Badiou dan Žižek: Dari Filsafat, politik, hingga Kritik Demokrasi

Judul               : Filsafat di Masa Kini

Penulis             : Alain Badiou dan Slavoj Žižek

Penerjemah      : Noor Cholis

Penerbit           : Basabasi

Cetakan           : Pertama, Desember 2018

Tebal               : 136 hlm

ISBN               : 978-602-5783-55-5

Umumnya, pertemuan filsuf di acara diskusi akan mencipta perdebatan hebat. Filsuf identik dengan pemikiran serius dan jelimet. Keberadaan filsuf memberikan pertanyaan mendasar segala sesuatu. Mau tak mau, “stempel” kritis mendarat pada eksistensinya. Tak heran, mereka dianggap pemikir yang mampu menjawab segala hal. Pernyataan mendasar dan mengejutkan terhadap peristiwa benar-benar ditunggu. Ini telanjur menjadi mitos. Hingga, pertemuan filsuf dianggap layaknya tontonan pertarungan. Saling hantam pemikiran dinantikan.

Sayang, hasrat itu tak berlaku kali ini. Di Wina, 2004, Alan Badiou dan Slavoj Žižek dipertemukan dalam sebuah diskusi publik. Diskusi itu diterbitkan dalam buku Filsafat di Masa Kini. Keduanya merupakan filsuf berpengaruh abad 20. Badiou merupakan filsuf Prancis kelahiran Maroko 1937 sekaligus pendiri Fakultas Filsafat Universitas Paris VII bersama Deleuze, Faoucault, dan Lyotard. Žižek ialah filsuf dan psikonalisis kelahiran Ljubljana, Slovenia, 1949. Yang perlu diingat, keduanya saling kenal dan saling menghormati. Dalam beberapa konsep filosofis memang mereka berbeda. Misalnya sedikit saja mengenai pemikiran Kant hingga Neo-Kantian. Namun, dalam diskusi ini mereka benar-benar sepaham. Ketahuilah, tidak ada dialog memanas di antara keduanya. Jika pembaca benar-benar menantikan “pertikaian”, itu sia-sia. Žižek pun mengakui, “Dengan Badiou, di lain pihak, saya merasa—seperti kata Ribentrop kepada Molotov dalam perjalanannya ke Moskwa pada 1939—‘sesama kamerad” (Hlm. 127).

Lalu, di mana menariknya buku ini? Diskusi itu memang tidak menjadikan kedua filsuf bertikai. Namun, pandangan keduanya mengenai filsafat, politik, dan demokrasi akan mampu membuka diskusi lebih lanjut mengenai kedudukan filsafat saat ini.

Filsuf, Filsafat, Situasi Filosofis

Bagi Badiou, anggapan filsuf mampu berbicara apa saja adalah ide sesat. Filsuf diundang di stasiun televisi untuk mengomentari masalah-masalah yang dihadapi masyarakat dan segala masalah kontemporer. Filsuf ditanya atau lebih tepatnya dipaksa menjawab pertanyaan dari segala permasalahan. Ini ide sesat. Filsuf bukanlah komentator olahraga atau politik. Kenyataan ini sudah menyimpang jauh dari hakikat filsafat.

Tidak kalah skeptis, Žižek dengan yakin menegaskan filsafat bukan dialog. Baginya tidak ada dialog yang sukses. Yang ada hanya kesalahpahaman. Inilah sikap skeptis filsuf yang dinyatakan dengan tegas. Secara awam, bisa jadi pernyataan Žižek terkesan “arogan”. Mengingat, tradisi filsafat identik dengan dialog. Filsuf satu dengan yang lain menapakkan pemikiran filosofisnya dengan langkah pembacaan terhadap pemikiran filsuf lainnya. Bagi Žižek, bahkan filsuf kondang sekali pun dianggap tidak benar-benar memahami tentang pemikiran filsuf yang dibicarakan.

Aristoteles tidak memahami Plato dengan benar; Hegel—yang mungkin terpuaskan oleh fakta—tentu saja tidak memahami Kant. Dan Heidegger pada dasarnya tidak memahami siapa pun. Jadi, tidak ada dialog. (Hlm. 62).

