[De-]Madura[logi]: Merobek Narasi Studi[-Kolonial] Madura

instagram: avifahve

Dalam kepustakaan “madura-studies”, Madura selalu ditulis sebagai hamparan geografis yang kosong, kering-kerontang, panas, dan penuh kekerasan. Madura selalu duduk dalam posisi marginal dalam studi ke-Madura-an itu sendiri. Bahkan hingga kini, dalam banyak studi, penduduk Madura masih saja selalu digambarkan urakan, cepat marah, tidak tahu tata krama, tidak terkendali, tidak beradab, dan bahkan (diibaratkan) seperti binatang.[1] Konstruksi wacana ini seolah ingin meletakkan Madura sebagai “barang purba” yang baru ditemukan, yang masih kosong makna, yang tidak punya identitas, sehingga kemudian dengan bebas ditafsir, diinterpretasi, melalui parameter-parameter teoritik yang keberpihakannya tentu sangat bias. Pada titik inilah, Madura kemudian didefinisikan ulang, sehingga jauh terlempar dari identitas materialnya sendiri—yang origin. Ya, di sinilah pula, detik-detik munculnya beragam stereotip orang Madura—dari ujung rambut sampai ujung kaki—yang hari ini masih berserakan dalam lembaran-lembaran teks tentang Madura.

Nah, sampai hari ini, mungkin sudah ratusan riset tentang Madura dari berbagai kalangan, baik dari para akademisi, peneliti, dst. Tetapi kita mungkin sah bertanya hari ini, dari jumlah kuantitas riset yang terus meningkat—dengan mendudukkan Madura sebagai objek kajian—tersebut: apa yang bisa dicapai oleh Madura hari ini? Apakah riset-riset tersebut telah benar-benar berkorelasi dengan kehidupan rakyat-rakyat Madura pinggiran yang hari ini termarginal dan tereksploitasi? Apakah benar, riset-riset tersebut menyuarakan secara kritis bagaimana rakyat Madura sampai hari ini berjuang hidup? Tentu tidak! Karena sejumlah studi tentang Madura sampai hari ini tak pernah menyentuh narasi-narasi “akar rumput” di Madura yang sampai detik ini sedang tersubordinasikan oleh kebijakan-kebijakan negara yang neo-liberal ini.

Baiklah, mari kita tunjuk langsung, sebagai kritik dan autokritik: bahwa studi tentang Madura selama ini (sesungguhnya) hanya terdiri dari rongsokan-rongsokan wacana yang pamer data, tetapi miskin pardigma(-kritis). Teks-teks tentang Madura selama ini adalah kumpulan abjad-abjad yang bisu, ia terlempar jauh dari problem-problem substansial yang sedang membelit rakyat-rakyat Madura itu sendiri. Dengan kata lain, kajian Madura hari ini malah menjadi tirai yang membungkam suara-suara parau masyarakat akar rumput, yang selama ini terjajah oleh ekspansi ekonomi-politik neolibral, yang dihalalkan oleh “kitab suci” bernama kebijakan-kebijakan negara. Artinya, di balik megahnya Madura yang terus dikampanyekan secara ilmiah, terdapat jejak historis yang kini justru sengaja dipenggal, kemanusiaan yang sengaja disingkirkan, keadilan yang sengaja diinjak-injak, dan kedaulatan rakyat Madura yang sengaja diremukkan, di atas standar-standar teoritik tertentu, yang kemudian diobjektifikasi dan diverifikasi, sehingga menjadi sebuah displin keilmuan tersendiri.

