dianggap masuk agama Nasrani dengan tidak jujur, hanya ingin menikahi perempuan Nasrani. Rueben hanya bisa diselamatkan dengan penebusan uang. Tentu saja Ben Shoushan yang miskin tidak punya uang untuk menebus anak lelakinya yang sudah dianggap bahkan tidak boleh dianggap sebagai anak lelakinya lagi secara agama. Namun, hati Ben Shoushan sebagai seorang ayah tetap tak pernah lepas memikirkan nasib Rueben anak lelakinya.

Ben Shoushan pergi pada Joseph Ben Shoushan, kakaknya yang kaya raya dan berpengaruh. Namun, akhirnya dia tidak bisa menyelamatkan anaknya itu. Kakaknya tidak mungkin memberikan uang hanya untuk menyelamatkan seorang pemuda yang sudah dianggap murtad itu, sedangkan Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella I yang menang dan berkuasa lagi di Granada Spanyol hendak melakukan pengusiran umat Yahudi dari Granada. Spanyol yang telah dimenangkan kembali wajib bersih dari umat Moor (Islam). Dan sebagai ucapan syukur atas kemenangan itu adalah pengusiran umat Yahudi. Pilihan bagi umat Yahudi hanya dua: menjadi Nasrani atau pergi jauh dari Spanyol yang Katolik. Tentu saja ini akhirnya lebih mengarah pada perburuan umat Yahudi, selain Islam.

Kaum elite umat Yahudi hendak menyelamatkan sebanyak mungkin umat Yahudi, setidaknya memberikan kesempatan beberapa waktu agar mereka bisa pindah dengan sebisa mungkin membawa harta benda mereka. Pilihan strateginya hanya satu: menyuap raja dan ratu Spanyol, dengan uang sejumlah tiga ratus ribu dukat—aku tidak tahu jika dikonversi dalam rupiah jumlah 300.000 dukat ini berapa triliun. Hanya, dari ekspresi dan ucapan Ben Shoushan kita bisa menduga. Ben Shoushan langsung membenamkan wajahnya di kedua tangannya saat mendengar angkat itu. “Ya, aku tahu; jumlah yang mencengangkan. Lebih dari tebusan raja; tebusan untuk satu kaum. Tapi kita punya pilihan apa lagi,” kata Joseph Ben Shoushan yang menjadi tokoh utama pengumpul uang penebusan umat Yahudi Spanyol.

Sayangnya, uang sebanyak itu akhirnya hanya masuk ke pundi-pundi raja dan ratu, dan umat Yahudi tidak bisa aman tinggal di Spanyol. Dan, seperti yang sudah diperkirakan para elite politik dan agama Yahudi, akhirnya keluarlah pengumuman itu: “Maka kami memerintahkan…semua lelaki dan perempuan Yahudi, berapa pun usianya, yang hidup, berdiam, dan bermukim di kerajaan dan wilayah kami…selambat-lambatnya akhir bulan Juli depan, tahun 1492 ini, mereka pergi dari kerajaan kami…dan mereka tidak berusaha kembali atau tinggal di sini, atau mereka akan dikenai hukuman mati. Orang Yahudi tidak boleh pergi membawa emas, perak, atau permata; mereka harus melunasi semua utang, tetapi tidak boleh menagih piutang.”

Hanya dalam hitungan hari, keluarga Ben Shoushan hancur lebur bersama kerusuhan yang menimpa umat Islam dan Yahudi. Nasib keluarga Ben Shoushan tidak jelas. Runtuh remuk diterjang badai perang. Hanya tinggal Ruti, si bungsu yang ternyata diam-diam mempelajari kitab Taurat dengan sangat cepat, genius, dan mengagumkan, tanpa sepengetahuan bapaknya. Ilmunya setaraf dengan bapaknya bahkan seorang rabi sekalipun, meski umurnya masih belia.

Kita simak penjelasan Geraldine Brooks tentang kejeniusan Ruti membaca kitab suci Yahudi: “Ketika Ruti membayangkan huruf beit, bukan ketebalan garis atau ketepatan ruang yang dipikirkannya, melainkan misterinya: angka dua, ganda; bait atau rumah, bait Tuhan di atas bumi. “Mereka akan membangun tempat kudus untukku dan Aku akan berdiam di dalam mereka.” Di dalam mereka, bukan di dalamnya. Tuhan akan berdiam di dalam diri Ruti. Dia akan menjadi rumah Tuhan. Rumah keagungan. Hanya satu huruf kecil, dan di dalamnya jalan menuju kebahagiaan.” Ilmu agama Ruti hampir setaraf dengan bapaknya, meski bapaknya sama sekali tidak tahu hal ini—pada masa itu, barangkali perempuan Yahudi tidak boleh belajar ilmu agama tinggi, hal yang hampir merata terjadi pada semua agama Ibrahimi.

