Berbagi Ikan Asin

in Cerita Pendek by
avalonbears

Seekor kucing berkelebat, melompati atap-atap rumah. Dia mengendus-endus dan mengintip dalam gelap malam tanpa rembulan. Si kucing akan menyelinap masuk jika tahu si empunya rumah telah lengah. Kucing pencuri banyak berkeliaran di perkampungan miskin ini. Mengharapkan pemberian dari orang yang hidupnya pas-pasan adalah mustahil bagi kucing. Cara bertahan hidup yang dia tahu hanya dengan mencuri.

“Kucing kurang ajar!” Terdengar suara seorang perempuan, marah. Sang punya amarah naik pitam karena ikan asinnya dicuri. Keesokan paginya, kucing berbulu kuning kecokelatan tergolek lemas. Kulit berbulunya sebagian ada yang melepuh dan mengelupas. Rupanya dia telah disiram air panas tadi malam.

“Mi…, ikan asinnya mana?” kata suara dari dalam rumah berukuran 3 × 7 meter persegi.

“Sudah digondol kucing semalam, Pi,” jawab istrinya.

Di depan rumah itu, beberapa anak berseragam bergegas hendak sekolah. Para tetangga dengan berbagai profesi pun telah bersiap-siap hendak berangkat mencari nafkah. Di sebelah kanan rumah itu dihuni oleh penjual gorengan. Sebelah kirinya, dihuni oleh seorang office boy sebuah hotel tak berbintang bersama istrinya yang bekerja sebagai pelayan toko. Sang OB hotel dan istrinya sebenarnya telah punya seorang anak laki-laki berumur tiga tahun, tapi diasuh oleh neneknya di desa.

 “Dasar kucing asu!” umpat si Pipi.

“Kucing yo tetep kucing… asu yo asu. Ha.. ha.. kucing kau umpat jadi asu. Nggak bikin turun  harga diri kucing, masih sama dalam derajat para binatang.”

“Dasar kucing maling!”

“Nah tu baru umpatan yang betul. Maling, mesti ujudnya manusia itu lebih rendah daripada asu,” kata Mimi.

Mimi adalah panggilan sayang dari Pipi pada istrinya. Sebagai balasan sayang, Mimi pun memanggil suaminya: Pipi. Mereka berdua terinspirasi pada bagaimana pasangan selebriti idola mereka saling memanggil. Pasangan selebriti itu tampak hidup harmonis sebagai suami istri. Kelak suami istri itu berganti nama panggilan sayang setelah tahu hubungan pasangan selebriti idola mereka berakhir dengan perceraian.

“Lha kamu terus mau makan pake apa, Mi?”

“Nasi kecap.” Mimi menuangkan kecap di atas nasi yang telah terhidang di atas piring. Lalu ia ulurkan sepiring nasi kecap itu pada suaminya. Baru kemudian dia tuang kecap di atas nasi untuknya. Mereka makan di atas lantai tanpa meja. Ada dua buah piring nasi kecap, dua buah gelas, dan satu teko air putih di hadapan mereka.

“Lagi hamil seperti kamu, perlu makanan lebih bergizi. Seperti ikan, banyak gizinya.”

 “Ikan asin?” Mimi menuangkan air putih dari teko berukuran sedang ke dalam dua  gelas.

“Iya, ikan asin…, kalau ikan segar nggak terjangkau, Mi.”

“He.. he.. he.” Tawa keduanya berpadu. Tawa yang lepas tanpa beban meski beban ekonomi tidak hilang begitu saja karena tawa.

“Lalu kau apakan kucing malingnya?” kata Pipi dan kemudian menyumpalkan sejumput nasi kecap ke mulutnya.

“Aku siram pakai air panas. Biar kapok, nggak berani nyuri di rumah ini lagi.”

Pipi berhenti mengunyah, “Ya ampun, Mi, itu pantangan bagi orang hamil!” Pipi melirik ke perut istrinya, khawatir.

“Kata siapa, aku nggak percaya sama takhayul.”

“Ya semoga aja takhayul itu cuma omong kosong.” Tapi rasa khawatir akan jabang bayi dalam kandungan istrinya masih bersemayam di benaknya. Para sesepuh di kampung halamannya sering bilang kalau calon ayah dan perempuan yang sedang hamil dilarang menyiksa atau membunuh binatang, karena akan menyebabkan bayi lahir cacat. Dia ambil segelas air dan meminumnya sampai ludes.

“Kok wajahmu jadi tegang gitu.  Nggak usah percaya takhayul begituan. Apa hubungannya antara membuat kucing jera dengan kondisi bayi kita? Sudah sana cari uang lah, Pi, mumpung masih pagi.”

Pipi pun berangkat bekerja menjadi buruh angkut di pasar. Namun tampaknya kekhawatiran Pipi menular ke Mimi. “Ah, tidak mungkin,” batinnya. “Tapi bagaimana kalau benar nanti anakku lahir cacat?” Mimi mengelus elus perutnya. “Sehat ya, Dek.”

Usai beres-beres rumah, rasa kantuk pun hinggap di pelupuk mata Mimi. Walaupun seadanya, rumah itu terjaga rapi dan bersih. Belum tengah hari, tapi kehamilan membuatnya mudah mengantuk. Dia lalu mapan menyelonjorkan badannya di atas kasur tanpa dipan.

Entah bagaimana caranya masuk rumah, seekor kucing telah berada tak jauh dari kasur. “Hush…, hush…!” Mimi berusaha mengusir kucing berkulit lepuh di bagian punggungnya. Mata kucing itu tajam seperti mau menerkam dan mencakar. “Pergi…, bukan salahku. Kau mencuri makanan kami!”

