Catatan Ngaji Mantiq #5: Esensi, Aksiden, Lazim

 

Seperti diuraikan dalam esai sebelumnya (catatan #4), bagian pertama dari inti mantiq ialah tentang tashawwur (conception) alias pengertian dari suatu konsep. Pengertian termaksud di sini bukan saja mencakup konsep itu dalam dirinya sendiri (apa unsur yang menyusunnya), melainkan juga sifat-sifat atau atributnya, dan hal-hal lain yang diniscayakan adanya oleh konsep itu.

Analisis semacam ini berguna untuk mengurai, dari suatu konsep, mana yang merupakan inti dan mana yang luaran; mana yang mesti ada dan mana yang boleh dinomorduakan. Di samping berguna untuk mengurai klaim-klaim pengetahuan pada umumnya, dalam ilmu-ilmu keislaman analisis ini krusial perannya dalam akidah, seperti akan saya paparkan nanti di bawah.

Sebagai ilustrasi bagaimana analisis ini bekerja, kita bisa memakai contoh klasik dalam mantiq, yakni tentang konsep manusia. Pengertian yang umum dipakai untuk mendefinisikan manusia—dalam mantiq, juga buku-buku logika Aristotelian pada umumnya—ialah hewan yang berpikir (hayawan nathiq atau rational animal). Dengan definisi ini, manusia terbentuk dari dua unsur inti, yakni sifat hewani (yang mencakup, a.l., butuh makan, bernapas, tumbuh dan berkembang biak, dst) ditambah kemampuan berpikir rasional.

Di samping sifat inti ini, sebagaimana kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari manusia memiliki sifat-sifat seperti tinggi/pendek, cakep/biasa, bisa bahagia/sedih, bergerak/diam, dst.

Apa yang membedakan dua hal di atas? Yang pertama disebut esensi, sedang yang kedua disebut aksiden. Mantiq menyebut esensi dengan dzatiy (istilah yang dipakai al-Ghazali dalam Mi’yar al-‘Ilmi) atau mahiyah (istilah yang dipakai oleh filsuf Muslim pada umumnya), dan menyebut aksiden dengan ‘ardh.

Apa itu esensi? Pengertian mudahnya: esensi adalah hal-hal yang membentuk X yang jika satu saja dari hal-hal ini hilang, maka X bukan lagi merupakan X. Aksiden, sebagai lawan dari esensi, ialah hal-hal yang ternisbahkan kepada X, tetapi jika hal-hal ini hilang, X masih tetap X. Dalam contoh manusia tadi, Anda bisa mulai membayangkan perbedaan dua hal ini. Ingat, tashawwur secara literal berarti ‘ketergambaran’, yakni bagaimana suatu konsep terbayangkan dalam pikiran.

Anda akan kesusahan membayangkan dalam pikiran suatu manusia yang tidak memiliki unsur hewani, yakni yang tidak terbentuk dari tubuh/fisik yang tumbuh, bernapas, butuh makan, dst. Namun mudah bagi Anda untuk menghilangkan sifat-sifat seperti tinggi/pendek, cakep/biasa, bahagia/sedih, bergerak/diam, dst, dari gambaran Anda tentang manusia. Jika sifat-sifat ini diganti dengan sifat lain (misal, warna kulit cokelat Anda ganti dengan putih, atau tinggi 160 cm diganti menjadi 100 cm), manusia dalam pikiran Anda masihlah manusia.

Dengan demikian bisa kita katakan, unsur hewani dan kemampuan berpikir ialah unsur esensial (dzatiy), sedangkan sifat-sifat yang boleh hilang tanpa merusak keutuhan konsep manusia itu ialah sifat aksidental (‘aradhy).

Di samping kategori menyangkut esensi dan aksiden, ada satu kategori lagi dalam tashawwur ala mantiq,yakni apa yang disebut dengan lazim. (Catat: lazim di sini tidak sama dengan ‘lazim’ yang dalam bahasa Indonesia cenderung berarti ‘lumrah’. Saya belum menemukan terjemahan yang pas. Jadi untuk sementara saya sebut sama dengan istilah aslinya saja dalam mantiq.) Pengertian mudahnya: lazim adalah hal-hal yang bukan bagian dari esensi dalam tashawwur suatu konsep, tetapi melekat pada atau diniscayakan adanya oleh konsep itu. Dalam istilah mantiq, lazim bukan esensi pembentuk (ghayru muqawwim) tetapi tidak bisa lepas (ghayru mufariq).

