Vulnerable Turkey: Ihwal Kecemasan Bernegara

in Esai by
theculturetrip.com

Siang itu, matahari sangat terik di musim panas. Saya baru saja turun dari mobil otostop dari Mardin ke Diyarbakır dan tolah-toleh kiri kanan untuk menumpang tanya. “Kami ke arah kanan, kamu lurus ikuti jalan itu dan tunggu angkutan di sana menuju kota,” pesan Emrah, sopir mobil yang saya naiki tadi bersama dua temannya. Mereka bertiga adalah pemuda suku Kurdi dari Mardin dan Şanlıurfa.

Saya diturunkan tepat di pertigaan jalan Mardin-Diyarbakır setelah menolak ajakan mereka yang hendak melanjutkan perjalanannya ke genel ev (rumah pelacuran). Sebenarnya saya tidak terlalu percaya sesiang itu mereka akan mengunjungi rumah pelacuran di Diyarbakır. Mungkin hanya bercanda, pikir saya, tetapi sedari tadi di mobil obrolan seksis tentang perempuan-perempuan tumpah ruah. Ah, saya tidak peduli. Semoga mereka sehat dan bahagia di jalannya. Saya berterima kasih kepada mereka bertiga sudah memberi tumpangan mobil (otostop), setelah sekitar setengah jam lebih saya menjulurkan ibu jari tanda otostop di jalan keluar kota Mardin, beberapa jam sebelumnya.

 Tak berselang beberapa lama, saya melihat seorang pemuda yang sekira baru lulus SMA. Saya menghampirinya. “Merhaba, saya mau ke kota. Apakah ada angkutan dari sini?”

“Bareng saya kalau begitu. Saya juga mau ke kota.”

Kami lalu berkenalan sembari menunggu angkutan kota. Dia namanya Hasan, berhenti sekolah sebelum lulus SMA lalu pergi ke Baghdad untuk bekerja di perhotelan mengikuti jejak kakak-kakaknya di sana.

Setelah tiba di kota Diyarbakır dengan angkutan kota (dolmuş), Hasan berjanji akan menemani saya berkeliling di seputar kale (benteng/tembok tua dari era sebelum Byzantium), benteng/tembok pengamanan yang konon terpanjang kedua setelah Tembok China. Saya menerimanya dengan senang hati. “Saya ke sini untuk jalan-jalan aja,” ujarnya ketika saya pastikan kesediaannya.

Sebelum melangkah menaiki kale, saya mendengar sebuah pertanyaan yang membuat saya kikuk; susah menjawabnya karena pertanyaan itu di luar dugaan saya yang datang ke Turki untuk keperluan studi dan waktu sisa dipakai untuk travelling demi mengenal sejarah, sastra, dan kebudayaan mereka.

Ajan mısın?” adalah pertanyaan Hasan sembari menatap saya dengan sorot mata tajam. Sebelum menjawab pertanyaan “Apakah Anda agen?”, saya coba memahami dan menyerap dengan saksama diksi tersebut. Takut keliru, saya lalu memastikan ulang untuk menanyakannya kembali. Hasan mengiyakan, ajan yang dimaksudnya adalah ajan yang saya pahami. Kemudian saya menjawab dengan sangat hati-hati, bahwa saya pelajar dari Indonesia dan tidak pernah sekali pun terpikir sejauh itu. Bahkan pun kata ajan nyaris tidak pernah muncul dalam kesadaran saya.

Ajan mısın? ternyata menjadi pertanyaan yang lumrah ditemui di banyak tempat di Turki ketika saya melakukan perjalanan, dari pantai barat Çanakkale hingga tanah lapang dan bukit-bukit di Batman dan Van. Apa yang saya alami dengan Hasan menjadi tanda awal titik pangkal kesadaran saya selanjutnya tentang kata ajan ini. Setiap kali mendengar istilah ajan—baik yang ditanyakan langsung ke saya ataupun dari media—seketika saya pasti mengingat Hasan, seorang pemuda yang sangat baik menyambut saya dan menemani ke tempat-tempat bersejarah di seputar kota Diyarbakır.

