Al-‘Abbas al-Azdi

pinterest.com

 

Beliau adalah Abu al-Fadhl al-‘Abbas bin Ahmad asy-Sya’ir al-Azdi. Sufi yang sangat cemerlang reputasi rohaninya. Orang agung pada zamannya. Ungkapan-ungkapannya sangat indah. Kemurahan hatinya begitu nyata. Beliau merupakan salah satu murid dari Syaikh al-Muzhaffar al-Kirman Syah.

Gambaran tentang keberpihakan beliau kepada Allah Ta’ala dibandingkan terhadap dirinya sendiri terpampang ketika beliau menjelang wafat. Hal itu disaksikan oleh Syaikh Abu Sa’d al-Malini al-Hafizh sebagaimana yang diungkapkannya berikut ini.

“Menjelang wafat,” tutur Syaikh Abu Sa’d, “aku berada di sisi beliau. Aku bertanya tentang kondisi beliau saat itu. Beliau menjawab: ‘Aku masih ragu dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Jika aku memilih kematian, aku khawatir hal itu merupakan suatu kesombongan, sikap tidak sopan, dan pengakuan semata. Tapi jika aku memilih hidup, aku khawatir menjadi lalai di dalam mengharapkan perjumpaan dengan hadiratNya. Aku sekarang sedang menunggu ketentuan Allah Ta’ala.’ Setelah itu, aku keluar dari rumah beliau. Tak seberapa lama kemudian, beliau lalu wafat.”

Melalui penuturan Syaikh Abu Sa’d tentang akhir hayat dari Syaikh al-‘Abbas al-Azdi di atas itu menjadi sangat gamblang bagi kita bahwa sufi yang kita bicarakan di dalam esai pendek ini betul-betul telah membebaskan diri dari adanya pemenuhan terhadap keinginan-keinginan dirinya sendiri. Beliau lebih memilih ketentuan dan perintah Tuhannya.

Ada sebuah puisi sufistik yang sangat cocok dan pas sekali dengan kondisi beliau yang sedang berada di tubir kematiannya sebagaimana berikut ini:

وإن قلت لي مت مت سمعا وطاعة

وقلت لداعي الموت أهلا ومرحبا

“Jika Kau katakan kepadaku ‘Matilah kau’, maka aku akan mati dengan tunduk dan penuh rasa patuh. Dan akan kukatakan kepada Malaikat Maut, ‘Selamat datang, selamat datang’.”

Bagi seseorang yang batinnya sudah tersucikan dari debu-debu hasrat yang suram, kematian sama sekali bukanlah sesuatu yang mengerikan. Malah bisa merupakan kebalikannya. Yaitu, sebagai sesuatu yang dipandang nikmat dan sangat dinantikan. Terutama oleh orang yang sudah sekian lama dirundung kerinduan yang purba terhadap Tuhannya.

Akan tetapi, walaupun kerinduan yang sakral itu bersemayam di dalam diri sang sufi, tetap beliau tidak lantas gegabah di dalam menentukan pilihannya: apakah ingin segera menemui Tuhannya lewat pintu kematian atau masih ingin melanjutkan sembah sujud di dalam kehidupan. Beliau lebih berpihak kepada keputusan Tuhannya.

Harap diketahui bahwa di antara para sufi ada yang memang diberi keistimewaan oleh Allah Ta’ala dengan adanya penundaan waktu kematian mereka. Tapi rata-rata mereka lebih memilih kematian yang tidak lain merupakan pintu agung bagi adanya “perjumpaan” dengan hadiratNya. Termasuk juga yang dipilih oleh Syaikh al-‘Abbas al-Azdi dengan bimbingan dan petunjuk Tuhannya.

Bagi seseorang seperti beliau, hidup dan mati itu sebenarnya sama saja jika keduanya tak lain merupakan pengejawantahan dan realisasi dari bimbingan dan petunjuk Allah Ta’ala. Yang menjadi masalah bagi seseorang seperti beliau bukanlah perkara mati dan hidup itu sendiri, bukan. Tapi bagaimana bisa sepenuhnya patuh kepada hadiratNya di dalam menempuh hidup atau mati tersebut.

Jika kepatuhan yang sangat indah dan sakral itu sudah terialisasi dalam kehidupan seseorang, sungguh dia tak lain merupakan teofani hadiratNya yang sangat anggun dan menawan. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.