Babad Jlamprong

@avifahve

Berpuluh-puluh tahun kemudian setelah Perang Jawa[1] usai, dan pelarian Diponegoro[2] berakhir dalam kesunyian hatinya di Benteng Rotterdam[3], yang diikuti juga berupa kecaman atas kekalahan Jenderal Hendrik Merkus de Kock[4] atas segala korban serta kebangkrutan Pemerintah Hindia-Belanda dengan serangnya yang paling heroik selama lima tahun penuh darah, warga Desa Mojo, Ngeposari, Wonosari, mengenangnya lewat kematian seekor harimau dan sebuah gua di Gunung Karang. Waktu itu desa Mojo masih berupa bukit yang tanahnya kering dan lebih banyak didominasi oleh batu kapur. Rumah-rumah belum begitu banyak. Di sana mungkin hanya terdapat beberapa puluh pondok dengan atap genting tanah liat dan dinding anyaman bambu yang dibuat sendiri oleh penduduk setempat.

Setiap musim kemarau tiba, Desa Mojo pun selalu menjadi tempat yang muram. Tanah terlihat pecah serta terkelupas. Sumber-sumber[5] kering dan itu menyebabkan kematian bagi para penduduk, hewan, serta tumbuhan yang hidup di sana. Hanya ketika musim hujan datang, Desa Mojo akan terlihat indah layaknya surga.  Batu-batu kapur yang keras tampak bersih seperti cangkang-cangkang telur; sungai-sungai penuh air; diikuti katak dan cacing yang seakan merayakan kehidupan selama musim kering melanda. Namun, semua kenikmatan itu tidak terjadi untuk musim hujan di tahun 1828—yang oleh warga kelak dikenang sebagai hal yang mengerikan dan sekaligus menciptakan keajaiban untuk menyusun sejarah bagi kehidupan mereka selama berpuluh-puluh tahun kemudian.

Begitulah. Pada masa Perang Jawa yang berlangsung selama 1825 hingga 1830, yang banyak memakan korban dari pihak Hindia-Belanda serta pribumi, Desa Mojo seakan ikut tertarik dalam arus kekacauan itu. Mungkin apa yang terjadi di Desa Mojo hanya sebagian kecil dari kisah sejarah yang tak tercatat, tetapi berdampak di kemudian hari karena  pelarian si pangeran itu. Yang jelas pada musim penghujan itu, sekelompok pasukan utusan Smissaert[6] dari Keraton Jogja, mendatangi Desa Mojo. Ada sekitar sembilan kelompok ifanteri yang terdiri dari masing-masing lima dua puluh anggota dan sembilan kavaleri yang berjumlah sama—menggedor rumah-rumah warga di tengah malam. Kedatangan mereka di sana adalah untuk mencari seorang pelarian perang dari kota. Namun apa yang mereka cari itu belum menemukan hasil memuaskan waktu itu. Dan karena kenihilan itu, para pasukan Hindia-Belanda melampiaskan amarahnya pada warga desa. Akhirnya, karena kemarahan itu,  lebih dari 20 penduduk desa—yang berarti berkurangnya penduduk di sana—tumbang.

“Bila kalian ketahuan menyembunyikan pangeran busuk itu,” kata Komandan Stammler kepada para penduduk Desa Mojo yang berhasil dikumpulkan. Mereka tampak ketakutan meringkuk masih mengenankan sarung, sementara anak-anak menangis di bawah langit mendung yang kemudian disusul hujan gerimis. “Kepala kalian akan ditembak! Tak ada ampun bagi para pengkhianat!”

Warga desa hanya diam. Mereka sebenarnya tidak tahu apa yang membuat kutukan datang ke desanya pada musim penghujan—yang seharusnya menjadi awal berkah bagi penduduk desa. Hanya yang mereka tahu kemudian, dari pemimpin gerilya utusan Smissaert, Desa Mojo sedang kedatangan tamu pemberontak dari Jogja. Kabar kedatangan pemberontak itu bocor setelah residen Pacitan mengabarkan kalau buronan nomor satu yang dicari selama Perang Jawa itu bersembunyi di Desa Mojo. Setelah perang gerilya di Imogiri, pangeran dengan jiwa merdeka itu memilih berlari bersama beberapa pasukannya ke arah bukit. Pelarian itu lekas diketahui melalui mata-mata yang disebar di desa. Demikianlah. Yang terjadi kini barangkali masih kabur mengenai kedatangan tamu terhormat, dan sekaligus pembawa penderitaan warga itu. Hanya beberapa hari setelah isu kedatangan Pangeran Jawa itu, Desa Mojo mendadak ditinggila oleh hewan-hewan buas. Padahal sebelumnya Desa Mojo jarang ditemui hewan berupa harimau, macan kumbang, atau anjing-anjing liar. Desa Mojo termasuk tempat yang aman—walau sering terjadi bencana. Namun setelah kedatangan Pangeran Jawa itu, Desa Mojo menjadi tempat yang mengerikan.