Kata ajan ini kemudian menjadi semacam kata kunci yang coba saya masuki untuk menguliti aspek lain dari sejarah sosial politik di Turki. Kesadaran seperti itu muncul sebagai sarana bagi saya secara personal mengenal Turki secara lebih dalam—semacam upaya menyusuri kedalaman (derinlik) sejarah kebudayaan dan memori kolektif mereka. Eksistensi saya sebagai diri-yang-asing di mana kesadaran (untuk) berjarak dengan setiap objek dan peristiwa di Turki kemudian muncul berbarengan dengan serangkaian kecurigaan-kecurigaan, semacam pertanyaan yang seperti biasa selalu saya benturkan dengan realitas untuk mencari jawaban paling mungkin yang muncul dari perilaku maupun memori kolektif sebuah masyarakat.

Sebagai negara yang secara geografis menjadi perlintasan tiga benua (Asia, Eropa dan Afrika), kepentingan-kepentingan yang mendarat di Turki akan memaksa negara tersebut untuk senantiasa awas, atau bahkan waswas kepada orang asing. Akhir abad 19 dan memasuki abad 20 adalah momentum penting berubahnya sebuah sistem dan tatanan kebudayaan Turki dari Osmani ke Turki modern. Sejak Sultan Abdulhamid II berkuasa dari 1876

–1909, serangkaian operasi tersembunyi dari agen-agen luar Osmani semakin tampak jelas bermanuver di jantung kekuasaan Kesultanan Osmani. Fakta seperti itu tentu saja sudah terjadi jauh pada tahun-tahun sebelumnya, khususnya setelah pengaruh Osmani semakin pudar di wilayah kekuasaannya sendiri (Bahadıroğlu, 2015). Menjelang berakhirnya Kesultanan Osmani, Perang Dunia I meledak dan melibatkan Turki sebagai salah satu negara yang aktif berperang. Masa-masa awal republik di bawah Mustafa Kemal Ataturk, misalnya, operasi senyap para agen dan spionase baik dari internal maupun asing terus berevolusi mencari cara untuk mendapatkan pengaruh. Bersamaan dengan itu, tradisi kudeta militer yang terjadi di Turki ditengarai sebagai pengejawantahan di balik kerja intelijen dan agen-agen asing yang bercokol di tubuh pemerintahan Turki. Tahun 70-80 disebut sebagai tahun-tahun kemarahan (öfkeli yıllar) untuk menggambarkan ketegangan dan tensi sosial politik yang kompleks. Pada tahun-tahun tersebut, agen-agen asing dari Uni Soviet, Amerika dan Inggris berebut lahan segar di Turki untuk menancapkan pengaruhnya. Operasi para agen dan spionase berkembang pesat selama era Perang Dingin yang kemudian berhasil menumbangkan Blok Timur.

Meskipun operasi para agen dan spionase berjelaga di ranah elite yang tak kasatmata, pengaruh polarisasinya kepada rakyat langsung terasa. Masyarakat Turki merasakan sendiri tahun-tahun penuh kekerasan dan ketidakjelasan dengan kekuasaan militer yang tanpa batas. Intimidasi, polarisasi dan kampanye ideologis yang dimainkan oleh aktor-aktor di dalam negara terus tumpah ruah dan menjadi konsumsi keseharian dan direkam oleh memori kolektif mereka. Sehingga kemudian, setelah menelisik aspek historis sosial politik mereka, saya menerima dengan mudah apa yang dikatakan Hasan di atas. Ia mewakili atau menjadi salah satu dari memori kolektif rakyat Turki yang ketepatan berasal dari komunitas suku Kurdi. Sehingga Hasan tidak merasa perlu mengetahui terlebih dahulu (dan tentu ini ironis) dari mana saya berasal, seperti apa Indonesia, dan sejauh apa pengaruhnya untuk menjadi agen atau bagi spionase Turki (?). Andai Hasan tahu apa dan siapa Indonesia, mungkin dia sudah seperti orang-orang kebanyakan di Turki yang langsung memeluk atau setidaknya menaruh hormat sebagai saudara seiman, sebagai bangsa yang dirasa begitu dekat dengan sejarah mereka. Karena Indonesia dan Turki, kesan mereka, adalah saudara jauh yang sama-sama muslim dan dikenang dengan baik.

