Catatan Ngaji Mantiq #2: Dari Yunani ke Dunia Islam

Esai ini merupakan lanjutan dari esai sebelumnya yang mengulas poin-poin yang saya sampaikan pada mukadimah kelas logika (mantiq) di Kafe Mainmain. Sementara esai sebelumnya membahas alasan memilih mantiq sebagai kajian, esai ini akan mengulas ringkas masuknya ilmu logika dari Yunani ke dunia Islam dan bagaimana posisi mantiq dalam tradisi keilmuan Islam.

***

Kandungan ilmu mantiq yang berkembang dalam keilmuan klasik Islam sesungguhnya berisi mirip belaka dengan kandungan logika formal Aristotelian.

Karya Aristoteles (abad 4 SM; disebut dalam bahasa Arab dengan ‘Aristhu’) dalam bidang logika ialah Organon, yang berisi enam bagian pembahasan yang, walau tidak memakai urutan yang sama, berisi mirip dengan kandungan mantiq yang dipelajari dan disyarahi para filsuf Muslim. Enam kandungan Organon ini dikumpulkan oleh para pengikut Aristoteles, yang disebut sebagai kaum Peripatetik. Kata ‘peripatetik’ ini berasal dari kata Yunani ‘peripatetikos’, yang berarti “jalan-jalan”. Konon Aristoteles suka mengajar sambil jalan-jalan. Keterangan lain menyebutkan ‘peripatetik’ merujuk pada ‘peripatoi’, suatu lorong atau gang di Lyceumtempat para murid Aristoteles bertemu. Kata ‘peripatetik’ ini nantinya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan ‘massya’i’ (dengan arti sama: orang yang berjalan-jalan—ingat kata ‘tamasya’). Karena ini, para filsuf Muslim Aristotelian seperti al-Farabi dan Ibn Sina kerap dirujuk sebagai kaum Massya’iyyun.

Berbasis pada Organon, pada abad 3 M Porphyry menulis pengantar bagi logika Aristotelian. Porphyry (disebut dalam bahasa Arab dengan ‘Furfuriyus’) adalah filsuf Neoplatonisme, murid dari pendiri mazhab filsafat ini, yakni Plotinus (Arab: ‘Afluthin’—bedakan dari Plato dalam bahasa Arab, ‘Aflathun’). Karena karya-karya Aristoteles yang nantinya menyeberang ke dunia Islam mendapat banyak komentar dari para filsuf Neoplatonis, ajaran Aristoteles yang diterima para filsuf Muslim awal, antara lain al-Farabi dan Ibn Sina, mengandung pula unsur-unsur ajaran Plato—satu contoh yang kerap disebut adalah konsep emanasi. Nantinya, filsuf Muslim Aristotelian yang lebih teguh di Andalusia, yakni Ibn Rusyd, yang juga menulis ringkasan logika Aristoteles (“Talkhish Manthiq Aristhu”), berupaya membersihkan ajaran Aristoteles dari unsur-unsur Platonis.

Pengantar logika Aristotelian karya Porphyry tadi diberi judul Isagoge, yang artinya ‘pengantar’. Isagoge inilah yang nantinya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab menjadi “isaghuji”. Nantinya ada beberapa karya mantiq yang ditulis para sarjana Muslim abad pertengahan dengan memakai judul isaghuji. Di antara contohnya ialah Isaghuji fil-Manthiq karya al-Abhari (abad 13). Karya al-Abhari ini menjadi basis bagi al-Akhdhari (abad 16) untuk menulis nazam as-Sullam al-Munawraq, yang hingga kini masih banyak dikaji dan dihafalkan di cukup banyak pesantren tradisional.

Pusat penerjemahan karya-karya kelimuan Yunani ke bahasa Arab pada abad pertengahan ialah Baytul Hikmah di Baghdad, yang mencapai kejayaan pada masa al-Ma’mun ibn Harun ar-Rasyid, raja dinasti Abbasiyah abad 9. Memang, ada sisi gelap dari masa kekuasaan al-Ma’mun, yakni dengan terjadinya pemenjaraan (semacam inkuisisi, atau persisnya dalam bahasa Arab disebut dengan ‘mihnah’) terhadap para ulama ahli hadis pada masa itu. Namun, di sisi lain, al-Ma’mun ialah penguasa yang menggemari filsafat. Karya-karya filsafat Yunani—sebenarnya juga literatur dari bahasa Latin, Persia, dan Sanskerta—diterjemahkan luas melalui Baytul Hikmah dan melahirkan banyak filsuf atau ilmuwan Muslim. Di antara yang terkenal ialah al-Kindi (filsuf pertama beretnis Arab) dan al-Khawarizmi (ingat dari mana kata ‘aljabar’ dan ‘algoritma’ bermula). Isagoge yang disebut di muka tadi diterjemahkan oleh Ibn al-Muqaffa’, salah satu penerjemah utama di Baytul Hikmah. (Bila ingin mendalami hal ihwal tentang gerakan penerjemahan ini, saya merekomendasikan bacaan dari karya Dimitri Gutas, Greek Thought, Arabic Culture: The Graeco-Arabic Translation Movement in Baghdad and Early Abbasid Society [2012])

