Wasit

in Esai by

 

Wasit
Sumber Gambar: gfx.dagbladet.no

“Kesalahan adalah bagian dari pekerjaan saya.”

-Tom Henning Ovrebo-

Wasit memang bukan Tuhan. Tapi di tangannyalah segala keputusan ditetapkan. Wasit memiliki otoritas penuh yang mengatur jalannya pertandingan. Netralitas tentu menjadi pegangan. Sebab kecenderungan untuk memihak sudah pasti akan memunculkan gugatan, hinaan, dan bahkan ancaman pembunuhan.

Hanya netralitas yang memungkinkan keadilan bisa ditegakkan di atas lapangan hijau. Tapi benarkah netralitas itu menjadi garansi terselenggaranya keadilan sehingga apa pun yang diputuskan oleh wasit pasti diterima dengan senang hati? Lalu, apa ukuran atau standar yang pas untuk menilai bahwa seorang wasit benar-benar netral?

Karena netralitas itu soal (kecenderungan) hati, tentu hanya wasit dan Tuhan yang tahu.

Dalam batas-batas tertentu wasit kadang khilaf, kadang tegas-adil-profesional, kadang juga sengaja melakukan keputusan-keputusan fatal. “Kesalahan adalah bagian dari pekerjaan saya,” kata Tom Hening Ovrebo, wasit asal Norwegia yang sering dikecam karena dinilai kerap melakukan kesalahan.

Wasit memang manusia biasa. Tapi di tangannyalah segala kemungkinan digenggam: ia bisa “merampas” sekaligus bisa memberikan kemenangan secara “gratis”. Itulah sebabnya, wasit lebih banyak dibenci daripada dicintai; lebih banyak dimaki daripada dipuji.

Masih segar dalam ingatan pencinta sepak bola bagaimana Roberto Martinez, pelatih Everton, meluapkan amarahnya pada Mike Jones yang memberikan “hadiah” satu poin bagi Chelsea lewat gol offside John Terry di masa injury time.

“Saya sangat marah. Itu keputusan sangat parah,” ujar Roberto Martinez mengomentari keputusan wasit usai laga yang berlangsung 16 Januari 2016 itu.

Mike Jones tentu sangat dikutuk oleh para suporter The Toffees karena membuyarkan kemenangan yang sudah di depan mata. Tapi bagi publik Stamford Bridge, Mike Jones seolah “juru selamat” yang keputusannya (mengesahkan gol Terry) sangat tepat di akhir laga. Sebuah keputusan yang—betapa pun kontroversialnya—dirayakan dengan penuh kegembiraan oleh para pemain Chelsea.

“Saya tak peduli, sebab itu gol pertama saya musim ini,” kata Terry mengomentari golnya ke gawang Tim Howard yang menyelamatkan timnya setelah sempat tertinggal 2-3 dari Everton.

***

Wasit selalu menjadi topik setiap kali pertandingan digelar. Sangat sedikit pujian dilayangkan. Selebihnya hujatan yang bercampur kekecewaan diberikan. Tak jarang wasit menjadi sasaran hinaan para suporter yang memadati stadion. Kata-kata kasar, penuh ancaman, sering kali kita dengar ketika wasit (dianggap) melakukan kesalahan.

Yassin Hroh pernah menangis layaknya anak kecil ketika memimpin laga CA Bizertin vs Marsa di Ligue 1 Tunisia. Keputusan Yassin memberikan penalti pada Marsa adalah penyebabnya. Suporter Marsa yang tak terima dengan keputusan itu kemudian mencemooh ibunda tercinta Yassin sepanjang laga berlangsung. Suara stadion seketika menjelma panggung hinaan. Laga yang berlangsung tepat di malam Natal 2015 itu benar-benar menjatuhkan mental Yassin hingga ia tak kuasa meneteskan air mata.

“Mendengar hinaan seperti itu, sulit untuk menahan air mata. Tak ada seorang pun yang suka mendengar ibunya dihina. Tuhan memberkati ibu saya,” ujar Yassin dengan sangat sedih.

Kesedihan—mungkin juga kekecewaan—yang ditumpahkan Yassin lewat linangan air mata seolah ingin menegaskan bahwa ia juga manusia yang tak rela dihina.

Wasit—dengan segala keputusannya—memang tidak akan pernah sepi dari teror. Segala bentuk hinaan dan ancaman seolah tak bisa dipisahkan dari riwayat hidup pengadil lapangan itu. Menjadi wasit tentu merupakan pilihan yang sulit. Ia akan selalu dihadapkan pada kenyataan yang rumit: setiap keputusannya pasti berhadapan dengan penolakan dan ketidakpuasan.

***

Tak mudah ternyata menjadi wasit. Risiko yang ditanggung luar biasa besar. Anda tentu dengan mudah akan jatuh cinta pada Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi daripada Cesar Muniz Fernandez yang dianggap sering mengacaukan laga-laga penting di Spanyol. Anda pasti sangat senang menghiasi kamar Anda dengan poster-poster Sergio Aguero, Eden Hazard, Mesut Ozil, atau Harry Kane daripada Howard Webb yang sering di-bully sebagai fans United itu.

