Berjumpa dengan Marquez

 

Judul : Bagaimana Aku Menjadi Penulis
Penulis : Gabriel Garcia Marquez
Penerjemah : An Ismanto
Penerbit : Circa
Tahun Terbit : Juli 2019
ISBN : 978-623-90087-6-5

Dalam imajinasi, apa pun bisa terjadi, tetapi mengetahui cara untuk menunjukkan mutiara yang dihasilkan di sana dengan begitu alami, simpel, dan tanpa kerepotan adalah sesuatu yang tak bisa dicapai semua pemuda berusia dua puluhan, yang baru saja mengawali hubungan dengan sastra. Begitulah catatan pada kolom harian Eduardo Zamalea dengan menggunakan nama pena Ulises di El Espectador dalam memperkenalkan penulis baru dan terkemuka yang lahir dalam diri Garcia Marquez.

Hidup bersama teman sekamar yang sama gilanya dalam membaca membawa Marquez menemukan buku yang efeknya bukan membantu tidur, seperti kebiasaannya. Namun, ia malah tak pernah bisa tidur lelap lagi. Buku itu adalah Metamorfosis karya Franz Kafka dalam edisi terjemahan Argentina. Sejak baris pertama, buku itu menentukan arah baru untuk hidup Marquez. Setidaknya, kini diakui sebagai salah satu perangkat luar biasa dalam jagat kesusastraan. Bunyi kalimat itu: “Saat Gregor Samsa terjaga pada suatu pagi dari mimpi yang gelisah, ia mendapati dirinya sendiri telah berubah di atas tempat tidurnya menjadi seekor serangga raksasa.” (hlm. 5)

Buku ini bagi Marquez setidaknya menunjukkan bahwa mendemonstrasikan fakta itu tidak perlu: sudah cukup bagi sang pengarang jika menulis sesuatu agar menjadi benar, tanpa bukti selain dari kekuatan bakatnya dan wibawa suaranya. Ini artinya bukan hanya berbeda dari kebanyakan buku, juga kerap bertentangan dengan segala yang telah Marquez ketahui hingga saat itu. Hingga berhari-hari ia tak berangkat kuliah karena takut mantra dalam ceritanya akan sirna. Ia berusaha menulis sesuatu yang akan mirip dengan kisah Kafka tentang seorang birokrat malang yang berubah menjadi seekor kecoak raksasa.
Sampai suatu hari Eduardo Zalamea Borda menuliskan artikel yang berisi rasa putus asanya yang meratapi tidak adanya nama yang patut dikenang di kalangan generasi penulis baru Kolombia serta kenyataan bahwa ia tak mendeteksi apa pun pada masa depan yang bisa memperbaiki situasi itu. Marquez merasa tertantang, “atas nama generasiku atau lantaran provokasi dalam artikel itu,” tulis Marquez sambil menengok cerita yang sedang diramunya.

Seperti diterangkan pada mula tulisan ini, decak kagum dan berhasil menjawab tantangan Ulises telah ia lalui. Seorang teman Marquez yang menyadari masalah yang sedang menimpanya lantas memberi petuah, “Sekarang kau masuk di barisan para penulis termasyhur dan telah banyak hal yang harus kau lakukan agar layak menerimanya. Bagaimanapun, cerita itu sudah menjadi milik masa lalu. Yang penting sekarang adalah cerita berikutnya.”

Kawan itu menambahkan saran bahwa Marquez mesti lebih dulu membayangkan cerita dan baru kemudian gaya, tetapi satu sama lain saling bergantung dalam semacam penghambaan yang merupakan tongkat ajaib karya-karya klasik. Ia pun dianjurkan membaca karya-karya Yunani secara mendalam dan tidak bias dan bukan hanya Homer–satu-satunya yang sudah Marquez baca karena kewajiban untuk meraih gelar sarjana muda. (hlm. 9)

