Bayi-Bayi tanpa Nama

 

Tubuh-tubuh molek dan bokong semok perempuan tercecer sepanjang jalan desa. Wajah mereka tegang. Napasnya diburu nafsu berahi. Tapi sial bukan kepalang, ini tahun duka: nafsu lelaki hanya akan jadi cerita.

Perempuan yang hanya mengenakan kutang dan menutupi kemaluannya dengan celana dalam singgah ke warung, menawarkan kemolekan tubuh dan bokong semoknya.

“Kemaluanku gatal.”

“Perawan tahun ini hanya akan jadi Bunda Maria,” balas salah seorang lelaki.

“Tidakkah ada lelaki yang nafsunya bangkit?”

“Nafsu? Hih, itu barang langka tahun ini.”

Perempuan yang hanya mengenakan kutang dan menutupi kemaluannya dengan celana dalam pergi. Dengan wajah putus asa perempuan itu tinggalkan kerumunan lelaki di warung. Sepanjang jalan dia mendesah, menjerit, lalu menangis.  

“Oh, Tuhan pemberi nafsu, jangan kutuk keperawanan kami!” keluhnya di sela-sela tangis.

Perempuan itu berjalan terus, singgah dari warung ke warung menawarkan kemaluannya. Sial, tak satu pun lelaki tertarik.

“Pulanglah, tak ada laki-laki ngaceng tahun ini.” Bentak lelaki tua yang kebetulan melihat perempuan itu menjerit di depan jalan rumahnya.

“Tidakkah kau perhatikan segarnya buah dadaku ini?” perempuan itu membuka kutang, “dan lihat, di selangkanganku!” ia kemudian membuka celana dalamnya.

“Aku tak melihat apa-apa selain kelucuan. Hahahaha!”

Koyak hatinya, hilang kecantikan yang bertahun-tahun dia dengar dari mulut orang tentang dirinya. Dia melangkah letih. Tak ada harapan hidup, dia berjalan dan terus berjalan, berhari-hari, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

***

Di tangan Mat Sukip, jutaan sel tergenggam, sebagian jatuh ke kakos dan sebagian yang lain ikut guyuran air ke comberan. Ia tatap lekat-lekat air kental yang baru keluar dari kemaluannya. Bukan kepalang girang Mat Sukip. Berkali-kali dia ciumi jutaan sel di tangannya itu. Sorak-sorai kebahagiaan keluar dari mulutnya.

“Nafsuku, nafsuku masih ada! Nafsuku masih ada.”

Di pakebhen belakang gubuknya, suara Mat Sukip memecah sepi. Atap gubuk dari rumbia bergoyang-goyang ditiup angin utara. Denyit rumpun bambu beradu menjelma instrumen keheningan. Kicau burung terhenti oleh kegirangan Mat Sukip.

Gubuk dari anyaman bambu berdiri gagah, tepat di pojok desa, atapnya dari rumbia dan dindingnya anyaman bambu, warna lapuk seluruhnya. Di situlah Mat Sukip tinggal bertahun-tahun, sendirian.

Mat Sukip melangkah tertatih-tatih dari pakebhen, desahan, tangisan dan jerit pilu di tengah desa terdengar telinganya.

“Tahun duka telah menimpa desa, hem…” Senyum pongah tebersit di bibirnya.

Desir angin menggerayangi tubuh Mat Sukip, dingin merasuk ke tulang sumsumnya. Bergegas Mat Sukip masuk ke gubuk. Tetesan air sisa mandi di tubuhnya jatuh dari ujung rambut ke kaki, lalu turun ke lantai menyisakan jejak kaki.

Telentang di ranjang, Mat Sukip mengingat-ngingat proses keluarnya sejuta sel di tangan: sebelum masuk pakebhen Mat Sukip melihat dua ekor burung bersenggama. Di dalam pakebhen rekaman dua ekor burung bersenggama itu datang, ngaceng kelaminnya. Lalu dia elus pelan-pelan. Tanpa diduga air kental muncrat.

