Waktu dan Novel

in Celoteh by
saroltaban.com

Dulu, umat sastra di dunia  dikejutkan dengan novel gubahan H.G Wells berjudul The Time Machine. Sebutan “mesin waktu” mengumbar impian muluk atas masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Imajinasi waktu melesat jauh akibat manusia rajin membuat mesin-mesin mengubah peradaban abad XIX. Konon, abad itu “abad mesin”. Kaum pintar membuat mesin-mesin untuk kecepatan, penggandaan, dan ketinggian. Mesin-mesin didambakan manusia demi capaian-capaian fantastis. Mesin memang menakjubkan, tapi sempat memberi takut dan marah pada orang-orang berpikiran tradisionalis atau gagal mengolah iman.

Semula, waktu itu sakral dalam pemahaman komunitas etnis dan umat beragama. Ajaran para leluhur dan kitab suci memberi cerita bergelimang metafora agar manusia menjalankan ritual-ritual waktu. Ritual berwujud makanan, tembang, tari, dan doa. Ritual itu ditanggapi kaum cerdik pandai dengan pembuatan mesin-mesin berpijak ilmu. Gagasan waktu diperdebatkan menggunakan teori, alat, dan bahasa argumentatif. Mesin pun ingin diciptakan agar gagasan lama runtuh atau basi. Wells menggoda umat manusia melalui suguhan novel, memancarkan imajinasi waktu dan percikan ilmu. Novel mengilhami debat tapi memicu kemunculan teks-teks sastra bertema waktu dan film-film “fantasi” mengenai waktu.

Tokoh dalam novel berjulukan Si Petualang Waktu berkhotbah pada para tamu di rumah: “Aku memastikan pada kalian bahwa manusia bisa saja pergi meninggalkan masa sekarang.” Orang-orang membantah jika manusia sanggup menguasai waktu. Si Petualang Waktu pantang diremehkan dengan kalimat-kalimat sembarangan. Ia memamerkan mesin dan memberi cerita memukau beraroma ilmu. Seorang tamu sempat berkelakar: “Kita bisa belajar filsafat dari bibir mahaguru Homer dan Plato!” Orang-0rang cuma mengerti masa lalu melalui bacaan-bacaan. Mereka masih mengenali para filosof dari Yunani tapi mustahil bertemu. Mesin waktu buatan Si Petualang Waktu diandaikan mengantar orang kembali ke masa lalu untuk mendengar ocehan-ocehan para pencerita dan filosof agung.

Di mata publik, Si Petualang Waktu sedang mencipta dongeng. Mesin waktu dituduh kebohongan terbesar sepanjang masa. Novel telanjur melenakan para pembaca di pelbagai negeri. Di Indonesia, novel itu disadur dengan judul Mesin Waktu (1978). Novel dijadikan bacaan berselera bocah-remaja. Imajinasi waktu atau mimpi mengembara dengan mesin waktu cenderung berterima ke bocah sembari memikirkan kemungkinan-kemungkinan ilmu. Bantahan mungkin ada, tapi kegirangan menafsir waktu menjadi penghiburan bermutu. Mesin waktu ingin melampaui pemahaman arloji dan kalender. Bocah terobsesi mesin waktu gampang mendapat cemooh dari kaum tua berkaitan ajaran leluhur dan kitab suci. Novel itu mungkin tak lagi terbaca oleh bocah-bocah di Indonesia akibat bujukan “beribadah” di depan televisi atau pelesiran berdalih tahun baru berisiko waktu-waktu mubazir makna.

Pada pengembaraan waktu ke masa depan, Si Petualang Waktu kaget mengetahui manusia-manusia masa mendatang jauh dari ramalan. Ia menuju ratusan tahun ke depan: “Aku kebingungan dan tak tahu harus mengatakan tentang sesuatu. Manusia-manusia lembah lembut ini memiliki kecerdasan setingkat dengan anak-anak berusia lima tahunan pada zaman kita. Jauh di dalam lubuk hatiku, aku merasa amat kecewa. Dulu, ketika aku sedang membuat mesin waktu, aku selalu mengimpikan bahwa ratusan abad mendatang, tentu jauh lebih maju dalam segala hal ketimbang abad XIX.” Petikan di novel itu sejenis peringatan ke pembaca bahwa kecerdasan manusia semakin menurun. Bebalisme menjangkiti secara kolosal. Kelambanan dan kemalasan mengutuk manusia-manusia masa depan. Manusia sampai ke hampa makna. Petikan itu boleh dicatat atau lupakan saja saat kita menapaki abad XXI.

Pada masa 1970-an, novel Mesin Waktu menghampiri pembaca saat Indonesia belum terlalu menanggung mabuk televisi dan mabuk internet. Kini, pembaca novel dari masa lalu sudah berumuran 40 tahun. Bacaan-bacaan tentu sudah berbeda dari saat masih bocah. Barangkali ia tetap memilih membaca teks-teks sastra berpamrih mengerti waktu. Obsesi waktu berlanjut ke novel-novel mutakhir meski melulu berasal dari negeri-negeri jauh. Kita menduga ia membaca novel berjudul Gempa Waktu (2001) oleh Kurt Vonnegut. Novel ditulis gara-gara Kurt Vonnegut marah, menganggap diri “hidup terlalu lama”.( Usia menua tapi merasa hidup tak bermakna. Ia nekat menjadi penulis novel tak menggugah hati. Novel tetap saja dipersembahkan ke pembaca dengan tumpukan muak dan minder mengetahui persembahan sastra para pengarang tenar Amerika dan Eropa puluhan tahun silam. Waktu itu pokok diri dan cerita!

