Valak yang Tak Lagi Mencekam; Review Film The Nun (2018)

in Hibernasi by

Berawal dari pengumuman oleh Warner Bros di tahun 2016 bahwa mereka akan merilis sebuah film spin-off berjudul The Nun, saya antusias sekaligus tak berharap banyak. Keputusan tersebut jelas muncul setelah figur Valak menjadi viral selepas kemunculannya di The Conjuring 2. Hal ini membuat saya mau tak mau skeptis, sepenting inikah figur Valak di dalam The Conjuring Universe sampai-sampai harus dijelaskan lebih lanjut? Atau ini sekadar proyek iseng yang mementingkan profit?

The Nun mengambil latar tempat Romania di tahun 1952, atau tepatnya di sebuah Biara bernama St. Carta. Film ini dibuka dengan keputusan dua orang biarawati yang hendak membuka sebuah pintu bertuliskan finit hic deo (bahasa Latin yang berarti God ends here). Meskipun motif mereka yang entah, adegan pembuka ini cukup memikat dengan atmosfer menyeramkan yang begitu kental—scoring dan suasana lorong yang mencekam. Salah seorang biarawati masuk, sedangkan yang satunya menunggu di luar sembari bersimpuh dan berdoa. Tentu kita tahu apa yang terjadi selanjutnya—biarawati yang di dalam keluar bersimbah darah dan menyerahkan sebuah kunci lalu mati, biarawati yang di luar menerimanya—lari lantas bunuh diri.

Kejadian janggal itulah yang menjadi akar cerita The Nun ini. Seorang biarawati yang belum disumpah dan konon bisa melihat hal-hal tak kasatmata bernama Suster Irene dan seorang pendeta bernama Father Burke diutus untuk menyelidiki kasus tersebut, dengan tujuan utama yakni mencari tahu apakah Biara St. Carta masih bisa dikategorikan suci atau tidak. Mereka dibantu menuju ke lokasi oleh Maurice “Frenchie” Theriault, warga lokal yang menemukan mayat biarawati bunuh diri tadi. Frenchie bercerita bahwa Biara St. Carta adalah hal yang tabu untuk dibicarakan, warga sekitar bahkan enggan untuk bercerita lebih lanjut tentang tempat tersebut, atau jika terpaksa bercerita, mereka akan meludah—kepercayaan warga sekitar untuk mengusir hantu.

Jarak dari desa menuju Biara cukup jauh dan dipisahkan oleh bukit yang panjang nan luas, Frenchie menjadi orang yang mengantar Suster Irene dan Pendeta Burke karena ia sehari-harinya bertugas mengantarkan suplai kebutuhan sehari-hari untuk para biarawati di dalam Biara St. Carta.

Yang terjadi berikutnya adalah kita akan mengikuti apa saja yang terjadi di Biara bersama Suster Irene dan Pendeta Burke. Kejadian demi kejadian janggal mereka saksikan semenjak kedatangannya di Biara, seperti kuda Frenchie yang tak mau masuk lebih dalam ke area Biara, salib yang digantung dan ditancapkan sepanjang jalan, bekas darah biarawati bunuh diri yang masih basah, dan masih banyak lagi. Kondisi Biara St. Carta ternyata sudah rusak di segala penjuru karena terkena bom ketika Perang Dunia II dan terkesan mustahil masih ada biarawati yang tinggal di dalamnya. Namun anehnya, di dalam Biara mereka tidak diizinkan masuk lebih dalam lagi oleh sosok misterius yang mengaku sebagai pimpinan biarawati, karena ada ritual yang akan ia jalani bersama para biarawati yang lain, sehingga Biara baru bisa diselidiki besok. Kabar buruknya? Suster Irene dan Pendeta Burke dengan polosnya mengiyakan anjuran untuk menginap di salah satu sudut Biara tersebut.

Dalam waktu semalam, masa lalu dari tokoh-tokoh dalam film ini perlahan terkuak. Suster Irene yang akhirnya mengaku bahwa dia memiliki “penglihatan” sedari kecil dan tak dipercaya oleh ayahnya sendiri. Lalu Pendeta Burke yang mengaku bahwa ia pernah gagal dalam melakukan proses exorcist kepada seorang anak kecil bernama Daniel. Latar belakang mereka berdua akan berperan penting di pertengahan hingga akhir film.

