Buah Cinta

Fay Helfer, Driftwood Heart 03

Kecuali melompat, Adamir tidak punya pilihan lain. Para pemburu sudah dekat di belakangnya. Anjing-anjing menyalak, mengendus aroma ketakutan, mencium bau mangsa yang terjepit. Adamir berbalik. Seekor anjing muncul dari semak-semak. Itu bukan anjing biasa, kulitnya biru dan di lehernya surai kemerahan lebat seperti surai singa. Anjing itu terikat rantai perak dan ujung rantai itu berada di genggaman seorang pemburu; tubuhnya kurus tinggi, pipinya cekung seperti lekuk lembah. Kulitnya nyaris transparan sehingga terlihat jelas apa yang ada di bawah kulit itu: butir-butir kecil seperti biji semangka bergerak-gerak bagai kumpulan bakteri.

Para pemburu lain menyusul. Mereka tampak serupa. Anjing-anjing mereka juga serupa. Menyalak-nyalak ke arah mangsanya. Sebentar kemudian tempat itu sudah penuh oleh mereka; para pemburu dan anjing-anjingnya yang seperti terus membelah diri, kian lama kian banyak. Tak mungkin mengalahkan mereka semua. Satu atau dua mungkin bisa. Tiga masih ada kemungkinan. Tapi menghadapi ratusan pemburu ditambah anjing-anjing mereka, sungguh mustahil. Adamir kembali berbalik. Tak ada apa-apa di depannya, hanya ruang kosong. Benar-benar kosong. Bukan jurang dengan sungai ganas di bawahnya, bukan laut dengan gelombang dan racun garam. Hanya kekosongan, seakan-akan dia sedang berdiri di ujung dunia. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika dia melompat ke ruang kosong itu. Dia hanya tidak ingin mati dikoyak-koyak anjing bersurai.

Terasa belum lama dari situasi itu, dia ingat sedang berjalan-jalan di sekitar blok perumahan tempat tinggalnya. Itu hal yang biasa dilakukan ketika dia sedang macet, ketika dia tak tahu bagaimana melanjutkan cerita yang telanjur ditulisnya. Di depan sebuah rumah dia melihat orang ramai seperti sedang ada pesta. Meja dan kursi-kursi kecil ditata, aneka minuman dihidangkan, alat-alat pemanggang terpasang. Bentuk meja yang berjajar menarik perhatiannya. Biasanya acara pesta menggunakan meja panjang atau bundar. Tapi meja-meja kecil yang dilihatnya berbentuk segitiga. Itu membuatnya penasaran. Setelah ragu sejenak dia masuk ke halaman dan bergabung dengan kerumunan, berpikir, mungkin ada yang dikenal di antara orang-orang itu. Pandangannya tertumbuk pada seorang gadis remaja yang sedang berdiri sendirian dekat dinding rumah sembari memegang minuman dalam botol kaca. Dia kenal gadis itu.

“Siti?” katanya setelah berada di dekat si gadis. Gadis itu diam, tak menanggapi.

“Masih ingat saya?” katanya melanjutkan setelah yakin bahwa gadis itu memang dikenalnya. Dia pernah bertemu dengan si gadis sekitar setahun lalu.

“Siapa ya?” kata gadis itu, tampak tak acuh dan sibuk dengan minumannya.

“Kita pernah bertemu. Ingat pertunjukan teater tahun lalu? Kau bermain sebagai Eva.”

“Ah iya. Tentu aku ingat.” ucapnya tanpa mengubah sikap. “Pertunjukan yang bagus. Aku senang bisa ikut main.” Lalu seraya menyodorkan botol, “Mau?” Adamir melihat isi botol tinggal setengah. Minuman itu berwarna ungu pekat. “Ini tidak dihidangkan. Aku bawa sendiri. Aku tidak tahu ini buah apa, tapi kata orang yang memberiku, minuman ini akan membuat kita lebih segar,” ujarnya. Sikap gadis itu agak mengherankan buatnya, menyodorkan minuman sisa kepada orang lain. Tapi Adamir ingin berbincang dengan si gadis, satu-satunya orang yang dikenal di tempat itu. Maka diterimanya minuman itu dan langsung diteguknya. Rasanya agak aneh. Sulit dijabarkan. Tidak begitu jelas batas pahit dan manisnya. Pun ada getir yang bergetar di lidah. Dia merasa tak nyaman dengan rasa minuman itu, tapi tangannya kembali mendekatkan botol ke mulutnya, dan dalam sekali teguk minuman itu tuntas.

