Apa Novi Memang Mau Bunuh Diri?

NOVI berkali-kali menelepon, dan aku tidak mengangkatnya—sedang ada rapat, tapi kontak tak diputus dan ditransfer ke getaran—, maka ia berkali-kali mengirimkan SMS. Terakhir—dan mungkin ia membalasnya, karena HP-nya selalu aktif ketika dihubungi seusai rapat—, SMS itu malahan berbunyi kalau tidak diangkat aku bunuh diri, lantas: kalau dalam dua jam tak datang aku akan bunuh diri, kemudian: kalau dalam satu setengah jam tidak datang maka aku akan bunuh diri, serta: dalam sepuluh menit ini aku akan bunuh diri, dan: sumpah aku akan bunuh diri, dan akhirnya; delapan menit lagi kau akan menyesal seumur hidup.

Hari itu Kamis, dan aku harus menyelesaikan pesan iklan tertulis untuk koran Z edisi Minggu. Ada rapat mendadak. Pilihan-pilihan kata yang harus aku eksekusi—dan terpaksa dirangkum dan dibuat kalimat sugestif baru yang antusias di-acc pelanggan. Pada jam 22:33 aku berhasil mengerjakannya seperti keinginan A, di Jakarta—sebuah sugesti yang melabi kelemahan produk terbaru A, dengan amat banyak mengobral kelebihannya, hingga membuat orang ingin membeli—, hingga aku punya banyak waktu merenungkan semua SMS Novi. Benarkah ia akan bunuh diri? Ataukah cuma ingin dikunjungi setelah pertengkaran malam Minggu kemarin? Kenapa malam-malam ia ingin bersua?

***

NOVI mahasiswi jurusan bahasa dan sastra Indonesia—tapi konsentrasinya ilmu pedagogi, bukan sastra. Kami berkenalan karena ia mendapat tugas mewawancarai proses kreatif penciptaan dari pengarang dan sastrawan Indonesia. Aku terpilih karena di ujung satu cerpen (aku) yang terpublikasikan diterakan sedikit biografi serta alamat surel, dan pembocoran itu atas ulah si redaktur koran bersangkutan. Dengan Facebook Novi menghubungi dan mengajukan tiga puluh satu pertanyaan tertulis, meminta agar segera dijawab—katanya, karena dalam seminggu tugas itu harus dikumpulkan. Tapi apa peduliku? Bukankah yang dapat tugas itu ia dan bukan aku?

Senin sampai Rabu aku harus ke Cirebon, syuting buat iklan profil perusahaan, padahal Kamisnya ada deadline untuk iklan di koran O—padahal belum punya draft. Memang ada waktu sampai Jumat sore, tapi Kamis dini hari itu aku mengantuk, dan cenderung memilih tidur. Novi mengirim Facebook lagi—masuk HP—, bilang: Sabtu ini akan ditagih dosen—seakan ia yang berkepentingan di dunia dan kepepet sekali, tidak mau tahu, kalau aku sedang dikejar deadline: harus menulis, harus terpilih, harus segera dipublikasikan, dan kubisa tenang makan siang dan makan malam di warung langganan. Tapi—anehnya—: aku malas membalas Novi dan mengabaikan deadline.

***

AKU kini tiga puluh sembilan tahun, telah sepuluh tahunan jadi copywriter—berpindah-pindah kompani, tergusur kebutuhan ekonomi, hingga “terpaksa” sering minta ke luar agar dapat pesangon. Kewajiban pada keluargalah yang memaksa aku kreatif jadi kutu loncat—terutama ketika orang tua punya kebutuhan mendadak. Itu selalu mulus, mungkin karena sejak kuliah aku suka menulis, banyak dimuat, dan terbiasa hidup subsistensi seadanya. Cukup mapan sebenarnya, meski sejak “menulis” iklan, aku tak bisa menulis liar, karenanya terpaksa kreatif pindah perusahaan dan dapat pesangon. Dan, meski bisa mengiba-iba meminta pada kawan agar tulisan dimuat, bahkan merayu agar diberi tugas me-review buku—dengan pesanan, dengan dapat honor tambahan dari penerbit—, tapi tak berani lepas dari biro iklan dan jadi penulis lepas. Berisiko!

