Demi Sebuah Ciuman

in Cerita Pendek by

ADA pembengkakan di gusi Ramon dan membuat darah yang terasa segar dan anyir dirasai oleh lidahnya. Ramon mengendus aroma wangi wajah pacarnya dan bersiap melumat bibir merah muda tanpa pewarna lipstik itu. Pacarnya menampik wajah Ramon dan mengeluhkan bau anyir dan gigi yang sudah terlumuri darah.

“Aku tak mau berciuman dengan vampir! Bersihkan semua gigimu dahulu dan aku berjanji akan memberikan ciuman tak terlupakan,” pinta pacarnya. Ramon pun kecewa.

Gigi gerahamnya semakin membengkak dan semakin sakit. Kesakitan yang dialaminya bertambah kuat saat ia mengingat penolakan pacarnya ketika hendak dicium. Hubungan yang sudah dijalin delapan belas bulan itu nyaris tanpa pergumulan empat lembar bibir. Pernah suatu kali, Ramon berhasil menempelkan bibirnya ke bibir pacarnya itu. Hanya sebatas itu, tak lebih.

Ramon tak pernah menyerah. Dan akibat peradangan gusi itu, hatinya semakin bulat untuk menemui dokter gigi. Ia memilih dokter gigi yang sama cantiknya dengan pacarnya. Pikirnya, supaya ia semakin bersemangat untuk membersihkan kotoran di sekujur gigi dan membuat aroma mulutnya sewangi bunga-bunga di taman.
***

“Sialan, bengkak lagi!” keluh si Gino.

Takdirnya sebagai geraham pertama atas membuatnya sering terkena pembengkakan gusi. Perilaku Ramon, pemilik seluruh gigi bersemayam, membuat Gino semakin geram.

Ia mendengar bahwa orang sering tak peduli dengan kesehatan gigi. Untuk menyikat sehari dua kali saja malas, hingga sisa makanan menempel di tubuh mereka. Lengket seperti kotoran yang terlempar di dinding kamar mandi, mengering dan mengeras.

Ramon pernah ke dokter gigi dua kali. Yang pertama, ia ditanya oleh perempuan berparas cantik itu.

“Merokok, ya? Kok tebal banget karang giginya?”

“Tak pernah, Dok. Ini pertama kalinya saya ke dokter gigi.”

“Hmmm…. Pantaslah. Kenapa kepikiran ke dokter gigi setelah bertahun-tahun tidak merawat gigi?”

“Ah, saya malu menceritakannya.”

“Tak apa, saya ingin tahu alasan pasien yang abai dengan giginya dan tiba-tiba sadar kemudian mendatangi saya.”

“Saya diprotes sama pacar. Ia tak mau berciuman selagi aroma mulut saya membuatnya mual.”

“Hanya itu?”

“Iya, Dok. Saya ingin sekali mencium pacar saya. Ingin merasakan kelembutan bibirnya.”

“Besar sekali, ya, pengorbanan untuk memperoleh ciuman?”

Ramon hanya tersenyum tipis. Dokter itu mempersiapkan peralatan yang sudah steril. Mulut Ramon dipaksa terbuka lebar supaya terlihat semua gigi yang dimilikinya. Ditemukanlah beberapa gigi yang bermasalah; yaitu geraham pertama atas, geraham ketiga kanan bawah, dan 3 geraham bawah kiri.

Geraham pertama atas mengalami pembengkakan gusi sehingga menunggu sampai kempes dan geraham ketiga kanan bawah sedang mengalami pertumbuhan dan tampak gusi mengalami peradangan. Tiga geraham bawah kiri memperlihatkan lubang-lubang nano yang kata dokter akan merusak jaringan gigi jika tidak segera ditambal. Ramon disarankan untuk kembali 2 minggu lagi.
***

“Ngeri sekali alat-alat dokter itu. Aku berharap Ramon tak kembali ke dokter itu,” kata Teno si gigi taring kanan.

“Gila, ya, kau. Kami menderita begini dan kau malah berharap Ramon tak ke dokter itu lagi? Apa kau tak memikirkan penderitaan kami?” sergah Gandi, si gigi geraham ketiga bawah sebelah kanan.

