Aku Bercerita tentang Perempuan yang Mati Bunuh Diri

Aroma tubuh malaikat itu mengharumkan udara. Aromanya kombinasi wangi anggrek, embun pagi, cokelat susu, dan sampanye.

Tinggi malaikat itu sangat mengesankan. Walaupun ia mengenakan jubah putih yang tampak feminin, tubuhnya terlihat berotot mempesona. Tubuh rupawan malaikat itu memancarkan cahaya, mirip matahari yang baru saja dibebaskan dari gerhana.

Beberapa saat sebelum Tante Mona meluncur dari ketinggian lantai 21 apartemen ini, aku telah melihat malaikat itu berdiri tegap di atas salah satu balkon apartemen, tepatnya di lantai 10. Ruang di antara aku dan malaikat itu terasa dipenuhi oleh bulu-bulu bersayap berwarna putih keemasan.

Beberapa saat kemudian tubuh Tante Mona berdebam, lantas terkoyak oleh permukaan lantai batu bata ekspose berwarna terakota dekat kolam renang.

***

Kawasan apartemen ini adalah yang terbesar, tersibuk, dan terpadat di Jakarta. Di kawasan apartemen ini ada 21 tower yang dinamai nama-nama bunga. Tiap tower seolah-olah terdiri atas 21 lantai karena pada tombol lift tertera angka 1 hingga 21. Namun, sejatinya tiap tower hanyalah terdiri atas 18 lantai sebab tidak ada lantai 4, 13, dan 14, tiga angka haram. Satu tower terdiri atas 1.000 unit kamar. Apabila masing-masing kamar dihuni oleh minimal satu jiwa, ada 21.000 makhluk berjiwa bernama manusia di semua tower. Itu belum termasuk orang yang tinggal di unit-unit niaga di lantai dasar, seperti warung, kedai kopi, minimarket, salon, dan klinik kesehatan.

Tante Mona sebenarnya jatuh dari lantai 18. Akan tetapi, hal ini tidak berpengaruh besar bagi polisi yang datang ke TKP 30 menit setelah tubuh Tante Mona terkoyak tidak keruan. Dalam berkas acara perkara Tante Mona dinyatakan tewas karena bunuh diri dari lantai 21 apartemen.

Tante Mona bunuh diri pada hari Senin ketika baru saja dunia memasuki awal 2021 yang dirayakan dengan sederhana. Aku pernah mendengar sebuah istilah blue Monday, Senin yang biru dan tentu saja sepi. Konon, tingkat bunuh diri terbanyak terjadi pada hari itu.

***

Aku bertemu dengan Tante Mona kali pertama pada suatu senja dalam situasi yang sangat canggung. Kala itu langkah kaki Tante Mona seperti berdebum mendekatiku dan kian mendekat. Langkahnya seperti terhuyung-huyung, lalu terhenti. Satu kakinya tampak belum menjejak lantai taman dekat kolam renang. Ia tertatih-tatih hendak menegakkan tubuhnya. Nyaris saja ia tergelincir ke kolam renang. Alih-alih tidak tercebur ke kolam renang, ia malah terjatuh dan pingsan di lantai taman. Beruntung bukan hanya aku yang berada di taman, melainkan juga ada petugas kebersihan yang segera memberikan pertolongan. Petugas kebersihan bersama petugas keamanan membawa Tante Mona ke fasilitas kesehatan di apartemen ini.

“Tante Mona kenapa?” Begitu pekik petugas kebersihan ketika mengetahui Tante Mona terkapar di pinggir kolam renang. Sejak saat itu, aku tahu nama perempuan itu. Paras cantik dan tubuh aduhainya sulit dideskripsikan dalam selarik puisi paling indah di dunia pun. Setelah mengenalnya, aku tahu bahwa ia terjatuh dan pingsan akibat mabuk.

Pertemuan kedua dengannya terjadi masih di taman dekat kolam renang. Sore itu aku tengah bingung dengan keadaanku: aku muntah-muntah. Rasanya semua isi perutku betul-betul terkuras. Tante Mona sedang membaca novel di kursi taman. Ia mendekatiku, lalu membujukku minum segelas susu. Dengan tulus, ia membersihkan mulutku dengan tisu, dan membawaku ke dokter terdekat. Kami pun makin akrab dan kerap bertemu, baik di taman apartemen maupun di unit kamarnya.