“Tahun duka, hahaha!” serunya.

***

Perempuan itu telah berjalan ke seluruh desa. Gairah dalam tubuhnya semakin hari semakin menjadi. Perempuan itu tidak lagi punya cara memuaskan nafsunya. Sudah lebih dari seribu kali dia menggunakan tangan untuk mengelus kemaluannya. Hingga rasa bosan kerap datang untuk melakukannya lagi.

Di perbatasan desa, perempuan itu bertemu dengan perempuan-perempuan yang nasibnya sama. Perempuan-perempuan itu duduk di tanah lapang dengan selangkangan terbuka, napasnya membuncah, desah dan rintihan tindih-menindih dari satu mulut ke mulut yang lain. Perempuan itu melihat tanah lapang—tempat perempuan duduk dengan selangkangan terbuka—serupa dunia lain: dunia duka berahi perempuan-perempuan yang tak terpuaskan.

“Kalian sedang apa?”

“Menunggu laki-laki yang punya nafsu.”

“Tidakkah kalian tahu, laki-laki seisi kampung telah mati nafsunya.”

Perempuan-perempuan itu menangis kemudian.

“Kau tahu,” kata salah satu perempuan yang duduk dengan selangkangan terbuka lebar-lebar, “dulu aku primadona desa. Silih berganti lelaki datang ke rumahku. Demi melihat wajahku, laki-laki rela mengantri panjang-panjang.” Ia terdiam sejenak, pelan air mata menetes. “Tapi sekarang aku serupa rongsokan. Tubuh dan kecantikanku hanya mereka lihat sebagai boneka lucu.”

“Aku pun demikian,” timpal perempuan yang telah berkeliling desa.

“Lihat bentuk BH-ku, ini BH Arab, kupesan pada salah satu tetangga yang pergi haji. Dulu aku seorang penganut agama yang taat. Tapi laki-laki dan tahun duka ini telah membunuh agamaku. Tidakkah kau merasakan jerit pedih keyakinanku,” kata perempuan yang lain.

“Apakah kalian tidak melihat gambar naga dan hiasan-hiasan di sekeliling BH-ku ini?” perempuan yang tengah asyik mengelus kemaluannya ikut menimpali. “Aku pedagang dari Cina yang miskin gara-gara derita tahun duka ini.”

Tangis pecah. Derita, nafsu, dan kemarahan menyatu dalam gaung kesedihan perempuan. Di ladang itu mereka berkumpul, meratapi nasib, dan melawan nafsunya yang membuncah.

***

Tangis dan desahan menggugah hasrat Mat Sukip pergi ke pakebhen. Ia mulai mengelus kemaluannya, sejuta sel muncrat kemudian. Ia genggam air kental itu. Dilihatnya lekat-lekat. Barangkali ada satu masa depan yang penting di air kental ini, pikirnya. Tak mau berlama-lama dalam penderitaan, Mat Sukip bergegas mengguyur air ke tubuhnya. Dan menyiram air kental yang melekat di tangan, dinding dan kakos.

Berhari-hari tiap mendengar desahan dan jerit dari perbatasan desa, Mat Sukip pergi ke pakebhen. Setelah ribuan sel muncrat Mat Sukip keluar dengan tubuh lunglai. Mat Sukip tidak sadar, air comberan yang membawa sejuta sel miliknya berakhir di sungai tempat mandi perempuan-perempuan batas desa.

“Mani! Mani!” teriak perempuan-perempuan yang sedang mandi di sungai.

Serupa musafir kehausan di padang sahara, perempuan-perempuan itu mencari sumber datangnya mani. Sampailah mereka di rumah Mat Sukip. Wajah-wajah semringah terpancar, senyum terlukis di bibir perempuan-perempuan itu. Dahaga yang selama bertahun-tahun di pendam akan segera terobati, pikir mereka.

