Yang Berduka dalam Tralala Akan Bersuka dalam Trilili

in Celoteh by
ytimg.com

Mafhum semua betapa hidup ini memang selalu membutuhkan doktrin kendati sekaligus kerap bermasalah dengannya. Dari hal-hal yang ontologinya Sacred sampai Profane. Dari doktrin beriman kepada Tuhan hingga doktrin mandi dua kali sehari. Dari doktrin bersedekahlah hingga doktrin patuhilah KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Dari doktrin perbanyaklah mengucap kata maaf hingga doktrin kata serapah bukanlah selalu kebusukan.

Mengapa harus ada doktrin?

Kita merindukan keteraturan. Melaluinya kita mengandaikan suatu tatanan kehidupan yang sejuk, tenang, dan membahagiakan.

Untuk merealisasikannya, dibutuhkanlah suatu “tatanan”—sebutlah rezim—yang mampu mengikat siapa pun di dalamnya. Semacam doktrin-otoritas. Siapa yang benar-benar mematuhinya, ia dinarasikan akan meraih trilili dan siapa yang melanggarnya akan terdiskriditkan menuai tralala. Boleh dibalik, yang patuh mendapatkan tralala, yang melanggar mendapatkan trilili.

Tralala dan trilili itulah yang kita sebut doktrin: suatu langgam nilai yang kita warisi dari leluhur, lalu kita amalkan, kemudian kita wariskan kepada anak-cucu. Begitu terus, dari masa ke masa. Atas nama harmoni dan kebahagiaan.

Itulah alasan mendasar kita senantiasa membutuhkan doktrin. Apa pun bentuknya.

Dalam hikayat Islam, doktrin pertamanya, kita tahu, dibuka di gua Hira’ melalui ayat “Iqra’…”. Bacalah. Lalu bergolaklah doktrin mapan jazirah Arab, menimbulkan pertikaian dan peperangan antara pengusung doktrin baru dengan doktrin tradisi yang mapan. Semua proses dedoktrinasi lama yang didampratkan indoktrinasi baru itu pun “berakhir” pada peristiwa Fathu Makkah.

 Merenungkan pembuka doktrin Islam perintah “membaca” (iqra’) tersebut membuat saya mengernyit. Saya pernah membaca Mikhail Bakunin yang menggaungkan Anarkisme-Revolusioner, yang pada intinya memfatwakan perlawanan-perlawanan pada doktrin otoritas yang dianggap “menyalahi” keadilan dan kemanusiaan. Kepada agama(wan), tanpa ragu Bakunin menyebutnya “despotan paling buruk” lantaran melalui narasi-narasi suprarasionalnya agama(wan) kerap mengeksploitasi keadilan dan kemanusiaan.

Jika tesis Bakunin tersebut dijadikan landasan teoretis untuk membaca “pemberontakan” Nabi Muhammad kepada kuasa-hegemonik kaum Quraisy, yang diawali dengan perintah “membaca” dan kemudian diiringi banjaran narasi (ayat-ayat) yang lebih fondasional dan teknis, kita jadi melek bahwa “membaca” benar-benar merupakan pintu gerbang bagi lahirnya anarkisme.  Melalui membaca, teks maupun konteks, kita terjelmakan lebih kritis, enlightened, dan dekosntruksionis-rekonstruksionis pada tananan-tatanan rezim mapan yang telah menggurita.

Kita bisa lihat misal dari bacaan Nabi Muhammad pada ayat larangan minum khamr merupakan pintu gerbang bagi pendobrakan tradisi mabuk-mabukan di kalangan masyarakat Arab waktu itu. Kita bisa pula membaca terbitnya Piagam Madinah sebagai muasal konstitusi legal-formal yang bersumber dari bacaannya pada ayat-ayat yang diterimanya.

Semua tamsil tersebut jelas merupakan “anarkisme” kepada rezim doktrin lama Arab yang bermula dari “bacalah”. Maka kita sesungguhnya sangatlah patut berterima kasih pada Anarkisme.

Tetapi memang perjalanan suatu pemikiran atau doktrin yang menganarki rezim pemikiran atau doktrin yang telah ada, mapan, hegemonik, tidaklah akan mudah saja. Resistensi akan menerkam. Bukan hanya di level pemikiran, tapi juga fisik yang mengancam kehidupan.

Nabi Muhammad membutuhkan waktu tak kurang dari 22 tahun 2 bulan dan 22 hari untuk menyempurnakan doktrin barunya, Islam. Gerakan Protestan juga membutuhkan waktu yang amat panjang untuk mendapatkan penerimaan sebagai doktrin baru di hadapan doktrin lama Katolik. Nelson Mandela juga membutuhkan waktu hingga berusia 88 tahun untuk memotori pembebasan kemanusiaan di benua Afrika. Begitu pun Abraham Lincoln hingga Soekarno-Hatta.

