Syaikh Abu Al-‘Abbas al-Adami

Beliau adalah Ahmad bin Muhammad bin Sahl bin ‘Atha’ Abu al-‘Abbas al-Adami. Berasal dari Baghdad. Termasuk di antara para sufi yang sangat alim dan merupakan kebanggaan mereka. Kalimat-kalimatnya sangat indah. Ungkapan-ungkapannya begitu fasih. Beliau menafsirkan Qur’an dari awal sampai akhir dengan bahasa isyarat.

Beliau adalah salah satu murid dari Syaikh Ibrahim al-Maristani. Termasuk di antara mereka yang bersahabat dengan Syaikh Junaid al-Baghdadi. Syaikh Abu Sa’id al-Kharraz bersikap sedemikian takzim kepada beliau. Beliau wafat pada tahun 311 Hijriah, dua tahun setelah wafatnya Syaikh Husin bin Manshur al-Hallaj, dengan cara dibunuh pada masa kekhalifahan al-Qahir Billah yang berkuasa di panggung Dinasti Abbasiyah.

Pada masa itu, suasana sosial masih dalam keadaan gaduh lantaran dihukum matinya al-Hallaj. Ketimbang terhadap kekuasaan Dinasti Abbasiyah, rata-rata para sufi lebih berpihak dan berempati terhadap nasib al-Hallaj yang wafat dengan cara yang tragis di tiang gantungan. Tak terkecuali Syaikh Abu al-‘Abbas al-Adami. Beliau merasa senasib dan sepenanggungan dengan al-Hallaj.

Seorang menteri Dinasti Abbasiyah yang menangani eksekusi al-Hallaj bertanya kepada Syaikh Abu al-‘Abbas al-Adami tentang apakah beliau berpihak pada kekuasaan atau pada Syaikh Husin bin Manshur al-Hallaj. “Apa pendapatmu tentang al-Hallaj?” tanya si menteri. “Kau harus bertanggung jawab terhadap penganiayaan itu,” jawab sang sufi dengan tandas. “Kau menentang kepadaku?”

Si menteri langsung memerintahkan para algojo untuk mencabut gigi-gigi beliau satu demi satu. Lalu memerintahkan mereka untuk menancapkan gigi-gigi itu di kepalanya sehingga beliau disongsong oleh kematian. Betapa sangat kejam, betapa sangat tidak manusiawi.

Sang sufi yang dijemput ajalnya dengan cara yang sedemikian tragis itu pernah ditanya oleh seseorang tentang paling utamanya ketaatan. Beliau menjawab pertanyaan itu dengan penuh ketulusan dan keteguhan hati: “Menjumpai Allah Ta’ala dalam kesinambungan waktu.”

Sangat menarik adanya jawaban di atas. Bukan semata hanya untuk dipahami, tapi untuk terus-menerus diamalkan sekaligus dialami. Dan jawaban seperti itu pastilah bersumber dari pengalaman spiritual sang sufi sendiri. Sebuah jawaban yang menunjukkan kepada kita semua bahwa relasi rohani dengan Allah Ta’ala semestinya senantiasa menggema di dalam jiwa setiap salik.

Istilah “menjumpai Allah Ta’ala” menunjuk kepada berlangsungnya tawajjuh yang dirasakan oleh setiap salik bahwa mereka senantiasa merasa sedang berhadap-hadapan dengan hadirat-Nya, tidak sejenak pun terhalangi oleh alpa dan jeda: sebuah untaian waktu yang sangat panjang, bermutu dan penuh dengan kenikmatan-kenikmatan rohani yang tak terkira-kira.

Hal tersebut akan terjadi ketika seseorang sudah mengalami kematian yang tuntas bagi dirinya sendiri dan pada saat yang bersamaan dia murni ditopang oleh berbagai kesempurnaan yang menghablur dari Allah Ta’ala. Hilanglah segala kekelaman dirinya, digantikan cahaya-cahaya hadirat-Nya.

Di saat itu, siapa pun orang yang telah dianugerahi karunia rohani seperti itu akan menjadi orang yang paling beradab di hadapan Allah Ta’ala. Baik ketika dia sendirian maupun ketika bersama dengan orang-orang lain. Di saat itu, tidak saja dia menjadi orang yang paling fokus terhadap Tuhannya, tapi juga menjadi orang yang paling baik dan paling indah tindakan-tindakannya. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.