Zaman Ibu Berkompor

in Memorabilia by

Pada hari-hari menjelang pemunculan nama-nama untuk berebut suara di hajatan demokrasi 2019, berita-berita ulah para elite politik sering “panas” atau “berapi”. Polemik bermunculan dalam hitungan detik. Segala omongan meramaikan debat dan pertarungan ejekan di media sosial. Situasi tak keruan diperingatkan di “Pojok” milik Kompas, 6 Agustus 2018: “Elite diminta jaga suasana kondusif.” Mang Usil di “pojok” memberi tamparan sindiran: “Malah jadi kompor dan tukang kipas.” Kompor ditaruh di dapur politik, bukan dapur di rumah. Siapa membawa kompor ke politik? Politik melahap ratusan kata berubah arti. Kompor untuk memasak dipahami buruk dalam berpolitik santun. Orang politik berkompor atau ngompori memiliki tabiat-tabiat mengacaukan tata hidup bersama ingin demokratis.

Kompor di politik sudah direstui oleh kamus-kamus? Sekian arti bagi kompor di luar dapur berkaitan agitasi, provokasi, dan menghasut. Kompor bukan lagi benda digunakan untuk memasak atau menggoreng. Kompor berlari jauh meninggalkan ibu-ibu. Kompor ada di markas partai politik, istana kekuasaan, gedung parlemen, dan rumah-rumah kaum elite politik. Kompor tanpa cap subsidi pemerintah. Kompor mungkin berapi merah dan biru. Dulu, kompor masih bersumbu. Kini, kompor-kompor bercerai dari sumbu dan lengo pet. Kompor sudah mutakhir tapi adegan “mengipasi” masih terjadi. Kompor mau meledak dan menimbulkan asap-asap hitam.

Orang di Jakarta memberi sebutan mentereng: kompor mleduk. Kompor bertokoh Benyamin Suaeb. Para pemuja tokoh Betawi itu mengenali kompor adalah lagu. “Gara-gara kompor mleduk, ane jadi kebingungan, wara wiri kesrimpet,” kata-kata dari mulut Benyamin (The Creative Library, Kompor Mleduk Benyamin S: Perjalanan Karya Legenda Seni Pop Indonesia, 2007). Kompor bercerita kebakaran, kebingungan orang-orang. Kompor jangan diperlakukan sembarangan! Di Jakarta, kompor sering jadi sumber kebakaran memusnahkan puluhan sampai ratusan rumah. Kompor mleduk terus terjadi sampai sekarang, mleduk di politik  semakin muslihat dan picik.

* * *

Kita pamitan dulu dari politik. Kompor mengingatkan masa lalu bertokoh ibu dan peristiwa memasak. Kompor menjadikan ibu bahagia, susah, bangga, minder, dan mulia. Di dapur, ibu-ibu memasak menggunakan kompor, menandai hidup di zaman yang sudah berubah. Mereka meninggalkan keren atau anglo, berganti ke kompor berdalih bersih, cepat, dan bergengsi. Pada masa 1940-an, ibu memasak dengan kompor sudah pantas dijuluki ibu modern atau ibu berkemajuan. Tangan dan wajah mereka tak sekotor masa lalu saat terkena abu dan asap menghitam.

Di majalah Kadjawen edisi 29 April 1941, iklan ingin membahagiakan ibu-ibu di tahun menjelang keruntuhan pemerintah kolonial Belanda di Indonesia. Iklan kompor bernama Nulite. Gambar ibu membawa hasil masakan dan kompor sebagai penentu kemahiran sang ibu memasak di dapur. Tiga kompor tinggi. Adegan ibu memasak dengan berdiri, tak lagi duduk atau jongkok seperti ibu-ibu di pawon khas desa. Kompor di iklan itu milik ibu-ibu perkotaan, kaum ibu melek kemodernan.

Penjelasan bujukan panjang di iklan berbahasa Jawa: “Kompor ingkang sae damel etjaning olah-olahan. Olah-olahan etja saged damel marem.” Kompor penentu harga diri ibu di keluarga. Memasak menggunakan kompor Nulite dijamin menghasilkan masakan enak dan lezat. Kompor memberi kepuasan dan kelegaan meladeni makan bagi keluarga. Ibu tanpa kompor mungkin berduka, malu sampai hari kiamat. Iklan sudah menetapkan ibu harus berkompor agar keluarga bahagia.