Saat itu seorang pemuda mendekat. Tubuhnya tinggi dan wajahnya halus. Pasti dia berasal dari keluarga baik-baik, keluarga yang berkecukupan. “Halo,” katanya sembari menjulurkan tangan. Adamir menjabat tangan pemuda itu. “Anda tinggal sekitar sini?” tanyanya. Adamir mengangguk. “Ya, rumah saya di kompleks ini juga. Tadi saya berjalan-jalan dan melihat keramaian. Maaf, saya sebenarnya tidak diundang.” Pemuda itu tersenyum, “Oh, tidak apa-apa. Justru kami senang Anda datang. Oh ya, kalian sepertinya sudah saling kenal?” Pemuda itu melihat Siti. “Iya,” kata Adamir, “tapi mungkin saya salah orang.” Gadis remaja itu tetap tak acuh. Saat itu musik diputar dan orang-orang berdiri. Musik dansa yang lembut mengapung di udara. “Hei, kenapa kalian tak berdansa saja?” kata si pemuda seakan sedang membaca judul cerita. “Sebentar,” kata Siti. Ia beranjak ke meja tempat makanan dan minuman dihidangkan. “Oh ya, namaku Luki Feri,” kata si pemuda. “Nama yang bagus, bukan? Mungkin orang tuaku ingin aku selalu beruntung. Teman-teman sering menyingkat namaku jadi Lukifer hahaha..” Adamir yang tadi mengikuti si gadis dengan pandangannya, jadi berpaling oleh suara tawa itu. Dan ketika dia kembali melihat ke arah tadi, gadis itu sudah tak ada lagi.

“Anda bekerja?” tanya Lukifer. “Iya, saya penulis,” jawabnya. “Wah, asyik juga. Saya sendiri masih kuliah,” lanjutnya seakan ada yang bertanya. “Saya mahasiswa ekonomi. Anda tahu masa depan dunia ini ada di tangan para ekonom?” Pemuda itu tampak bangga dan Adamir ingin sekali mendebatnya. Dia mulai tidak suka. Tapi Lukifer lebih dulu berkata, “Hai, ayolah. Kenapa kalian tak berdansa saja? Mana gadis itu?” Si pemuda mencari-cari, lalu katanya, “Musiknya asyik, swing tahun 40-an.” Adamir tiba-tiba merasa pandangannya berputar-putar. Kepalanya pusing dan kakinya lemas. Seluruh tenaganya seperti terisap entah oleh apa. Lalu tak berapa lama kemudian, dia roboh.

Ketika terjaga Adamir menemukan dirinya duduk di kursi dengan kepala terkulai di meja. Dia dapat melihat gambar sebelah mata yang bersinar di atas permukaan meja. Setelah menegakkan kepala, dia lihat orang-orang berkerumun dan menatapnya. Musik sudah berhenti. Persis di hadapannya, Pemuda Lukifer berdiri memicingkan mata, tampak tak lagi ramah, pandangannya sengit dan mengancam. “Di mana Siti?” tanya Lukifer. Adamir diam. “Tadi kau berdansa dengannya dan tiba-tiba saja dia menghilang. Kami tahu kau punya tujuan datang ke sini.”

Seingatnya, dia belum sempat berdansa dengan gadis itu. “Jawab!” bentak Lukifer. Adamir tak berkata apa-apa. “Kau kira kami tak tahu siapa kau?” Dari belakang Lukifer seseorang tiba-tiba maju dan menyodorkan cermin berbentuk segitiga. Pemuda Lukifer, dengan kasar, meletakkan cermin di atas meja sehingga Adamir dapat melihat wajahnya sendiri di cermin itu. Wajah itu bukan wajahnya. Bukan wajah siapa pun yang pernah dikenalnya. Itu wajah yang tampak purba. “Bawa dia ke hadapan pemimpin!” seru Lukifer. Orang-orang serentak bergerak. Mencengkeram lengan, kaki, leher, dan pinggangnya. Saat itu Adamir menyadari kalau dia dalam keadaan telanjang bulat. Orang-orang mengikatnya dengan tali ke kayu palang, lalu menyeretnya sambil bersorak-sorai.