Dengan bonus tahunan dan uang pinjaman dari perusahaan aku membayar DP—sebuah kamar tamu, kamar tidur, dapur, ruangan terbuka di belakang yang diberi atap agar tenang menjemur. Bangunan sempit berdempet seperti bedeng sewa buat pekerja pabrik, hingga tetanggaku melulu pekerja kecil, dengan istri yang kreatif melengkapi perabotan rumah tangga lewat tukang kredit—sisanya para penyewa. Bising. Tak bisa nyaman, tapi ada listrik sendiri hingga leluasa terbenam membaca atau main laptop—meski lebih sering cari Wi-Fi gratis. Punya warung langganan, punya teman ronda, serta terkadang mendapat buruh perempuan yang bisa diajak sekamar karena kesulitan tak dapat kontrakan.

***

PRAGMATISME jadi raja. Mencuci seminggu sekali—sekalian disetrika. Aku membeli air galon yang dikirim seminggu sekali—mandi sepulang kerja dan sebelum tidur agar hanya cuci muka setiap telat bangun. Terkadang ingin bicara rasional abcd tapi tidak bisa zakelijk abcd karena kebutuhan ekonomi mendesak para tetangga tidak ditolak—sebelum menghalalkan segala cara demi survive. Aku tak menikah tapi punya hubungan tanpa ikatan dengan siapa saja—lingkungan sosial aku cuma buruh, pekerja informal, serta ibu rumah tangga menganggur. Semua sangat subsistensi dengan posisi tegak di air banjir sebatas dagu, hingga satu kecipakan akan membuat tenggelam. Tapi, entah kenapa, aku betah bersama mereka.

Tak ada TV—aku mencari berita dari internet di HP atau laptop. Buku, majalah,

dan koran menumpuk. Tidak ada lemari untuk pakaian—lemari di kamar hanya untuk buku. Jendela jarang dibuka, hingga aku malas memasak—kopi dibuat dengan air dari termos, bungkusan nasi bungkus meruyak, dan uang lebih aman disimpan di ATM. Di dompet di sakuku ada sedikit untuk kebutuhan harian—berlebihan cenderung dipinjam tetangga, meski untuk itu mereka berani bayar DP dengan tidak bercelana dalam dan mandah dikeloni. Tapi kenapa akhirnya aku berhubungan dengan Novi?

***

DOSEN Novi itu adik kelas di kampus, lima belas tahun lampau. Ia membaca si teks wawancara—dengan berpolakan resepsi-estik: aku menyatakan bermula dari hobi membaca dan keinginan menuliskan apa-apa yang tak seperti apa yang biasa dibaca—menghubungi. Ia meminta agar aku memberi kuliah penulisan kreatif. Aku oke. Dua hari di kampus: siang saat datang, sorenya mengajak keliling Novi, malam keluyuran di seputar kampus sambil mengenang semuanya, serta paginya mengajar. Novi tidak mengetahui itu. Ia kaget ketika dikabari aku ada di kantin fakultas—lantas aku minta ditemani membeli kerajinan unik dan kuliner khas.

Teks di koran itu—sebuah kedekatan emosi fiksional, ketimbang keunikan si teks —membuat kami akrab. Setelah kuliah umum itu kami rajin berteleponan, saling kirim SMS. Makin intim setelah tamat kuliah—aku jadi konsultan pendamping skripsi yang ditulisnya. Ia tak balik kampung, ia memilih jadi guru swasta di Jakarta, hingga kami sering bertemu serta (relatif) bebas berhubungan, meski saat itu aku di titik tiga puluh tujuh dan Novi dua puluh lima. Jarak usia tak jadi masalah—tak ada yang salah. Kami saling tertarik, memberi respons dan perhatian, meski pekerjaan membuat kami sangat pragmatis—itu menyangkut perut dan masa depan kami. 

***

AKU dapat proyek sampingan penulisan biografi—dengan dramatisasi ala novel—bersama Maulidin—wartawan. Setiap Sabtu-Minggu aku ganti berkeliling mengikuti kronologi serta peta mutasi-promosi tokoh kami. Iseng saja karena semua itu tugasnya Maulidin yang baru di-PHK. Karena itu aku punya daftar nama, tempat kejadian, dan kerangka peristiwa yang harus didramatisasi dengan intensif bertemu orang-orang dan menyerap situasi sosial-budaya dari geografis kebertugasannya. Mencecapi berpindah tugas dengan sokongan akomodasi plus terselubung—pengawalan. Aku pun berkeliling sekitar empat bulanan, intensif menulis dua bulan setelah beberapa teks dicicil sambil kerja, dan dikoreksi si bersangkutan untuk ditulis-ulang lagi—dalam dua bulan itu.