Warga akhirnya memilih untuk tinggal di rumah. Mereka tidak banyak melakukan aktivitas di saben.[7] Mereka takut diterkam hewan-hewan buas. Dan yang lebih penting lagi, mereka takut dituduh melakukan kerja sama dengan pangeran pemberontak yang sedang diisukan berada di desa. Jadilah pada musim hujan tahun itu, Desa Mojo menjelma sebagai tempat yang mati. Belum lagi ditambah dengan peristiwa alam yang aneh berikutnya. Memang, kemalangan seakan silih berganti datang. Setelah hadirnya para infanteri dan Kavaleri Hindia-Belanda, hewan-hewan buas, menyusul kemudian gemuruh hebat dari gunung karang tidak jauh dari pemukiman. Suara gemuruh yang mengerikan itu bahkan membuat warga tidak bisa tidur selama beberapa hari. Mereka merasa kalau suara itu berasal dari perut batara kala yang lapar. Namun tujuh hari kemudian dari seorang warga mereka baru tahu, suara gemuruh itu berasal dari sebuah runtuhan batu kapur yang menciptakan goa di bukit karang. Goa yang kemudian menarik banyak perhatian warga serta para serdadu Hindia-Belanda—yang juga tidak luput melahirkan tafsir pada masa itu. Dan apabila kau ingin tahun bagaimana goa itu terbentuk hingga memberikan dampak serta bencana, beginilah ceritanya:

Aku adalah Warga Mojo

Itu mungkin adalah tahun yang berat pada bulan pertengahan musim hujan dan seharusnya penduduk Desa Mojo bisa menikmati hari-hari basah. Kecemasanku—sebagai warga desa—mulai terpantik ketika mendengung kabar seorang pelarian bersembunyi di salah satu hutan. Pohon-pohon jati, randu, dan batuan kapur di hutan desa seakan menjadi tempat yang baik bagi pemberontak itu bersembunyi. Firasat ini semakin tajam aku rasakan ketika beberapa malam yang lalu—mungkin sekitar delapan hari sebelumnya—melihat sebuah cahaya merah melintas di atas pohon-pohon yang tumbuh di desa. Kilau cahaya yang melintas dengan warna merah itu lekas aku artikan sebagai pertanda adanya bencana.

Memang, sejak lama kami memercayai mengenai pertanda alam dengan segala hukum-hukumnya. Aku dan warga Desa Mojo meyakini kalau alam memiliki cara tersendiri untuk mengingatkan warga—bila dalam waktu dekat—akan terjadi sesuatu peristiwa. Begitu pula yang terjadi ketika aku dan beberapa warga Desa Mojo, yang rutin mengadakan ronda desa, melihat seberkas cahaya yang kami kenal sebagai pulung gantung.[8] Sudah sejak nenek moyang kami memahami datangnya pulung gantung di desa sebagai tanda adanya masalah. Pulung gantung bagi warga Mojo dianggap sebagai wahyu kematian yang membawa bencana. Aku dan warga desa lantas bergidik saat menyadari malam itu melintas bola api merah di atas rindang pohon dan gelap malam.

“Kau lihat pulung yang baru saja lewat?” tanyaku kepada Karta. “Sedang ada pertanda apa ini?”

“Iya aku melihatnya,” sahut Karta. “Benar-benar jelas. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan desa kita.”

“Semoga para dewa selalu melindungi kita,” tambah Tarno pula. “Tapi tidak seperti biasanya cahaya bencana itu tampak di musim hujan seperti ini.”

Kami bertiga terdiam. Mata kami hanya saling pandang satu dengan yang lain. Obor yang kami bawa bergoyang-goyang mengikuti embus irama angin. Pikiran kami melayang-layang ke suatu hal yang ganjil dan penuh pertanyaan: Peristiwa muram apa yang akan terjadi dengan desa ini? Tidak seperti biasanya hal ini terjadi. Aku—atau beberapa warga Desa Mojo lainnya—biasanya acap melihat pulung gantung melintas bila musim kemarau datang. Cahaya kutukan yang lebih meyerupai Banas Pati itu akan sering terlihat melintas bila kemarau. Dan keberadaan cahaya itu dengan cepat kami artikan sebagai awal adanya musibah bagi desa. Kami—karena tanda-tanda itu—akhirnya bisa sedikit bersiap-siap bila sesuatu yang buruk benar datang.

Biasanya bila ada cahaya pulang melintasi desa, paling tidak ada orang tak bahagia yang memilih gantung diri. Mereka kebanyakan frustrasi karena hidup yang berat dan kesedihannya menuntut dilunasi. Namun, tidak jarang juga datangnya pulung sebagai pertanda kalau panen warga bisa gagal dan mengalami kerugian—karena musim kering yang kelewat panjang. Jelasnya, pulung gantung adalah wahyu pengantar kabar buruk yang tak bisa ditolak oleh warga. Begitulah. Malam itu saat melihat pulung gantung melintasi desa, aku dan beberapa warga lainnya lekas merasa gusar. Kami bertanya-tanya di hati masing-masing, sesuatu yang akan terjadi terhadap warga atau desa ini. Dan seperti yang sudah dikabarkan lewat pulung itu, enam hari kemudian, datanglah kelompok besar serdadu Hindia-Belanda itu.

Warga tentu merasa cemas dengan kedatangan sekelompok regu utusan Smissaret yang dipimpin Kolonel Stammler. Betapa tidak. Selang enam malam setelah kemunculan pulung gantung, pada tengah malam, rumah-rumah digeledah secara paksa oleh para infanteri dan kavaleri Hindia-Belanda. Beberapa rumah bahkan dibakar oleh mereka. Desa Mojo menjadi lautan api malam itu. Kekejaman para serdadu itu tak sampai di situ saja berlangsung. Mereka menendang dengan kejam para pria, wanita, dan anak-anak. Mereka semua disuruh berkumpul di tengah tanah lapang di desa. Lantas di sana, wajah mereka diperhatikan satu per satu—memastikan kalau di antara warga tidak ada seorang pemberontak yang sedang mereka cari.