 

Di Balik Studi[-Kolonial] Madura

Tentu, argumentasi di atas ini bukan spekulasi kosong. Kita bisa mendedah secara langsung bahwa studi ke-Madura-an yang hari ini berlangsung telah berhasil menggeser paradigma kritis ke-Madura-an kita ke dalam warisan nalar—dalam istilah Antonio Gramsci disebut—hegemonik, yakni ke model nalar kolonial era Belanda, yang sejak dulu telah melakukan pendisiplinan pengetahuan dengan meletakkan dan memaksa figur orang Madura terdefinisikan sebagai identitas yang bodoh, irasional, sebagai sosok yang menakutkan dan sangat terbelakang. Sebagai buktinya, penulis akan mengutip artikel mengenai definisi penduduk asli Madura yang sempat diterbitkan oleh salah satu surat kabar kolonial Belanda, De Java-Post tahun 1912, yaitu sebagai berikut:

“[…] paras mereka [orang Madura] kejam dan keras; matanya kurang ajar, dengan tulang pipi lebar dan rahang beringas di bawahnya. Tubuh mereka berotot dan langkahnya tegap; orang yang mata dan perasaannya yang peka terhadap hal demikian akan mengenali suku bangsa pahlawan dalam gerak langkah mereka, anak-cucu prajurit dengan campuran kelembutan dan keberanian yang tidak seimbang […] mereka membunuh tanpa berpikir dua kali, tapi secara terang-terangan; dengan menggenggam belati, mereka menyerang dari depan, dan mereka mencibir racun, yang mereka biarkan menjadi bagian orang Jawa, kaum pengecut dan penghasut diplomatik.”[2]

Karakteristik penduduk Madura yang direpresentasikan, diformasikan, bahkan dideformasikan, secara terus-menerus tanpa henti (sebagaimana di atas) oleh studi kolonial ini, berhasil melakukan konstruksi secara ilmiah, bahwa Madura—dengan penduduknya yang terbelakang—adalah pulau yang tak berharga, yang miskin, yang hina, dan wajib dijauhi. Implikasi dari konstruksi studi ini membuat banyak orang kemudian sinis, dengan melihat Madura sebagai wilayah buas dan membuat orang takut untuk singgah. Inilah stretegi kolonialisme klasik: dikonstruk terbelakang dulu, kemudian dikuasai dan dijajah. Nalar kolonial ini adalah model nalar Eropa abad 19 yang ekspansionis ke negara-negara jajahan atas nama “misi pemberadaban” (civilizing mission).[3]

Bertahun-tahun bangsa ini merdeka, ternyata warisan studi kolonial ini masih saja tetap melekat dengan kuat. Hal ini sangat tampak dalam studi-studi terakhir tentang Madura yang sampai saat ini menjadi rujukan banyak orang untuk menyegarkan wacana tentang Madura. Salah satu nama termasyhur yang sering menjadi referensi dalam diskursus modern tentang Madura tersebut adalah Huub De Jonge. Antropolog asal Belanda yang dulu menggarap proyek risetnya dengan menetap di Parenduen, Sumenep, sejak akhir tahun 1970-an hingga awal 1980-an ini, adalah peneliti yang diam-diam memungut kembali spirit kolonial di Madura dengan sangat sistematis. Salah satu kumpulan tulisannya yang kemudian dibukukan dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah Garam, Kekerasan dan Aduan Sapi. Huub menulis dalam salah satu karyanya—yang sampai saat ini tetap menjadi rujukan banyak orang—tersebut, bahwa orang Madura adalah buruh terbaik, dengan mentalitas pekerja yang ulet dan mapan. Lebih lanjut ia menulis:

“Hampir semua orang memuji semangat kerja laki-laki dan perempuan di Madura […] untuk membabat hutan, memotong rumput, dan meyiapkan lahan, tidak ada buruh yang lebih baik daripada orang Madura. Walaupun untuk menggali tanah di bawah pohon, mereka terlalu ceroboh dalam menggunakan cangkul (pacol).”[4]

Mendudukkan rakyat Madura sebagai buruh terbaik berarti sama saja mengampanyekan Madura sebagai wilayah yang memang cocok untuk selalu dijajah. Karena sebaik apa pun menjadi buruh, ia figur yang selalu dalam posisi marginal, terdeskriminasi, dan terpinggirkan di bawah kuasa sang tuan/majikan. Studi Huub tentang kebudayaan orang Madura ini, menjadi salah satu pendisiplinan pengetahuan yang beroprasi untuk “menetralkan” sikap-sikap ekploitatif warisan kolonial. Alih-alih memuji cara-cara kerja orang Madura, tetapi sebenarnya ia “menggelapkan” fakta proletarisasi rakyat Madura oleh sistem akumulasi modal kolonial, seperti: tanam paksa dan perampasan hasil tanam pangan warga Madura, oleh penjajah Belanda dulu.