Pembaca wajib merenung sebelum membeli kompor di agen-agen beralamat di Surabaya, Batavia, Semarang, dan Medan: “Kompor Nulite maremaken sanged. Tanpa angoes, oeroebipoen biroe sarta benteripoen nglangkoengi. Kenging kangge olah-olah, nggegoreng, memanggang poenapa kemawon ingkang dados karemenanipoen tijang ingkang sakalangkoeng rewel. Sadaja waoe kalajan rikat, resik, saketja sarta njenengaken.” Segala khasiat diberitahukan ke pembaca. Belilah dan gunakanlah kompor Nulite! Orang terlarang merugi jika menggunakan kompor Nulite untuk memasak, menggoreng, memanggang. Segala jadi lezat. Ibu tak bakal terkena kotor dan bertampang jelek. Ibu senang melihat api biru, bukan api merah. Konon, biru unggul ketimbang merah. Pada lagu Kompor Mleduk, orang-orang mungkin menjadi korban kebakaran sambil memastikan api dijuluki “jago merah” atau “jago biru.”

Contoh penggunaan kompor terdapat dalam iklan buku di majalah Kadjawen, 20 Juni 1941. Iklan berjudul Boekoe Olah-Olah, terbitan Bale Poestaka, 3 jilid. Gambar di iklan oleh B Margono. Di mata pembaca majalah lawas dan seniman, Margono itu khas dalam gambar Petruk dan Gareng. Lihatlah, ibu berdiri sedang menggoreng! Ibu berdandan anggun. Wajah cantik dan keibuan. Penampilan tak bakal dikotori asap atau abu. Ia sudah menggunakan kompor berapi biru. Kompor memberi pengaruh untuk hasil masakan terlezat.

Kompor berada di dapur modern, bukan dapur berdinding bambu. Kompor berjodoh dengan pelbagai alat mengartikan sang ibu adalah pemasak berselera modern. Dapur berkompor bukan dapur berwarna hitam, berbau apek, atau berlantai kotor. Ibu memasak di dapur tetap terlihat molek, berbeda nasib dari simbok-simbok masak di keren berapi merah di lantai tanah dan berdinding bambu. Simbok itu bakal “berkosmetika” khas pawon. Dapur lawas memiliki api mengedarkan panas dan asap berkeliaran ke sembarang arah. Hasil masakan agak sulit ditentukan dalam pengukuran panas. Lezat tetap diinginkan meski harus bermufakat pada api berwarna merah.

Persaingan penjualan iklan tersaji di majalah Kadjawen, 28 Oktober 1941. Pembaca sudah dibujuk dulu menggandrungi kompor merek Nulite. Merek beda menggoda pembaca: Coleman. Iklan berselera asing, bertokoh perempuan asal negeri jauh, bukan perempuan berkulit cokelat atau berbusana khas Indonesia. Tampilan rambut pasti milik perempuan Eropa. Kompor bertokoh perempuan Eropa. Ia memasak di tanah jajahan. Iklan pamer gambar tiga kompor. Keterangan berbahasa Jawa: “Saged ngirid wragad balegrija. Saged banter sanget namoeng sarana lisah patra sakedik, poneika inggih kalebet kalangkoenganipoen.” Kompor sakti memberi api bermutu dan bahan bakar ditanggung irit. Ibu-ibu di Indonesia mungkin ingin memiliki kompor Coleman dengan impian kecil bakal mirip perempuan modern-Eropa saat masak di dapur.

Puluhan tahun berlalu, kompor masih jadi incaran kaum ibu. Kompor digandrungi ibu-ibu hidup di negeri, menjalankan revolusi dan pemodernan. Di majalah Dunia Wanita edisi 15 Januari 1960, kompor turut hadir dalam penokohan ibu di Indonesia. Kompor di biografi  ibu. Kompor di dapur. Majalah memiliki rubrik tetap bernama “Seni Dapur”. Gambar khas di rubrik adalah ibu muda sedang memasak menggunakan kompor. Tampilan memikat ketimbang dandanan ibu-ibu masa 1920-an dan 1940-an. Ia cantik dan berpenampilan rapi. Pembaca tak pernah mengenal nama si ibu sedang memasak dengan gerak tangan menggoda mata. Ia mahir memasak mirip “penari” di dapur.