Relatif tiga bulanan terakhir aku tak bertemu Novi, setelah selama setahun kami

hanya bertemu tujuh kali—dua kali dalam rentang enam bulan. Lalu agak lebih sering, sebelum kembali lagi retreat—konsentrasi meng-edit. Aku ingin segera selesai supaya punya tabungan cukup—sambil berharap penjualan buku membubung, dan mendapat bonus. Aku ingin punya deposit untuk melunasi rumah—mungkin menyuap agar Novi jadi PNS, bila nanti ia setuju jadi istriku. Tapi Novi berpikiran lain.

***

NOVI menelepon ketika ia lulus sebagai Capeg, lalu harus menjalani pelatihan dan pendidikan hingga ia harus dikarantina. Aku sering menelepon bila sempat, dan terkadang mengunjunginya—terutama setelah penulisan selesai. Aku masih sering ke karantina setelah seluruh draft dibaca M, dan aku stop mengunjungi—padahal telah lulus pendidikan Capeg—ketika M minta melakukan koreksi, karena ada beberapa nama—yang pertama kali diindikasikannya telah coba menyuapnya—yang kepentingannya harus dijaga. Kompromi ini membuat buku itu terpaksa ditulis ulang, agar lebih ramah dan lembut, meski kadar dramatis dan sentimental ditambahkan.

Posisi penulisan yang sulit—Maulidin marah karena banyak fakta dan data harus dihilangkan—, bahkan itu nyaris membuat aku mundur—mutung—tapi tidak jadi karena dijanjikan honor baru untuk penulisan dalam wujud baru. Meski tanpa itu pun aku akan menulis ulang, karena semua fasilitas telah dinikmati, serta secara profesional aku harus menyelesaikan proposal yang disepakati—aku jadi total bekerja sendiri, untuk itu aku dapat fee tambahan—penerbit meminta dituliskan review buat buku-buku barunya, sambil janji akan memakaiku di proyek berikut. Surga kapitalistik yang lupa didiskusikan dengan Novi—tapi semuanya telah menjadi bubur.

***

DENGAN naik taksi aku mendatangi. Sampai di mulut gang, dengan meminta si taksi menyeberang. Aku membayar. Melenggang santai—selepas jam 23:24. Hampir di tengah malam. Suasana senyap. Di gardu orang tak berkumpul serta mabuk-mabukan. Sepi tak seperti biasa—meski itu akan terasa indah saat kami bertemu. Ketika sampai depan kamar kosnya Novi—jejeran kamar dengan pintu pribadi—, aku ingat aku belum beli rokok. Juga soft drink dan mi goreng kesenangannya. Aku mengetuk untuk bisa mengajak Novi jalan memilih makanan dengan memakai sepeda motornya—tapi tidak ada jawaban. Aku berbalik setelah berkali menelepon dan Novi tidak membalas. Aku mengirimkan SMS, bilang—aku balik cari rokok serta mi dulu. Sabar.

Dengan dua softdrink, dua nasi uduk—satu dengan sambal plus—, dan dua dada ayam aku kembali. Berjalan sendiri di kesunyian menjelang di tengah malam. Angin lantang menguarkan anyir comberan. Seekor anjing liar melirik sebelum asyik mengaduk tempat sampah. Seekor curut, sebesar anak kucing, memasuki got lewat celah retak. Lantas suara TV—lirih. Alangkah senangnya kalau di siang hari sedamai ini—pikirku. Tapi tak ada kedamaian. Aku tidak bisa masuk—meski berkali mengetuk pintu sambil berkali menelepon Novi. Aku mulai menggedor pintu, aku mulai berteriak-teriak memanggil, yang memancing orang buat berkumpul—penasaran dan ingin tahu.

***

KETIKA akhirnya pintu didobrak, kami menemukan Novi tergantung di juntai selendang. Berbaju lengkap tapi lidah terjulur—mulutnya berbusa. Ada bukti sentakan sakit di leher yang berupa air kencing pekat—kemudian, menurut autopsi, dua ruas pada tulang leher yang retak tersentak. Ada kursi plastik biru, bersegi empat berkaki empat, terguling atau digulingkan. Tidak ada siapa pun. Tidak ada apa-apa. Bahkan bekas dan jejak kekerasan pada tubuh. Tapi aku dibawa ke Polsek setelah pemilik rumah kontrak menghubungi RT dan ia memanggil polisi. “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyanya. Aku tidak tahu. Aku bilang, dikejar deadline. Aku bilang, datang naik taksi, balik beli makanan—semua dikuatkan saksi. Aku bilang, lama aku tidak ingin dihubungi karena menyelesaikan pekerjaan.