Warisan kolonial yang kemudian dimodifikasi menjadi “humanis” oleh Huub De Jonge ini, kini justru tampil dengan wujudnya yang lebih halus, dan bekerja lebih canggih. Proses kolonialisasi itu kini berlangsung melalui perampasan ruang hidup, ketimpangan penguasaan lahan, kejahatan industri ekstaktif dan penghancuran-penghancuran SDA, yang diakibatkan oleh akumulasi kebijakan negara pro-pemodal dan kapitalisme global. Melalui proyek pembangunan Madura dan opini-opini pertumbuhan ekonomi, orkestrasi perampasan alat produksi warga justru kini dengan meriah terjadi di Madura. Di balik visi-visi populis negara yang sampai detik ini terus berlangsung, dengan mata terbuka hari ini kita bisa menyaksikan, Madura sedang dijual ke tangan-tangan investor dan korporasi.

Sampai di sini kita bisa menyaksikan dengan mudah, bahwa strategi kolonial dahulu—yakni dengan merendahkan Madura terlebih dahulu baru kemudian menjajah—hari ini diadopsi oleh negara dan korporasi untuk menguasai Madura. Studi dan riset-riset tentang Madura yang sejak dulu tiada habisnya mendakwahkan keterbelakangan Madura, adalah jembatan bagi kekuasaan (baca: oligarki) untuk menjadikan Madura sebagai surga para pemodal. Dalam keadaan ini, kemiskinan direduksi hanya karena absennya investasi, minimnya pembangunan dan tidak adanya industri ekstraktif. Dalam celah inilah, gurita kapitalisme dengan beragam wujudnya, ia melakukan dominasi modal, melalui pabrik dan industri, dengan menjadikan rakyat-rakyat kecil sebagai buruh di tanah kelahirannya sendiri. Tidak heran, dari konsekuensi yang kontras ini, Lenin dan Kautsky menyebut kapitalisme adalah bagian dari imperialisme. Mereka memandang: “imperialsm as the highest stage of capitalism.[5]

 

[De-]madura[logi], Kritik dan Metodologi

Dalam situasi inilah, sebagai koreksi, kritik dan countering terhadap konstruksi wacana global (baca: kolonial) tentang Madura, sesuatu yang mendesak dan harus segera kita lakukan adalah—meminjam istilah Edward Said—writing back (menulis ulang) Madura yang selama ini telah terkooptasi oleh konstruksi pengetahuan global, yang sangat politis itu. Sehingga mungkin tidak akan berlebihan, saat kajian tentang Madura sudah meriah dilakukan sejak dulu, oleh orang-orang yang kebanyak dari luar Madura, penulis—sebagai orang Madura tulen—mengajukan agenda perombakan terhadap struktur pengetahuan tersebut, yang selama ini sudah sedemikian rupa mendefinisikan, meng-interpretasi dan merumuskan apa dan siapa Madura, sehingga sampai melanggengkan aksi keji kolonialisme, perampasan ruang hidup, sebagaimana yang terjadi hari ini. Agenda perombakan pengetahuan tentang Madura ini rasanya tepat untuk kemudian disebut dengan istilah, “Demaduralogi”.

Demaduralogi adalah gugus pengetahuan kritis yang hadir ke tengah-tengah kita tepat dalam keadaan di mana kajian Madura selama ini diam-diam menjadi “tulang punggung” atas ekspansi neoliberalisme. Dari itulah, Demaduralogi di sini bukan sekedar rakitan abjad dari ruang kosong, yang tiba-tiba hadir hanya untuk memeriahkan pentas ilmiah tentang Madura. Lebih dari itu, ia adalah kumpulan pemikiran, kritisisme, imajinasi dan suara-suara “akar rumput” yang sejak dulu terkunci rapat di bawah dominasi kajian (kolonial) tentang Madura. Jika sejak dulu Madura dan orang-orang Madura selalu menjadi dan dijadikan objek kajian, penelitian, atau riset, Demaduralogi menempuh jalan berbeda, yakni: dengan mendudukkan Madura sebagai subjek untuk mengkaji, baik untuk dirinya sendiri atau bagi sesuatu yang berada di luar dirinya. Dengan kata lain, jika selama ini Madura dan orang-orang Madura hanyalah penerima yang pasif, sebuah situs tes atau uji ilmiah bagi teori-teori pengetahuan yang datang dari Barat, maka kehadiran Demaduralogi untuk membalik keadaan itu semua, dengan menjadikan Madura sebagai teori atau pengetahuan itu sendiri.