“Apa urusanku dengan penderitaan kalian? Kalian yang sakit, aku terkena imbasnya.” Teno tak mau kalah.

“Kau belum merasakan digerogoti oleh ulat-ulat putih yang tampaknya lucu tapi mematikan itu. Kau juga belum pernah merasakan kengiluan akibat gusi bengkak. Kau tak pernah merasakannya, jadi kau tak bisa memahami kami. Kalian, gigi depan yang beruntung, tak seperti orang-orang yang gigi susu atau gigi taringnya bermasalah. Jangan sombong dan tak menghiraukan kami!” Garin si geraham kedua bawah sebelah kiri membela Gandi.

“Kata siapa gigi orang bagian depan tak bagus? Memangnya kalian bisa melihatnya? Hanya kamilah yang di depan ini bisa melihat secara langsung gigi-gigi orang lain. Tahu apa kalian tentang gigi bagian depan? Jangan sok tahu kalian!” Tarin si gigi taring atas kanan menyergah sekumpulan geraham pesakitan itu.

Perdebatan tak berkesudahan soal keputusan Ramon untuk pergi ke dokter gigi terjadi terus-menerus. Ketiga puluh dua gigi itu terbagi menjadi dua kelompok, kelompok gigi depan dan kelompok gigi belakang. Kelompok gigi depan mendukung Ramon untuk tidak menemui dokter gigi lagi, sedangkan kelompok gigi belakang sangat mendukung Ramon untuk menemui dokter gigi lagi.

Sebenarnya ada dua gigi yang tak ingin meributkan soal keputusan Ramon itu, hendak pergi atau tidak ke dokter gigi, bukanlah persoalan yang perlu diributkan. Bagi kedua gigi ini yang terpenting ialah keduanya bisa tumbuh dan berkembang dengan sempurna tanpa harus meributkan hal remeh temeh yang membuat waktu terbuang.

Bagi keduanya, tindakan yang perlu disegerakan oleh Ramon ialah mengubah pola menggosok gigi. Ramon harus memperhatikan waktu yang tepat menggosok gigi yaitu sesudah makan dan sebelum tidur. Ramon juga perlu menggunakan cairan penyegar yang lama-kelamaan bisa membabat habis plak-plak yang menempel di gigi.

Menurut keduanya, Ramon masih bisa mencapai keinginannya mencium sang pacar tanpa harus ke dokter gigi. Kedua gigi yang memosisikan diri mereka secara netral ialah gigi geraham ketiga kanan bawah dan atas. Keduanya sering disebut Gono dan Gini.

Meskipun saling beradu pendapat di kedua belah pihak, terdapat masing-masing satu gigi yang bijak dalam menyikapi perbedaan itu. Sandi si gigi susu atas dan Garu si gigi geraham atas kiri. Sandi dan Garu sering menengahi pertengkaran tersebut dengan kata-kata bijaknya.

Seperti: “Tak usahlah kalian saling menyakiti dengan kata-kata apalagi sumpah serapah. Kita ini satu, tak ada Gandi, Ramon akan kesulitan mengunyah, tak ada Teno, Ramon akan sulit menyobek daging. Sadarlah dengan posisi masing-masing. Kita harus saling mendukung meski berbeda pendapat. Ramon membutuhkan kita untuk tetap hidup dan makan dengan sempurna.”

Nasihat bijak Sandi itu tak terlalu digubris, meskipun beberapa kali disinggung mengenai bijaknya kata-kata itu. Kenyataan yang terjadi, kedua kelompok masih mempertahankan keyakinannya masing-masing.

Ramon sendiri tak menyadari keributan itu. Ia hanya fokus dengan kisah percintaan dengan pacarnya.
***

Sudah dua minggu lamanya dan Ramon tak kunjung ke dokter gigi. Rupanya ia baru saja putus dengan pacarnya. Kemudian ia lupa dengan pengobatan giginya. Sekelompok gigi depan pun merasa menang.