“Apakah di antara kalian ada yang menyebunyikan seorang bandit ini?” kata pemimpin regu. “Kalian jangan main-main. Jika kalian menyembunyikan, kepala kalian akan dipotong. Heh! Apa kau yang menyembunyikannya?”

Kolonel Stammler menuding salah satu pria kurus desa. Ia kemudian melayangkan ujung sepatunya ke tubuh pria itu. Mendapat tendangan dari Kolonel Stammler, pria itu terguling. Lantas pria kurus itu merintih karena ketidaktahuannya. “Ampuni hamba, Tuan. Hamba tidak tahu apa pun dengan orang yang Tuan cari.”

Kolonel Stammler yang tidak puas dengan jawaban itu lekas kembali menendangnya. Tidak sampai di situ! Kolonel Stammler juga mengeluarkan bedilnya dan menembak pria itu. Mendengar letusan senapan itu, para wanita dan anak-anak seketika menangis. Beberapa tahanan pria yang nekat syhadan memanfaatkan untuk melarikan diri atau melawan balik. Hanya tindakan yang mereka lakukan itu merupakan hal bodoh. Misalnya, tujuh pemuda yang berusaha kabur itu! Nyawa mereka melayang setelah tertembus pelor pasukan Kolonel Stammler. Sementara sebelas orang yang berusaha menyerang pasukan itu, menemui nasib yang sama di akhirat berkat peluru yang ditembakan ke arah mereka. Jatuhlah korban jiwa di antara penduduk desa. Dengan kematian itu, cepat membenarkan kabar bencana yang dibawa oleh pulung gantung enam hari sebelumnya.

Kolonel Stammler menambahi. “Pangeran berjiwa bandit itu kabur dari kota ke desa ini. Siapa yang berani ikut menyembunyikannya akan kami tumpas.”

Awalnya aku dan para warga Mojo tidak tahu siapa yang dimaksud sebagai bandit oleh Kolonel Stammler. Kami hanya bisa mengenal namanya semata. Kalau tidak salah ingat, kolonel menyebut nama pangeran berjiwa bandit itu sebagai Diponegoro. Aku dan warga Mojo yang hidup di desa kecil pada bagian selatan Keraton, kurang begitu akrab dengan nama itu. Cuma kami tahu kalau pangeran bernama Diponegoro itu, adalah orang penting di kalang Keraton. Buktinya, ia dicari-cari—sampai beberapa tahun kemudian aku sadar, keberadaan Diponegoro diperebutkan sebagai sayembara bagi siapa pun yang bisa menemukannya. Konon ia dihargai sebesar 50.000 gulden[9] untuk siapa saja yang bisa menangkapnya.

Setelah mendengar pidato panjang dengan segala ancamannya, kami ditahan di sebuah rumah—yang biasanya kami gunakan sebagai balai desa. Tangan kami diikat. Di sana kemudian selama beberapa hari kami diinterogasi satu per satu untuk kemudian dibebaskan bila benar-benar tidak terlibat. Namun banyak warga yang takut saat mendapatkan pertanyaan-pertanyaan dari pasukan Kolonel Stammler. Karena ketika mengajukan pertanyaan—yang terkesan mengintimidasi—tak jarang di antara kami mendapatkan popor senjata mereka. Sementara bagi para wanita yang bertubuh bagus dan cantik, dipaksa untuk melunasi hasrat berahi mereka.

Betapa pelik penderitaan yang warga Mojo hadapi. Namun, mungkin aku orang yang sedikti beruntung. Karena pada malam kedua sebelum pertanyaan yang menuduh dan popor senjata menyentuh keningku, aku bisa melarikan diri dengan memanfaatkan kelengahan pasukan Kolonel Stammler. Pada malam kedua hujan kembali turun. Bahkan hujan yang turun jauh lebih deras dari biasanya. Desa Mojo yang terletak di atas gunung, membuat petir yang menggelegar terdengar begitu kencang dan dekat. Bagi kami mungkin itu adalah hal biasa. Hanya bagi para serdadu hal itu adalah sesuatu yang mengerikan. Jadi pada sambar petir kelima dan diikuti dengan sebuah rumah yang terbakar, aku dapat menyelinap keluar dari kamp penahan. Aku semakin bernasib mujur karena tidak ada satu serdadu pun yang menyadarinya. Aku bisa berlari seleluasa mungkin tanpa takut dikejar.

Begitulah. Aku terus berlari ke arah hutan jati yang masih jarang didatangi warga. Hutan jati yang mungkin juga dianggap keramat. Di sana kemudian aku memilih bersembunyi di atas pohon selama sehari penuh. Aku hanya turun untuk mencari makan bila lapar. Dan pada waktu bersembunyi inilah, aku menemukan keganjilan lainnya yang sedang terjadi di desa. Selama bersembunyi, aku sering melihat harimau, macam kumbang, dan anjing-anjing liar berkeliaran di hutan. Para hewan buas itu silih berganti melintas di bawah pohon tempatku bersembunyi. Aku yang sudah lama tinggal di tempat ini merasa heran sekaligus takut—karena tidak seperti biasanya desa tempat tinggalku dihuni banyak hewan buas.