Setidaknya begitu cara Marquez mengamalkan perkataan kawannya, sampai di tahun 1980 dalam sebuah wawancara, Marquez menjawab pertanyaan bagaimana ia mulai menulis yaitu dengan menggambar, sebuah citra visual. Mungkin bagi penulis lain, sebuah buku terlahir dari sebuah ide, sebuah konsep. Namun, Marquez berbeda, ia memulai dengan citra. Misalnya, dalam Badai Daun, Marquez menggunakan citra seorang laki-laki yang membawa cucunya ke sebuah pemakaman. Dalam Seratus Tahun Kesunyian, citranya seorang laki-laki tua mengajak seorang anak untuk melihat es yang dipamerkan sebagai barang antik dalam sirkus. (hlm. 89-90)

Pengalaman nyata artinya menjadi kebutuhan cerita Marquez. Pada awalnya, Marquez dalam bekerja jurnalistik secara harian merasa memungkinkan untuk bersikap longgar dan menghilangkan rasa hormat yang lembut yang dirasakan terhadap tulisan. Lalu, jurnalisme memungkinkan untuk terbiasa menulis dengan mudah dan setiap hari. Lalu fiksi memberi ide-ide untuk jurnalisme. Begitulah, keduanya bagi Marquez saling melengkapi: jurnalisme adalah cara hidup, sekaligus untuk mencari uang saat menulis. (hlm. 68)

Soal tempat ideal dalam menulis, bagi Marquez layaknya pulau gurun pasir pada pagi hari dan kota besar pada malam hari. Pada pagi hari, ia membutuhkan kesunyian dan pada petang beberapa gelas dan bercakap-cakap dengan beberapa teman baik amat membantunya. (hlm. 95)

Perihal catatan, Marquez tidak pernah melakukannya kecuali beberapa coretan yang ia anggap sebagai pointer. Dari pengalamannya, ia tahu bahwa membuat catatan akan menjadikannya lebih memikirkan catatan itu ketimbang memikirkan bukunya. Keresahan dengan halaman kosong juga dialami Marquez, ia berhenti mencemaskannya setelah membaca saran dari Hemingway yang berujar, kita harus menghentikan pekerjaan menulis hanya jika kita tahu bagaimana kita akan melanjutkan pekerjaan esok hari. (hlm. 89)

Dalam sisi kerajinan, Marquez menyadari cara neneknya dalam bercerita dengan dingin dan kekayaan citranya yang menjadikan cerita-ceritanya masuk akal. Meski begitu, melalui Kafka, dalam Metamorfosis, Marquez menyadari dirinya bisa menjadi penulis. Ia berkata dengan dirinya sendiri, “Aku tak tahu kita bisa melakukan ini, tetapi kalau memang bisa, aku jelas tertarik untuk menulis.” (hlm. 96)

Dalam sisi keterampilan secara teknis, Hemingway banyak membantunya. Seperti dalam cerita pendek, layaknya gunung es harus ditopang oleh bagian yang tidak terlihat–semua pikiran, studi, dan bahan yang dikumpulkan, tetapi tidak digunakan secara langsung dalam cerita. Bahkan Hemingway mengapresiasi bagaimana seekor kucing muncul di tikungan. (hlm. 98)

Buku ini memuat esai-esai perjumpaan dan pertautan Gabo dengan sejumlah orang penting di antaranya sang maestro Ernest Hemingway, juga dengan Fidel Castro, Hugo Chavez, dan Salvador Allende. Semuanya ditulis dengan asyik, efektif, dan imajinatif sehingga meninggalkan gema panjang di benak kita.

Pertama kali yang kupikirkan setelah membaca buku ini beberapa saat berkaitan dengan hak cipta dan perizinan. Meski berpikir positif, penerbit dan penerjemah sudah memproses urusan itu. Setidaknya mereka juga berupaya untuk bersikap fair dan terbuka sebagaimana sistem akademik dengan menggunakan daftar pustaka di akhir buku. Sebagian besar tulisan ini berasal dari koran seperti The New York Times, The New Yorker, The Guardian, NACLA Report, New Statesman America, The Harvard Advocate, dan sebuah jurnal literatur dan diskusi, VQR. Selamat membaca!

Fatoni Prabowo Habibi

Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) IAIN Pekalongan dan Berkhidmat di Lopis Institute.

Latest posts by Fatoni Prabowo Habibi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.