Cerita tentang Ikan

Aku pernah menulis cerita tentang ikan. Ketika menulis itu, aku membayangkan tokohnya adalah diriku: seekor ikan yang percaya doa-doa pasti dikabulkan. Ikan ini—aku—berada dalam stoples plastik dan dalam kesendirian di dunia yang sempit ini aku berdoa meminta teman. Tidak mengapa jika kami harus berebutan makanan yang jatuh dari langit. Setidaknya, aku bisa berbincang dan tidak menjadi gagu.

Aku berdoa sepanjang hari, dan doaku semakin panjang. Entah mengapa begitu.

Pertama, aku hanya meminta seekor teman. Lalu bertambah menjadi ‘seekor teman untuk bermain’. Kemudian ‘seekor teman untuk bermain yang menyenangkan’. ‘Seekor teman untuk bermain yang menyenangkan dan tampan’. ‘Seekor teman untuk bermain yang menyenangkan dan tampan dan menjadi suamiku’.

Sampai di situ, aku belum menambah-panjangkan lagi, dan tuhan mengabulkan doaku—sebagian kecil. Sebagiannya besarnya tidak. Aku memang mendapatkan teman, tetapi dia bukan teman bermain yang menyenangkan. Mukanya beku meskipun aku tersenyum ramah. Sapaanku tidak disahutinya. Rumah batu-batuku diporak-porandakan. Meskipun barangkali dia tidak sengaja melakukannya, tetapi dia tidak meminta maaf.

Dia juga tidak tampan. Awalnya aku pikir Tuhan menceburkan batu karena serupa begitulah bentuknya. Semua itu membuatku sedih, dan kesedihan itu membuatku putus asa.

***

“Sudah?” Suara berat dan sember mengguncang lamunanku—selalu saja begitu; sejak dulu. Aku selalu mengingatkannya untuk tidak mengobrak-abrik rumahku—lamunanku. Dia selalu saja tidak memahami itu.

“Apanya?” tanyaku sambil mendelik.

Piringnya sudah kosong. Aku tidak memperhatikannya makan, dan memang selalu begitu. Setiap kali dia makan, seolah tidak berkehendak untuk makan, tetapi tiba-tiba ludes.

“Makanmu,” jawabnya.

“Tidakkah kau lihat makananku masih banyak?” Aku menyembur.

“Ya.”

“Artinya belum selesai.”

“Aku tunggu.”

Dia masih membiarkan piring kosongnya di atas meja, membiarkan tangannya yang berlepotan sisa nasi, membiarkan gelasnya kosong tanpa diisi lagi, seolah dengan cara itu dia bisa memaksaku bergegas-gegas.

Aku tidak peduli dan membiarkannya menunggu; sama seperti bertahun-tahun yang terlewati, dia tak bosan melakukan itu. Diam serupa batu menghadapiku.

Menyebalkan!

***

Memang menyebal Ikan Batu itu. Hanya karena Tuhan meletakkannya dalam stoples yang sama denganku, aku harus menerimanya. Seperti halnya aku percaya doa-doa akan dikabulkan, aku juga percaya Tuhan lebih tahu apa yang terbaik bagiku. Meskipun demikian, tak urung aku selalu menggerundel juga.

Kami berkenalan. Dia menyebutkan nama dengan suara berat seolah untuk mengatakan itu dia harus mengangkat batu-batu cadas di tenggorokannya. Kelopak matanya seperti terlalu berat untuk membuka. Ketika dia tersenyum, aku melihatnya sebagai seringai predator.

Aku tahu Tuhan tidak hanya menciptakan ikan-ikan yang baik, Dia juga menciptakan predator, dan jika yang berada dalam stoples bersamaku ini adalah salah satunya, aku rasa ini sebuah kesalahan.

Karena Tuhan tak pernah salah, aku kemudian menganggapnya sebagai ujian. Aku harus sabar dan berdoa, terus berdoa, agar ikan yang ditempatkan dalam stoples ini diganti seperti yang aku mau.

***

“Mau yang lain?” Dia bertanya lagi. Ketika bertanya itu, nadanya tidak seperti membujuk atau menawari, melainkan menuduh.

“Apa maksudmu?” sahutku, gusar. Aku tahu bahwa aku pernah melakukan kesalahan, tetapi sudah pernah kubilang bahwa kesalahan itu bukan mutlak dariku. Jika saja segalanya selaras dengan doa-doaku, tentu saja aku tidak perlu melakukan kesalahan itu.

Karena kesalahan itu, aku selalu merasa setiap kali dia menuduh akan merembet ke sana; meskipun pada akhirnya tidak pernah merembet. Sebagai manusia batu, segala ingatannya barangkali ikut membatu; tetapi ingatanku cair.

“Menu lain,” katanya.

Aku benci laki-laki ini. Bisakah dia tidak mempertanyakan hal-hal bodoh? Sejak dulu aku tidak pernah makan cepat; sejak dulu ketika geligiku masih utuh, dan sekarang nyaris tak bersisa. Jika aku makan dengan lambat, itu bukan karena menu.

Namun, percuma mengatakan itu. Dia tidak akan paham, tidak pernah paham. Apa yang ada di kepalanya, aku tidak tahu, tetapi aku ragu jika itu adalah otak.

***

Ikan Batu itu tidak punya otak. Karena tidak punya otak, bercakap-cakap dengannya sungguh menjengkelkan. Bahkan aku yang seumur hidup tinggal dalam stoples kecil pun bisa berpikir. Mengapa dia yang baru dicemplungkan ke stoples kecil ini tidak bisa berpikir?

