Catatan Ngaji Mantiq #4: Dua Pengetahuan

Mantiq mengkaji atau menganalisis premis-premis yang menjadi penyusun argumentasi dalam setiap ilmu pengetahuan yang bersifat rasional.

Ini berarti bahwa pengetahuan non-rasional seperti pengetahuan estetis, misalnya, tidak masuk dalam kajian mantiq. Pengetahuan Anda bahwa suatu nada lagu harmonis atau fals, atau bahwa suatu lukisan indah atau jelek, tidak bisa dianalisis dengan mantiq. Hal-hal yang dirasakan langsung, seperti pengetahuan Anda bahwa Anda sedang marah, sedih, bahagia, mencintai, cemburu, dst, bukan merupakan kajian mantiq. Hal-hal yang berasal dari pengalaman langsung ini baru bisa menjadi kajian mantiq bila sudah ‘diteorikan’. Misalnya, kalimat bahwa “komposisi yang simetris akan membuat lukisan tampak indah” atau bahwa “cemburu adalah tanda cinta” bisa dianalisis dengan mantiq.

Itu penjelasan sederhananya—tanpa bermaksud meremehkan perdebatan yang lebih rumit dalam epistemologi, cabang filsafat tentang hakikat pengetahuan.

Jika ingin dibuat lebih presisi lagi, bidang kajian dari mantiq ialah pengetahuan yang bersifat proposisional, yakni pengetahuan yang ditaruh dalam suatu pernyataan yang bernilai benar/salah. Dalam kajian balaghah, kalimat yang bisa bernilai benar/salah ini disebut dengan kalam khabari (kalimat deklaratif). Pernyataan yang tidak bisa bernilai benar/salah, atau disebut kalam insya’i (kalimat interogatif atau imperatif), tidaklah menjadi kajian mantiq.

Contoh kalam insya’i ialah kalimat yang berisi perintah, pertanyaan, permintaan, harapan, larangan, dsb.  Kalimat seperti “salatlah!”, “mohon maaf”, “jangan mencuri”, “andai saja aku tidak jomblo”, dst, tidak bernilai benar/salah dan karenanya tidak menjadi kajian mantiq. Bila kalimat-kalimat ini diganti menjadi suatu proposisi, misalnya “perintah salat menunjukkan bahwa salat adalah wajib” dan “larangan mencuri menunjukkan bahwa mencuri adalah haram”, barulah kalimat-kalimat ini bernilai benar/salah dan karenanya bisa dikaji dengan mantiq.

Dalam catatan #1 ngaji mantiq, saya menyebut tentang trivium, yakni tiga ilmu fondasional yang terdiri dari gramatika (nahwu-sharaf), logika (mantiq), dan retorika (balaghah). Ketiga ilmu ini bertujuan akhir pada penyampaian makna secara baik, benar, dan indah. Bila cara berbahasa yang baik dan tertib jadi kajian nahwu-sharaf dan komunikasi yang indah, sastrawi, dan persuasif merupakan kajian balaghah, mantiq menduduki peran penyampaian makna—melalui suatu proposisi—yang benar.

Cara merumuskan suatu proposisi atau kalimat deklaratif yang benar berarti meniscayakan adanya suatu teori tentang kebenaran. Sekali lagi tanpa bermaksud meremehkan kajian yang rumit dalam epistemologi, saya ingin menyampaikan bahwa kebenaran yang hendak dicapai melalui mantiq ada dua, yakni kebenaran koherensial dan kebenaran korespondensial. Yang pertama berarti bahwa setiap premis dalam argumentasi disusun melalui alur berpikir yang logis (atau koheren). Yang kedua berarti setiap premis itu sesuai (atau berkorespondensi) dengan yang terjadi dalam kenyataan. Mantiq terutama menganalisis bagaimana suatu argumen dapat disebut logis atau koheren dan bersih dari kesalahan berpikir.

Jadi, bila diperas dalam satu kalimat: inti (atau intinya inti) dari mantiq ialah cara membuat argumen yang logis.

***

Karena argumen dibangun melalui susunan premis-premis, dan premis-premis itu terdiri dari konsep-konsep, maka analisis terhadap suatu argumen berarti juga analisis terhadap setiap konsep yang menyusunnya. Dalam Mi’yar al-‘Ilm, al-Ghazali menganalogikan argumen dengan rumah. Analisis (yang dalam bahasa Arab disebut “tahlil” atau ‘penguraian’) terhadap rumah berarti mengurai apa saja bahan yang membentuknya (lantai, tiang, atap, dst) dan bagaimana cara bahan-bahan ini disusun agar membentuk rumah. Jadi di sini ada dua jenis analisis, yakni analisis bahan-bahannya dan analisis cara penyusunannya.

Dalam mantiq, analisis terhadap bahan-bahan itu disebut dengan tashawwur dan analisis terhadap cara penyusunannya disebut dengan tashdiq.