Dia tak tahu berapa lama waktu berlalu. Ketika kesadarannya pulih, kegelapan di sekitarnya terkuak. Dia berada di sebuah gua. Belukar dan lumut tampak seperti gerumbulan rambut. Tubuhnya tak lagi terikat di kayu palang. Perih terasa pada pergelangan tangannya bekas jeratan tali. Di hadapannya cahaya remang membungkus sesosok tubuh hitam. Sosok itu—dia tak tahu, lelaki atau perempuankah?—duduk di sebuah kursi tinggi. Ia mengenakan pakaian warna-warni seperti selembar kanvas dengan lukisan abstrak. Di kepalanya ada mahkota dari bulu-bulu burung. Matanya kuning seperti mata kucing, menatap tajam Adamir. “Kau tahu apa yang kau minum tadi?” Adamir teringat, beberapa saat sebelum pandangannya kabur dan kepalanya pusing, dia menenggak minuman dari Siti, minuman yang dia tak tahu terbuat dari buah apa. “Kau telah melanggar pantangan. Sekarang kau punya dua pilihan. Merelakan dirimu dibakar atau lari dan para pemburu akan mengejarmu.” Saat itu terdengar salak anjing-anjing. Tanpa berpikir lagi Adamir segera beranjak. Dia mengikuti cahaya yang berasal dari luar. Di mulut gua, dia lihat hutan lebat terbentang, dia tak tahu harus lari ke arah mana. Dilihatnya semak-semak bergerak dan suara anjing-anjing kian mendekat. Dia putuskan untuk mengikuti arah condong matahari. Sesungguhnya matahari nyaris tak terlihat karena kerimbunan pohonan, tapi bias sinarnya cukup jadi petunjuk. Adamir mulai berlari, melesat cepat di antara pohonan. Raung pemburu dan salak anjing mengikutinya. Semakin jauh dia berlari semakin tampak ganjil pohon-pohon di sekitarnya. Pohon-pohon yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Sebagian di antara pohon-pohon itu berubah-ubah warnanya, sebagian lagi sungsang, dengan akar bagai rambut gimbal di bagian atas dan daun-daunnya yang hitam bergerumbul di bawah. Sementara itu, kecuali di depannya, para pemburu dan anjing-anjingnya seperti mengepung, membentuk formasi melengkung dari kedua sisi, seakan-akan mereka sedang menggiringnya ke suatu titik. Tak bisa ke kiri atau ke kanan, Adamir seperti dipaksa berlari lurus ke depan.

Dan kini, dia berdiri di tepi ruang kosong yang seperti ujung dunia ini. Tak punya pilihan selain melompat. Anjing-anjing menggeram dan para pemburu seperti tinggal menunggu perintah. Dari tengah-tengah kerumunan, seseorang tiba-tiba menyeruak dan maju. Adamir segera mengenalinya. Itulah Lukifer, pemuda ekonom itu. Ia menyeret seorang gadis dan segera melemparkannya ke depan Adamir bagai seonggok barang. “Siti!” seru Adamir. Gadis remaja itu mengedip-ngedipkan matanya, lalu mendekat. Mereka berpelukan. Anjing-anjing menyalak keras dan kegelapan pelan-pelan turun.

Pemuda Lukifer mengangkat tangan kirinya. Jari-jarinya menggenggam sebuah benda, bentuknya mirip jantung manusia. Benda itu berpendar ungu pekat, dan seakan-akan benda itulah yang telah mengisap cahaya sekitar. Pemuda Lukifer berkata, “Kalian telah meminum sari buah ini. Tahukah kalian ini buah apa? Ini Buah Cinta! Buah terlarang! Sekarang pergi dan melatalah kalian bersamanya!” Dengan cepat Pemuda Lukifer melempar buah ungu itu ke arah Adamir dan Siti. Lemparannya demikian keras mengenai tulang rusuk Adamir. Dia terlempar ke belakang, dan Siti yang berada dalam pelukannya ikut terdorong.

Mereka menembus ruang kosong. Suara anjing dan raungan para pemburu masih terdengar. Lalu pelan-pelan lenyap. Sempurna jadi senyap. Mereka terapung-apung beberapa saat. Sebelum kemudian meluncur, deras ke bawah, terjun bagaikan sepasang manusia pertama yang dibuang dari surga.***

(Kekalik, 9-11 April 2019)

Kiki Sulistyo

Lahir di kota Ampenan, Lombok, 16 Januari 1978. Buku puisinya adalah Hikayat Lintah (Akarhujan, 2014), Rencana Berciuman (Halindo, 2015), dan Penangkar Bekisar (Nuansa Cendekia, 2015). Ia juga menulis dan menyiarkan cerita pendek serta rajin mengisi kolom di surat kabar lokal. Bersama sejumlah kawan mendirikan dan mengelola Komunitas Akarpohon. Suatu komunitas nonsanggar yang mengupayakan penerbitan buku, kelas menulis, dan proyek-proyek seni lainnya. Email: pohonkata@gmail.com
Kiki Sulistyo

Latest posts by Kiki Sulistyo (see all)

Comments

  1. Ziyat Reply

    Gak nyangka kalau adamir dan Siti adalah bentuk fiksi dari Adam dan hawa.
    Mantappu!

  2. Cerita Maria Reply

    Diskonstruksi dari legenda Adam dan Hawa yang epic.

  3. Fathra Reply

    Ikut tenggelam dalam lika liku cerita… Mantab

  4. Nuky Reply

    Mantap

  5. niLLa Reply

    cerita pendek ini inginnya agak lebih panjang, karna masih ingin menikmatinya

Leave a Reply

Your email address will not be published.