Tapi Hasan tetaplah Hasan, dengan kesadaran, pengalaman, dan pengetahuannya sendiri ia bertindak!

Selanjutnya, jelajah kritik yang saya kendarai dalam mengamati masyarakat Turki dalam topik kali ini pun tiba pada satu istilah: feeling insecure (merasa tidak aman, merasa diancam). Feeling insecure dengan segenap variannya adalah gejala umum yang bisa ditemukan baik dalam aspek personal (problem psikis) ataupun sosial (perasaan kolektif). Meski pembacaan saya berangkat dari hal-hal partikular yang dialami oleh segelintir orang, aspek-aspek sosial yang kemudian membentuk memori kolektif dengan feeling insecure tidak bisa dipungkiri sebagai landasan menarik di balik sifat-sifat dan kecenderungan bersama suatu bangsa. Rakyat Turki, sebagai masyarakat yang dominan dengan pandangan inward-looking (melihat ke dalam bahwa sesuatu yang dimilikinya adalah yang utama dan terbaik), selalu melihat segala sesuatu di luar dirinya sebagai subjek/objek beridentitas politis—dalam artian luas. Atau dalam konteks pemahaman lebih intens dan dekat, tindakan dan pandangan mereka kerap kali berproyeksi terpolarisasi-ideologis.

Dalam aspek psikis, perasaan curiga, awas, dan bahkan takut kepada orang asing dapat dibaca sebagai gejala temporal yang bisa disembuhkan oleh para psikolog. Tetapi, jika kasusnya merupakan produk dari proses penciptaan seperti hasil indoktrinasi dan ideologisasi secara masif dan komprehensif, fenomena feeling insecure harus dibaca secara lebih luas dengan menyertakan kajian-kajian sosio-historis dan antropologis untuk melihat potensi antara memori dan perilaku kultural. Dalam konteks psikologis, gejala seperti xenophobia, inferiority complex, atau bahkan ontological security bisa membaca problem-problem psikis yang mendera seseorang menjadi feeling insecure. Tidak sedikit orang beranggapan bahwa banyak ancaman di sekitar dirinya sehingga melahirkan rasa awas dan takut kepada lingkungannya.

Namun begitu, poin penting yang harus dicatat adalah bahwa orang Turki bukan bangsa yang takut atau penakut. Mereka adalah pemberani yang selalu waswas terhadap musuh-musuh yang datang secara invisible (tak terlihat), khususnya melalui agen-agen rahasia dan semacamnya. Bahkan di waktu bersamaan mereka kerap kali menunjukkan dirinya sebagai bangsa perang dan pemberani, apalagi ketika berhadapan dengan isu-isu yang mejnadi ancaman kepada bangsa dan negara mereka. Perasaan curiga, awas, dan merasa tidak aman dapat dibaca sebagai sebentuk kehati-hatian terhadap orang asing demi memagari dan menjaga komunitas-senegara dari ancaman-ancaman pemecah-belah.

Melihat rakyat Turki melulu dalam perspektif di atas menurut saya tidak cukup. Karena saya melihat feeling insecure yang dialami mereka lebih karena aspek-aspek kolektif yang dibangun di atas fondasi yang kokoh, yaitu sebagai bangsa dan negara (atau bisa juga disebut sebagai buah dari proses penanaman nasionalisme). Ada kecemasan-kecemasan terhadap apa yang mereka sebut menjaga negeri (vatana sahip çıkmak); kekhawatiran terhadap kelompok-kelompok yang ingin mengacaubalaukan (karıştırmaya çalışmak). Artinya, feeling insecure terhadap orang asing bukan melulu perasaan yang muncul atas nama pribadi/personal, tetapi ada perasaan ancaman terhadap komunitas-bangsa. Ada pikiran bersama yang melampaui hal-ahwal peronal, yaitu perasaan mengancam kepada bangsa dan negara.