Mungkin akan banyak orang bertanya: adakah teori dan metodologi ilmiah tentang Madura? Apakah Madura sudah menjadi laboratorium yang kini sudah menghasilkan penemuan-penemuan baru? Dan kalau memang ada teori tentang Madura, bagaimana ia ditemukan sampai ia teruji kredibilitasnya?

Mungkin untuk mendefiniskannya tidaklah mudah. Tetapi yang pasti melalu istilah tersebut, kita dapat memahami pelan-pelan bahwa Demaduralogi ini bisa diproyeksikan sebagai gairah pengetahuan baru untuk mempertanyakan, menggugat, meng-kritik, mengurai, seluruh pengetahuan atau kajian tentang Madura yang selama ini telah berlangsung. Ambisinya untuk menggugat tersebut, sudah terlihat dari awalan “de-“ dalam kata Demaduralogi. Sementara, akhiran “logi” dalam kata tersebut bisa berarti pengetahuan (logos) yang selama telah meletakkan Madura sebagai objek kajian. Memang tidak cukup sekadar mengurai pengertian secara etimologis ini. Sesuatu yang penting untuk juga ditekankan di sini, bahwa penulis juga meletakkan Demaduralogi ini—meminjam kalimat Walter Mignolo, subalternis asal Argentina, dalam konteks gerakan komunitas Zapatista—sebagai “project of inter-connections from subaltern perspective and beyond the managerial power and monotopic inspiration of any abstract universal.[6] Adaptasi perspektif subaltern di sini menjadi penanda bahwa sebenarnya Demaduralogi ini adalah formasi berlawan/melawan dari Madura sebagai subjek pengetahuan, terhadap kajian-kajian yang selama ini telah meletakkan Madura sekadar sebagai objek pengetahuan, satu keadaan yang selama ini telah menjadikan Madura sebagai fosil yang kering substansi.

Kongkritisasi pengetahuan subaltern dalam Demaduralogi ini bisa kita tujukan kepada rakyat-rakyat “akar rumput” Madura, seperti petani, nelayan, kiai-kiai Pesantren dan guru-guru ngaji di kampung. Merekalah subjek pengetahuan yang selama ini dibungkam untuk menjelaskan dirinya sendiri. Demaduralogi adalah mereka yang selama ini telah menjaga dan melestarikan kampungnya masing-masing, yang selama ini merasa hidup nyaman, tenteram, dengan budaya gumulnya sebagai orang-orang desa. Pada derajat inilah, Demaduralogi hadir menjadi negasi terhadap wacana-wacana yang senantiasa memosisikan rakyat Madura sebagai komunitas yang konservaif dan jauh dari kalkulasi-kalkulasi Modernisme yang neolib, sebagaimana yang telah dikategorikan sedemikian rupa oleh konstruksi pengetahuan Barat tenang Madura. Sebagai artikulasi dan resistensi rakkyat “akar rumput” Madura, Demaduralogi bergerak menyingkap pengetahuan ideologis “kaum penjajah”—atau dalam bahasa yang lebih luas dalam tatanan post-colonial condition: mereka yang tidak bertindak sebagai nabi yang menyuarakan kepentingan mereka yang tertindas, tersingkir, terpinggir dan tereksklusi.[7]

