Wol Merah

in Cerita Pendek by

Wol Merah

Ia percaya bahwa dunia ini dipenuhi keajaiban. Ia memiliki seorang kakek yang hidupnya dilindungi oleh seekor harimau. Setiap kakeknya berhadapan dengan kematian, harimau itu datang menolong. Neneknya, perempuan buta yang pernah mengaku kalau ia memiliki kekasih seorang penyanyi dari dunia peri dan karena itu yang ia butuhkan hanya sepasang telinga. Ibunya, sejak berumur tiga tahun,  senang bermain dalam sebuah lemari. Di dalam lemari itu ia berteman dengan seekor tokek, tapi tentu itu bukan sesuatu yang ajaib, hanya tokek biasa. Ada yang lebih menakjubkan dari itu, bisik ibunya, di lemari itu ada sebatang pohon besar tempat tokek membuat lubang. Di salah satu cabang pohon itu pula ibunya membuat sebuah ayunan. Kau pasti suka ayunan itu, bisik ibunya lagi. Namun, seingatnya, perempuan bermata kanak-kanak itu tak pernah sungguh-sungguh ingin memperlihatkan isi lemari itu kepadanya, sampai suatu malam banjir bandang menghancurkan rumah mereka dan ibunya hanyut bersama lemari dan tidak pernah ditemukan.

            Karena itu pula, jika pagi ini ia terbangun dengan perut besar dan satu gulung wol merah tergeletak di sampingnya, ia tak memerlukan waktu lama untuk menerima keadaan itu. Baginya, itu tak lebih ajaib dari apa-apa yang telah terjadi dalam kehidupan keluarga besarnya.

            Ia bangkit dari tempat tidur seperti biasa. Berdiri dengan agak susah payah menuju jendela dan membukanya. Aroma daun jeruk purut menyergap hidungnya. Ia memperhatikan beberapa tangkai jeruk itu patah. Ada saja orang yang suka memetiki buahnya diam-diam. Matahari menerpa wajahnya yang pucat. Ia memejamkan mata untuk meresapi rasa hangat. Urat-urat halus di wajahnya perlahan memerah. Darahnya mencair dan mengalir kembali di tubuhnya. Ia regangkan tangan. Ia ingin berteriak sambil tertawa, tapi ditahannya. Sudah puluhan tahun rasanya ia terjebak dalam kehidupan yang normal, tanpa keajaiban-keajaiban yang dulu biasa menyertai masa kecilnya. Ia kini merasa menemukan dunia itu lagi. Ia ingin merayakannya. Tepatnya ingin terbang dari jendela atau melakukan sedikit kegilaan. Jatuhkan tubuhmu, jatuhkan tubuhmu, ia mendengar lagi suara ibunya. Ia yang berumur tujuh tahun memejamkan mata dan menjatuhkan diri. Alih-alih melayang, ia malah terjerembap ke dalam rimbunan daun jeruk purut—aroma daun jeruk itu ia abadikan dalam ceruk kenangan, hingga ia menanamnya juga di bawah jendela kamarnya. Waktu itu, ia sangat senang, meski kemudian diketahui tangannya patah. Ibunya menari-nari dan mengeluarkan suara-suara ramai dari mulutnya. Mereka berdua bagai dua anak kecil yang baru saja melakukan percobaan tentang cara bergembira lewat tindakan-tindakan sederhana. Hanya saja, sebuah tangan lantas menampar mulut ibunya. Sejak itu, ibunya nyaris tidak keluar dalam lemari dan tak lama setelahnya pemilik tangan yang menampar itu membawanya pergi dan tak pernah lagi mengembalikannya ke rumah hingga terdengar banjir bandang menerjang kampung mereka.

Ia tersenyum, getir. Kejadian itu sudah lama sekali berlalu. Ia tahu, sesuatu yang paling ibunya inginkan memang pergi sejauh-jauhnya bersama lemari itu. Ia memutuskan tak bersedih lama-lama. Seminggu setelah ibunya hilang, ia sudah kembali ke sekolah dan bermain seperti sedia kala dan hanya mengingat perempuan dalam lemari itu seperlunya saja.