Lalu bagaimana filsafat? Kata Badiou (hlm. 12), “Filsafat, pertama dan terutama, adalah ini: penciptaan problem-problem baru.” Filsuflah yang bertugas menghadirkan masalah-masalah baru. Pertanyaan-pertanyaan mendasar filosofis menjadi kunci pembuka mengurai suatu peristiwa. Dengan demikian, filsuf terlibat dalam permasalahan yang benar-benar mereka ciptakan. Tidak semua peristiwa menjadi masalah. Filsuf benar-benar terlibat ketika dalam situasi. Apa pun itu: politik, seni, agama, sejarah, asmara, ilmiah. Harus terlibat dalam siatuasi. Di sinilah, Badiou mengenalkan ungkapan situasi filosofis sebagai peletak dasar diskusi.

“Segala sesuatu terjadi di dunia ini, tetapi tidak semuanya adalah situasi bagi filsafat, situasi filosofis”, ungkap Badiou (hlm. 13). Selanjutnya, Badiou (hlm. 15) menegaskan, “Situasi filosofis terdapat dalam suatu momen ketika sebuah pilihan dijelaskan.” Di sinilah, ia menjelaskan situasi filosofis dengan baik dan jelas. Teknik penjelasannya berupa penyajian tiga contoh peristiwa bercerita. Pertama, pertemuan Sokrates dengan Callicles. Situasi filosofis ini terjadi ketika perdebatan sengit pemikiran Sokrates dan Callicles. Callicles berpendapat kuat itu benar bahwa orang yang bahagia adalah seorang tiran. Di sisi lain, Sokrates menegaskan manusia sejati, sama dengan orang bahagia, adalah Yang Adil. Di hadapan penonton diskusi itu, Callicles dikalahkan Soktrates. Ini merupakan suatu penghakiman. Menurut Badiou, sebenarnya, kedua pendapat itu asing satu sama lain.

Kedua, tragedi terbunuhnya Archimedes oleh prajurit utusan Jenderal Marcellus. Archimedes terlibat gerakan perlawanan terhadap pendudukan Romawi atas Sisilia. Saat itu, seorang prajurit menemui Archimedes di pantai menyampaikan bahwa Marcellus ingin bertemu. Beberapa kali undangan itu disampaikan. Tapi, Archimedes tidak menghiraukannya. Ia malah sibut dengan demontrasi gambar geometris di pasir. Saking jengkelnya, prajurit itu menusuk Archimedes dengan pedang.

Ketiga, tragedi cinta dalam film The Crucified Lovers karya sutradara Mizoguchi. Perempuan muda menikah dengan lelaki pemilik toko kecil yang jujur dan berkecukupan. Namun, perempuan tidak sepenuhnya mencintai. Justru perempuan itu jatuh cinta dengan lelaki karyawan suaminya. Keduanya melarikan diri. Ancaman hukuman mati. Namun, sang suami begitu tulus mencintai. Ia berusaha melindungi pelarian istrinya. Walau akhirnya, sepasang kekasih itu menghadapai kematian dengan bahagia.

Ketiga peristiwa itu merupakan gambaran situasi filosofis. Bagi Badiou, ketiganya menunjukkan hubungan yang bukan hubungan. Tidak ada ukuran sama. Sesuatu yang tak terukur. Konsep kebahagian Callicles dengan Sokrates mengandung negasi yang butuh penjelasan ketat. Kematian Archimedes adalah sikap kebebasan. Begitu juga ketaatan prajurit kepada pemimpin. Cinta berakhir kematian. Peristiwa cinta sepasang kekasih berbenturan dengan hukum adat. Suatu paradoks. Semua peristiwa itu bermuara pada tautan pilihan, jarak, dan perkecualian. Di sanalah situasi filosofis terbentuk. “Setiap kali terdapat sebuah hubungan paradoks, artinya sebuah hubungan yang bukan sebuah hubungan, sebuah situasi keterputusan, maka filsafat bisa terjadi”, kata Badiou (hlm. 26). Filsafat adalah kebangkitan. Intervensi filsafat adalah kenyataan afirmasi.

