Budi Darma dan Tamu Menjengkelkannya

Budi Darma dalam sesi wawancara Jakarta International Literary Fest (JIlF), 21 Agustus 2019. Dok. Pribadi.

Saya pernah membayangkan apa yang dilakukan Budi Darma di akhir pekan? Duduk di kedai kopi sambil membaca buku? Atau memutar lagu-lagu rekomendasi Spotify? Tapi jawaban absurd yang pernah terpikirkan oleh saya adalah menonton siaran Atta Halilintar atau Raditya Dika di kanal YouTube masing-masing.

Itu bukan jawaban yang saya sarikan dari udara. Budi Darma pernah dengan fasih menjelaskan Raditya Dika, sinetron “Ganteng-Ganteng Serigala”, SNSD, bahkan novel thriller The Life We Bury karangan Allen Eskens. Terma-terma populer yang tampak begitu jauh dari kebegawanan Budi Darma.

Budi Darma adalah pengamat sekaligus perekam yang sempurna. Sebagaimana perekam suara, Budi Darma tidak mudah resistan. Dia merekam semua informasi dan menjadikan dirinya sebagai sebuah mesin pengolah semuanya. Pantas saja dia tahu kegemaran anak-anak muda.

Kuatnya pengamatan Budi Darma tertuang pula dalam karya-karyanya. Dalam Rafilus misalnya, kita akan melihat Budi Darma seperti Google Map yang begitu hafal jalan-jalan di kawasan Surabaya dengan detail dan keriuhannya. Tidak hanya merekam suasana yang sastrawi, hal-hal kotor, banal, dan sesekali lacur dan jorok pun diolah menjadi cerita.

Lebih dari itu, Budi Darma juga perekam terbaik perihal perangai manusia. Karakter manusia dalam fiksi kadang terdikotomi menjadi protagonis-antagonis, hero-villain, jahat-baik. Fiksi yang demikian tidak mewakili realitas kehidupan. Dalam realitas, tidak sedikit ulama melakukan asusila dan menilap uang umat, bergelar doktor tapi mau makan uang kotor, atau pelacur yang ikhlas membiayai sekolah adik-adiknya. Dunia tidak hitam-putih.

Realitas inilah yang diamati dengan cermat dan kemudian Budi Darma tuangkan dalam cerita pendek maupun novel. Tujuh cerpen dalam Orang-Orang Bloomington, misalnya, kita akan diperkenalkan dengan orang-orang yang secara nature maupun nurture selalu ditumbuhi perangai buruk, keinginan berbuat jahat, membalas dendam. Kita akan menyaksikan kebencian seseorang terhadap Keluarga M sampai merencanakan hal-hal mengerikan. Tapi bukankah demikian kehidupan normal pada umumnya? Sesekali kerap lebih fiksi dari fiksi itu sendiri.

Cerpen Budi Darma bergerak dalam ritme demikian. Mengelaborasi hasil rekaman baik fisik maupun psikis. Menjadikan fiksi Budi Darma tak banyak bunga-bunga, namun dalam mengulik psikologi manusia.

Minggu 25 Agustus 2019, mungkin akan menjadi hari yang terlewatkan begitu saja, kecuali “Tamu” (Kompas, 25 Agustus 2019) milik Budi Darma membuat hari itu jauh lebih menggembirakan. Manggolo kerap bertamu di rumah tokoh aku yang baru saja pindah. Namun dia kerap merepotkan tuan rumah. Minta dibikinkan kopi, makan ini-itu, dan mengumpati rumah-rumah lain yang disinggahi.

Dalam kredo manusiawi, siapa yang di posisi tuan rumah, akan kesal dan boleh sesekali mengumpat. Dan itu yang dilakukan Tini, istri tuan rumah, yang berharap agar Manggolo mati dengan terjebak di rumah yang terbakar.

 

“Terbakar ketika Manggolo sedang berguling-guling ketagihan kopi dan kelaparan….  Anaknya datang, memotret mayat ayahnya. memajang potretnya di alun-alun.”

 

“Tamu” bisa menjadi bacaan yang menjengkelkan sekaligus membahagiakan. Dalam kisah yang tampak biasa saja, tergambar tatanan psikologis manusia. Manusia bersifat unik dan tidak terprediksi, termasuk pikiran manusia.

Lebih dari itu, bila penggemar teori konspirasi membaca “Tamu” akan menemukan hal-hal yang mungkin sengaja ditutupi Budi Darma. Diam-diam Budi Darma sedang mengisahkan salah satu episode kelam dalam sejarah Indonesia—meski kamera Budi Darma hanya merekam kejadian antara tuan rumah dan Manggolo.

Kode-kode yang dipergunakan Budi Darma: penyebutan rinci tanggal 15 Juni 1950, kota M, dan sekolah berbahasa China. Apa yang terjadi di kota M—Madiun di tahun 1950? Anak Manggolo senang memotret mayat terbakar dan dipamerkan di alun-alun. Tanpa harus dikonfirmasi, pembaca akan dengan mudah menerka Budi Darma sedang menyinggung pemberontakan PKI di Madiun pada 1950.

Saya menikmati “Tamu” sebagai kisah yang mendedah dualisme karakter manusia. Antara baik dan jahat selalu ada kemungkinan saling selingkuh. Sambil membaca saya ingat kalimat Budi Darma dalam buku Solilokui (1983), “makin banyak Saudara mempergunakan kata-kata kotor makin baik, karena dengan demikian makin nampak Saudara berani, jujur, dan terbuka.”

Seperti prasangka Tini, saya pun membenarkan aneka prasangka yang tumbuh dalam kepala saya. Budi Darma seorang pengamat yang paripurna. Sayangnya prasangka ini banyak diimani oleh penggemar Budi Darma lainnya.

Teguh Afandi

Penggiat Klub Baca Yogyakarta.
Teguh Afandi

Latest posts by Teguh Afandi (see all)

Comments

  1. Wildan Reply

    “Tamu” menghidangkan hal yang superkompleks dalam alur yang boleh dibilang mengalir sederhana. Sangat menikmati cerpen itu. Mendorong pembaca buat termenung mendalam: kejadian yang tampak saling lepas pada hakikatnya punya simpul-simpul halus yang menyatukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.