Maka, melihat apa yang sudah mulai menjadi gaduh akibat perang di sekitar rumahnya, Ruti cepat-cepat ke bengkel penjilidan kitab tempat ayahnya meminta membuatkan jilid penjepit mahakaryanya. Setelah itu, Ruti pergi ke goa yang aman, tempat dia menyembunyikan istri kakaknya yang akhirnya melahirkan di goa—di goa inilah dia belajar secara sembunyi-sembunyi Kitab Taurat selama ini. Si bocah yang baru lahir dibawa Ruti mengelana ke tempat yang lebih aman dan sekaligus ditasbihkan menjadi seorang Yahudi di laut lepas sesuai dengan ritual Yahudi yang dipelajarinya—nanti, bekas garam menempel pada kitab itu yang bakal diteliti Hanna di abad ke-20.

Kitab mahaindah itu selamat dibawa Ruti keluar dari Spanyol yang sedang diamuk kemenangan peperangan, menuju Geto (permukiman) Yahudi di Italia. Namun, kitab mahaindah itu sedang menunggu perjuangan baru dalam menghadapi sistem penghancuran buku.

Pada tahun 1589, Paus Sixtus V mengumumkan bahwa kitab-kitab dari orang Yahudi dan Islam yang mengandung apa pun yang menantang agama Katolik harus dilarang beredar atau dibakar. Tidak boleh melanggar Indeks Katolik yang telah ditentukan Gereja. Salah satu tokoh Inkuisitor yang berperan penting terhadap nasib buku-buku agama adalah Giovanni Domenico Vistorini.

Awalnya, dia hanyalah seorang bocah yatim piatu yang ditinggal mati ibu-bapaknya (yang beragama Yahudi) saat berumur 6 tahun. Dia dimasukkan ke panti asuhan dan akhirnya dididik belajar agama Katolik. Kemampuannya belajar bahasa, selain teologi abstrak yang rumit, sangat mengagumkan para frater yang menampungnya, maka dia diajar mempelajari bahasa Yunani, Aram, Ibrani, dan Arab. Semuanya diserap Vistorini dengan sangat cepat dan mengagumkan. Waktu muda, Vistorini sangat haus ilmu pengetahuan. Namun, akibat trauma masa kecil yang terus menghantui jiwa dan alam bawah sadarnya, Vistorini sering mabuk. Agar ia bisa melupakan dan mimpi-mimpi malam hari berupa kekejaman di masa kecil yang menimpa ibunya sesaat sebelum meninggal, agar ia bisa melupakan nama aslinya: Eilahu ha-Cohain.

Ternyata, sifat dan perilaku inilah yang bakal menentukan nasib kitab haggadah mahaindah. Sejak dari tangan Ruti yang membawanya dari Spanyol sampai ke Venesia, haggadah ini sudah berpindah kepada tiga generasi Yahudi, sampai akhirnya berada di tangan seorang perempuan muda bankir kaya raya yang berpura-pura menjadi Katolik, Reyna de Serena. Dońa perempuan ini hendak meninggalkan Venesia menuju dan tak mungkin membawa haggadah yang sungguh bakal membahayakan keselamatannya dan keselamatan haggadah itu sendiri. Maka, begitulah, haggadah itu diserahkan kepada rabi Judah Aryeh, yang dikenal cukup akrab dengan Vistorini. Reyna de Serena memohon agar Aryeh meloloskan haggadah mahaindah yang telah diwarisi dari ibunya dari jerat Indeks yang bisa membakarnya.

Dan begitulah, rabi Aryeh yang kecanduan berjudi dan pastor yang mencandu minuman keras, bertemu di Kantor Suci untuk membahas nasib haggadah. Awalnya, Aryeh menduga bahwa haggadah yang dibacanya dengan teliti ini bakal agak gampang lolos. Namun, ternyata dia hanya membaca teksnya saja, bukan ilustrasi. Padahal, Vistorini justru melihat ilustrasi mahaindah yang sungguh berbahaya.

“Aryeh memeriksanya, lalu kepalanya terasa ringan. Bagaimana ia sampai tidak melihatnya? Bumi tempat Yang Mahakuasa menciptakan tumbuhan dan hewan—dalam setiap ilustrasi, bumi ditempatkan sebagai bola. Bahwa bumi itu bulat, dan bukan datar, kini diyakini oleh sebagian besar teolog. Menarik juga bahwa seniman dari seabad lalu ini, ketika orang Kristen dihukum mati dengan dibakar jika meyakini hal ini, sudah mendukung pendapat tersebut. Tetapi itu belum cukup untuk mengutuk buku ini. Si ilustrator merambah lebih dalam ke wilayah berbahaya. Di sudut kanan atas ada tiga lukisan itu, di atas bumi, ada bola keemasan, jelas dimaksudkan sebagai matahari. Penempatannya ambigu.

Aryeh mendongak memandang Vistorini. “Anda meyakini ini menyiratkan bidah bahwa matahari adalah pusat tata surya?”

