Yogya yang Puitis, Yogya yang Prosais

in Celoteh by
klantung.com

Yogyakarta merupakan rumah yang terbuka. Penghuninya adalah keberagaman yang plural. Di Yogyakarta, orang-orang berada sekaligus lepas dari narasi-narasi besar.

Tapi, apa sesungguhnya yang membuat orang-orang dari berbagai daerah berbondong-bondong datang dan betah bertahan tinggal di Yogyakarta? Tidak hanya bertandang untuk pelesir, lebih dari itu, ada yang ngangsu kawruh dan ada pula yang mencari sega sepulukan, mengikat tali-temali persaudaraan lantas menjadi sanak kadang yang akan turut kehilangan bila ada musibah kematian. Entah dari tanah yang mengandung unsur apa Yogyakarta tercipta?!

Yogya yang Puitis

Sejarah mencatat, sudah sejak lama Yogyakarta menjadi tempat berproses kreatif para penyair dan menghasilkan puisi-puisi mutakhir. Mahatmanto menjadi satu nama penyair Yogyakarta yang karyanya sudah hadir dalam arena sastra Indonesia seangkatan dengan Chairil Anwar. Nama-nama seperti Kirdjomuljo, Arifin C. Noer, Subagio Sastrowardojo, Darmanto Jatman, W.S. Rendra, Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi W.M. sudah mengisi dunia perpuisian di Yogyakarta sejak masa Orde Lama. Disusul era Persada Studi Klub (PSK) yang kemudian disebut-sebut sebagai masa subur lahirnya para penyair di daerah istimewa ini. Berderet nama penyair hadir di belakang Umbu Landu Paranggi, sebut saja Iman Budhi Santosa, Ragil Suwarna Pragolapati, Linus Suryadi Ag, Emha Ainun Nadjib, dan konon masih ada 1.550-an nama lagi.

Perasaan jenuh hidup di sekitar dinamika sosial, budaya, dan situasi politik pada masa awal Orde Baru membuat suasana jadi hampa. Disorientasi terjadi di mana-mana dan dirasakan siapa-saja. Iklim tersebut agaknya yang membuat sekelompok anak muda yang menamakan dirinya orang-orang Malioboro itu berkumpul, berproses kreatif bersama khususnya dalam hal mencipta puisi. Bahkan, sampai hari ini nama Umbu Landu Paranggi sebagai Presiden Malioboro masih terasa sangat dekat dan lekat meski Malioboro sepenuhnya telah dikuasai oleh kapitalis.

Yogyakarta sebagai daerah yang identik dengan budaya dan tradisi Jawa adalah ladang bagi tumbuh kembang berbagai kesenian, baik tradisi maupun modern secara berdampingan. Romantis, barangkali demikianlah suasana yang tercipta di Yogyakarta. Keberadaan Malioboro dengan bangunan-bangunan tau peninggalan Belanda, Stasiun Tugu, Pasar Kembang, Senisono, pedagang kaki lima, glandangan, pencopet, tukang becak menjadi bahan baku bagi lahirnya puisi. Belum lagi suasana alam Yogyakarta yang melankolis mulai dari Kaliurang hingga Parangtritis. Kampus-kampus yang romantis dengan kisah cinta mahasiswa-mahasiswi yang tiada akan habis. Atmosfer gaib yang menaungi Yogyakarta membuat orang-orang mudah saja masuk, namun akan sulit untuk keluar.

Betapa puisi dan penyair berada dalam situasi yang kompleks di arena sastra Yogyakarta. Puisi dan penyair merupakan pusat daya dinamik yang mendasari keadaan dan kemungkinan kebudayaan di Yogyakarta. Maka lahirlah Joko Pinurbo, Hamdy Salad, Ulfatin Ch, Dorothea Rosa Herliany, Raudal Tanjung Banua, Hasta Indriyana, Gunawan Maryanto, Indrian Koto, Kedung Darma Romansha, hingga Daruz Armedian.