Setiap kali aku mengajaknya bercakap, dia hanya memandangku dan mengangguk-angguk. Bahkan ketika aku katakan kepadanya tentang doa-doaku, dia masih mengangguk-angguk seolah tidak tahu bahwa aku sedang mengatainya.

Menyebalkan.

Lebih menyebalkan lagi dia mengiyakan ketika aku bertanya apakah dia predator. Aku bertanya lagi apakah artinya dia akan memakanku sewaktu-waktu.

“Ya,” sahutnya.

Jadi, dia bukan saja menyebalkan, melainkan juga mengerikan.

 Dunia dalam stoples yang kami tinggali ini sangat sempit. Hanya sekelebat-sekelebat sudah bisa kujangkau semua sisi langit. Bahkan Tuhan sering menempelkan wajahnya di langit, begitu dekat denganku. Doa akan cepat sampai jika aku dekat dengan tuhan. Pasti itu.

Aku masih berdoa dengan sungguh-sungguh ketika Tuhan muncul di langit dan menaburkan makanan. Itu sebuah jawaban! Jika perut Ikan Batu predator itu selalu kenyang, apalah gunanya dia memakanku?

Predator itu pemalas. Dia tidak banyak bergerak dan hanya makan makanan di dekatnya saja. Namun, aku pikir, kalau nanti makanan ini habis sedangkan dia masih lapar, dia pasti akan memakanku juga.

Aku gundah, dan kuputuskan untuk tidak akan banyak makan. Aku akan membawakan makanan-makanan yang melayang-layang itu ke dekatnya, bahkan menyuapinya jika perlu.

Demikianlah aku melakukan itu dari waktu ke waktu. Aku tidak lagi berdoa meminta teman untuk bermain yang menyenangkan dan tampan dan menjadi suamiku; aku melupakan doa itu, dan menjalani hidupku sebagai ikan malang yang tinggal dalam dunia kecil stoples plastik bersama Ikan Batu predator yang menyebalkan dan mengerikan.

Setelah lama aku hanya bersama Ikan Batu, Tuhan mendadak mengabulkan doaku yang telah lampau itu. Dia mencemplungkan ke dalam stoples kami seekor Ikan Pangeran yang tampan, menyenangkan, dan mempunyai otak.

Ikan ini adalah ikan yang rakus. Begitu berada dalam stoples kami yang mengambang banyak makanan, dia berlaku seolah bertahun-tahun tidak pernah makan sehingga hendak menghabiskan semua makanan yang sengaja kusisakan banyak-banyak untuk predator itu.

Ketika dengan gusar aku menghardiknya, dia berkilah bahwa memakan semua makanan yang mengambang di langit-langit itu adalah tindakan penuh syukur. Aku katakan kepadanya bahwa ada Ikan Batu di sini dan predator itu bisa mengamuk. Dia bilang itu justru bagus.

“Jika dia mengamuk, dan stoples ini pecah, kita bisa pergi,” katanya. Dari perkataannya itu aku menyimpulkan bahwa dia memang jawaban doa-doaku: teman bermain yang menyenangkan dan tampan dan menjadi suamiku.

Pada akhirnya Ikan Batu mengetahui keberadaan ikan lain di stoples ini, dan dia marah besar. Dia mengamuk hingga stoples kami berguncang-guncang dan jatuh dan pecah dan kami menggelepar-gelepar sampai menemukan saluran air dan berenang ke selokan yang hitam, bacin, dan menjijikkan. Ini benar seperti yang dikehendaki Ikan Pangeran itu sehingga, meskipun prosesnya menyakitkan, mendebarkan, dan mengerikan, aku menghadapinya.

Aku berenang mengikuti Ikan Pangeran, sementara Ikan Batu mengejar.

Sampai di sini, aku lupa kelanjutan cerita ikan itu. Atau mungkin cerita itu memang tidak kulanjutkan—aku tidak tahu. Namun, pada waktu sekarang kelanjutan cerita ikan itu tidak lagi penting.

***

“Sudah?” Dia bertanya, kali ini aku mengangguki.

“Sudah,” sahutku.

Dia bangkit dari duduknya, lalu memberesi bekas makananku, membersihkan meja, dan membawa peralatan makan malam kami ke tempat cuci. Aku mendengar bunyi pancuran air keran, denting beling, dan logam, lalu dia kembali ke hadapanku, duduk di depanku, di kursinya sedari tadi.

Di belakangnya ada akuarium.

***

Ikan Pangeran itu entah di mana, entah pergi ke mana, aku lupa. Aku hanya ingat, aku kembali bersama Ikan Batu, yang kukira predator itu, kembali ke dalam stoples kami, sampai sekarang, sampai beranak cucu.

Latest posts by Aveus Har (see all)

Comments

  1. Bass Reply

    menarik

    • halub© Reply

      Asli satire, ini kren banget nyenggol ke mana mana, terutama yg lagi rame akhir akhir ini, bravo!

      • Misspiaw Reply

        Klo boleh tau yg lagi rame tuh apa ya mas/mbak ?

      • TeresaVellya Reply

        Nangiisssdddd bagus bgtt. Akkkhh atiku cenut2:)

    • Ade Kurniawan Reply

      Cerpen yang sangat menarik, gendeng!!

  2. Galih Agus Santoso Reply

    keren bingits

  3. Rudamimy Reply

    sangat menarik! aku baru pertama kali baca cerpen seperti ini and yeah, I like it. Entahlah, terkadang dalam hidup orang yang terlihat cuek, mengerikan, dan kasar adalah orang yang sebenarnya mengerti kita, bukan dengan cara yng orang lain lakukan, namun dengan caranya sendiri. Terima kasih sudah menulis cerpen ini dan mempublikasikannya. BIG HUG FOR YOU <3

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!