Dua tahun kemudian, Ramon bertemu kembali dengan mantan kekasih yang ingin sekali diciumnya dulu. Ramon berniat untuk kembali pada mantan pacar yang memiliki bibir serupa kuncup bunga yang mekar itu. Ranum sekali. Ramon terobsesi untuk mencium bibir seksi dengan ukuran yang sempurna, tak terlalu tebal dan tipis. Ramon membayangkan bahwa akan sangat nikmat apabila ia sanggup melumat bibir itu. Sayangnya, perempuan semampai dengan rambut panjang terurai itu masih kekeuh dengan pendiriannya: Ramon harus ke dokter gigi.

“Hanya untuk berciuman, dia memberi syarat serumit itu? Pacar-pacar Ramon sebelumnya tak memikirkan soal aroma mulut. Mereka tetap bergairah dalam pergumulan lidah dan air liur hingga kita menggelinjang keenakan karena terkena geliat pergumulan itu. Benar-benar konyol,” kata Teno.

“Jelas saja. Siapa sih perempuan yang mau berciuman dengan bau mulut seperti bunga bangkai. Apa kalian tak bosan dengan aroma ini? Pacar Ramon yang sekarang itu perempuan normal, tidak seperti pacar-pacar sebelumnya yang di pikirannya hanya nafsu belaka.” Gino menimpali.

“Kami tak pernah merasa terganggu dengan aroma ini, kami masih bisa menghirup aroma lain karena kami berada di depan,” tambah Teno.

“Kalian memang tak berperasaan. Hanya memikirkan diri sendiri, tak mau peduli dengan penderitaan kami di dalam ini. Lihatlah, Garin dan Gandi serupa stalakmit hitam yang merekah karena digerogoti oleh ulat-ulat yang juga tak peduli dengan penderitaannya. Apa kalian tak bisa bersimpati?” kata Gini yang berusaha meyakinkan kelompok gigi depan untuk memahami kelompok gigi belakang.

“Benar sekali. Mereka berdua sudah sangat parah, bahkan tak bisa lagi ikut dalam perdebatan panjang kita. Benarlah kata Sandi, jika salah satu di antara kita tiada, maka bencana akan melanda. Ramon tak akan bisa menggunakan Garin dan Gandi untuk mengunyah sehingga bisa berdampak pada gigi depan. Sulit untuk menggantikan peran mereka berdua,” Tarin mulai sadar.

“Mari kita beri sinyal kepada Ramon untuk segera menyelamatkan Garin dan Gandi. Tak perlu lagi kita memperdebatkan perlu tidaknya ke dokter gigi. Saat ini yang terpenting ialah menyelamatkan mereka yang sudah sekarat. Ayo Garin dan Gandi, berikan sinyal nyeri terkuat yang kalian sanggup lakukan!” Garu memberi semangat kepada dua rekannya.

Ramon pun mengaduh kesakitan. Benarlah kiranya, sakit gigi itu sangat menyiksa. Ia pun teringat dengan nasihat dokter gigi dua tahun yang lalu. Pergilah ia menuju klinik praktik dokter gigi itu. Inilah kali kedua ia pergi ke dokter.

“Hai, Dok. Ketemu lagi.”

“Oh, si pendamba ciuman?”

“Ah, Dokter. Saya belum mendapatkannya.”

“Lalu sekarang kamu ingin mendapatkannya dan datang ke sini?”

“Tidak. Kali ini atas kesadaran sendiri, sepertinya gigi saya sudah sekarat.”

Betul sekali. Gigi Ramon sudah sekarat. Ada dua gigi yang sulit diperbaiki dan Ramon diberi pilihan, mencabutnya atau menambalnya. Pilihan bagai makan buah simalakama, pahit.

Mencabutnya berarti hilang kedua giginya dan menambalnya berarti mengeluarkan uang yang tak sedikit. Ia pun memutuskan untuk membersihkan karang gigi terlebih dahulu. Rasa ngilu menyelimuti seluruh gigi Ramon. Hampir semua giginya ditempeli karang gigi yang sudah menjadi fosil di dalam mulutnya selama 25 tahun.