Sejarah peradaban manusia dan waktu dihajar ejekan-ejekan telak. Pengarang memilih biografi pengarang, novel, teknologi, dan berita dalam perenungan waktu amburadul berhamburan pe(simisme, ironi, putus asa, dan nestapa. Secuil lelucon tak sanggup memberi bahagia ke manusia saat mengalami abad XX. Manusia adalah terdakwa dalam “merusak” dan “menodai” waktu. Manusia gampang kalah ketimbang bersombong pernah menang pada waktu. Khotbah pendek di novel: “… tak aneh bila kita meracuni air, udara, dan humus, membangun peralatan neraka makin cerdik untuk industri maupun militer.” Sinisme pada tabiat dan pemujaan teknologi merusak hidup, mencipta neraka terlalu dini di dunia. Manusia gagal mengerti dan mengalami waktu berpamrih bahagia, kebaikan, perdamaian, dan ketulusan. Pada gempa-gempa waktu, manusia itu sombong, pecundang, keparat, agung, dan lugu.

Kita masih mengandaikan si pembaca novel Mesin Waktu pada usia 30-an tahun pernah membaca novel berjudul Mimpi-Mimpi Einstein (1999) oleh Alan Lightman. Novel puitis dan laris, tak separah novel gubahan Kurt Vonnegut. Si pembaca bakal menenangkan diri saat membaca halaman demi halaman sambil memikirkan waktu bermodal ilmu dan warisan imajinasi waktu dari para pendahulu. Novel tentang hakikat waktu, bukan bacaan ringan bagi orang ingin membaca saat malam pergantian tahun ramai oleh konser musik, pesta kembang api, atau suara knalpot di jalan.

“Di dunia ini, waktu seperti aliran air, kadang terbelokkan oleh secuil puing, oleh tiupan angin sepoi-sepoi. Entah kini atau nanti, gangguan kosmis akan membuat anak sungai waktu berbalik dari aliran utama menuju ke aliran semula. Ketika hal itu terjadi, burung-burung, tanah, orang-orang, berada di anak sungai itu menemukan diri mereka tiba-tiba terbawa ke masa silam,” tulis Alan Lightman. Metafora terasa lembut dan puitis, tak semenakutkan dengan metafora “mesin waktu” atau “gempa waktu”. Renungan bertaut fisika dan selebrasi waktu oleh manusia melalui pelbagai upacara sakral dan pesta duniawi.

Renungan berlagak diberatkan sengaja dipasang di tengah cerita: “Sesungguhnya, inilah dunia tanpa masa depan. Di dalam dunia seperti ini, waktu adalah garis yang berakhir pada masa kini, tak seorang pun mampu membayangkan masa depan. Membayangkan masa depan sama mustahilnya dengan melihat warna-warna di balik warna violet. Pikiran tak mampu memahami apa yang berada di ujung spektrum. Di dalam dunia tanpa masa depan, setiap perpisahan adalah kematian. Di dunia tanpa masa depan, setiap kesedihan adalah final. Di dunia tanpa masa depan, setiap gelak tawa adalah yang terakhir. Di dunia tanpa masa depan, setelah kekinian adalah kehampaan, orang-orang bergantung pada masa kini bagai bergayut pada tepi tebing.” Alinea itu terasa panjang dan membuat pembaca jenuh menaruh di kepala sebagai renungan terhebat sepanjang masa.

Renungan waktu di Mimpi-Mimpi Einstein terasa berbeda saat orang mengkhatamkan novel berjudul Reuni (2016) gubahan Alan Lightman. Gagasan dan imajinasi waktu lampau diistilahkan reuni, bertemu-berkumpul kembali setelah berpisah lama. Reuni menguak takut, malu, dan sesalan. Pertemuan dengan orang-orang pernah bersama pada masa lalu tak selalu membuncahkan nostalgia terindah. Reuni mirip perjumpaan biografi dengan cerita-cerita meruntuhkan diri atau melesatkan pesimisme ke masa depan meski belum datang. Pada reuni, waktu dan manusia mungkin berselisih cerita atau menghindari tafsir-tafsir “membunuh diri” dalam jalinan asmara, intelektual, dan kekuasaan.

Si pembaca novel Mesin Waktu dari masa 1970-an telah membaca pula Mimpi-Mimpi Einstein (1999), Gempa Waktu (2001), dan Reuni (2016) saat usia melintasi 30 tahun menuju 40 tahun. Pembaca itu mungkin teringat kesenduan merenungkan diri dan waktu malah melalui buku-cerita gubahan Mitch Albom berjudul Tuesdays with Morrie atau Selasa Bersama Morrie (2001). Pada saat diri menua, kebocahan bakal hadir kembali dan teralami dengan sensasi sulit diceritakan lengkap. Renungan tentang takut menjadi tua memunculkan perasaan iri dan kepasrahan.

Morrie berucap saat raga lemah dan usia berangka 78 tahun: “Semua usia ada dalam diriku.” Ia memiliki diri saat berusia 3 tahun, 5 tahun, 30 tahun, dan 50 tahun. Morrie melewati semua tanpa merasa kehilangan dan rindu berlebihan kembali ke masa lalu. Ia senang mencapai usia tua, tak berurusan membuat album sesalan. Nostalgia ada tapi dimengerti bersama waktu-waktu berdatangan ke diri. Pengakuan disampaikan Morrie saat Selasa, waktu bernama dalam arus waktu belum berhenti. Morrie tak mengucap saat si pembaca novel dari masa lalu atau kita berlagak ingin mengadakan renungan waktu melalui tahun baru, meninggalkan 2017 untuk mengalami 2018. Waktu itu mengubah usia dan renungan mengenai diri selama masih hidup. Begitu.

Bandung Mawardi

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)