Aku terus bertahan di atas pohon jati besar serta tua tempatku bersembunyi. Aku menjadi saksi ketika hewan-hewan buas itu berkeliaran dan memangsa seorang serdadu yang menyisir area. Selama pengamatanku beberapa hari itu, paling tidak ada tujuh serdadu Hindia-Belanda yang menjadi korban. Kebanyakan mereka sedang berjalan seorang diri atau berkelompok di sana. Melihat semua kejadian itu, tentu membuatku takut. Namun aku tidak memilik pilihan untuk bertahan di sana. Sampai kemudian di malam ketiga bersembunyi, aku melihat seorang yang mengendap-ngendap dengan surban berwarna putih dan keris menyelinap di pinggangnya. Merasa penasaran dengan gelagatnya, aku membuntutinya. Sampai aku tiba di bukit batu karang besar di ujung desa.

Sosok dengan surban serba putih itu terlihat diam menatap bukit. Hujan lantas turun. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu di sana. Lalu, ia meletakkan tangannya pada bukit batu yang keras dan kokoh itu. Ledakan besar pun tiba-tiba terjadi. Sebuah goa dengan mulut yang luas menganga terbentuk. Sosok itu masuk ke goa—yang kemudian diikuti dari atas bukit oleh hewan-hewan liar. Aku sendiri tidak tahu bagaimana nasib sosok itu setelahnya. Karena usai ledakan dan melihat gerombolan hewan buas, aku memilih kembali lari ke pohon jati tua di tengah hutan—hingga ketika keadaan sudah mulai tenang, aku menyelinap kembali ke desa. Namun aku tidak menceritakan kepada siapa pun mengenai sosok bersurban dan para hewan buas itu selain pada kakakku. Sementara warga dan para serdadu Kolonel Stammler sendiri menganggap kejadian itu sebagai bencana alam.

Aku Adalah Kolonel Stammler

Ini benar-benar perjalanan yang melelahkan. Aku harus mengejar seorang buronan yang begitu licin seperti belut. Bedebah itu selalu saja bisa lolos dari kejaranku. Ia bahkan seperti hantu yang tak bisa diburu dengan sepasang tangan. Keberadaannya bisa dengan cepat berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ini semua terjadi karena mungkin ia disokong oleh banyak pihak. Ya. Para pangeran Jawa dan rakyat seakan berada di pihaknya. Padahal kalau mereka sadar, karena pemberontak itu, mereka banyak merasakan sengsara. Dapat mungkin bisa kau catat pula, ada sekitar 2000-an lebih rakyat yang menderita karena Perang Jawa ini. Sementara Jenderal Besar Hendrik Merkus de Kock sendiri mulai kebingungan karena harus menarik pasukannya yang kini sedang bertempur di Aceh untuk melawan pemberontakan yang sama.[10]

Namun, banyak orang bodoh di negeri ini! Bisa aku sebut misal tiga nama pendukungnya yang bebal itu. Misalnya Pangeran Mangubumi[11], Kiai Mojo[12], dan panglima Alibasah Sentot Prawirodirja[13] yang tidak pernah kompromi dalam membantu pemberontak. Mereka begitu loyal menyiapkan jiwanya untuk mendukung orang tolol yang sudah begitu banyak merepotkanku tersebut. Belum lama ini—mungkin sekitar empat bulan lalu—ketika aku menyerang pinggiran Pleret, pasukanku dihadang dengan perang langsung yang mengerikan. Aku masih ingat bagaimana satu per satu pasukanku tumbang terkena parang dan panah milik mereka. Banyak korban yang berjatuhan. Kami pun sempat terpukul mundur sehari, sampai kemudian akhirnya pada penyerangan berikutnya bisa membalas.

Perlawan yang kami berikan ini sangat menguras tenaga. Mengapa aku mengatakan demikian? Kau harus tahu bahwa pelor-pelor yang kami tembakkan ke beberapa orang dalam pasukan pemberontak itu seakan pecal. Peluru-peluru kami seolah tidak bisa melubangi tubuh mereka. Apalagi kepada Pangeran Mangkubumi. Setiap kali menembakan senjata, ia seperti tidak mengalami luka apa pun. Ia hanya rubuh sesaat untuk kemudian bangkit lagi menyerang kami. Belum lagi dua kawannya itu. Mereka memiliki kemampuan yang sulit bayangkan dengan kepala Eropa kami. Bisakah kau memahami, bila di hadapanmu terdapat seorang yang mampu terbang seperti burung seraya mengayun-ayunkan senjatanya. Tubuh pria itu sangat ringan layaknya kapas. Belum lagi ketika senjata kami mencoba menggapainya. Yang terjadi adalah peluru-peluru kami gagal menyetuhnya. Perajurit dengan ilmu setan seperti ini hanya dimiliki oleh kaum terkutuk penyembah berhala: Panglima Albisah. Ditambah lagi Kiai Mojo yang konon bisa berubah menjadi apa saja yang diingkan, dan memanggil hewan buas seperti kawannya sendiri. Ini benar-benar perang yang tidak masuk akal. Jadi apabila Jendral Besar de Kock kini kebingungan dan acap mengumpati Smissaert tak becus, bukan hal yang aneh. Hanya saja pelampiasan dari kemarahan mereka adalah aku dan para serdadu.