“Menyiratkan!” Rabi, jangan pura-pura bodoh. Ini jelas mendukung para astronom Muslim, bidah Copernicus, yang bukunya ada dalam Indeks, bidah lelaki dari Padua itu, Galileo, yang akan segera dihadapkan kepada Inkuisisi untuk mempertanggungjawabkan kesalahannya.” Namun, dalam percakapan selanjutnya, sang pastor menantang sang rabi bermain judi untuk menentukan nasib haggadah itu. Jika sang rabi menang, sang pastor akan membubuhkan tanda revisto (selamat); jika sang pastor yang menang, haggadah akan hangus dilahap api. Sang rabi, ternyata menang, meski tentu saja masih membutuhkan tanda tangan sang pastor sebagai stempel pengesahan. Sang pastor merasa dikalahkan harga dirinya. Dia mengusir sang rabi, yang dengan cerdik telah memberinya anggur sangat cukup banyak untuk membuatnya sedikit mabuk. Begitulah, melalui kecerdikan retorika, keberuntungan, juga sedikit keculasan. Dalam suasana keguncangan jiwa, Vistorini akhirnya membubuhi stempel namanya: Giovanni Dom. Vistorini. Tahun 1609.

Akhirnya, haggadah itu tersimpan selamat justru di Kantor Suci yang seharusnya memusnahkannya.

/6/

Siapakah sang ilustrator menakjubkan dalam haggadah itu? Seorang Yahudi yang taat, seperti dalam perintah Tuhan pada Musa, dilarang membuat gambar. Hanya kitab-kitab agama Katolik yang penuh dengan ilustrasi, terutama akibat pengaruh helenisme Yunani dan teologi trinitas, tentu saja. Namun, tidak mungkin seorang Katolik membuat ilustrasi untuk kitab umat Yahudi pada tahun-tahun itu. Di sinilah, yang sedikit mengagetkanku saat membaca novel Umat Kitab Geraldine Brooks. Ternyata sang ilustrator kitab mahaindah itu adalah seorang muslim. Tak hanya itu, dia adalah seorang perempuan!

Awalnya, dia adalah anak seorang dokter muslim yang punya bakat menggambar. Nasib apes menimpanya dan menjadikannya seorang budak. Sampai akhirnya, dia dibeli seorang Yahudi baik hati dari seorang majikan Katolik yang pernah mengajarinya melukis ala seniman Katolik. Saat menjadi budak, dia menyamar menjadi seorang lelaki, jadi dia diberi kesempatan belajar seni lukis dan ilustrasi. Saat bersama majikannya yang baik, sang seniman perempuan dibiarkan memeluk Islam dan tidak diperlakukan sebagai budak. Si seniman merasa harus membuat sesuatu sebagai tanda terima kasih untuk sang tuan yang sudah begitu baik padanya.

Maka, dia belajar kisah-kisah dalam kitab Taurat yang sering ajarkan kepada anak-anak Yahudi dan sedikit banyak kisah-kisahnya sama seperti dalam al-Qur’an. Dia ingin membuat ilustrasi mahaindah untuk sebuah bacaan bocah Yahudi. Menurutnya tidak apa-apa kitab haggadah ada gambar-gambar ilustrasinya asal yang membuat bukan orang Yahudi. Begitulah, setelah membeli kulit perkamen yang paling bagus, dia mulai membuat ilustrasi. Dia menulis (ilustrasi) buku bergambar untuk bocah Yahudi. Dan kitab bergambar inilah yang kelak dipakai sofer Ben Shoushan. Dengan demikian, dalam satu kitab bocah Yahudi yang akan bertahan sampai sekarang itu, ada tangan seorang Yahudi, Islam, dan Katolik! Ada multiidentitas dalam kitab bocah itu.

Barangkali, karena tiga identitas agama bersatu itulah, maka kitab haggadah begitu indah: menyiratkan sumbangan bagian-bagian penting dari tiap agama. Mulai dari unsur sakralitas penulisan kitab suci sampai pada unsur geometris (sains) kosmis dalam ilustrasi yang mendapatkan pelatihannya dari seniman Katolik. Barangkali, inilah salah satu seni rupa kitab terbaik untuk seorang bocah.

Sudah begitu banyak tangan-tangan manusia yang tak peduli pada identitas agama, bahkan nyawa dan harta mereka korbankan, demi menyelamatkan kitab bocah berilustrasi menakjubkan itu. Sudah sekitar lima abad lebih kitab bocah itu bertahan sampai sekarang. Aku tidak tahu, apa makna perjalanan lima abad untuk sebuah kitab bocah bagi kita sekarang. Barangkali, sejarah perjalanan kitab bergambar untuk bocah itu sudah cukup memberikan kita kisah-kisah yang menakjubkan. Barangkali melebihi kitab suci yang biasanya hanya ditulis, dicetak, dan kerjakan oleh satu agama satu. Dalam kitab itu, tiga agama Ibrahimi hadir bersama, dengan segala kisah-kisah bersamanya.

Sampai di sini, aku merasa: barangkali yang kita butuhkan dalam hidup ini adalah kitab bocah, bukan kitab suci yang dewasa.

M. Fauzi Sukri

M. Fauzi Sukri

koordinator Tadarus Buku di Bilik Literasi Solo,
menulis Guru dan Berguru (2015)
M. Fauzi Sukri

Latest posts by M. Fauzi Sukri (see all)

  • Junaidi Khab

    Catatan tahunan. Puwaaanjanggggg

  • Ibnu Syuaib

    mantab,,, adakah info penjualan buku seniman kaligrafi terakhir dan umat kitab itu..??