Politik dan Demokrasi

Siapa yang tidak terpapar “radiasi” politik? Terlalu naif untuk mengatakan tidak. Filsuf, intelektual, hingga masyarakat awam tergelitik membicarakannya. Filsafat dan politik terkesan tumpang tindih. Bahasan filsafat tidak jarang merangsek ke ranah politik. Kesalahpahaman ini sering terjadi. Terlebih, banyak filsuf yang berbicara mengenai politik. Tidak heran, beberapa pihak berharap filsuf membantu mengurai permasalahan politik. Pemikiran mendalam, kritis, dan solutif dinantikan untuk mengurai kekusutan itu.

Di sinilah, Badiou memberikan uraian tegas antara filsafat dan politik. Filsafat dan politik adalah dua hal yang berbeda. Politik bertujuan mengubah situasi kolektif, sementara filsafat berusaha menyodorkan problem-problem baru (hlm. 33).  Politik sering terjebak dalam retorika wacana sebab tujuan utamanya adalah menarik dukungan. Keadaan tertentu sangat penting bagi politik untuk menciptakan situasi politik. Karena tujuan utama membentuk situasi kolektif, politik berusaha menghindari jarak, berusaha membuat segala sesuatu terukur, dan berusaha lebur.

Di lain sisi, filsafat mencipta masalah baru berdasar simtom politik. Namun, bukan berarti keduanya rancu apalagi dianggap sama. Kedudukan filsafat begitu mendasar. Filsafat tercipta dari tautan paradoks. Ia mengakar kuat pada yang tidak terukur, menstimulus ruang memilih pemikiran, menangkap perkecualian, mencipta jarak, dan yang paling mendasar menjaga jarak dari jerat kekuasaan. Filsafat berusaha untuk berada dalam kondisi keasingan internal. Badiou menegaskan menuju “keasingan” adalah jalan filsafat yang tentunya sangat berbeda dengan jalan politik.

“Filsuf selalu orang asing, terbalut pakaian pikiran-pikiran barunya. Ini artinya dia mengusulkan pemikiran baru dan problem baru. Dan dia mendapatkan lebih banyak pendukung dengan cara diam. Ini artinya dia mampu menghimpun banyak orang pada probelm-problem baru itu karena dia sudah meyakinkan mereka bahwa problem-problem itu universal (hlm. 35-36).”

Yang menarik ketika Badiou dan Žižek mengurai masalah krusial demokrasi. Hubungan kapitalisme dan demokrasi terasa dilucuti. Badiou menunjukkan pradoks bahwa banyak orang antikapitalis garis keras. Mereka menganggap kapitalisme menakutkan, horor ekonomi. Tapi, mereka pembela gigih demokrasi.

Žižek menyodorkan tiga alasan menggelikan untuk demokrasi. Pertama, menerima apa pun hasilnya bahkan dalam kasus ketidakadilan vulgar. Ketikdakadilan bukan ketidakteraturan. Contoh kasus kemenangan Bush di tahun 2000. Demokrat pun tidak turun ke jalan walau dicurangi di Florida. Kedua, Terdapat oportunisme dalam demokrasi. Demokrasi, sebagai proses keputusan, adalah cara menyembunyikan keputusan. Ketiga, pernyataan terkenal Marx dalam Manifesto Komunis bahwa komunisme dituduh menghapus kepemilikan pribadi, tapi kapitalesme justru sudah mendahuluinya. Menurut Žižek, sama dengan demokrasi.

Serpihan pemikiran Badiou dan Žižek dalam Filsafat di Masa Kini sangat terbuka bagi diskusi filosofis lebih lanjut. Mengingat, konsep filosofis keduanya diuraikan dengan cukup lugas tanpa melewatkan pertanyaan mendasar tertang berbagai problem krusial yang hingga sekarang masih pula kekinian: filsafat, politik, kapitalisme, dan demokrasi. Segera membaca!

Heru Susanto

Tinggal di Surabaya.
Heru Susanto

Latest posts by Heru Susanto (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.