Sekali lagi ia tersenyum, lantas segera teringat pada perutnya. Sedikit kaku, ia mengelus perut buncitnya itu. Ia merasakan kaki bayinya bergerak. Ia berkata, “Kau datang dari mana?” Si bayi tentu saja tidak menjawab dan malah menendang perutnya. Ia tertawa. Ia tentu bukan perempuan yang terus menjadi kanak-kanak seperti ibunya, tapi ia tahu setelah bayi itu lahir, mereka berdua bisa melakukan sesuatu yang gila dan membuat mereka tidak berhenti tertawa dan tentu tak ada tangan yang akan menampar mulutnya.

            Ketika matahari mulai terasa terlalu menyengat, ia kembali duduk di tepi tempat tidur. Satu gulung wol segera menarik perhatiannya. Ia mulai berpikir, kalau orang yang mengirim bayi ke perutnya bisa jadi seorang pedagang wol keliling di negeri entah di mana. Ia tidak mau berpikir lagi, misalnya, kenapa ia mesti mendapat wol merah, padahal warna kesukaannya adalah biru. Ia menganggap sebuah hadiah harus diterima tanpa kecerewetan. Terlebih hadiah besar yang diperolehnya dari seseorang yang sudah sangat berbaik hati kepadanya.

            Lalu yang muncul pertama kali di kepalanya: membuat sepasang sepatu merah.

***

Bayi itu tidak pernah lahir lewat selangkangannya—dan ia bersyukur sekali atas itu karena ia sering ketakutan memikirkan darah mengalir deras, rasa sakit yang tidak tertahankan, dan teriakan-teriakan yang melelahkan. Satu malam, ia terbangun dan perutnya tiba-tiba sudah kempis. Tak lama, ia mendengar suara kanak-kanak dalam lemari bajunya. Ia buru-buru bangkit. Di lemari itu ia menemukan seorang bocah tengah memasang sepatu wol merah yang diselesaikannya beberapa hari lalu. Sepatu itu sedikit kesempitan di kaki bocah, tapi itu seakan tak masalah.

            “Siapa namamu?” tanyanya hati-hati. Ia tidak ingin anak itu melompat keluar dari lemari dan kabur.

            “Wol Merah.”

            Ia hampir tersedak mendengar nama itu, tapi buru-buru bersikap biasa saja. Sekali lagi, hidupnya sudah terbiasa berhadapan dengan sesuatu yang tidak masuk akal. Ia bahkan bisa menerima dengan santai ketika suatu hari ibunya mengganti namanya dengan panggilan Tokek. Ibunya bilang tokek dalam lemarinya sudah hilang. Ia ikut bersedih demi ibunya dan rela memakai nama Tokek ke mana pun ia pergi. Terutama setelah ibunya hilang bersama lemari. Ia mengumumkan ke semua orang kalau namanya sudah berganti menjadi Tokek. Bukan nama yang cantik dan justru membuatnya tambah merasa buruk, tapi ia tahu satu saat seorang anak harus berkorban untuk sosok ibu yang kehilangan kegembiraan dalam hidupnya.

***

Ia nyaris tidak menghitung tahun-tahun pertumbuhan Wol Merah. Ia merasa tidak ada gunanya ia melakukan itu. Wol Merah tidak terikat hitung-hitungan waktu yang  biasa digunakan orang. Ia hanya mencermati kapan alis mata anak itu tumbuh lebih lebat. Kapan bibirnya merekah serupa kembang mawar. Dua bagian dari Wol Merah yang sungguh membuat gembira hatinya. Dua hal yang tidak pernah dimilikinya karena ia mewarisi alis ibunya yang serupa garis tipis dan bibir neneknya yang lebih banyak terkatup. Wol Merah seolah membayar mimpi-mimpinya tentang hidup yang berdenyar. Satu-satunya yang meresahkan Tokek, Wol Merah tetap ingin tinggal dalam lemari. Tidur dan bermain di sana. Kalau ia terus di sana, bagaimana dunia bisa melihatnya?

            “Untuk apa aku keluar? Sekarang aku punya teman seekor tokek,” kata Wol Merah semringah.

            Tokek itu kembali? Ia bertanya sambil menahan pedih dalam hati. Ia ingat bagaimana hati ibunya hancur ketika binatang itu hilang tiba-tiba. Apakah tokek yang sama akan menghancurkan Wol Merah bila saatnya tiba?

