Benarkah Kau Memiliki Waktu; Puisi Fatih Kudus Jaelani (Nusa Tenggara Barat)

ilustrasi puisi benarkah kau memiliki waktu
Sumber gambar ego-alterego.com
Orang Bermi

leluhur kami selaparang
ada perang saat tiadanya pedang
hati kami tak garang dan pantang
pada segala yang kembali-pergi
datang-kembali

sebab bila lapar kami berkumpul
mengisi keberanian yang kosong
dengan mengaji dan menguji diri
dan mengeja kelakuan para nabi

kami tinggalkan hari-hari selanjutnya
untuk mengejar hari-hari sebelumnya

sebelum anak-anak kami berburu
melupakan wasiat waktu
sebelum guru-guru tercipta
menyalahgunakan pengeras suara

 

Lombok Timur, 2015

 

Benarkah Kau Memiliki Waktu

kekasihku, benarkah kau memiliki waktu
meski kini yang dapat kau terima dariku hanyalah masa lalu

jika di balik dinding kamarmu ada masa depan, maka sederhana,
aku hanya perlu membuka pintu untuk dapat membahagiakanmu

tapi jendelamu terbuka agar dapat kau rasakan datangnya cahaya
meyakinkan diri bahwa segala yang akan datang pastilah terang

memikirkanmu, aku selalu mengutuk diri dari masa depan
bagaimana bisa aku berperang dengan keadaan yang belum datang

kekasihku, benarkah kau memiliki waktu
luangkanlah untuk mengatakan rindu

 

Lombok Timur, 2015

 

Selamat Malam

waktu itu aku menghubungi seorang sahabat melalui telepon genggam yang kupinjam. Matahari tenggelam tepat di saat ia menjawab. Hening sesaat, lalu kusempatkan melihat burung-burung pulang ke dalam sangkar sebelum menerima apa yang semestinya kudengar.
Aku lupa untuk apa aku menghubunginya. Aku hilang ingatan hanya sesaat setelah ia memberikan beberapa pertanyaan untuk mengawali sebuah percakapan. “habis uang?”.
Sahabat lainnya yang ada di sampingku tak bisa diam melihatku terdiam. Rupanya ia membutuhkan sesuatu di tanganku. Kuberikan telepon genggam itu dan mengucapkan selamat atas sebuah kebaikan. Ia membalasnya dengan baik sekali. “Apakah kau mengerti tarif dasar menghubungi seseorang di tempat yang sangat jauh?”.
Kini aku lupa cara menjawab pertanyaan. Di dalam kantongku ada alamat rumah sahabat lainnya yang baru saja menikah. Aku akan mengunjunginya untuk mengucapkan selamat malam. Lalu pergi untuk menghindari pertanyaan.

 

Lombok Timur, 2015

 

Sesal Separuh Bulat

sesal separuh bulat
menggelinding berat
ditiup dendam
lalu menghilang

pergi adalah datang
sebab tak ada jalan
selain ke belakang
menyusuri kerapuhan

selalu terjatuh
membuatnya utuh
merasa latah
ia tak pernah kalah

bila sempurna
akan terjerat
hilang menua
pasti tersesat

 

Lombok Timur, 2015

 

Seorang penyair di hadapan kematian

ialah yang berterimakasih pada nasib buruk
sebab pilihan tak terbagi-bagi
dan baginya satu jalan lebih berarti

: mati dilupakan atau mati untuk dilupakan

 

Lombok Timur, 2015

 

Bintang-bintang buatan

mereka tak benar meski bersinar
sebab cahayanya hanyalah warna
bukan bagi mata di malam buta

tak seperti yang asli di langit luas, di sekitar bulan
merekalah yang malah terlihat besar dari kejauhan
dan sebaliknya mengerdil di hadapan tuan-puan

pecahkan layar-layar kaca
keluarlah, mereka tak pernah betah
di dalam rumah

 

Lombok Timur, 2015

 

Celah

di tempat paling sempit
aku menunggumu
tanpa keterangan waktu

tiada hari berganti
bila kau berhenti mencari
tiada pintu terbuka
saat kau benar-benar terluka

sebab aku,
bukan sepenuhnya cahaya
melainkan sisa terang
yang terkadang membutakan

lihat, kau begitu dekat
di mana aku dapat merasakannya
sebentar lagi kau bahagia
atau sungguh sebaliknya

 

Lombok, 2015

Fatih Kudus Jaelani
Latest posts by Fatih Kudus Jaelani (see all)