Tante Mona merupakan perempuan supel yang sangat energik dan ekspresif meskipun usianya memasuki kepala empat. Karena itu, tidak heran bahwa relasinya sangat banyak. Relasinya rata-rata lelaki paruh baya yang layak jadi abang atau bapaknya. Tak jarang ia membawa lelaki itu ke rumahnya. Jika tamu lelakinya datang, ia menyalakan TV dengan volume suara yang keras. Setelah itu erangan, desahan, dan teriakan penuh kenikmatan memenuhi tiap penjuru kamarnya.

Aku ingat betul pada malam Natal tahun lalu ia tidak menerima tamu. Sepanjang malam ia bersamaku. Kala itu ia teringat sesuatu tentang lagu Malam Kudus. Lantas, ia bercerita perihal lagu itu. Aku mendengarkannya dengan saksama. Ia bercerita bahwa riwayat lagu-lagu Natal berasal dari negeri dingin.

“Beberapa karangan tentang penciptaan lagu-lagu Natal, misalnya penciptaan lagu ‘Malam Kudus’, berawal dari ketenangan dan kesunyian malam bersalju menjelang Natal. Kesyahduan inilah yang mengilhami asisten pendeta, Joseph Mohr di desa Oberdorf, Austria. Ia mengarang syair yang syahdu dan menamainya ‘Malam Kudus’. Ia membawa Syair itu kepada rekannya, Franz Gruber, guru dan organis gereja, untuk dibuatkan musik yang sesuai. Franz Gruber tidak mengalami kesulitan membuat musiknya, tetapi lagu itu tidak dapat dicobakan pada organ karena kebetulan organ gereja rusak. Maka, pada malam Natal itu lagu baru tersebut dinyanyikan Joseph Mohr dan Franz Gruber di gereja dengan iringan gitar.”

“Beruntung pada saat itu hadir pula tukang reparasi organ. Ia sangat terkesan, dan lagu itu disalinnya. Ia kebetulan kenal dengan empat gadis keluarga Strasser yang amat berbakat di bidang musik. Gadis-gadis itu mulanya hanya menyanyi di pasar mengikuti ayahnya, penjual sarung tangan. Namun, orang menyukai nyanyian mereka dan mereka pun mulai tenar. Mulailah mereka mengadakan tur keliling dari satu kota ke kota lain.”

Tante Mona berhenti bicara dan memandangku sejenak. Dalam pandanganku terlihat pesona perempuan cerdas penyuka bacaan sastra, baik prosa maupun puisi. Ia lalu melanjutkan cerita.

“Ketika teman mereka tukang organ itu datang dan mengenalkan lagu Malam Kudus, mereka tertarik dan dengan senang hati membawakan lagu tersebut bersama lagu-lagu rakyat yang mereka nyanyikan. Maka, menyebarlah lagu tersebut hingga akhirnya meluas keluar Austria, Jerman, dan akhirnya ke seluruh dunia. Lagu itu juga sampai ke sini dengan versi Indonesia,” tuturnya mengakhiri cerita.

Setelah itu, ia menyanyikan lagu malam kudus itu dengan merdu dan syahdu. Ia bilang bahwa ia tahu persis sejarah lagu itu dari majalah gaya hidup yang kini sudah tak terbit lagi.

Pada malam itu juga Tante Mona bercerita tentang sesuatu yang sangat ditakuti oleh manusia, yang akan tiba cepat atau lambat: kematian. Ia berkata seperti seolah-olah mengingatkan dirinya agar tidak memikirkan apa yang terjadi setelah mati. Akan tetapi, tiap kali mengingat kematian, ia selalu terpikir tentang kehidupan setelah mati. Bahkan, terkadang rasa takut begitu melanda dirinya, menguasai benaknya, dan membuatnya cemas. Aku begitu terpukau akan ucapan Tante Mona. Aku berkesimpulan bahwa ia terlalu sering mengikuti berita-berita kematian akibat Covid-19. Pada akhir pembicaraan ia berkata bahwa ia telah merancang suatu proses untuk menghindar dari kematian, yaitu menyongsong kematian itu dengan penuh rasa bahagia. Ya, rasa bahagia. Ketika ia mengulang frasa rasa bahagia, ada secerca binar pada kedua bolamatanya. Selang beberapa saat kemudian, keheningan menyelimuti kami.

***

Satu hari sebelum Tante Mona bunuh diri. Hari ini merupakan hari Minggu yang cerah. Kulihat Tante Mona sudah mandi dan berdandan. Ia sangat cantik, terlihat lebih segar dari biasanya. Ia lalu memutar lagu klasik karya Bach dan Beethoven secara bergantian sambil sarapan. Mendadak ia terdiam, larut dalam doa, sementara Beethoven masih tetap mengalun.