Pada posisi ini, Demaduralogi akan berusaha menyuarakan narasi ke-madura-an yang benar-benar utuh sebagai “homo-humanus” (yang oleh tradisi Yunani dicirikan sebagai, “zôon logon ekhôn”: makhluk rasional) dari interpretasi-interpretasi “homo-barbarus” (dalam tradisi Romawi Kuno dapat diartikan: manusia asing), yang selama ini, melalui kekuatan-kekuatan logos-nya, selalu mendudukkan Madura dalam pengertian yang menyimpang, sebagai subjek yang lemah, irasional, dan pantas selalu dijajah. Dengan kata lain, hadirnya Demaduralogi, tepat di hadapan kita saat ini adalah satu ijtihad epistemik yang berusaha melampaui narasi studi ke-Madura-an yang hari ini selalu menghasilkan kongklusi reduktif. Dan menjadi cikal bakal, atas problem material (ekonomi-politik) penduduk Madura belakangan ini. []

DAFTAR PUSTAKA

Baso, Ahmad. 2000, NU Studies, Yogyakarta: LkiS

Esposito, John L (ed. in chief). 1995. The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World, Oxford: Oxford University Press

Jonge, Huub De. 2011, Garam., Kekerasan dan Aduan Sapi: Esai-Esai tentang Orang Madura dan Kebudayaan Madura, Yogyakarta, LkiS

Martin, C. (ed.). 1985, Approaches to Islam in Religious Studies, Tucson: The University of Aizona Press

Nanji, Azim (ed.). 1997, Mapping Islamic Studies: Genealogy, Continuity and Change, Berlin: Mouton de Gruyter

Putranto, Mudji Surisni dan Hendar (ed.). 2004, Hermeneutika Pascakolonial Soal Identitas, Yogyakarta: Kanisius

Walter D. Mignolo, “The Zapatistas’s Theoretical Revolution: Its Historic, Ethics And Political Consequences”. Makalah konferensi “Comparative Colonialisms: Preindustrial Colonial Intersections”, 31 Oktober-1 November 1997.

[1] Lebih jauh, dapat dibaca seutuhnya dalam Huub De Jonge, Garam, Kekerasan dan Aduan Sapi: Esai-Esai tentang Orang Madura dan Kebudayaan Madura, (Yogyakarta, LkiS, 2011), hal. 123

[2] Deskripsi mengenai orang Madura ini diterbitkan dalam De Jawa-Post, 1912, 10-36: 574. Yang kemudian juga dikutip dalam Huub De Jonge, Garam Kekerasan dan Aduan Sapi Madura: Esai-Esai tentang Orang Madura dan Kebudayaan Madura, (Yogyakarta: LKiS, 2011).

[3] Mohammed Arkoun, “Islamic Studies: Methodologies”, dalam John L. Esposito (ed. in chief), The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World (Oxford: Oxford University Press, 1995), vol. 2, hal. 332-340. Bandingkan Richard C. Martin (ed.), Approaches to Islam in Religious Studies (Tucson: The University of Aizona Press, 1985); Azim Nanji (ed.), Mapping Islamic Studies: Genealogy, Continuity and Change (Berlin: Mouton de Gruyter, 1997).

[4] Opcit., Huub De Jonge, … hal. 71

[5] Lihat lebih jauh dan lebih utuh tentang relasi kapitalisme dan imperealisme ini dalam, Lenin, Imperialism, Thie Highest Stage of Capitalism, (Sydney: Resistance Book, 1999).

[6] Lebih detailnya, dapat dilihat dalam, Walter D. Mignolo, “The Zapatistas’s Theoretical Revolution: Its Historic, Ethics And Political Consequences”. Makalah konferensi “Comparative Colonialisms: Preindustrial Colonial Intersections”, 31 Oktober-1 November 1997. Bandingkan dengan, Ahmad Baso, NU Studies, (Yogyakarta: LKiS, 2000).

[7] Hendar Putranto, “Wacana Pascakolonial danal Masyarakat Jaringan”, dalam, Mudji Surisni dan Hendar Putranto (ed.), Hermenetika Pascakolonial Soal Identitas, (Yogyakarta: Kanisius, 2004), hal. 94

Moh Roychan Fajar

Lahir di Sumenep. Kuliah di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika).
Moh Roychan Fajar

Latest posts by Moh Roychan Fajar (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.