Tak mudah menaruh simpati—apalagi sampai nge-fans—pada sang pengadil lapangan. Wasit selalu identik dengan keberpihakan dan nasib yang sial. Sungguh menyedihkan, bukan?

Bagi seorang wasit, hidup ini seolah panggung yang tak sepi dari umpat dan laknat. Tak akan pernah ada yang mengenangnya dalam sebuah doa dan ingatan panjang hingga sejarah akan mengabadikan. Kecuali mereka yang (merasa) “dibantu” hingga terciptalah sejarah baru. Mungkin mereka diam-diam mengenangnya atau mensyukurinya sebagai sebuah keberuntungan. Tapi tetap saja pujian tak akan pernah sebanding dengan hujatan yang akan diterima. Wasit seolah memang ditakdirkan untuk dihujat, menjadi sasaran teror yang menyakitkan.

Masih ingat dengan ancaman pembunuhan terhadap Cuneyt Cakir yang menyeruak di sosial media tahun 2013 silam?

Cakir dikutuk layaknya setan oleh para fans Manchester United. Wasit asal Turki itu nyaris tak pernah bisa tidur nyenyak. Hari-hari yang dijalani penuh ketegangan dan ketakutan. Semua itu tak lepas dari keputusan kontroversialnya saat mengeluarkan kartu merah untuk Luis Nani karena dianggap melanggar full back Real Madrid Arvalo Arbeloa. Pada laga leg 2 Liga Champions musim 2012/2013 itu, ribuan pasang mata yang memadati Stadion Old Trafford untuk mendukung The Red Devils tak kuasa menahan kekecewaan pada Cakir. Sebab di tangan Cakir, tim asuhan Sir Alex Ferguson itu harus mengubur impiannya melangkah jauh di pentas Liga Champions.

Cakir memang bukan yang pertama atau satu-satunya wasit yang mendapatkan ancaman. Semakin tinggi level kompetisi atau gengsi sebuah laga yang dipertaruhkan, semakin tinggi pula tekanan yang akan dirasakan oleh wasit.

Saat Piala Dunia digelar di Meksiko tahun 1986 yang silam, tepatnya di babak perempat final, Ali Bennaceur pernah merasakan tekanan yang sangat memberatkan sepanjang hidupnya. Wasit asal Tunisia itu ditunjuk memimpin laga sarat gengsi dan sejarah politik yang kelam: Argentina vs Inggris. Pertandingan ini seolah membuka luka lama di mana kedua negara tersebut terlibat perang yang memperebutkan kepulauan Falkland atau yang dikenal dengan Perang Malvinas yang berlangsung selama 2 bulan (2 April 1982-14 Juni 1982).

Bennaceur merasakan betapa beratnya tekanan memimpin laga sebesar itu, dengan bumbu-bumbu politik yang menyulut emosi. Stadion Azteca seolah menjadi saksi bagaimana keputusan sang wasit menjadi perdebatan yang tak selesai hingga kini. Bennaceur mengesahkan gol “Tangan Tuhan” Diego Maradona ke gawang Peter Shilton di menit 51. Meskipun mendapatkan protes keras dari pemain-pemain Inggris, Bennaceur tetap mengesahkan gol itu. The Three Lions pun gagal menembus semifinal dengan kekecewaan yang begitu besar.

Ali Benceur pun dikutuk oleh publik Inggris. Keputusannya seolah tak termaafkan. Tapi sebaliknya, publik Argentina menari penuh sukacita. Maradona, sang bintang di laga itu, merayakannya dengan penuh kegembiraan. Bahkan gara-gara gol kontroversial itu Maradona dipuja bak dewa di negaranya. Maradona seperti ingin berterima kasih pada Bennaceur yang “membantu” melapangkan jalan bagi Tim Tango menuju babak berikutnya sampai pada akhirnya Argentina menjadi yang terbaik di jagat sepak bola saat itu (juara dunia).

Pada 17 Agustus 2015 silam, dua sosok fenomenal itu bertemu di Tunisia. Pelukan hangat, keakraban, saling lempar pujian, menjadi pemandangan unik di momen yang sebelumnya tak pernah terbayangkan itu. Tanpa ragu Maradona menyebut Bennaceur sebagai “teman abadi” yang ia tulis di kostum timnas Argentina yang diberikan kepadanya.

Maradona barangkali termasuk salah satu pengecualian bagaimana keputusan ngawur wasit harus diapresiasi, dikenangnya sebagai momen yang tak terlupakan sepanjang hidupnya. Atau ia memang dengan sengaja ingin menegaskan kepada pencinta sepak bola di seluruh dunia bahwa wasit juga manusia biasa, yang dalam batas-batas tertentu, juga melakukan kesalahan. Entahlah.

A. Yusrianto Elga

A. Yusrianto Elga

Tinggal di kedai-kedai kopi di Jogjakarta. Twitter @yusrielga
A. Yusrianto Elga

Latest posts by A. Yusrianto Elga (see all)