Mata Mat Sukip terbelalak, angin serasa berhenti seketika. Mat Sukip mengucek mata berkali-kali, serasa mimpi, berpuluh-puluh perempuan dengan tubuh seksi dan wajah cantik memenuhi pekarangannya. Kutang dan celana dalam beraneka warna membelalakkan mata Mat Sukip.

“Kemarilah, puaskan dahaga kami!” kata perempuan di pekarangan.

Mat Sukip girang bukan kepalang.

***

Semua cerita itu terbingkai di kepala Sugeng. Ia kocok kemaluannya. Awalnya pelan, semakin lama semakin cepat. Dibayangkannya kuat-kuat perempuan yang memenuhi pekarangan Mat Sukip. Sugeng rangkai tubuh perempuan-perempuan itu serupa artis yang dilihatnya di TV. Ketika sempurna dan jelas bayangan Mat Sukip bersenggama dengan berpuluh-puluh perempuan yang nafsunya meledak-ledak, muncratlah jutaan sel dari kemaluannya.

“Anakku, anakku lahir tanpa nama, hmmm..!” seperti bercanda, suara Sugeng terdengar lesu.

Berjuta sel nempel di tangan, dinding dan pinggir kakos. Sugeng melihatnya dengan senyum puas.

Yogyakarta, 2020

 

  1. Pakebhen: tempat mandi yang penutupnya dari anyaman bambu.
  2. Kakos: tempat buang air besar.
Latest posts by Fatah Malangare (see all)

Comments

  1. Kal Reply

    Jelek.

    • Admin Reply

      gakpapa.

    • Alivia Sasa Reply

      Baru saja aku hendak berdoa. “Han, jangan bunuh nafsu para pria” wkwkkk
      Keren si Fatah ia keluarnya Sugeng sebagai tumbal di akhir cerita😂

  2. Ler Reply

    Mantab

  3. Kri tikus Reply

    Tanggung. Cb kyk kisah2 enni arrow.

  4. Pengagum Malangare Reply

    Bagus kok

    • Deda Reply

      Menarik. Ending menggugat dan/atau menganulir tafsir dan pemahaman dalam benak pembaca. Tapi, kenapa Sugeng membayangkan Sukip, bikan dirinya, dengan puluhan perempuan? Semacam klimaks (fantasi) seksual dengan hanya menyaksikn?

  5. il syam Reply

    kritik sosial yang kritikal

  6. Mira Reply

    Kukira bayi tnpa nama itu ttg bayi yg d aborsi, trnyta dri tdi aku ngebacain fantasi org lagi comli

    • Ventus Syang Reply

      Apakah untuk diterima di sini, harus (minimal) bertitle “MAHAsiswa”?

  7. Meifa Manurung Reply

    Horror euy

  8. Ventus Syang Reply

    Apakah untuk diterima di sini, harus (minimal) bertitle “MAHAsiswa”?

    • Kleey Reply

      enggak juga kok. mungkin kurang banyak baca yg lain ya..

  9. Laurent Reply

    warbyasah mas…

  10. Sasuke Reply

    Cerpen kek gini tayang???! Hadeeh, ga habis pikir gw.

    • Kleey Reply

      ada yang salah dengan cerpen ini? Cerpen ini bukan cuman soal penggambaran seksual, tapi ada pesan yang bisa dipersepsikan pribadi oleh pembaca. Yang gak habis pikir itu saya, dengan baca komentar anda 🙂

  11. Ulfah Malihatin S Reply

    astagaa, awal cerita bukan memberi kesan lain tapi malah buat ngakak. bagus banget kak ceritanya

  12. sukanda Reply

    Vulgar.diperindah bisa kan ….punten ya

  13. Kleey Reply

    good! Aku suka cerpennya! Penggambarannya juga bagus.

Leave a Reply

Your email address will not be published.