Hal yang memiliki potensi dalam film The Nun adalah scoring-nya sangat mendukung latar tempat dan waktu yang digarap dengan serius dalam film ini. Tata busana, properti, pemilihan aktor, juga lokasi pengambilan gambar di dalam Kastil Corvin dan di Sighișoara menguatkan atmosfer lawas yang diusung. Sayangnya, suasana yang sudah dibangun dengan apik tersebut tak diimbangi dengan cerita yang apik pula.

Malam hari selalu menjadi waktu yang terasa paling panjang di sebuah film horor, dan siang hari berlangsung begitu singkat. Rutinitas klise (seorang tokoh penasaran dengan hal janggal—menghampirinya—jumpscare) terulang secara terus-menerus di tiap malam yang Suster Irene dan Pendeta Burke jalani. Hal ini memunculkan kembali rasa skeptis saya. Apalagi ada sebuah adegan di mana Frenchie harus berurusan dengan biarawati bunuh diri tadi dalam perjalanannya pulang ke desa setelah mengantar Suster Irene dan Pendeta Burke. Anehnya, biarawati tersebut bertingkah seperti mayat hidup dan lebih cocok disebut zombie daripada hantu.

Hal fatal lainnya adalah sutradara juga penulis cerita seakan-akan tak bisa membedakan garis batas antara hal yang nyata dan yang gaib. Menembak dan mengalahkan sesosok hantu menggunakan shotgun adalah hal lumrah apabila hal tersebut terjadi di The Walking Dead, 28 Days Later, Zombieland, tapi di The Nun?

Film ini berusaha keras menghibur penonton dengan menyelipkan guyonan-guyonan ringan yang dilontarkan oleh Franchie, juga sikapnya yang genit dan konyol. Namun banyaknya penonton yang tertawa menonton sebuah film horor di sepanjang film—tak hanya di adegan yang memang lucu, melainkan juga di adegan yang seharusnya mencekam—sepertinya bukan indikator bahwa film horor tersebut berhasil. Perlu diingat bahwa The Nun adalah bagian dari The Conjuring Universe, bukan Marvel Cinematic Universe.

Sepanjang film saya menanti kengerian yang sama dengan apa yang saya rasakan di tiga film The Conjuring Universe (selain Annabelle yang gagal). Namun yang saya dapat adalah jumpscare murahan dan mudah ditebak bertebaran di mana-mana. Film ini tidak memiliki dasar cerita yang kuat dan penting. Penonton akan dibuat lupa dengan figur Valak karena porsi kemunculannya yang sedikit, tergantikan oleh dominasi arwah dua biarawati yang mati di awal film, juga biarawati-biarawati lain—yang tentu hanya bisa dilihat oleh Suster Irene seorang. Di satu titik saya dibuat tak percaya bahwa yang menulis cerita film ini adalah James Wan. Segi teknis juga payah, pergerakan kamera yang membuat pusing dan mual. Alih-alih garapan Warner Bros, The Nun lebih pantas disebut sebagai film horor low-budget yang mengincar posisi nomor satu di box office dengan mengusung nama besar seperti James Wan sebagai penulis ceritanya dan embel-embel The Conjuring Universe yang sudah kondang.

Sayang sekali rasanya The Conjuring Universe harus diakhiri dengan film The Nun, setelah dua film sebelumnya, The Conjuring 2 dan Annabelle: Creation mendapat tanggapan positif—baik dari penonton, juga dari para kritikus film. Seandainya memang The Nun dibuat sebagai media memperkenalkan Valak lebih lanjut ke penonton, rasanya saya perlu berkenalan lagi, berjabat tangan lantas ngopi. Karena menonton film ini ibarat memasuki wahana rumah hantu, kita membayar untuk dikaget-kageti dan lupa setelahnya. Akhirnya keluar dari bioskop, saya bertanya-tanya apakah The Nun—sebagaimana disebutkan dalam tagline­-nya—pantas disebut sebagai The Dumbest Chapter? Eh, maksud saya The Darkest Chapter.

Iqbal Rifqi H

Iqbal Rifqi H

Pernah mendapatkan beberapa penghargaan di festival-festival film skala nasional, seperti film pendek terbaik kategori pelajar Malang Film Festival 2014 untuk film “Banyu! (2013)”, dan nominasi film terbaik kategori mahasiswa Festival Film Surabaya 2015 untuk film “Potret (2014)”.
Iqbal Rifqi H