Mengapa anarkisme pada doktrin mapan selalu terjadi dalam perjalanan peradaban dunia ini? Mengapa pula selalu ada “martir” yang mengambil posisi pintu gerbang anarkisme tersebut?

Fakta sejarah tersebut bisa dilihat dari peta teoretis Sigmund Freud tentang “naturalitas destruksi” versus “naturalitas konstruksi”.

Bahwa pada khittah-nya manusia senantiasa memiliki panggilan batiniah dan nalar untuk bergerak dan berdinamika. Setiap pergerakan tentu saja melesatkan perubahan. Dan setiap perubahan niscaya selalu bergaluran dengan langgam lama, doktrin lama, yang telah mengakar. Pada titik inilah, resistensi berkecipak.

Pergerakan tersebut tentu saja tak selalu menghasilkan “nilai kemajuan”, bisa jadi suatu kali menyeret pada “nilai kemunduran”.

Umpama saja kita sepakat bahwa lembaga pernikahan merupakan doktrin mapan yang  baik dalam korelasinya dengan keteraturan biologis, berketurunan, genetika, silsilah, hingga relasi sosial, munculnya anarkisme yang menampik lembaga pernikahan atas nama menyelamatkan kaum Hawa dari eksploitasi maskulinitas sebagai istri dan ibu tampak mengaraskan “naturalitas konstruksi” di satu sisi, meski jelas secara umum lebih dekat pada “naturalitas destruksi”.

Bisa Anda bayangkan, panorama sosial kita akan seabsurd apa bila anarkisme tersebut menjadi dominan di negeri ini pada suatu hari.

Pada derajat lain, menguatlah anarkisme yang mendorong kaum perempuan untuk berposisi dan berstatus sejajar dengan kaum lelaki, dalam konteks politik, sosial, kultural, dan profesional. Puluhan  tahun silam, pergerakan anarkis ini mendapatkan tentangan yang luar biasa, sebagaimana dialami RA Kartini, misal.

Kita hari ini lalu memafhumi bahwa anarkisme tersebut menghadirkan “naturalitas konstruksi”, bukan “naturalitas destruksi”. Kita lalu menerimanya, menjadi bagian dari doktrin baru yang digaungkan anarkisme tersebut.

Mau bagaimana lagi?

Pada anarkisme, sekaligus terkandung tralala dan trilili, ternyata.

Anarkisme memanglah pintu gerbang bagi perubahan dan kemajuan peradaban dunia ini dengan cara tampil sebagai kritikus terhadap rezim doktrin yang telah ada. Bahwa ada sebagiannya berhasil tampil, sebagian lainnya lantas tumbang; atau sebagian doktrin malah bersinergi dengan sebagian anarkisme—semua itu sekadar suatu mekanisme proses natural dari tarik-menarik semua kita pada kebutuhan keteraturan hidup (khittah) yang kita percaya harus diampu oleh doktrin di satu sisi dan pula kita mengerti mesti terus bergerak sekaligus di sisi lain. Tidak ada sejatinya doktrin yang sungguh-sungguh establish pada dirinya sendiri, sebagaimana pada akhirnya tidak pula pernah ada anarkisme yang tidak menjadi doktrin kemudian.

Benarlah Joko Pinurbo dalam penggalan puisi yang saya jadikan judul tulisan ini, betapa berduka dan bersuka sejatinya hanya persoalan “waktu mengada” kita di hadapan “doktrin tralala dan trilili” tersebut.

Pagi hari, boleh jadi kita merasa sedih karena diri kita sedang bertralala, lalu sore harinya kita terbahak lepas penuh girang lantaran pikiran sedang trilili. Bisa saja di suatu Minggu kita memekikkan suatu anarkisme kepada kemapanan doktrin yang membekap hidup kita, tetapi lusanya kita memahami doktrin mapan tersebut sebagai keniscayaan yang lebih mumpuni.

Dalam duka, ada tralala; dalam suka, ada trilili. Dalam duka, ada suka; dalam tralala, ada trilili. Dalam doktrin, ada anarki; dalam anarki, ada doktrin. Menjadi anarko, jadilah anarko yang doktriner; menjadi doktriner, jadilah doktriner yang anarko. Memang tak mudah menggenggam dengan dua tangan sekaligus, tetapi demi keadaban yang lebih beradab, seyogianya kesulitan tak mengendurkan usaha-usahanya.

Sesederhana itulah saya kira terjadinya mekanisme proses alamiah tersebut, pula buahnya bagi kehidupan personal dan komunal kita.

 

Jogja, 2 September 2017

Edi AH Iyubenu

Edi AH Iyubenu

Suka mikir yang gimana gitu. Pedagang sekaligus calon doktor yang resah terhadap minyak babi cap onta.
Edi AH Iyubenu