Contoh dari lazim yang dipakai dalam mantiq terkait dengan konsep manusia, sebagaimana dinyatakan al-Ghazali dalam Mi’yar, ialah sifat ‘dilahirkan’. Perbedaan antara lazim dengan esensi dalam paparan al-Ghazali ialah ketika Anda men-tashawwur-kan suatu konsep, esensi tidak bisa dilupakan, sementara lazim bisa terlupakan—tetapi tidak bisa dilepaskan. Ketika Anda membayangkan manusia, sifat hewani (tubuh yang bernapas, tumbuh, butuh makan, dst) tidak bisa terlupakan, tetapi sifat ‘dilahirkan’ bisa terlupakan. Namun, sifat terlupakan ini senantiasa melekat pada manusia. Sifat ‘dilahirkan’ dengan demikian adalah lazim.

Ilustrasi lain yang bisa dipakai sebagai contoh ialah segitiga. Unsur esensial dari segitiga ialah sisi-sisi yang berjumlah tiga—jika jumlahnya empat, lima, atau berapa pun selain tiga, dia bukan lagi segitiga). Panjang/pendek dari segitiga ialah sifat aksidental—mau seberapa panjang/pendek pun ukurannya, sepanjang sisinya masih tiga, dia tetaplah segitiga. Nah, sifat lazim dari segitiga ialah jumlah sudutnya 180 derajat. Sifat ini boleh terlupakan (atau bahkan tidak diketahui) ketika seseorang menggambarkan segitiga dalam pikiran, juga bukan merupakan unsur yang membentuk segitiga, tetapi ia melekat dan niscaya ada dalam segitiga.

Ilustrasi lainnya ialah salat yang sah. Unsur esensial dalam salat ialah rukun-rukunnya yang terdiri dari niat, takbiratul ihram, dan seterusnya sampai salam. Aksiden dari salat, misalnya, tempo gerakannya. Sifat lazim dari salat ialah ‘punya wudu’. Pikiran Anda bisa membayangkan salat walau terlupa—dalam tashawwur Anda terhadap salat—akan wudu. Namun, sifat ‘punya wudu’ senantiasa melekat dan niscaya adanya bagi salat yang sah. Jika orang tidak punya wudu, salatnya tidak sah.

Demikian ini semoga Anda bisa dengan cukup mudah memahami perbedaan tiga kategori ini (esensi, aksiden, dan lazim). Distingsi atau pembedaan dari tiga kategori ini akan berguna, antara lain, dalam kajian akidah sebagaimana paparan berikut ini.

***

Dalam kajian akidah (Asy’ariyah), aksiden (‘ardh) ialah sifat-sifat yang senantiasa melekat pada entitas-entitas yang memiliki permulaan (hadits).

Jumlah aksiden ada sembilan—yang kemudian ditambah satu substansi (jawhar), jumlahnya jadi sepuluh. ‘Sepuluh kategori’ ini dalam istilah mantiq disebut dengan al-maqulat al-‘asyr. Konsep sepuluh kategori ini berasal dari Aristoteles, yang kemudian diterangkan oleh Porphyry dalam ringkasannya terhadap Categories karya Aristoteles (di abad pertengahan kadang disebut dengan ‘praedicamenta’), dan nantinya karya Porphyry ini diterjemahkan ke bahasa Arab oleh para sarjana di Baytul-Hikmah era Abbasiyah, dipelajari Ibnu Sina, hingga di kemudian hari dinukil oleh al-Ghazali dalam Mi’yar.

Kategori sepuluh ini terdiri dari: substansi (jawhar), kuantitas (kam), kualitas (kayf), relasi (mudhaf), lokasi (ayn), waktu (mata), posisi (wadh’), posesi (lahu), aktivitas (an yaf’al), dan pasivitas (infi’al). Dalam mantiq, kesepuluh kategori ini biasa dinazamkan sebagai berikut:

Zaydu-thawilul-azraq-ubnu maliki # fi baytihi bil-amsi kana muttaki
Biyadihi ghushnun lawahu faltawa # fahadzihi ‘asyru maqulat sawa

(Zaid yang tinggi, biru, putra Malik # di rumahnya kemarin ia berbaring
Di tangannya ada tongkat yang ia putar, maka tongkat itu terputar # inilah sepuluh kategori)

Nazam ini merepresentasikan hal-hal berikut: Zaid (substansi), tinggi (kuantitas), biru (kualitas), putra Malik (relasi), di rumah (lokasi), kemarin (waktu), berbaring (posisi), tongkat (posesi), memutar (aktivitas), terputar (pasivitas).