Fenomema seperti ini dapat kita anggap sebagai kecemasan bernegara, yang biasanya muncul karena rasa memiliki terhadapnya—untuk tidak menyebutkan karena nasionalisme dan patriotisme. Kecemasan adalah basis prinsipil manusia sebagai warga negara ketika berhadapan dengan ancaman terbesar mereka, yaitu “kehilangan”. İstilah kecemasan karena (ancaman atau sudah) kehilangan, dalam beberapa sisi, bisa telisik hingga ke dalam karya literatur Turki dengan istilah hüzün, seperti sering disebutkan Orhan Pamuk. Meski kecemasan dalam hüzün lebih banyak disebabkan karena kehilangan pada aspek-aspek kultural dan memori, kehilangan dalam bentuk fisik (misalnya karya-karya arsitektur) juga menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari hüzün. Namun kecemasan bernegara dalam konteks ini mempunyai pemahaman yang lebih organik, yaitu irisan-irisan yang secara langsung berhubungan dengan negara. Kehilangan bagi negara yang paling faktual adalah perpecahan teritorial. Misalnya, Timor Leste keluar dari Indonesia tahun 1999 yang secara kasatmata telah mereduksi kekuatan teritorial sebuah negara kesatuan. Ancaman disintegrasi seperti itu juga menghantui Turki dengan menguatnya gerakan nasionalisme suku Kurdi di Turki tenggara dan timur.

Kecemasan akhirnya menjadi bumbu demi menjaga dan mempertahankan kesatuan negara Turki. Kekuatan agen-agen state apparatus Turki kemudian dipakai untuk mengantisipasi kecemasan sebelum menjadi kemarahan dan frustrasi (anger and frustration) yang akibatnya bisa fatal, dan sangat mungkin menjadi pemicu failed state. Bangsa Turki hari ini, bagi saya, berada dalam kombinasi antara feelings of inscure dan kecemasan-kecemasan yang meniupkan harapan. Harapan-harapan itulah yang kemudian meyakinkan saya bahwa bangsa Turki bisa terus bangkit menjaga kepentingan nasional mereka.

Imajinasi musuh

Lebih lanjut, saya melihat feeling insecure sebagai gejala kolektif disebabkan oleh beberapa hal berikut. Pertama adalah adanya imajinasi tentang musuh. Dalam banyak kesempatan saya sering mengatakan bahwa rakyat Turki adalah bangsa yang sangat terang-benderang mengidentifikasi musuh-musuh mereka. Mereka membagi musuh mereka secara gamblang ke dalam dua kategori: musuh dari dalam dan musuh dari luar. Musuh-musuh dari dalam bagi mereka adalah semua entitas personal ataupun kelompok yang melawan dan mengobrak-abrik kesatuan negara Turki, misalnya pendiri Partai Pekerja Kurdistan (PKK) Abdullah Ocalan karena sepak terjang kelompoknya yang dikenal sebagai pemberontak dan separatis. Atau, khususnya setelah Percobaan Kudeta Milter 15 Juli 2016, ada sebagian rakyat Turki yang percaya bahwa Fetullah Gulen dan kelompoknya menjadi ancaman bagi mereka. Meski fenomena yang terakhir ini lebih menjadi semacam kesadaran dan pengetahuan yang diproduksi oleh negara.

Dua kelompok musuh dari internal negara di atas menjadi musuh rakyat Turki hari ini. Bisa dipastikan nyaris semua orang Turki akan mengakui dan sekaligus mengklaim mereka berdua dan kelompoknya sebagai musuh. Di samping itu, masih ada musuh-musuh dari internal negara yang dalam praktiknya lebih sebagai musuh ideologis dengan head to head antarfaksi dan kelompok komunal, misalnya kelompok Islam ekstremis vs sekuler, kelompok komunis vs Islamis, ultranasionalis vs liberal, dll. Kelompok-kelompok ideologis terakhir tersebut bisa menjadi musuh ketika berhadapan dalam kontes lokal seperti pemilihan umum ataupun hajatan politik lainnya yang notabene akan memakai identitas ideologis yang terang. Tetapi di waktu yang lain, mereka bisa menjadi saudara sebangsa dan senegara yang akur ketika mereka dihadapkan kepada musuh dari luar.