Benar, ia begitu ceria. Ia pun bercerita tentang relasi-relasinya.

“Tahu tidak? Ketika memasuki usia pensiunan, Pak Sentosa sungguh menyesal. Karena apa? Ia tak punya kesempatan untuk korupsi. Selama bekerja, Pak Sentosa itu pejabat kantor pajak yang terlalu jujur, bersih, dan tak pernah korupsi.”

Ia pun menciptakan cerita-cerita lucu lainnya. Entah benar entah tidak.

”Setelah 25 tahun menikah, dikaruniai lima anak dan sepuluh cucu, istri Pak Halim bertanya kepada Pak Halim, ‘Apakah kamu masih mencintaiku?’ Apa jawab Pak Halim? Ia berkata, kenapa baru sekarang kautanyakan hal itu? Kenapa bukan 25 tahun yang lalu?”

Tante Mona tertawa terbahak-bahak. Aku pun ikut terkikik-kikik mendengarnya.

Masih sambil tertawa, ia menyambung dengan cerita lain. ”Ada seorang gadis, sebut saja Tiktuk, mati bunuh diri. Ia terjun dari lantai tertinggi di apartemennya. Ketika tahu mati bunuh diri jatuh dari atas gedung menyakitkan, ia ingin mati bunuh diri dengan meminum racun serangga saja.”

Saat itu aku merasakan kegetiran seperti tergantung di bibir Tante Mona yang begitu seksi. Hari itu kami menghabiskan sebagian waktu di kamarnya saja.

Hari telah rembang senja ketika aku dan Tante Mona turun dan pergi ke taman dekat kolam renang. Beberapa hari terakhir ini perempuan itu memang tampak selalu murung. Hari ini ia sangat gelisah. Ia sering dilanda semacam rasa sepi pada waktu senja, ketika matahari makin tergelincir, lalu terbenam di ufuk barat. Ia lebih sering tidak melakukan sesuatu, atau hanya termenung. Ya, saat ini relasi-relasinya sudah tak pernah lagi bertamu ke unit kamarnya sejak pandemi Covid-19 menghantam negeri ini.

Aku mencoba memikirkan sesuatu yang berarti untuk kuucapkan, tetapi sayangnya tidak bisa kuutarakan. Aku ingin mengatakan, “Hanya  kematian yang bisa menghilangkan rasa takut akan kematian itu.” Saat itulah terakhir kali aku melihat Tante Mona sebagai manusia bernyawa.

***

Malaikat itu menoleh ke arahku tatkala aku hendak menghambur dan melompat ke tubuh Tante Mona yang mengenaskan untuk memeluknya. Langkahku urung dan menatap lekat ke mata malaikat itu. Aku yakin bahwa ia merasakan tatapanku. Kemudian, tatapan malaikat beralih dengan cepat ke tubuh Tante Mona.

Aku menahan napas ketika melihat roh Tante Mona pergi bersama malaikat rupawan ke langit. Aku mengerjapkan mata, berusaha kembali ke alam sadarku sendiri. Bayangan sosok malaikat dan roh Tante Mona makin samar dan memudar di langit.

Ketika polisi datang, seorang dari mereka berseru kepada polisi lainnya sambil menurunkan maskernya ke dagu, “Usir kucing itu dari TKP!”

Aku benar-benar melompat ke sebuah balkon dengan perasaan sedih dan memandang langit. Ekorku bergoyang-goyang, terus bergoyang, tak henti-henti bergoyang, tak bisa berhenti bergoyang. Dengan segenap usaha, aku berhasil menarik diriku dari kesedihan. Ekorku akhirnya berhenti bergoyang.

”Tante Mona, kenapa menyerah?” ***

Apartemen Kalibata City, 05 Maret 2021

Bamby Cahyadi

Comments

  1. Joni-Bamby Reply

    Wuih. ada cerbung juga ya. kalau yang bukan temannya orang dalam, bukan siapa-siapanya orang dalam, kira2 dikasih ruang juga enggak ya nulis cerbung di sini? hehe

  2. Meifa Manurung Reply

    Ceritanya bagus dan menarik😉😉

  3. Realistis Reply

    Mantap

  4. i wayan satya Reply

    ceritanya bagus

  5. fitman Reply

    dia itu kucing yah ???

  6. Yoga Pratama Reply

    Kalau nulis cerpen gini perlu cover atau tidak, mohon di jawab?

    • Admin Reply

      tidak, kak.

Leave a Reply to Yoga Pratama Cancel Reply

Your email address will not be published.