Diam-diam ia mengintip ke dalam lemari begitu Wol Merah sudah tidur. Anak itu tetap memakai sepatu wol merah yang sudah sangat kekecilan. Jari-jarinya tampak kaku dan terpenjara. Kalau saja Wol Merah mau mengganti sepatunya itu. Kalau saja anak itu mau mengerti kalau dalam hidup seseorang tidak dituntut setia kepada satu pasang sepatu, tentu segalanya akan lebih mudah. Namun, gadis kecil itu terlahir sebagai manusia yang tidak sama dengan orang lain. Pikiran-pikirannya. Tindakan-tindakannya. Dalam tidurnya yang tenang, Wol Merah menyunggingkan senyum. Tokek membalas senyum itu. Tokek mengedarkan matanya ke dinding dan sudut lemari. Tak ada seekor tokek pun ada sana. Wol Merah berbohong?

            “Tokeknya ada di sini, Mama,” kata Wol Merah sambil mengetukkan telunjuk ke kepalanya.

            Ia tidak tahu sejak kapan anak itu membuka mata. Ia tidak habis pikir bagaimana Wol Merah bisa memelihara seekor binatang dalam kepalanya.

            Setelah Wol Merah kembali mengatupkan mata, Tokek menutup lemari. Di sana, Wol Merah akan tidur hingga pagi—itu kalau ia tidak terbangun untuk buang air kecil ke kamar mandi.

***

Di tempat tidur, Tokek tidak bisa memejamkan matanya. Ia memikirkan kakek dan neneknya yang hilang tanpa jejak. Sebagian orang mengatakan tubuh mereka memuai, menjadi partikel-partikel sebesar debu yang melebur dalam udara, sebagian yang lain percaya seekor harimau membawa mereka pergi ke dunia lain—dan dunia lain itu tetap misteri baginya hingga hari ini. Ia memikirkan ibunya yang barangkali masih mengapung bersama lemarinya di laut lepas dan di sana ia berteman dengan Putri Duyung dan kembali menemukan kegembiraan yang pernah hilang karena kehilangan seorang teman. Ia memikirkan Wol Merah yang sekarang masih bersamanya, tidur nyenyak dalam sebuah lemari seakan di sanalah tempat paling damai di seluruh dunia ini.

            Ia mau berbisik kepada anak itu, “Jangan pergi ke mana-mana, ya.”

            Wol Merah mungkin tersenyum dalam tidurnya, tapi Tokek tak melihatnya dan terus merasa resah.

***

Tokek sudah bangun enam jam lalu karena sebuah mimpi buruk menjelang pagi. Dalam mimpi itu ia bertemu penjual wol merah yang ternyata memiliki gigi besar-besar—tapi ia bukan sebangsa raksasa. Penjual wol itu meminta agar Wol Merah segera dikembalikan kepadanya. Mendadak leher Tokek seperti tercekik. Ia tak bisa bernapas. Begitu napasnya kembali dan ia terbangun, penjual wol itu sudah tidak ada. Ia berpikir, kecemasan yang tidak beralasan sering kali menjelma menjadi mimpi buruk. Itu sudah sering terjadi kepadanya. Mimpi buruk singkat yang melumpuhkan pernapasan. Ia memutuskan tidak tidur lagi dan menunggu Wol Merah membuka lemarinya. Namun, sudah enam jam, lemari itu belum juga terbuka. Tokek berjalan bolak-balik, dari pintu lemari ke jendela. Tangannya ingin sekali membuka pintu lemari itu, tapi ia ketakutan kalau-kalau Wol Merah tidak ada di sana.

***

Dan di tempat yang jauh, tempat yang belum bernama, Tokek tidak akan pernah tahu kalau Wol Merah sedang tertawa-tawa di atas sepeda dengan keranjang wol di samping kanan dan kirinya. Sesekali ia berteriak menirukan papanya menjajakan wol kepada orang-orang yang duduk di depan rumah. Wol Merah sudah lupa kalau di suatu tempat ia harus membuka pintu lemarinya, sama halnya juga ia tidak ingat sama sekali kepada Tokek, meski kakinya masih mengenakan sepasang sepatu merah yang makin kekecilan. (*)

GP, 2016

Yetti A.KA

Yetti A.KA

tinggal di kota Padang, Sumatera Barat.
Yetti A.KA

Latest posts by Yetti A.KA (see all)