Tashawwur biasa diterjemahkan dengan apprehension (terjemahan yang umum dipakai), atau conception (terjemahan yang biasa saya pakai), atau—untuk memudahkan—bisa kita terjemahkan dengan “pengertian”. Dalam analogi rumah tadi, tashawwur berarti menelisik apa itu lantai, apa itu tiang, apa itu atap, dst. Yang dianalisis ialah pengertian atau konsepsi dari masing-masing bahan ini. Tashawwur sendiri seakar kata dengan shurah (gambar). Ilustrasi gampangnya: ketika saya sebut kata “kuda”, segera tergambar dalam pikiran Anda suatu kuda. Gambaran kuda dalam pikiran atau konsepsi Anda ini merupakan suatu tashawwur.

Tashdiq biasa diterjemahkan dengan affirmation (terjemahan literalnya), atau judgment (terjemahan yang biasa saya pakai), atau—untuk memudahkan—bisa kita terjemahkan dengan “penilaian”. Dalam analogi rumah tadi, tashdiq berarti menguraikan hubungan yang terjadi antara lantai dan tiang atau antara tiang dan atap. Sebagai misal, hubungan antara tiang dan atap ialah hubungan yang bersifat lazim (“niscaya”—catat: bukan ‘lazim’ dalam bahasa Indonesia yang umumnya dimaknai ‘biasa’ atau ‘lumrah’), yakni bahwa adanya atap selalu meniscayakan ada penyangganya (tiang).

Sederhananya, tashawwur mengkaji tentang pengertian dari suatu konsep, sedangkan tashdiq menilai hubungan antara satu konsep dengan konsep yang lain. Bila hendak diperas, isi dari mantiq sesungguhnya dua hal ini saja. Semua pengetahuan rasional yang ditaruh dalam suatu proposisi, bila hendak ‘dianalisis’ (di-tahlil, ‘diurai’), isinya akan terdiri dari dua hal ini juga.

Contoh dalam analogi rumah tadi adalah contoh yang mudah sebab bahan-bahan yang menyusunnya adalah benda-benda konkret dan mudah diimajinasikan dalam pikiran. Analisis akan menjadi lebih rumit jika bahan-bahannya berupa istilah-istilah abstrak. Contoh yang pernah saya pakai di kelas ialah proposisi “demokrasi adalah sistem politik terbaik”. Analisis terhadap proposisi ini berarti 1) penguraian terhadap konsepsi (tashawwur) tentang a) “demokrasi” dan b) “sistem politik terbaik”; dan 2) penilaian (tashdiq) apakah hubungan antara dua konsep ini positif atau negatif. (Positif dalam istilah mantiq adalah ijabiy, sedangkan negatif adalah salbiy.)

Kerumitan dalam analisis ini juga berada dalam dua ranah. Dalam ranah tashawwur, “demokrasi” mestilah dijabarkan pengertiannya dulu. Pengertiannya bisa bermacam-macam, dan dari pengertian yang bermacam itu kita mesti memeras mana sifat-sifat esensial dari demokrasi. “Sistem politik terbaik” mesti diurai juga apa isinya (misalnya: kesetaraan warga, kebebasan sipil, pergantian kekuasaan minim kekerasan, keadilan ekonomi, dst). Di ranah tashdiq, untuk menilai apakah benar demokrasi merupakan sistem politik terbaik berarti meniscayakan perbandingan antara demokrasi dengan sistem politik lain, seperti teokrasi, monarki, dll. Bila dapat dinyatakan bahwa dari semua alternatif sistem politik yang ada (pernah, sedang, atau akan ada), demokrasilah yang paling bisa memenuhi sifat-sifat yang terkandung dalam “sistem politik terbaik”, kita bisa menilai bahwa ada hubungan positif/afirmatif (ijabiy) antara “demokrasi” dan “sistem politik terbaik”.

Begitulah analisis ala mantiq bekerja. Analisis yang demikian ini dapat Anda terapkan dalam setiap proposisi dalam pelbagai bidang pengetahuan rasional. Misalnya, dalam biologi: “manusia muncul ke dunia dari proses evolusi melalui seleksi alam”; dalam fisika: “gravitasi adalah gaya tarik menarik antara dua objek”; dalam ekonomi-politik: “kapitalisme cenderung melahirkan kesenjangan”; dalam antropologi: “budaya merupakan konstruksi sosial”; dan seterusnya. Terlepas dari soal benar/salah, bila dipecah-pecah setiap proposisi ini mengandung konsep-konsep (tashawwur) dan hubungan antara satu konsep dengan konsep lainnya (tashdiq). Mantiq menyatakan bahwa apa yang disebut “ilmu” (merujuk pada pengetahuan rasional) pada hakikatnya dapat disederhanakan dalam dua jenis ini, yakni pengetahuan tashawwur dan pengatahuan tashdiq. Di antara isi tashawwur adalah bahasan tentang signifikasi (dalalah), deskripsi (rasm), dan definisi (hadd), sedangkan isi tashdiq antara lain ialah bahasan tentang silogisme deduktif (qiyas), induksi (istiqra’), dan analogi (tamtsil). Hal-hal ini akan diuraikan dalam esai-esai berikutnya. Insyaallah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.