Sebuah data dan analisis cukup menarik disampaikan oleh Muhidin M. Dahlan saat orasi budaya dalam acara Pesta Puisi Akhir Tahun 2016. Dalam orasinya, ada lima poin yang dikatakannya mengenai Yogyakarta: 1) sebagai kampung halaman kedua; 2) kota dalam puisi; 3) semangat dan pergeseran ruang; 4) berdagang dengan penyair; dan 5) penyair tunakomunitas, penyair tunawisma. Hampir senada dengan apa yang telah disampaikan Gus Muh, Tia Setiadi dalam orasi budaya acara Pesta Puisi Akhir Tahun 2017 menyampaikan tantangan-tantangan penyair hari ini: 1) bisa menemukan kedalaman di sebuah dunia yang terkepung kedangkalan; 2) ihwal ekonomi; 3) dalam hal komunikasi-komunikasi sastra; dan 4) perihal keterlibatan atau sikap dan keberpihakan sebagai penyair. Dari beberapa soal tersebut, larik puisi “Yogyakarta: Kelahiran Kedua” karya Indrian Koto benar-benar relevan adanya, bahwa: “… di kota ini aku merasa kembali dilahirkan / berebut tempat dengan kecemasan”.

Di tengah era siber saat ini, di tengah laju pembangunan Yogyakarta sebagai kota metropolitan ini, di tengah perubahan sistem yang sudah berlangsung selama ini, apakah puisi masih diperlukan? Kemajuan zaman seperti tengah menciptakan dunia antipuisi. Namun anehnya, meski puisi sudah bukan lagi menjadi bagian dari mainstream nilai-nilai yang berlaku di peradaban manusia Indonesia mutakhir saat ini, para penyair berusia muda dan energi yang luar biasa besar banyak terlahir. Buku-buku puisi terus diterbitkan, dicetak ulang, bersaing ketat di dalam industri perbukuan Indonesia —penerbit mayor maupun alternatif di Yogyakarta cukup berperan dalam hal ini. Selain itu, adanya lembaga-lembaga yang memiliki perhatian terhadap puisi masih mau menerbitkan antologi puisi atau menggelar lomba cipta puisi.

Beriring dengan itu, acara-acara pembacaan puisi atau gelaran pertunjukan sastra yang mendayagunakan puisi pun memadati tiap sudut kota Yogyakarta. Puisi  hadir di beranda rumah seorang sastrawan, di ruang sempit sebuah sanggar, di gedung-gedung berlabel budaya, hingga pergelaran puisi di kedai-kedai kopi, bahkan di pinggir jalan menjadi fenomena unik dan menarik yang rasa-rasanya tidak terjadi di daerah lain di Indonesia. Apakah itu salah satu wujud keistimewaan Yogyakarta? Entah!

Yogya yang Prosais

Minggu Pagi merupakan salah satu media massa bersejarah yang dimiliki Yogyakarta. Didirikan pada akhir tahun 1948 dalam format majalah, Minggu Pagi beralih ke format tabloid pada tahun 1980-an. Mingguan “Enteng Berisi” ini banyak memuat prosa karya sastrawan-sastrawan Indonesian yang berbasis di Yogyakarta. Sebut saja Nasjah Djamin, Motinggo Boesje, Herman Pratikto, A. Adjib Hamzah, W.S. Rendra, Satyagraha Hoerip, dan Bakri Siregar. Di Minggu Pagi inilah kemudian lahir Hilanglah Si Anak Hilang karya Nasjah Djamin pada tahun 1960 dan 1961. Minggu Pagi menjadi bukti bahwa sesungguhnya sejak masa awal kemerdekaan, prosa berupa cerpen dan cerbung justru lebih berkembang di Yogyakarta ketimbang puisi.

Di samping nama-nama tersebut, dalam hal kepenulisan prosa, kita juga tidak bisa meninggalkan nama dan karya Mohammad Diponegoro, Umar Kayam, Kuntowijoyo, Bakdi Soemanto, Ashadi Siregar, Bambang Indra Basuki, Darwis Khudori, Arwan Tuti Artha, Agnes Yani Sardjono, juga Achmad Munif. Pada era PSK yang puitis dan lebih banyak melahirkan puisi, nama-nama prosais ini ternyata telah menemukan “Yogya yang prosais”.

Gaya urakan para sastrawan saat berkumpul di Senisono atau di sanggar-sanggar teater kampus dalam balutan suasana yang romantis konon masih bisa dirasakan pada akhir dekade 1980-an. Ngobrol ngalor-ngidul sampai dini hari selepas menyaksikan pertunjukan teater menjadi tradisi kreatif. Hingga tahun 1990-an datang membawa situasi romantis itu masuk perlahan-lahan ke dalam situasi yang tragis. Kasus tragisme ditutupnya Senisono untuk kegiatan kesenian mengawali perubahan dinamika kota Yogyakarta hingga terpelesat dengan cepat.