Musuh dari luar yang telah merasuk menjadi memori kolektif mereka adalah negara-negara seperti Inggris, Yunani, Armenia, Amerika, Rusia, dan Prancis. Bangsa dari negara-negara tersebut, seperti yang tergambar dalam memori kolektif mereka, adalah aktor-aktor yang ikut andil memecah belah Osmani sehingga Turki Osmani kehilangan tanah-tanah kekuasaannya di Arab, Afrika, dan Eropa Timur. Musuh-musuh berikutnya yang tertanam dalam memori mereka adalah negara-negara pecahan Osmani yang langsung membelot dari Turki Usmani, misalnya Bulgaria, Kibris Selatan, Arab Saudi, dan sebagainya. Menjelang Perang Dunia I pada awal abad 20, Osmani menderita peperangan masif di banyak vilayet-nya—dari ujung negara-negara Arab, Afrika, hingga negara-negara Balkan (Eropa Timur). Hanya ada dua pilihan bagi mereka: menjadi musuh dengan cara membelot atau membantu tentara Osmani untuk berperang.

Selain negara-negara Balkan seperti Albania, Kosovo, dan Bosnia, ada pasukan tentara dari Yaman, Suriah, dan Tunisia yang ikut membantu Osmani berperang. Negara-negara terakhir ini secara terbuka dan kasatmata dinobatkan menjadi negara sahabat (dost ülkeler) bagi orang Turki. Sementara negara seperti Arab Saudi dilihat sebagai pengkhianat karena sejak sekitar medio abad 18 di daerah Diriyah (sekitar Riyadh) yang pada waktu itu menjadi vilayet kekuasaan Osmani sudah muncul benih-benih pemberontakan yang dipimpin oleh Muhammad bin Saud, tokoh pejuang dari kabilah kecil petani dan pengembala kembing yang menjadi cikal bakal negara Saudi Arabia hari ini. Selanjutnya negara-negara seperti Israel menjadi musuh yang telah ikut mewarnai memori kolektif mereka.

Saya melihat konstruksi paling mendasar di balik imaji musuh dalam memori rakyat Turki disebabkan karena faktor sejarah bangsa Turk yang ditulis dari perang ke perang. Dari medan peperangan, tersebutlah musuh-musuh dan para pengkhianat yang harus mereka waspadai sepanjang sejarah. Uniknya, hingga sekarang mereka percaya diri sebagai bangsa perang yang suka menjajah dan menaklukkan. Menjajah (atau menguasai) bagi mereka seperti telah menjadi karakter laten dari etnik grup Turk. Contoh paling mudah misalnya dalam aspek jual beli, sangat susah mencari orang Turki yang menawarkan dirinya menjadi pengimpor/pembeli dari produksi luar (negeri). Mereka sebisa mungkin akan menawarkan dan menjual produk-produk yang berasal dari negeri mereka daripada membeli dari pihak luar. Memang, sejarah Turan (tanah orang “Tur”) dari Asia Tengah yang kemudian diasosiasikan dengan bangsa Turki (Turkic people) hari ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah perang yang panjang. Mereka datang dari pegunungan dan lembah-lembah di Asia Tengah ke Asia Minor (Anatolia) dengan ornamen sejarah penaklukkan dan penjajahan. Lalu terbentuk kerajaan dari klan bangsa mereka seperti Oghus Turk, Kayi, dll. yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Ottoman. Kesultanan Ottoman menjadi besar hingga menguasai sekitar seperempat luas dunia karena ambisi penjajahan dan penaklukkan yang terus dikampanyekan.

Spirit laten tersebut diwariskan secara turun-termurun lewat bahan-bahan bacaan berupa narasi sejarah ataupun cerita-cerita kepahlawanan yang notabene sangat membantu dalam pembentukan karakter rakyat Turki. Menurut banyak literatur, nasionalisme Turki baik sebagai bangsa ataupun negara terbentuk setelah Perang Gallipoli (orang lokal menyebutnya Perang Çanakkale atau Çanakkale savası) dari April 1915–Januari 1916. Ini ibarat perang penghabisan dan mereka menyebutnya kurtulus (pembebasan). Karena jika pada perang itu Ottoman kalah, Istanbul sudah pasti bukan milik Turki hari ini. Luka, derita, heroisme, dan segala bentuk perjuangan dan pengorbanan hingga tetes darah terakhir dari para tentara Ottoman telah menjadi narasi sejarah yang menyatukan rakyat Turki ke dalam satu memori tentang perjuangan mempertahankan tanah terakhir mereka. Narasi sejarah perjuangan dan perang demi negeri tersebut secara rapi dan terstruktur dijadikan pijakan untuk menumbuhkan semangat juang dan sekaligus mendefiniskan secara terang musuh-musuh negaranya.