Mereka menganggapku tidak mampu memipin pasukan. Aku bahkan sempat diancam akan dikembalikan ke Belanda bila tak berhasil menangkap para bandit itu. Pekerjaanku di sini diberhentikan dengan tidak hormat. Namun, kalau seandainya mereka tahu bagaimana keadaan di lapangan saat bertempur dan melihat seluruh kemampuan tak masuk akal itu, mereka pasti berpikir ulang. Seperti penyerang terakhir kemarin di Pleret. Secara nyata aku beserta pasukan menang dalam pertempuran. Tapi yang terjadi di dalam kelompok, kami kehilangan banyak pasukan. Belum lagi mereka berhasil kabur. Untungnya, salah satu mata-mataku berhasil melacak keberadaan mereka bersembuyi.

“Mereka berlari ke atas gunung,” lapor seorang mata-mata yang aku utus. “Mereka di sana mungkin sedang menunggu bantuan.”

Demikianlah kemudian aku mengejar mereka sampai di desa ini—Mojo. Namun sesampainya aku di sana hanya kenihilan yang didapat. Setiap warga yang berhasil aku kumpulkan tidak tahu dengan keberadaan pemberontak itu. Hanya aku tidak mau terjebak dengan bual kaum pribumi. Aku tahu bahwa mereka kini menyembunyikan pemberontak itu. Jadilah pada hari pertama aku berhasil membunuh lebih dari selusin penduduk di sana. Belum lagi di hari-hari yang lain. Setiap ada sesuatu yang mencurigakan, aku dan pasukan pasti berusaha mengusutnya hingga tuntas.

Selain itu, untuk mempercepat penangkapan, satu per satu pasukan aku tugasi menyisir desa. Mereka aku memberi mandat untuk mencari pemberontak itu di setiap sela desa. Tetapi yang terjadi adalah kesialan bagi kelompok pasukanku. Sungguh aneh. Setiap hari, aku selalu mendapat laporan kalau salah satu atau lima pasukanku hilang secara misterius. Banyak pasukanku yang tidak kembali setelah menyisir hutan jati yang terletak di desa ini. Dari banyaknya pengakuan, pasukanku itu raib setelah dimakan oleh hewan buas yang mendadak menjadi banyak di desa.

“Mereka menjadi santapan hewan-hewan buas itu, Tuan,” kata seorang warga yang kami curigai memiliki hubungan dengan para pemberontak. “Hamba tidak tahu apa pun, Tuan. Ampuni hamba….”

Karena jengkel dengan pengakuannya, aku bunuh pria itu dengan pistolku. Ia terkapar dengan nelangsa di sana. Namun, aneh, mengapa desa ini tiba-tiba dihuni oleh hewan-hewan buas? Padahal setahuku, hewan buas yang tinggal di tempat ini tak sebanyak itu. Hewan-hewan buas itu seakan datang setelah malam berhujan yang diikuti dengan runtuhnya dinding bukit batu di ujung desa. Hewan-hewan itu seolah keluar dari perit goa itu. Aku—karena semua kejadian itu—sempat mengutus salah satu pasukanku. Yang terjadi, ia tewas tercabik-cabik oleh salah satu hewan buas. Tetapi aku masih penasaran dengan keberadaan goa itu. Karena banyak warga yang mengaku melihat sosok pria dengan surban putih-putih di sana. Ia sering keluar-masuk ketika malam tiba dengan sekelompok hewan liar.

“Hampir separuh warga acap melihat sosok orang dengan pakaian putih-putih keluar masuk goa,” pengakuan warga yang kami bayar sebagai mata-mata. “Apakah sosok itulah yang menjadi target, Tuan?”

Laporan-laporan yang sama terus datang. Akhirnya, aku mengutuskan sekitar 60 pasukan bersiaga di sekitar tempat itu. Kami semua bersembuyi di antara semak dan belukar. Dan tepat tengah malam—seperti yang diceritakan oleh mata-mataku—memang terdapat seorang pria dengan pakaian putih-putih di sana. Kami berusaha menangkapnya. Hanya anehnya ia dilindungi oleh begitu banyak serigala, macan kumbang, dan harimau.

Kami pun tanpa banyak berpikir menyerang sosok itu dan hewan-hewannya. Tetapi hewan-hewan itu tidak pernah bisa mati terkena pelor kami. Belum lagi dengan seokor harimau putih yang selalu di dekat sosok asing tersebut. Harimau putih itu begitu buas menghabisi seluruh pasukanku. Harimau putih itu juga berhasil menjatuhkanku dan mengoyak leherku sampai putus. Namun sebelum benar-benar menemui ajal, aku sempat melihat siapa sosok dengan pakaian putih-putih itu. Ia adalah orang yang kami cari. Ia tersenyum kepadaku dengan wajah menang karena dendamnya yang bisa terbalaskan. Sementara nasibku sendiri kini hanya berakhir sebagai kolonel yang dilupakan. Karena Smissaert, menghapus namaku dalam setiap catatannya pada perang yang paling menyebalkan ini.

