Curhatan Seorang Dosen Perihal Kemampuan Menulis Mahasiswa

Saya melihat banyak mahasiswa tidak diajari cara menulis yang memadai di perguruan tinggi. Saya bersekolah di perdesaan yang jauh dari kemewahan dan harus belajar bagaimana menulis huruf pertama hingga huruf berikutnya kemudian merangkainya dengan benar. Saya benar-benar bisa menulis “baik” pada tahun pertama kuliah di universitas. Tapi, salah satu hal yang mengganggu saya dengan menulis di perguruan tinggi adalah sifat subjektifnya. Saya menulis banyak makalah di universitas dan tidak ada standar yang seragam.

Sewaktu studi S-2, beberapa profesor saya menyukai apa yang saya tulis dan memberi saya nilai A, sementara profesor yang lain menyukai pekerjaan saya dan memberi saya nilai B. Seorang profesor ingin agar saya sesingkat mungkin dan memotong 1–2 halaman makalah. Dia percaya bahwa menjadi singkat dan langsung pada intinya adalah keterampilan yang berharga. Profesor lain memiliki batasan ketat dalam rentang 5–7 halaman. Jika saya tidak membuat rentang halaman ini, mereka tidak ingin membaca makalah saya. Dan kemudian, ada rubriknya. Beberapa profesor memiliki rubrik yang sangat rinci tentang bagaimana mereka akan menilai makalah mahasiswa; apa yang mereka inginkan dan gaya penulisannya. Sementara profesor lain hanya akan memberi mahasiswa petunjuk dan membiarkan mereka memikirkan semuanya sendiri.

Setelah melalui banyak jam kerja selama bertahun-tahun menulis, saya mengetahui bahwa para profesor saya memiliki gaya menulis tersendiri yang mereka sukai dan satu-satunya cara untuk memperbaikinya adalah dengan berbicara kepada mereka. Mengubah tulisan saya menjadi apa yang mereka anggap baik dan menguntungkan akademik saya. Di samping itu, gagasan bahwa mahasiswa “payah dalam menulis” adalah klaim agak ambigu yang mungkin terbuka untuk interpretasi lain. Selain itu, memang benar bahwa beberapa mahasiswa tidak mahir menulis sebagaimana mestinya, agar bisa secara konsisten, setidaknya di beberapa bidang.

Ada banyak faktor yang mungkin, tetapi keseluruhan masalahnya adalah mereka belum cukup menulis. Bacaan mereka belum cukup mumpuni. Dalam hal menganalisis sesuatu belum bisa dikatakan baik. Ungkapan lama mengatakan “latihan membuat sempurna” benar-benar terjadi kepada manusia. Salah satu bahan untuk menguasai sesuatu adalah kebiasaan melakukannya terus-menerus dan mempelajarinya. Tidak ada yang instan. Banyak mahasiswa tidak memiliki kebiasaan membaca dan menulis cukup banyak hal yang mereka butuhkan untuk menulis agar berhasil di perguruan tinggi. Mahasiswa sering kali hebat dalam hal-hal seperti menari, bermain video game, membaca lirik dari ratusan lagu, berolahraga, dan lainnya. Ini karena mereka telah melakukan hal-hal ini berulang kali sepanjang hidup mereka. Banyak mahasiswa tidak memiliki latar belakang dan kebiasaan menulis secara konsisten, terutama jenis penulisan akademik yang akan mereka lakukan di perguruan tinggi.

Sebuah pengalaman, saya pernah membaca berita tentang skripsi mahasiswa setebal 1000-an halaman. Apakah saya akan mengatakan ini suatu pencapaian luar biasa dan membanggakan? Atau, apakah saya akan angkat topi karena si mahasiswa berhasil menyelesaikan skripsi setebal itu? Mungkin, saya akan angkat topi dan memberi apresiasi karena berhasil menyelesaikannya. Bagi si mahasiswa, hal itu mungkin sesuatu yang melelahkan, penuh perjuangan, melegakan dan membanggakan.