Pasca Orde Baru tumbang, lebih-lebih ketika memasuki era milenium 2000, pembangunan dan perkembangan kota begitu bergegas dan tergesa-gesa. Kendaraan berjejalan di jalan-jalan, hotel dan pusat perbelanjaan menjamur di berbagai lokasi, mahasiswa semakin banyak berdatangan dan setelahnya tinggal menetap berdampingan dengan penduduk Yogyakarta. Malioboro terus berhias menjadi pusat perhatian. Tak ada lagi Malioboro yang dulu menjadi pusat kebudayaan yang kemudian melahirkan para tokoh sastra-seni-budaya-politik tersohor di Indonesia. Di Malioboro tidak ada lagi penyair yang lahir.

“Kesepian yang rindu, kegembiraan yang sedih,” demikianlah Emha Ainun Nadjib merasakan situasi bersastra dan berkesenian di Yogyakarta saat ini. Tragisme demi tragisme yang terjadi di Yogyakarta  tak kuasa ditulis hanya dalam selarik puisi. Kondisi sosial budaya (masyarakat) Yogyakarta saat ini, pariwisata, desa menjadi kota, tekanan kebutuhan sehari-hari, kenakalan remaja benar-benar prosais, bahkan dramatis. Belum lagi jika kita buka pintu belakang Yogyakarta (meminjam istilah Raudal Tanjung Banua), kita sambangi kediaman sejumlah sastrawan dan senimannya, maka tak jarang akan dijumpai sebuah pemandangan yang menggetarkan batin. Suatu kehidupan yang jauh dari gemerlap lampu dan nama besar.

Cerpen dan esai memiliki kecenderungan untuk lebih mudah ditulis setelah melihat situasi Yogyakarta saat ini. Hal tersebut merupakan entitas baru akibat pola pikir yang terbentuk dalam proses kreatif para sastrawan dipengaruhi oleh zaman yang serba verbal. Prosa dianggap lebih memiliki ruang yang luas dan memungkinkan seorang sastrawan untuk dapat mengomunikasikan gagasan dan pandangannya mengenai situasi yang terjadi. Kemerosotan realitas sosial, budaya, politik, spiritual yang menyentuh konflik memungkinkan pikiran-pikiran bersifat prosa dan esai untuk segera lahir. Benarlah pendapat Agus Noor bahwa perubahan sosio-kultural, perspektif sejarah sosial, upaya rekontruksi kenyataan, merupakan semangat “realisme” yang justru akan menjadi menarik karena menghadirkan cerita-cerita yang mengandung “tragisme”.  Ketika “dunia semakin prosais”, orang-orang akan memerlukan prosa untuk merefleksikan perubahan sosial itu, masih kata Agus Noor.

Itulah yang membuat tidak sedikit sastrawan yang pada mulanya berproses kreatif di Yogyakarta pada jalur puisi kemudian juga berkembang pada penulisan cerpen, esai, maupun novel. Sampai di sini, saya pun juga harus menyebut sejumlah nama prosais yang berproses kreatif di Yogyakarta dengan karya yang monumental, seperti Jujur Prananto, Abidah El Khalieqy, Joni Ariadinata, Agus Noor, Edi A.H. Iyubenu, Puthut E.A., Eka Kurniawan, Satmoko Budi Santoso, Mahfud Ikhwan, Asef Saeful Anwar, Eko Triono, hingga Daruz Armedian. Agaknya keberadaan nama-nama penulis prosa di Yogyakarta ini akan terus bertambah.

Masalahnya sekarang, bukan soal puitis atau prosais, bukan soal puisi atau prosa, tapi sejauh mana perubahan sosial ini berpengaruh pada kedalaman dan kedangkalan karya sastra yang kemudian lahir dari para sastrawan generasi milenial? Perubahan dunia di era golbalisasi dengan kecanggihan zaman yang menuntut segalanya serba instan ini disadari ataupun tidak sesungguhnya cukup mengkhawatirkan adanya.

Yogyakarta, 27 Januari 2018

Latief S. Nugraha

Latief S. Nugraha

Lahir Rabu Pahing, 6 September 1989 di Gebang, Sidoharjo, Samigaluh, Kulon Progo, DIY. Alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan dan Program Pascasarjana Ilmu Sastra Universitas Gadjah Mada.
Ia membuat puisi, cerpen, dan esai yang dipublikasikan di sejumlah surat kabar, majalah, jurnal, dan antologi. Secara aktif hanya bergiat Studio Pertunjukan Sastra dan Balai Bahasa DIY.
Menoreh Rumah Terpendam (2016) merupakan antologi puisi tunggalnya yang pertama.
Latief S. Nugraha

Latest posts by Latief S. Nugraha (see all)