Catatan dari Pelosok Negeri

Judul               : Seandainya Aku Bisa Menanam Angin

Penulis             : Fawaz

Penerbit           : Mojok

Cetakan           : Pertama, April 2019

Tebal               : xiv + 196 halaman

ISBN               : 978-602-1318-95-9

Amanah konstitusi menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Berada jauh di pelosok, tanpa fasilitas, bahkan dengan kemampuan berbahasa Indonesia minim, tak surut antusiasme anak-anak di sudut-sudut negeri untuk belajar. Hingga tersajilah lembaran-lembaran dalam buku ini sebagai dokumentasi penulis yang melibatkan diri sebagai sukarelawan guru di Sokola Institute. Lembaga wadah pendidikan non formal bagi masyarakat adat di berbagai penjuru Indonesia.

Bukan usaha mudah masuk dalam komunitas yang sebagian cenderung tertutup dari orang luar. Dalam perjalanannya, setidaknya proses tersebut berhasil memunculkan refleksi, sejauh mana pemerataan pembangunan sampai pada masyarakat adat, terutama dalam bidang yang menerima anggaran tak kurang 20% dari APBN ini.

 

Anak Udik yang Mengejutkan

Renyah, menggelitik, mengurai kagum sekaligus ironi, penulis membuka kisah dengan pengalamannya bersama anak-anak Sokola Rimba di kawasan Hutan Bukit Dua Belas, Jambi. Kisah guru-murid yang saling usil tak hanya mengundang senyum. Sebagai anak udik dari komunitas yang kerap dilabeli primitif, tak berpendidikan, atau tak beragama. Praktik toleransi mereka terhadap kaum minoritas ternyata jauh lebih baik daripada orang-orang kota. Ketika itu relawan pengajar menghadapi momen Ramadan.

“Orang Rimba, sunyi dalam tutur, namun praktik langsung dengan laku bagaimana sebaiknya berlaku terhadap sesama manusia. Sementara banyak manusia di sekeliling mereka, berbuih-buih dalam ujaran dan mengaku diri paling suci, tapi malah menistakan diri sendiri lewat sikap dan perilaku terhadap manusia yang berbeda dengan mereka” (hlm. 15).

Budaya lisan dan bertutur turun-temurun yang mereka gunakan untuk merumuskan hukum adat atau falsafah hidup. Ketika bertemu dan terfasilitasi kemampuan literasi, juga menghasilkan narasi-narasi puitik yang mengejutkan. Menunjukkan kemampuan seni dan sastra di atas rata-rata. Salah satunya frasa “Seandainya aku bisa menanam angin” yang menjadi judul buku. Kutipan imajinatif, romantis, dan cerdas itu muncul sebagai komentar candaan murid yang rindu pada sosok guru yang pernah mengajarnya.

 

Pemahaman-pemahaman Keliru

Akan halnya anak-anak Sokola Kaki Gunung di lereng selatan Pegunungan Iyang (Argopuro), Jember, menuai kisah lain. Keterlibatan mereka sejak usia belasan di sela waktu belajar dan bermain untuk membantu pekerjaan sehari-hari orang tua. Seperti mencari rumput dan kayu bakar, merawat kebun, atau ikut panen. Membuat pegiat HAM berteriak mengenai hak anak yang diabaikan. Bahkan mengaitkan terlalu jauh pada eksploitasi dan perbudakan anak. Padahal keterlibatan anak-anak tersebut dalam mempelajari proses kehidupan komunitas mereka tentu berbeda, misalnya dengan anak-anak perkotaan yang bekerja di pabrik dengan upah tak layak dan waktu belajar dan bermain yang hilang.

Penulis menyebut adanya kesalahan paradigma berpikir jika anak-anak yang sejak dini berlatih mandiri dengan kegiatan-kegiatan tersebut dilarang. Karena semua itu wadah mereka berproses, belajar untuk menghadapi kehidupan kelak. Tak ada prinsip yang dilanggar. Jika sekolah formal mengalienasi mereka dari kehidupan sehari-harinya, maka mereka akan jadi gagap dan asing dengan cara hidup komunitas mereka sendiri. Bahkan masa depan mereka terancam suram jika sementara itu realita pelayanan pendidikan formal yang memadai juga belum terpenuhi.