Ancaman

Merasa selalu berada dalam ancaman adalah faktor kedua yang saya kira sangat urgen dalam menanamkan sikap awas dan waspada. Setelah Turki menjadi republik modern memang tidak ada sejarah perang yang terjadi di antara Turki dan negara lain, selain dengan Yunani dalam sengketa Syprus tahun 1974. Selebihnya adalah perang karena faktor aliansi, misalnya dalam Perang Korea (1950-1953)—untuk tidak menyebutkan keterlibatan Turki di Suriah (2016-2018). Ketika Perang Dunia II meletus Turki justru memilih pasif dan tidak mengirimkan pasukannya. Meski begitu, perasaan berada dalam ancaman dari bangsa-bangsa maupun negara-negara yang memang telah masuk dalam bingkai imajinasi mereka sebagai musuh seakan tidak pernah surut. Satu sisi, kewaspadaan tersebut bisa dipahami sebagai upaya menjaga integrasi nasional mengingat letak geografis negara Turki sangat strategis dan menjadi jembatan bagi Eropa, Asia, dan Afrika. Karena kenyataannya negara-negara tetangga Turki khususnya yang terletak di Timur Tengah diguncang beragam konflik dan perang berkepanjangan.

Namun di sisi lain, kewaspadaan terhadap ancaman yang terus-menerus (perpetual threats) justru menunjukkan diri mereka sebagai bangsa yang vulnerable country, yaitu kesadaran kolektif bahwa negara mereka selalu berada dalam ancaman. Sikap awas dan kewaspadaan tinggi tersebut secara gamblang memang tidak bisa dilepaskan dari kebijakan politik dan kebudayaan mereka yang tidak terbuka kepada negara lain. Dari tahun 1923–1950, Turki bisa dikatakan sebagai negara yang tidak banyak aktif di dunia internasional. Selama periode tersebut mereka “menarik diri dari politik internasional” demi sebuah proyek internal, yaitu membangun mental dan karakter bangsa Turki dengan basis ideologi negara sekuler dan modern. Meski tahun 1950 Turki mulai terbuka secara perdagangan di bawah pemerintahan Adnan Menderes, bukan berarti Turki bisa membuka diri secara total. Kebudayaan, keamanan, dan aspek-aspek politik tetap menjadi ranah yang tidak bisa dicampuri oleh negara dan bangsa lain. Baru setelah rezim AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan) yang berkuasa sejak 2002, dengan kebijakan politik dan ekonomi yang terbuka Turki mulai benar-benar hadir ke publik internasional.

Akhirnya, sebuah bangsa yang menyadari eksistensi musuh-musuhnya—dan kesadaran tersebut telah mengikat memori bersama bahwa ancaman-ancaman bisa datang kapan saja—akan senantiasa waspada dan awas terhadap orang asing. Sehingga pertanyaan ajan mısın? yang dilontarkan Hasan di awal tulisan ini adalah hal wajar, yang bagi saya, harus tetap disimpan sebagai kewaspadaan bagi sebuah bangsa yang terus menata diri—lebih-lebih demi menjaga identitas nasional. Karena sebuah bangsa yang mempunyai identitas, wawasan, dan kepentingan nasional harus senantiasa sadar di mana letak kepentingan bersama atas nama komunal, nasional, agama, “kemanusiaan”, dan sebagainya.

Dengan begitu, kecemasan bukan jalan menuju destruktif, tapi memicu harapan dan optimisme!

 

 

Turki-Indonesia, 2016-2018

Bernando J. Sujibto

Bernando J. Sujibto

Alumni pascasarjana Sosiologi Selcuk University, Turki. Selain mengajar juga tekun meneliti isu-isu sosial politik Turki dan menerjemahkan karya sastra Turki.
Bernando J. Sujibto

Latest posts by Bernando J. Sujibto (see all)