Cermin Retak Akademisi Kita

karliedrawingjournal.womensbest.ru

 

 

Prolog

Menjadi bagian ekosistem jurnal ilmiah di sebuah institusi sejak sekitar satu dasawarsa lalu memberi saya banyak hal yang pada satu waktu perlu direnungkan kembali. Yang demikian semakin terasa mendesak saat ini ketika terjadi pergeseran paradigma terkait arti penting publikasi ilmiah dalam dunia akademik. Baik disadari maupun tidak, sebagian akademisi bangsa ini tampaknya sedang membakar lalu melarung dirinya sendiri.

Dalam sejumlah pertemuan pengelola jurnal ilmiah yang saya ikuti, tidak hanya satu-dua pemateri dengan nada bercanda menyampaikan “Hanya orang-orang gila yang mau mengurusi jurnal ilmiah.” Sayangnya, kalimat itu tidak lebih daripada sebuah canda kosong dan penghiburan semu karena pada realitasnya tidak ada sebenar-benar apresiasi atas kegilaan tersebut. Yang lebih memprihatinkan, para penulis yang mengirim artikel untuk kemudian dipertimbangkan pemuatannya di jurnal ilmiah juga melakukan pelecehan yang sama. Dari titik inilah tulisan ini—dengan berat hati—berangkat, meskipun saya tidak tahu akankah mencapai tujuannya.

Mentalitas

Setiap pribadi yang setidaknya satu kali mengirim artikel ke jurnal ilmiah tentu memahami bahwa gerbang pertama yang perlu mereka lewati adalah gaya selingkung. Gerbang ini krusial karena memberi gambaran awal apakah si penulis memiliki kesungguhan dan mengenali karakteristik jurnal ilmiah yang dituju. Namun, yang terjadi tidak selalu demikian, sebagian penulis seolah-olah sedang menyebar acak surat lamaran kerja dengan format sama disertai “syukur-syukur dapat panggilan.”

Pada tataran berikutnya adalah raga artikel ilmiah itu sendiri. Di luar yang memang memperlihatkan kematangan yang bahkan mengagumkan, sebagian besar artikel yang pernah saya baca masih berkategori sangat mentah. Artikel-artikel ini sekadar pemampatan laporan penelitian dengan karakteristiknya yang kaku sehingga keterbacaannya pun tidak selancar apabila telah menjelma artikel. Penyunting memang senantiasa ada, tetapi alangkah keterlaluan apabila dengan sengaja menjadikan penyunting sebagai tukang jahit, obras, dan permak tanpa nama demi memasang kancing lepas, merapikan helai-helai benang yang semestinya telah disadari penulisnya, dan merombak ukuran. Dalam film The Hours (2002) racikan penulis skenario David Hare dan sutradara Stephen Daldry, Leonard Woolf berujar, “Do you think it’s possible that bad writing actually atracts a higher incidence of error?” Bagi saya, jawabannya adalah “Ya.” Para penulis seolah abai bahwa mereka menulis untuk pembaca lain, bukan untuk diri mereka sendiri di buku harian menjelang tidur malam dalam kondisi superlelah.

Hal ini diperparah dengan adanya penulis yang melampaui tenggat perbaikan artikel ilmiahnya sehingga meyebabkan efek domino berupa ketertundaan penerbitan. Sementara itu, di sisi lain, sebuah jurnal ilmiah harus berhadapan dengan lembaga akreditasi yang menjadikan keajekan penerbitan sebagai salah satu pembobot nilai layak atau tidak layak terakreditasi. Jika sudah seperti ini, lagi-lagi pengelola jurnallah yang pada akhirnya dilempar ke kolong bus yang sedang kencang melaju.

Bagaimanapun, yang paling parah yang beberapa kali saya jumpai adalah ketika saya menerima pesan singkat atau surel berisi pertanyaan “Apakah masih ada slot untuk edisi x? Jika ada, saya akan mengirim artikel saya.” Betapa instanisasi telah merembes bahkan membanjiri sebuah ranah yang sejatinya memerlukan ketekunan panjang untuk menambal-sulam berulang-ulang hingga anyaman itu tidak lagi sebidang saringan gajah.

Rangkaian yang saya uraiakan tersebut sedikit-banyak memperlihatkan bagaimana mentalitas sebagian akademisi kita dalam kaitannya dengan jurnal ilmiah nasional. Terlepas dari kewajiban bahkan tekanan yang mungkin mereka terima dari institusi tempat bernaung, tidakkah terbersit di dalam pikiran mereka untuk memelihara integritas?

Paradigma

Seiring invasi si Pangkalan-Data-yang-Terlalu-Sering-Disebut-Namanya yang selama beberapa tahun terakhir ini semakin mengakar, saya melihat kecenderungan pada dunia akademik kita untuk memusatkan perhatian ke sana. Akibatnya, nasib jurnal ilmiah nasional—baik terakreditasi maupun tidak—menjadi taruhannya karena artikel-artikel “terbaik” tidak lagi mengetuk pintu mereka. Mengapa kesungguhan ketika mengirim ke jurnal ilmiah internasional dan terindeks tidak penulis berlakukan ketika mengirim ke jurnal ilmiah nasional? Apakah lagi-lagi mentalitas jajahan masih mengakar di relung-relung terdalam akademisi kita—yang bahkan mungkin telah memahami pascakolinialisme hingga ke initisarinya—sehingga sering kali lebih memilih tampil habis-habisan untuk yang di luar sana alih-alih untuk yang di dalam? Belum lagi h-index yang menjadi penanda utama seorang akademisi layak memperoleh apresiasi.

Jika hal ini dilanggengkan, lantas di manakah kedudukan para akademisi yang setiap hari mengisi ruang-ruang perkuliahan demi menjadi rekan para pemimpi belia membangun jembatan menuju masa depan mereka? Mereka yang tidak pernah terekam oleh Pangkalan Data bukan berarti tidak bermakna.

Mungkin saya saja yang tidak mengerti kerangka dan alur berpikir di balik sengkarut yang digagas para penentu kebijakan ini. Sama halnya ketika saya tidak mengerti ketika sebagian orang melakukan eksodus menuju pascastrukturalisme, sementara strukturalisme belum sepenuhnya mereka jelajahi tetapi sudah mereka anggap superusang. Sebuah lompatan besar tanpa didahului pembangunan landasan pacu yang solid. Juga ketika sejumlah institusi pendidikan tinggi beramai-ramai membidik status Universitas Berkelas Dunia, sementara mereka berdiri di tanah air sebuah bangsa yang belum genap satu abad dan masih perlu terus-menerus memperkokoh fondasi dan pilar-pilar lantai dasarnya. Ada yang perlu kita renungkan kembali terkait paradigma yang telanjur diamini oleh banyak orang ini.

Epilog

Yang tergelap adalah menghapus, melupakan. Rasanya sebagian dari kita sedang menghapus dan melupakan yang telah kita miliki—diri kita sendiri—demi merengkuh sesuatu yang mungkin baru menjadi hak kita beberapa dasawarsa mendatang.

Bramantio

Pengelola jurnal Mozaik Humaniora, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga.
Bramantio

Comments

  1. Idrus Ali Reply

    Mansaaaap

Leave a Reply

Your email address will not be published.