Melihat kedekatan hubungan pengajar-murid di Sokola Rimba, Jambi, yang layaknya teman, penulis pun membandingkan dan  mengkritisi hierarki guru-murid di sekolah formal yang masih begitu disakralkan dan terlalu kaku diterapkan. Menurutnya sudah bukan zamannya lagi guru sok berkuasa dan murid menunduk-nunduk takut. Hegemoni kekuasaan guru yang seperti ini dikhawatirkan menindas para murid dan sekolah menjadi hal yang traumatis. Relasi guru-murid sejatinya adalah sebagai rekan belajar (hlm. 161).

 

Pendidikan Ideal

Jika mengacu pada program wajib belajar pemerintah, setiap anak berusia di bawah 15 tahun harus masuk sekolah formal. Bagi masyarakat adat, hal tersebut sulit diwujudkan. Selain kondisi geografis yang berat, mereka juga tak mungkin keluar dari lingkungannya, meninggalkan pelajaran dari kearifan lokal komunitasnya agar dapat rutin hadir di sekolah formal. Seperti anak-anak Mumugu Batas Batu di Sokola Asmat, Papua, yang harus berhadapan dengan tradisi untuk pergi ke bivak selama kurun waktu tertentu. Di sana mereka belajar langsung untuk bertahan hidup, sesuai pola kehidupan turun-temurun. Belajar pangkur sagu, pasang jerat, jaring ikan dan udang, dan lainnya.

Bagi masyarakat adat, bermacam pengetahuan dan keahlian yang terkait langsung dengan hidup dan lingkungan mereka memang sejak dini dipelajari melalui komunitas. Hal tersebut tidak bisa dilarang, malah hendaknya memang menjadi kurikulum utama. Sementara pelajaran dari sekolah seperti baca, tulis, hitung, sebagai materi tambahan saja. Sistem pendidikan seperti itulah yang diterapkan Sokola Rimba. Berbeda dengan sekolah formal, kehadirannya bukan untuk mengubah nilai-nilai kehidupan orang-orang suku pedalaman. Apalagi mengubah mereka menjadi orang modern versi orang kota. Namun justru agar mereka mampu bertahan dari gempuran modernisasi.

Program literasi mereka mulai dengan pemetaan dan pengelompokan kemampuan belajar murid. Tak ada aturan belajar ketat atau penyeragaman. Setiap anak memiliki keunikan masing-masing. Sebagai contoh, komunitas pemburu-meramu yang aktif menjelajah hutan. Anak-anak mereka cenderung tak bisa berdiam diri terlalu lama. Maka dikondisikan metode belajar tidak seperti umumnya ruang kelas formal, di mana satu guru menangani banyak murid. Namun seorang guru hanya menghadapi satu hingga tiga murid saja.

Menjadi berita baik jika kabarnya tahun ini pemerintah akan menyusun kurikulum pelajaran khusus untuk masyarakat adat. Mewujudkan sistem pendidikan dan pengajaran seperti yang dirumuskan Ki Hajar Dewantara, bahwa konteks kehidupan anak-anak di berbagai wilayah adalah berbeda-beda. Sistem kurikulum dari pusat butuh penyesuaian dengan kondisi lokal sebelum diterapkan. Agar dalam kondisi apa pun, anak-anak tetap dapat memperoleh ilmu dan mengembangkan imajinasi sambil bersenang-senang. Sesuai prinsip hidup utama mereka sebagai anak-anak.*

Anindita Arsanti

Pembaca buku - alumnus UPN Veteran Yogyakarta
Anindita Arsanti

Latest posts by Anindita Arsanti (see all)

Comments

  1. Faizar Reply

    Ragam budaya, ragam dialektika cara bernusantara yang baik dalam merangkum semua keberagaman nusantara…

  2. Thomas Didimus Hugu Reply

    Luar biasa. Pendidikan seyogianya memang bertumpu di atas unsur-unsur budaya setempat. Setiap komunitas telah memiliki misalanya yang dalam antropologi disebut sistem nilai atau pengetahuan, sistem religi dan lain sebagainya.Jika kehadiran pendidikan formal hadir untuk mengacaukan itu adalah praktek yang Semena-mena. Salut kepada perilaku para pendidik di Sokola Rimba.

Leave a Reply

Your email address will not be published.