Dulu, skripsi saya hanya setebal 100-an halaman. Tesis saya hanya setebal 90-an halaman. Profesor saya justru meminta saya untuk menyederhanakan beberapa kalimat dan membuang bagian yang tak penting. Skripsi dan tesis saya itu tak lebih tebal dari skripsi mahasiswa zaman sekarang. Sesuatu yang seharusnya dapat dijelaskan dengan ringkas justru dibuat sangat panjang, tidak menyentuh substansi, terlalu banyak kutipan teori, kadang tanpa analisis dan ketika membacanya menguras tenaga karena mutar-mutar tak keruan. Dalam ruang akademik perguruan tinggi, tebal tidaknya sebuah skripsi adalah suatu keniscayaan. Ada anggapan begini: tebal berarti lebih baik dari yang tipis. Tebal dan tipis menandakan “kualitas” penulis skripsi dan mereka akan diberikan tepuk tangan. Atau, bisa jadi, yang membaca memang tidak membacanya karena malas. Atau kemungkinan lain: sudah malas melihat penulisnya yang tak kunjung paham.

Dewasa ini, Anda bisa sekadar melirik-lirik ke rak-rak skripsi perguruan tinggi untuk memeriksanya. Hampir dipastikan, ada beberapa temuan yang mungkin saja akan Anda temui: Pertama, tak sedikit skripsi dengan teks yang berpanjang-panjang kali lebar tapi tak jelas dan tak to the point. Kedua, kutipan banyak sekali dan tanpa analisis. Ketiga, lampiran skripsi lebih tebal ketimbang substansi yang dibahas.

Pengalaman lain. Dari tahun ke tahun selama saya mengajar, setiap angkatan memiliki masalah kurang lebih sama. Dalam setiap menulis esai, selalu ada mahasiswa yang kewalahan dalam menulis dan akhirnya berlaku curang dengan memplagiat tulisan orang lain. Saya khawatir, apakah mahasiswa tidak mampu mengejawantahkan pikirannya sendiri dalam bentuk tulisan atau memang malas berpikir sehingga mengambil jalan pintas dengan memplagiat karya orang lain? Masalah ini selalu saya temukan di sela-sela memeriksa tugas mahasiswa. Padahal, saya cuma meminta pandangan mereka. Katakanlah, dari lima puluh mahasiswa yang diminta menulis esai, hanya lima di antaranya yang saya anggap mampu menulis. Yang mampu menulis itu juga belum bisa dikatakan baik karena beberapa aspek masih perlu diperbaiki. Akan tetapi, itu jauh lebih baik ketimbang tidak bisa menulis barang satu baris saja. Yang bikin saya garuk kepala, jika dihadapkan pada sebuah kasus, jangankan memberikan argumen dan analisis bukti secara kritis, masih banyak mahasiswa tidak memahami kosakata, tata bahasa dasar, gaya, dan tanda baca yang baik dan benar. Apakah bahasa Indonesia tidak diajarkan dengan baik di sekolah-sekolah kita?

Karena harus dipahami bahwa pada suatu hari nanti mereka akan berada di tengah-tengah masyarakat. Jika mereka yang lulus dari perguruan tinggi dengan kemampuan menulis memprihatinkan, apa yang akan terjadi nantinya? Mereka akan mulai menyadari: Sebagian besar pekerjaan kantoran mengharuskan mereka menulis laporan, proposal, dan sebagainya. Bahkan pekerjaan non-kantor mengharuskan mereka menulis surat yang mungkin akan dilakukan setiap hari. Bahkan, seniman dan insinyur harus menulis dan menulis. Sedangkan untuk ilmuwan, bahkan fisikawan harus menulis makalah, dan makalah yang bagus dan ditulis dengan baik membuat mereka diperhatikan. Dan, makalah-makalah itu akan dianggap berkualitas jika menembus jurnal-jurnal bereputasi dan memiliki manfaat baik untuk kemajuan masyarakat.

Jadi, bagaimana meningkatkan keterampilan menulis akademis mahasiswa di perguruan tinggi? Setiap orang memiliki cara tersendiri bagaimana meningkatkan keterampilan menulisnya. Tetapi, berdasarkan pengalaman saya ketika mengajar di perguruan tinggi, mahasiswa memang harus “dipaksa” untuk membaca, menulis, umpan balik, membaca ulang, menulis ulang, dan umpan balik atas karya mereka sendiri. Beberapa mahasiswa bahkan secara khusus saya minta membaca buku dan meminta mereka menulis apa yang dibahas dalam buku itu dan apa yang mereka pikirkan ketika membaca buku itu kemudian menuliskannya dalam bentuk esai. Dengan begitu, saya akan memahami gaya belajar dan aspek-aspek apa saja yang perlu diperbaiki.