Ketiadaan kompor di dapur bakal mengubah penampilan dan gerak. Pembaca tak ingin si ibu muda berdandan sembarangan dan wajah sedang merengut. Di dapur, ibu sedang “memasak” kebahagiaan dengan kompor, memudahkan tata cara menghasilkan pelbagai menu pilihan keluarga. Kecantikan tetap berlaku di dapur selama ibu memasak demi suami dan anak-anak. Majalah itu telah membesarkan arti kompor bagi kaum perempuan di Indonesia.

Gambaran berbeda ada di buku bacaan bocah berjudul Tataran (1952) susunan R Wignjadisastra. Cerita berhiaskan gambar di halaman 6-7 masih menampilkan peristiwa memasak belum berkompor. Si ibu dan bocah perempuan bernama Bawuk sedang di pawon. Mereka tampak membuat sarapan menggunakan anglo. Kompor belum ada. Si ibu mungkin gugup jika dipaksa memasak dengan kompor. Si ibu dalam adegan jongkok-duduk, bukan berdiri seperti adegan ibu memasak di majalah Kadjawen dan Dunia Wanita. Dua perempuan memasak dengan keikhlasan dan sukacita. Di luar pawon, para penunggu sarapan melakukan peristiwa menggembirakan: dolanan. Keluarga Kuncung dan Bawuk belum berkompor tapi bahagia di tatapan mata pembaca. Mereka berada di masa lalu, terlupakan oleh kaum kompor di abad XXI.

* * *

Para pembaca buku-buku bermutu di abad XXI bisa berusaha mengerti kompor di dapur-dapur berzaman mutakhir melalui buku berjudul Back Door Java (2013) oleh Jan Newberry dan Laut Bercerita (2017) oleh Leila S Chudori. Adegan-adegan di dapur sudah menggunakan kompor-kompor apik dan berteknologi melampaui jenis kompor masa 1940-an. Kompor untuk memasak sambil mencipta cerita-cerita keluarga dan pertetanggaan. Di buku Back Door Java, kita mengimajinasikan para ibu harus segera memasak air untuk membuat teh tanpa menunggu lama. Kompor memberi jawaban atas keinginan cepat dan bersih. Tamu tak perlu menunggu sampai mengantuk. Ia membuka mata mendapatkan segelas teh di atas meja. Kompor itu panas dengan kecepatan.

Di Laut Bercerita, pembaca masuk ke cerita para tokoh sedang memasak tengkleng atau mi dadakan. Kompor menentukan cara dan hasil masakan. Di dapur, kompor-kompor mengesahkan cerita kelezatan masakan hasil olahan ibu bagi keluarga. Kompor pun mengisahkan tokoh penentang rezim Orde Baru saat meladeni dan memanjakan teman-teman bersantap mi dadakan. Kompor tersisip di lakon Indonesia masa 1990-an, masa penguasa pernah memberi teladan bersantap jenis-jenis makanan tradisional sering dimasak dengan kompor di Cendana atau istana. Di novel “membarakan” imajinasi Indonesia pada masa genting, kompor bukan tokoh cerita. Kompor ada tanpa halaman, memunculkan metafora atau menuntun pembaca ke pemberian arti berlebihan.

Nostalgia kompor dipengaruhi kebijakan pemerintah dan pembentukan dapur-dapur dipaksa cocok dengan tatanan hidup di abad XXI. Kompor dipaksa berubah di dapur keluarga-keluarga Indonesia. Kompor diinginkan berapi biru. Kompor tanpa lengo pet. Kompor harus bergas. Kompor diminta tak mengotori dapur meski masih gampang mleduk. Kompor-kompor itu masih jarang diceritakan para pengarang berbekal biografi atau pengamatan sosial. Kompor belum milik sastra? Di Indonesia, kompor masih sering politik. Kompor itu petaka ketimbang cerita kelezatan dan keluarga berbahagia. Begitu.

Bandung Mawardi

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)