Nah, kesembilan aksiden ini ialah sifat-sifat yang tidak esensial, yang bisa datang-pergi atau muncul-hilang pada suatu substansi. Yang relevan dicatat khusus dalam kajian akidah ialah bahwa segala yang dilekati aksiden tidaklah azali, tidak pula abadi—alias memiliki permulaan dan akan hilang (fana) di kemudian hari.

Kalimat terakhir di atas menjadi premis yang menyusun satu argumen dalam akidah tentang kebermulaan alam semesta, atau dengan kata lain bahwa alam semesta memiliki permulaan. Argumennya sebagai berikut.

Fisik sebagai substansi selalu dilekati aksiden. Misal dari aksiden itu ialah diam atau bergerak. Suatu entitas fisis tidak akan bisa lepas dari salah satu dari dua kondisi ini. Kita tahu, aksiden bukanlah entitas yang azali—ia memiliki permulaan dan akan fana. Oleh karena fisik selalu dilekati aksiden, fisik (jism) itu sendiri tidak azali. Dengan demikian, alam semesta yang merupakan himpunan fisik yang tidak azali ini juga tidak azali. Dengan kalimat lain, alam semesta memiliki permulaan.

Itulah argumen yang dalam akidah disebut dengan burhan huduts al-ajsam (pembuktian kebaruan alam)—ini adalah satu dari beberapa argumentasi tentang keterciptaan alam. Terusan dari argumentasi ini ialah bahwa karena alam semesta baru dan bermula, ia berasal dari tiada menjadi ada dan meniscayakan adanya Dzat yang menciptakannya, membuat dari tiada menjadi ada. Pencipta ini adalah Tuhan yang lepas dari aksiden—sebab jika Dia dilekati aksiden-aksiden yang berjumlah sembilan tadi, Dia akan masuk dalam himpunan alam semesta. Islam menyebut Tuhan dengan nama “Allah”.

***

Distingsi antara esensi dan lazim juga berfungsi dalam akidah (Asy’ariyah) ketika merespons pandangan Mu’tazilah. Sebagaimana sudah masyhur diketahui, Mu’tazilah berpendapat bahwa sifat kalam (firman) Allah adalah makhluk. Argumen Mu’tazilah ialah sebagai berikut.

Entitas apa pun tidak akan lepas dari dua jenis kategori antara qadim (tak bermula) atau hadits (bermula atau baru), danyang menyandang sifat qadim haruslah tunggal. Jika kalam Allah dinyatakan qadim, maka akan terjadi ta’addud al-qudama’ (berbilangnya yang qadim—maksudnya: jumlah qadim lebih dari satu) dan itu mustahil. Karena ini, Mu’tazilah berpendapat bahwa kalam Allah adalah hadits (bermula) dan dengan demikian adalah makhluk.

Dengan distingsi tentang esensi dan lazim tadi, Asy’ariyah menyatakan bahwa sifat Allah seperti berkuasa, berkehendak, mengetahui, melihat, mendengar, dan berfirman ialah “shifat zaidah qa’imah ‘alad-Dzat, laysat hiya ad-Dzat wala hiya ghayraha” (sifat-sifat ini berada dalam Dzat, bukan Dzat, dan tidak lepas dari Dzat). Sifat-sifat Allah ini adalah lazim bagi Dzat atau melekat pada Dzat, sebab mustahil bagi Tuhan untuk dilekati sifat lemah, bodoh, buta, tuli, dan bisu. Dengan demikian, ketika disebut “Allah”, nama ini merujuk pada Dzat sekaligus sifat-sifat-Nya. Argumen Asy’ariyah ini menentang pandangan Mu’tazilah yang mengasumsikan bahwa sifat lepas dari Dzat. Bagi Asy’ariyah, sifat-sifat itu tidak lepas (ghayru mufariq) dari Dzat. Karena Dzat Allah qadim, sifat-sifat yang tidak lepas ini pun qadim. Sifat-sifat yang tidak terpisah dari Dzat inilah yang kemudian terhimpun dalam rumusan 20 sifat wajib bagi Allah, yang dinazamkan antara lain dalam ‘Aqidatul-‘Awwam (yang banyak dipelajari di pesantren-pesantren tradisional), juga kadang didendangkan dalam kasidah yang dihafal para pelajar akidah. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.