Aku Adalah Smissaert

Pengangkatanku sebagai raja Keraton—yang sebelumnya diserahkan kepada putra Hamangkubono IV, yang masih berumur dua tahun—seakan menjadi pintu bagi segala kekacauan. Mungkin rasa patah hati Pangeran Diponegoro yang kini menjadi pemberontak itu bisa tak terjadi, bila Jenderal Besar de Kock mampu merayunya dan melibatkannya dalam kepemimpinanku atas Keraton saat ini. Sayangnya Jenderal Besar de Kock mendepaknya jauh. Bahkan de Kock sendiri mengutusku untuk menyerobot tanahnya di Tegalrejo—saat program perbaikan jalan berlangsung. Tindakan yang dilakukan de Kock ini akhirnya menjadi awal kekacauan yang banyak merenggut korban. Ya! Sampai sejauh ini, aku sudah mendapatkan laporan sekitar 10 ribuan warga yang mati. Dan dari pasukan Hindia-Belanda sendiri sudah susut sekitar 5 ribuan. Angka yang besar.

Mungkin ini semua tidak akan terjadi kalau de Kock menuruti keinginan Ratu Ageng[14] dan Gusti Kanjeng Ratu Kencono[15] untuk membaptis salah satu putranya itu—setelah kematian ayahnya Hamangkubono IV pada usia 19 tahun, dan melibatkan Diponegoro dalam tata-usaha Keraton. Begitulah. Hari ini, ketika memikirkan semua itu, hatiku menjadi gundah. Rasa gelisahku ini semakin jadi waktu mendapat kabar kalau Kolonel Stammler dan anak buahnya tewas dimangsa hewan buas saat melakukan pengejaran. Tubuhku hanya bisa lemas mendengar jumlah korban yang semakin banyak. Aku pasti mendapat dampratan keras lagi oleh de Kock. Jadi yang aku lakukan adalah memanipulasi kematian Kolonel Stammler karena kecerobohannya—dan membuatnya menjadi tampak hina oleh pemerintah putih di Belanda.

Aku Adalah Diponegoro

Aku beruntung banyak orang yang mendukung pemberontakanku. Masyarakat seakan sudah jengah dengan segala kebejatan, ketidakadilan, dan penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial terhadap tanah ini. Kau mungkin dapat memahami: Pajak tinggi yang dipunggut oleh pemimpin tercela bernama Smissaert—atas perintah de Kock sebagai pemimpin besar di Hindia-Belanda, sangat mencekik warga. Pajak berupa uang dan hasil panen yang membuat masyarakat menderita itu berhasil menciptakan neraka bagi seluruh penduduk. Belum lagi dengan keculasan pemerintah kolonial merebut titah kekuasan Keraton dengan membunuh Hamangkubono III, melalui kerja sama rahasia dengan Tan Jing Sing—yang beberapa tahun kemudian dilakukan lagi oleh pemerintah putih terhadap adiknya, Hamangkubono IV, yang tiba-tiba mati dengan cara misterius. Hanya aku mengira kematian itu pasti ada hubungannya dengan para begundal berkulit putih itu.

Rasa sakit hatiku ini semakin bertambah dengan penyerobotan tanahku yang berada di Magelang—Tegalrejo. Mereka mencabut patok-patok tanah keluarga dan membangun jalan seenaknya sendiri tanpa seizinku. Maka, tindakan yang mereka lakukan itu adalah kesewenang-wenangan yang tak bisa lagi untuk diampuni. Aku lantas kembali memasang patok-patok tanahku dengan tombak, yang aku artikan sebagai simbol perang melawan terhadap mereka. Begitulah. Pertempuran akhirnya pecah. Aku sebagai warga Keraton terlempar ke sisi selatan Jogja—pada daerah Pajangan. Aku membuat goa-goa persembunyian dengan rekanku, Pangeran Mangkubumi, Kiai Mojo, dan Panglima Alibasah Sentot Prawirodirja. Kekuatan perlawananku semakin kuat dengan rakyat yang ikut membantuku. Jadi, rasanya kami benar-benar berperang dengan segenap jiwa untuk mendapatkan segala hak yang telah direnggut pemerintah putih.

Mungkin dapat dikatakan hampir selama lima tahun terakhir, aku melalui hidup dengan pertempuran. Kami secara gerilya berperang dengan serdadu kolonial. Aku bertempur dengan berbagai nama kolonel. Dan, aku juga berhasil menggulingkan setiap kolonel yang berusaha menangkapku. Seperti yang terjadi dengan Kolonel Stammler. Ia mungkin adalah satu dari sekian kolonel infanteri dari kavaleri yang berhasil aku tumpas. Tugas pertamanya adalah pertempuran yang terjadi di Pleret, dan membuatku terdesak ke selatan jauh. Aku yang waktu itu sedikit terpukul karena perang akhirnya hanya bisa bersembunyi untuk mengumpulkan bantuan di desa kecil Wonosari. Di sana aku bersembunyi di sebuah goa. Aku dan Kiai Mojo untuk beberapa saat mengasingkan diri di goa. Sampai kemudian Kiai Mojo memutuskan berpencar membangun kekuatan.

“Untuk sementara kita harus berpencar sendiri-sendiri!” kata Kiai Mojo. “Karena kita tidak bisa terus bersama. Kita bisa dengan mudah tertangkap.”

“Benar! Kita harus cepat menggalang kekuatan!” balasku. “Jadi mungkin lebih kita berpisah.”