Di perguruan tinggi, menulis dengan jelas dan ringkas sangat penting. Pikiran harus menjaga struktur logis dan perkembangan dari satu kalimat ke kalimat berikutnya atau dari satu paragraf ke paragraf berikutnya harus koheren. Apa pun yang mahasiswa tulis tanpa referensi menyiratkan bahwa itu adalah pandangan mereka sendiri. Tetapi dalam hal penulisan makalah akademik, karena mereka bukan ahli atau belum menerbitkan makalah apa pun, mereka harus selalu mendukung pandangan itu dengan mengutip referensi dari beberapa sumber tepercaya. Katakanlah, mahasiswa menulis definisi “pembelajaran daring”, jelas mereka tidak menuliskannya dengan pikiran sendiri, jadi harus merujuknya dari buku-buku, jurnal, atau sumber lain. Misalnya, mahasiswa saya minta mencari referensi terkait di Google Cendekia. Mengutip juga tidak sembarangan karena harus memahami kaidah-kaidah penulisan akademik. Saya ingin mahasiswa tidak hanya tahu mengutip, tetapi wajib menganalisis kutipan referensi yang mereka ambil. Dengan begitu, mereka akan terbiasa mengaktifkan daya analitisnya ketika diminta untuk menjelaskan sesuatu.

Hemat saya, mahasiswa membutuhkan sesuatu untuk ditulis dan perlu menganalisis teks untuk melihat pilihan apa yang dibuat dalam hal struktur, susunan kata, penyajian ide, bukti dan pendapat. Mereka mendapatkan itu semua dari membaca. Membaca adalah kuncinya. Meminta mereka menulis tentang sesuatu yang telah mereka baca dan dengar dari penjelasan materi yang saya sampaikan, memberi mereka kesempatan untuk fokus pada topik dan memungkinkan mereka membuat pilihan tentang struktur, mempraktikkan parafrasa, mempertanyakan bias penulis, dan konflik kepentingan. Umpan balik harus fokus pada satu hal dan bagaimana mahasiswa mengomunikasikan ide, yang bisa berarti struktur, organisasi, bukti dan dukungan. Setelah mahasiswa mampu mengomunikasikan idenya dengan menulis ulang, kemudian umpan balik dapat berkembang ke beberapa fitur lain seperti tata bahasa. Umpan balik juga bisa datang dari pengajar, bisa juga dari mahasiswa lain. Intinya, adalah mengambil proses pendekatan yang memungkinkan mahasiswa fokus pada satu masalah, pada satu waktu dan membuat mahasiswa tidak merasa terbebani oleh kegagalan dalam menulis di perguruan tinggi.***

Roy Martin Simamora

Comments

  1. Ridho Laksamana Reply

    Saya menemukan tulisan ini berasa saya seorang dosen yang memperhatikan hal-hal tsb. Walaupun saya hanya seorang mahasiswa yg belum terlalu mengerti perihal menulis ini.

  2. Ridho Laksamana Reply

    Selalu semangat pak dalam memerhatikan hal-hal seperti ini. Sebab sekarang ini banyak orang berilmu yang hanya mementingkan kepentingan nya sendiri, kemajuan nya sendiri. Tanpa memedulikan lingkungan sekitarnya.

    Semangat pak dosen 🔥

  3. Dwi Krisna aji Reply

    Saya akui kondisi demikian memang benar terjadi. Beberapa kali saya baca skripsi dari kakak tingkatan, dan hasilnya dari skripsi setebal 130 halaman, sekitar 60 halaman berisikan lampiran. Belum termasuk kalimat yang terlalu banyak mengutip pendapat ahli dll.

    Tapi disisi lain, ada juga beberapa dosen menyuruh mahasiswa untuk memperbanyak halaman. Barangkali, kondisi tersebut juga mendorong mahasiswa untuk mempertebal skripsi atau makalahnya.

  4. Dewi Setyowati Reply

    Dulu skripsi saya hanya 50 halaman sudah termasuk lampiran. Ketentuan dari dosen pembimbing seperti itu. Tantangan untuk menyajikan hasil penelitian dengan super singkat. Tapi menurut saya, hasilnya malah jadi enak dibaca. Orang juga bisa langsung tahu apa inti dari penelitian tsb tanpa harus baca berlembar-lembar.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!