Setelah hening aku bilang, aku tidak merasa mengancam dan tidak merasa Novi akan nekat karena diabaikan. “Aku melihat gertakannya itu sebagai menifestasi rindu. Sayang …,” kataku. Aku juga merujuk kepada tetangga, yang bilang, aku memang sering mampir di kamar kos Novi, dan yang disangkanya itu hamil—menurut autopsi: Novi tak sedang kamil, bahkan haidnya baru tuntas empat hari lalu. Lantas apa yang sebenarnya terjadi dengan kematian Novi? Kenapa ia itu memilih gantung diri memakai selendang ungu yang basa dipakainya latihan Tari Gambuh? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Novi mengancam akan bunuh diri—agar aku bergegas mengunjunginya—dan terbukti ia itu mati gantung diri?

***

SEJAK saat itu hidupku diganggu pertanyaan besar, tentang: apa latar belakang tindakan Novi, kenapa ia seperti berpikiran sempit, dan apa yang sesungguhnya terjadi saat itu berdasar apa yang terkilas dalam hati dan terangankan dalam pikiran? Tak ada yang terbayang karena itu pikiran Novi—bukan pikiranku sendiri—, dan aku tidak bisa mempertanyakan itu kepadanya. Tapi satu kali terkilas dalam pikiran, bahwa Novi itu —karena riwayat kematiannya—telah jadi hantu. Ya! Lantas aku mencari cairvoyante, dan memintanya jadi medium bagi ruh Novi. Novi memang muncul dan membuat satu pengakuan, sebuah fakta yang telah membuatnya bebas masuk dalam kematian wajar, sebab bunuh diri itu merupakan insiden ketaksengajaan. Teks pengakuannya—dan itu muncul berulang berkali dalam mimpiku —, bunyinya seperti berikut:

Ada aktor teater yang mengaku menikah dengan Peri dari lereng Gunung Lawu, Alas Ketonggo. Tempat yang ditandai sebagai: salah satu titik segi tiga mistik Jawa— lainnya: keraton serta Laut Kidul. Di sana, konon, Prabu Brawijaya, yang memburon dari Majapahit, dalam kejaran pasukan Pajang, melepas ilusi duniawi, lalu bertapa—lantas moksa. Dan dengan sampingan, si salah satu selirnya kencan dengan anaknya, lalu mereka membangun pesugihan dengan lelaku perkeliruan di barat laut. Katanya! Tapi aku percaya itu happening art—seni pertunjukan—, karena alam mistik Jawa tak kenal Peri. Yang menyediakan dirinya untuk menolong kesepian lelaki tua.

Itu komik! Lantas aku pun ingin membuat sebuah pertunjukan, untuk menyambut kedatangan pacarku, Ibnu Poetiraga—dengan pura-pura ingin gantung diri. Gencar meneleponinya, usil meng-SMS—agar tergesa datang. Dan ketika ia sampai di depan pintu, tidak sengaja masih dikunci—aku telah naik, berdiri bersitumpu di kursi plastik biru, serta leher ada dalam jerat selendang—yang aku kira tak akan cukup kuat untuk menjerat dan menahan berat tubuhku. Ketika menelepon aku diam, ketika meng-SMS aku diam, meloncat ketika tahu ia berbalik. Lupa kalau leherku masih di dalam jerat, dan keseimbangan terganggu ketika bangku melimbung—terguling. Tersentak ketika jerat menerkam. Aku menggelepar—sekarat dan gelap.

***

TAPI mungkin juga itu cuma usaha sok rasional yang mengada-ada, agar tak me-rasa terlalu bersalah dengan fakta: Novi mati bunuh diri—padahal baru jadi PNS.

Beni Setia
Latest posts by Beni Setia (see all)

Comments

  1. Juperi Reply

    kronologinya membuat liar imajinasi, tergambar jelas di hadapan. semoga tidak terbawa dalam mimpi.

  2. Novita Sari Reply

    Novi, Novi…

  3. Aiu Ratna Reply

    Oalah, Nov, Nov…. Makanya gak usah kakehan polah. Hahaha

  4. Nur Ria Reply

    keren banget, smoga kisah novi ini tidak terjadi di dunia nyata ya ges hehe

  5. Sentosa Reply

    Akhir tragis dari Sastrawan centil yang ingin menghidupkan seni tapi malah mati karenanya. Penyusunan kata serta penggambaran liar, mengingatkan saya dengan Metamorfosis. Di tunggu ya ! Karya lainnya.

Leave a Reply to Nur Ria Cancel Reply

Your email address will not be published.