“Tapi mungkin lebih baik kau di sini saja,” kata Kiai Mojo. “Mereka mungkin tidak akan mengejarmu di sini. Tempat ini sangat jauh dari pusat kota. Kau bisa mengumpulkan tenaga sementara.”

Aku mengikuti apa yang dikatakan oleh Kiai Mojo. Ia kemudian pergi ke arah utara malam itu. Namun sebelum pergi meninggalkanku, ia menyerahkanku puluhan hewan liar dengan kekuatan anehnya. Hewan-hewan itu juga dibekalinya kekuatan ganjil. Aku menerima semua perintah dan pemberiannya. Begitulah. Kiai Mojo yang sangat aku percaya itu pergi. Hanya apa yang dipikir oleh Kiai Mojo ternyata meleset. Pemerintah kolonial mengetahui keberadaanku di desa terpencil ini. Mereka bahkan—karena mencariku—membantai penduduk setempat yang dicurigai ada hubunganya dengan pelarianku. Aku berusaha untuk membalaskan dendam mereka. Jadi setiap malam akhirnya aku berhasil menumpas satu per satu pasukan mereka.

Belum lagi hewan-hewan buas pemberian Kiai Mojo itu mampu menumpas para pasukan yang lalim dengan taring-taring tajamnya. Sampai puncaknya pertempuran gerilya antara aku dan pasukan Kolonel Stammler terjadi beberapa bulan kemudian. Kolonel Stammler waktu itu mengepung tempat persembunyianku. Dengan pasukannya yang begitu banyak ia berusaha menangkapku. Tapi karena perlindungan hewan-hewan buas, aku berhasil selamat. Sampai bahkan salah satu hewan buas—macan putih utusan Kiai Mojo—berhasil membunuh Kolonel Stammler. Aku pun bebas dari pencarian. Hanya tidak lama kemudian, aku mendapatkan kabar untuk meninggalkan desa itu dan kembali ke kota membantu pertempuran.

Aku Adalah Macan Putih

Aku macan putih yang diberi nama Jlamprong oleh Kiai Mojo. Aku juga dibekali ilmu gaib yang tak bisa tersentuh senjata apa pun di muka bumi ini oleh Kiai Mojo. Tugasku hanya menjaga pangeran selama pertapaan dan membantunya atas segala apa yang terjadi di dalam goa ini. Dan sebagai hewan yang telah diberikan banyak hal oleh Kiai Mojo, aku dengan sadar harus mematuhinya—sebaik dan setulus mungkin. Kau pasti tidak percaya bukan bahwa sebelumnya aku adalah sebongkah batu kapur putih yang diembuskan kehidupan oleh Kiai Mojo. Ia memiliki kekuatan aneh yang dapat menghidupkan benda-benda mati menjadi hewan-hewan buas. Ia juga bisa mengubah dirinya menjadi apa saja—kemampuan yang tak bisa dibayangkan dengan akal sehat. Sama pula dengan kemampuan pangeran itu. Ini mungkin bisa terjadi atas berkah dan dukungan Tuhan—untuk segala perjuangan menegakkan kebenaran di negeri ini. Demikianlah. Setiap malam aku selalu berjaga ketika Pangeran sedang bertapa. Aku pun memberikan perlindungan kepadanya lebih setelah Kiai Mojo pergi meninggalkan goa.

Selain menjaga pangeran itu, aku juga memiliki tugas lain darinya. Aku ditugaskan oleh pangeran untuk membalaskan dendam warga. Jadi hampir setiap malam aku mengelilingi area hutan jati untuk mencari korban dari pihak lawan. Aku mencoba membersihkan gangguan apa pun—yang terlihat jahat—mendekati. Jadi bukan sesuatu yang aneh ketika banyak pasukan Kolonel Stammler hilang dengan cara misterius. Akulah yang membunuh mereka. Aku melakukan tindakan itu karena mereka terlihat mengganggu dan ingin menggung sang pangeran. Selain diriku, ada juga hewan-hewan buas lainnya yang menjaga pangeran. Para anjing liar, macan kumbang, dan hewan buas lainnya. Sampai pada suatu malam yang tak terduga, aku dan pangeran mengalami pertempuran dahsyat.

Ya. Sebenarnya apa yang terjadi saat puluhan orang pasukan Kolonel Stammler mengepung, aku sudah lebih dahulu mengetahuinya. Aku diperintah oleh pangeran untuk tak menyerang mereka terlebih dahulu. Aku—karena perintah itu—menurutinya.

“Tuan, Pangeran, ada sekelompok serdadu di dekat sini,” laporku.

“Jangan kau serang mereka dahulu. Tunggu apa yang mereka lakukan. Kita pancing saja mereka untuk mendekat ke arah goa.”

“Baik, Tuan.”

Mulanya mereka tidak menyerang. Namun ketika pangeran sedikit memancingnya dengan memperlihatkan sosok gandaan dirinya, mereka dengan trengginas menyerbu. Perang pecah malam itu. Pistol mereka meletus mencoba membunuh para hewan. Hanya karena para hewan lebih gesit bergerak, jadi pasukan-pasukan bodoh itu tak bisa menembak. Nyawa mereka tuntas di tangan kami. Sama halnya dengan Kolonel Stammler. Ia berhasil aku bunuh setelah tenggorokannya terkoyak kuku-kuku tajamku.