Ibn Sina (Avicenna) adalah tokoh terpenting dalam transmisi filsafat Aristoteles di dunia Islam ini.  Bila oleh para pengikutnya Aristoteles kerap disebut ‘guru pertama’ (al-mu’allim al-awwal) dan al-Farabi disebut ‘guru kedua’ (al-mu’allim at-tsani), Ibn Sina kerap dirujuk sebagai ‘guru ketiga’ (al-mu’allim at-tsalits). Salah satu sejarawan filsafat terkemuka saat ini, Peter Adamson, bahkan menyebut pengaruh Ibn Sina bagi filsafat Islam yang datang setelahnya ialah seperti pengaruh Immanuel Kant bagi filsafat modern. Karya agung (magnum opus) Ibn Sina, di samping al-Qanun fit-Thibb, ialah as-Syifa, yang berisi filsafat Aristoteles dengan imbuhan dari ajaran Plato dan filsafat Timur (falsafah masyriqiyyah). Ibn Sina juga menulis banyak karya lain tentang logika, seperti Danesh-Name Alai (yang menjadi basis bagi al-Ghazali untuk menulis Maqashid al-Falasifah), an-Najat, al-Isyarat wat-Tanbihat, dll.

Ibn Sina inilah, bersama al-Farabi, yang menjadi sasaran utama kritik al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Para Filsuf). ‘Para filsuf’ di sini merujuk spesifik ke filsuf Aristotelian. Al-Ghazali, sebagaimana disebutnya dalam mukadimah Tahafut, mengkritik metafisika yang dikembangkan al-Farabi dan Ibn Sina dengan—ini penting digarisbawahi—menggunakan metode filsafat dan memakai istilah-istilah yang dipakai para filsuf Aristotelian itu sendiri. Mi’yar al-‘Ilmi, sebagaimana dinyatakan al-Ghazali sendiri, ditulis antara lain sebagai klarifikasi bagi istilah-istilah kunci yang dipakai dalam Tahafut.

Jadi, al-Ghazali tidak menolak keseluruhan filsafat. Dalam metafisikalah al-Ghazali memiliki masalah dengan para filsuf, khususnya kaum Peripatetik. Di luar itu, al-Ghazali menerima sebagian besar kandungan filsafat yang berkembang di dunia Islam masa itu (apa saja isi filsafat zaman itu akan saya ulas di esai berikutnya). Bukan saja terkait sufisme, sebagian sarjana peneliti al-Ghazali bahkan menyebut di antara kontribusi besar al-Ghazali ialah memasukkan logika (mantiq) menjadi bagian ‘ortodoksi’: dari yang tadinya dianggap asing kemudian menjadi bagian arus utama tradisi keilmuan Islam.

***

Tidak semua ulama memiliki penerimaan yang sama terhadap mantiq. Sebagian ulama hadis, seperti an-Nawawi dan Ibn Shalah (dua figur ini disebut dalam nazam Sullam), mengharamkannya. Di antara alasannya ialah mantiq membuat seorang Muslim jadi gampang mempertanyakan doktrin-doktrin keagamaan. Ibn Taymiyyah juga menulis karya yang keras mengkritik para pengadopsi logika Yunani (al-Farabi, Ibn Sina, juga al-Ghazali) dalam karyanya ar-Radd ‘ala al-Manthiqiyyin (Bantaran terhadap Para Ahli Logika). Namun, sebagaimana disebut pula dalam nazam Sullam, sebagian besar ulama Sunni membolehkannya. Bahkan, bila memahami fungsinya dalam ilmu akidah, sebagaimana juga disinggung di esai pertama, pentingnya mantiq tidak bisa diabaikan. Fungsinya sebagai ‘ilmu alat’, yakni penertib pikiran, bahkan tidak bisa dihindari. Jadi, sudah seyogianya kita tidak perlu khawatir akan hal-hal ini saat belajar mantiq.

Meringkas dari salah satu poin yang saya sampaikan pada pertemuan kedua kelas logika, di esai berikutnya saya akan mengulas riwayat ringkas al-Ghazali dan periodesasi karya-karyanya. Insyaallah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.