Tiba-tiba kucing itu melompat, mencoba mencakar Mimi yang sedang terbaring, tapi untunglah Pipi datang tepat waktu dan menghadang kucing itu dengan bertameng bantal.

“Mi…, Mi…, kamu tidak apa-apa?” Pipi mengguncang-guncang pundak istrinya.

Istrinya terbangun. “Mana kucingnya, mana?”

“Nggak ada kucing!”

“Owh, syukurlah cuma mimpi.”

“Iya, tadi kamu teriak pergi… pergi… sambil merem. Mimpi apa, sih?”

“Diserang si kucing pencuri.”

 “Nah kan, jiwanya sudah menghantui tidurmu. Aku mau cari kucing itu. Kita harus merawatnya untuk menebus dosa.”

Sebelum pergi, Pipi menaruh ikan asin mentah di meja. Di atas meja ada dua buah celengan kaleng berbentuk tabung. Lalu, dia memasukkan uang lima ribuan di salah satu celengan untuk tabungan biaya melahirkan, sepuluh ribu lagi ke celengan lainnya untuk bayar kontrakan dan listrik. Lima ribu lagi dia berikan ke Mimi untuk belanja keperluan dapur.

Pipi berjalan menuju jalan aspal yang retak, berlubang-lubang lebar dan kecil tak beraturan. Berembus udara beraroma asam asap karena polusi, lalu tercium bau tahi kucing berganti dengan aroma sampah yang dibuang sembarangan di pinggir jalan dan di selokan. Warna selokan menjadi hijau kehitaman tertutup lumut dan sampah busuk. Panas udara menguatkan aroma-aroma tak sedap, tapi Pipi tidak terganggu dengan berbagai aroma jalanan yang dilaluinya. Matanya fokus mencari seekor kucing berkulit lepuh karena air panas, kata Mimi bulunya kuning kecokelatan.

“Pasti tidak jauh dari sini,” batin Pipi. “Nah, itu dia.” Matanya menemukan seekor kucing berbulu kuning kecokelatan sedang melingkarkan tubuhnya di bawah pohon jambu yang bersemak-semak, sebagian bulu punggungnya terlepas dan kulitnya melepuh. Dengan iba, Pipi mengangkat kucing itu dan membawanya pulang.

“Untung kucingnya kutemukan masih hidup,” kata Pipi setelah memasuki rumah. “Kenapa, Mi?” Pipi terheran melihat istrinya meringis kesakitan. Ia letakkan pelan kucing yang sedang terluka di atas lantai rumahnya, dekat pintu masuk rumah.

“Tanganku melepuh terkena minyak panas, barusan pas nggoreng ikan asin. Sial, wajahku juga terkena minyak panas.”

Setelah mendekat, Pipi mengangkat tangan kanan Mimi dan meniup-niup tangannya. “Haduh, diobati apa ini, ya?” Kulit Mimi melepuh di punggung telapak tangannya, sebesar koin uang seribu rupiah. Di sekitar kulit yang melepuh  sebesar koin ada juga bercak-bercak kulit melepuh kecil-kecil dan memanjang.

“Sudah, nggak usah diobati, ntar juga sembuh sendiri.”

“Bagian muka mana yang kena minyak, kok nggak kelihatan?” kata Pipi sambil mengamati muka Mimi.

“Cuma dikit, ini di dagu.”

“Mungkin ini karma, Mi, lain kali jangan sembarangan sama binatang.”

Mimi hanya diam saja, dia berdiri dan melangkah mendekati kucing yang terpejam namun masih bernapas. Dia sedikit mengelus kepala kucing. “Kasihan juga ini kucing, sudah kurus, terluka, dekil lagi,” gumamnya.

Mimi berjalan ke dapur, dia ambil tiga sendok nasi dan sepotong ikan asin yang baru saja digorengnya. Dia cuil-cuil ikan asinnya, lalu diaduk di atas piring supaya tercampur dengan nasi. Setelah itu, dia sodorkan di depan kucing yang masih terpejam.

Dia elus lagi kepala kucing. “Cing, makan dulu, Cing.”

Mata kucing itu pun terbuka, kepalanya mendongak. Mimi tersenyum senang, penciuman kucing masih berfungsi sempurna.

“Wah…, mau makan ya kucingnya,” kata Pipi yang nimbrung duduk di samping Mimi, melihat kucing sedang melahap hidangan dari istrinya. “Ayolah kalian saling bermaafan sebelum Tuhan memberi nasib yang lebih buruk lagi.” Sambil menepuk-nepuk punggung Mimi, tapi matanya masih tertuju pada kucing di depan mereka.

“Aku akan merawatmu sebagai permintaan maafku. Makanan kita sama, tidak akan aku beda-bedakan. Ikan asin juga,” ucap Mimi.

“Pipi juga akan membantu Mimi merawatmu, Cing.”

“Kita sama-sama miskin, Cing…, lebih baik saling berbagi daripada saling menyakiti. Akan kuberi makan kau setiap hari. Doakan aku dan bayiku sehat, anakku lahir normal. Kau bisa berdoa kan, Cing?”

 Si kucing masih mengunyah-ngunyah makanannya. Dia mengibas-ngibas ekornya ke kiri dan ke kanan. Mungkin saja dia menyepakati perkataan Mimi dan Pipi.

Nurul Ajib

Nurul Ajib

Pernah belajar di Sekolah Pascasarjana UGM Prodi Kajian Budaya dan Media, lulus 2010.
Nurul Ajib

Latest posts by Nurul Ajib (see all)

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.