Usai pertempuran terjadi, Pangeran memutuskan kembali ke kota. Ia merasa sudah cukup mengumpulkan tenaga di dalam goa. Sesungguhnya, aku ingin menemaninya. Sayangnya, ia menghalangi dan menyuruhku menjaga desa ini dari segala gangguan. Ia merasa bersalah karena sudah membuat warga kerepotan atas keberadaannya.

“Kau tak perlu mengabadikan seluruh hidupmu padaku,” kata Pangeran. “Lebih baik kau jaga penduduk desa ini dari segala kejahatan dan hal buruk.”

Aku menuruti apa pun yang diperintahkan oleh pangeran. Maka setelah itu, selama bertahun-tahun sisa hidup, aku mengabdikan diriku pada desa ini. Aku menjaga warga dari gangguan jahat, bencana, atau sihir. Aku menolong mereka membangun desa, sampai kemudian mereka—entah karena apa—lebih mengenangku daripada sang pangeran. Namaku pun diabdikan oleh warga pada goa yang dahulu digunakan pangeran bersembunyi. Bahkan setelah aku mejadi roh berpuluh-puluh tahun kemudian, warga lebih mengingatku daripada sosok si Pangeran itu. (*)

[1] Perang Diponegoro yang juga dikenal dengan sebutan Perang Jawa atau The Java War atau De Java Oorlog adalah perang besar dan berlangsung selama lima tahun (1825-1830) di Pulau Jawa, Hindia Belanda.

[2]Pangeran Harya Dipanegara lebih dikenal dengan nama Diponegoro, lahir di Ngayogyakarta Hadiningrat, 11 November 1785 – meninggal di Makassar, Hindia Belanda, 8 Januari 1855 pada umur 69 tahun.

[3] Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang) adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Letak benteng ini berada di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ kallonna.

[4] Hendrik Merkus baron de Kock (lahir di Heusden, 25 Mei 1779 – meninggal di Den Haag, 12 April 1845 pada umur 65 tahun) adalah seorang perwira militer, menteri, dan senator Belanda. Pada 1801 dia masuk dinas angkatan laut Republik Batavia dan menjelang 1807 ditempatkan di Hindia Belanda. Pada 1821 dia terlibat dalam ekspedisi militer ke Kesultanan Palembang untuk menekan pemberontakan Sultan Palembang. Sultan berhasil ditangkap dan Kesultanan Palembang dihapuskan. Selanjutnya, sebagai letnan gubernur jenderal (1826-1830), De Kock menuntun perjuangan terhadap Pangeran Diponegoro di Perang Diponegoro.

[5] Sumber, tempat munculnya mata air.

[6] Residen Belanda yang diutus oleh Jenderal Besar Hendrik de Kock

[7] Saben, kebon, atau kebun. Bisa juga dimaksud ladang.

[8] Pulung Gantung merupakan mitos mengenai kematian seseorang di Wonosari. Penampakan pulung gantung selalu diartikan sebagai pertanda awalnya bencana.

[9] Gulden (bahasa Belanda: gulden, bahasa Inggris: guilder) adalah mata uang Belanda selama beberapa abad, sebelum digantikan oleh euro pada 1 Januari 2002. Kata gulden berasal dari bahasa Belanda Kuno yang berarti ’emas’.

[10] Perang Aceh–Belanda atau disingkat Perang Aceh adalah perang Kesultanan Aceh melawan Belanda dimulai pada 1873 hingga 1904. Kesultanan Aceh menyerah pada januari 1904, tapi perlawanan rakyat Aceh dengan perang gerilya terus berlanjut.

[11] Mangkubumi (Rijksbestierder/Pepatih Dalem/Perdipati/Pabbicara Butta/Tuan Bicara/tomarilaleng) adalah sebutan untuk Perdana Menteri yang pernah dipakai pada kerajaan-kerajaan di Jawa, Sumatera dan Kalimantan.

[12] Kiai Kojo adalah seorang ulama dari Jawa Tengah yang menentang gerakan pemurtadan di kalangan bangsawan dan sultan oleh pemerintahan kolonial Belanda pada masa penjajahan.[1] Kyai Madja lahir pada tahun 1792 dan memiliki nama asli Muslim Mochammad Khalifah

[13] Sentot Prawirodirdjo (1807Bengkulu, 17 April 1855) yang juga di kenal sebagai Sentot Ali Pasha, atau orang-orang mengenalnya sebagai Sentot Ali Basha. Adalah seorang panglima perang pada masa Perang Diponegoro. Ia adalah putra dari Ronggo Prawirodirjo, ipar Sultan Hamengku Buwono IV.

[14] Ratu Ageng, permaisuri Hamangkubono II.

[15]  Gusti Kanjeng Ratu Kencono, permaisuri Hamangkubono IV.

Risda Nur Widia

Buku kumpulan cerpen tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015), Tokoh Anda Yang Ingin Mati Bahagia Seperti Mersault (2016), dan novel Igor: Sebuah Kisah Cinta yang Anjing. Cerpennya telah tersiar di berbagai media.

Latest posts by Risda Nur Widia (see all)

Comments

  1. jan Reply

    seru ^^

  2. Edy Reply

    Mantap

  3. Anonymous Reply

    🌹🌹🌹🌹

Leave a Reply

Your email address will not be published.