Ada rasa aneh yang dirasakan Ramon setelah selesai membuang karang giginya. Sensasi dingin dirasakannya setiap angin masuk melalui lubang sela-sela gigi yang dulu tertutup kotoran makanan membatu itu. Ramon pun berpikir bahwa ia bisa memberanikan diri menemui mantan pacarnya untuk kembali menautkan cinta.

“Bagaimana menurut kalian? Enak kan kalau gigi bersih seperti sekarang ini? Coba dari dulu, Garin dan Gandi Bisa diselamatkan lebih awal. Kalian membuang waktu dengan perdebatan panjang hingga melupakan untuk mengirim sinyal kepada Ramon bahwa kita dalam kondisi gawat,” Gino mengawali percakapan.

“Tak perlu dibahas lagi. Sekarang sudah hampir selesai persoalannya. Kita berharap Ramon lebih memperhatikan kita. Bukan sekadar karena ingin mencium pacarnya,” Garu berusaha mencegah sebelum terjadi perdebatan sengit.
***

Ramon menemui pacarnya dan betapa terkejutnya ia saat melihat bibir pacarnya lebih merona dari biasanya. Ramon semakin bergairah. Ramon menceritakan tentang giginya yang sudah bersih dan aroma mulutnya yang wangi. Ramon membujuknya untuk kembali menjalin kasih.

Perempuan itu tak menjawab dengan pasti. Kata “Ya” pun seolah menjadi keramat baginya. Tak bisa sembarangan diucapkan. Mantan pacarnya itu hanya memberi janji bertemu di taman dengan pepohonan rimbun, tempat favorit mereka bertemu saat pacaran dulu. Ramon meloncat kegirangan, ada harapan besar untuk bisa mencium perempuan berparas menawan itu.

Hari yang ditentukan telah tiba. Ramon datang sebelum waktu yang telah disepakati. Ia tak mau terlambat untuk momen penting yang telah lama dinantikan. Perempuan itu datang dengan gaun berwarna merah muda. Lipstik di bibirnya pun senada dengan gaunnya. Wajah Ramon kian berbinar.

“Baiklah, Ramon. Sepertinya kamu tidak sabar untuk mencium bibirku. Mari kita lakukan supaya tunai sudah keinginanmu untuk melumat bibirku ini.”

Ramon bergegas menghampiri perempuan berleher jenjang itu dan meraih tubuhnya. Merasakan aroma tubuh dan mendekatkan bibirnya ke bibir yang sudah lama diimpikannya itu. Ramon menempelkan bibirnya ke bibir perempuan itu. Perlahan-lahan menikmati degup jantung yang memburu. Ramon meraih rahang perempuan itu untuk lebih dalam melumat bibirnya. Ciuman bergairah pun dituntaskan tepat saat senja mulai mengembang.

Ramon melepaskan bibir perempuan itu secara perlahan dan mengucapkan: “Terima kasih.”

Perempuan itu pun menjawab: “Ini ciuman pertama dan terakhir kita. Aku telah dilamar oleh tunanganku setahun yang lalu. Aku hanya ingin menunaikan janjiku kepadamu. Sudah lama pula aku ingin menciummu, hanya saja aku ingin ciuman dengan aroma wangi yang tak terlupakan.”

Ramon melepaskan pelukan perempuan itu dan berlalu tanpa meninggalkan serpihan kata selamat tinggal. Dan, di dalam mulut Ramon, Gono dan Gini masih cekikikan mengingat pergumulan lidah dan air liur yang tak menghampirinya. Kedua gigi itu tak terjamah.

“Ada yang lucu?” kata Teno.

Semua gigi terdiam seiring dengan bekunya hati Ramon yang belum sanggup menerima kenyataan.

Puteri Soraya Mansur

Puteri Soraya Mansur

Tinggal di Batanghari, Jambi.
Cerpennya Tiga Sajak yang Menari di Kepala pernah dimuat di Kompas, Minggu 31 Mei 2009. Menerbitkan kumpulan cerpen Among-among (2016) dan kumpulan puisi Peri Cantik Untukmu (2017)
Puteri Soraya Mansur

Latest posts by Puteri Soraya Mansur (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.