Di Kabupaten Tamala, Semua Orang Telah Menjadi Gila

Ada banyak kegilaan di dunia ini, tapi kupikir, tak ada yang lebih gila dari gagasan yang ditawarkan oleh Bupati Tamala. Ia punya ambisi yang sangat kuat untuk menjadikan kabupaten yang tengah dipimpinnya menjadi kabupaten paling bahagia di negerinya dan yang akan dilakukannya adalah: membuat semua warganya menjadi gila. Ia punya kredo yang tak bisa disanggah, bahwa puncak dari segala kebahagiaan adalah kegilaan.

Gagasan untuk menjadikan semua warga Tamala menjadi gila mulai ia tawarkan ketika kampanye terbuka, beberapa bulan jelang pemilihan bupati. Dalam sebuah pidato yang disaksikan oleh ribuan pendukungnya di alun-alun kota, ia mulai menyampaikan gagasan gila itu.

“Saudara-saudara, kita semua sudah tahu. Berdasarkan Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun ini, Kabupaten Tamala memiliki tingkat kebahagiaan paling rendah dibanding kabupaten yang lain. Tentunya ini menjadi tantangan kita bersama ke depannya. Karenanya, atas izin Tuhan yang Maha Esa, jika saya terpilih pada pemilihan bupati mendatang, saya akan berikhtiar semaksimal mungkin agar tingkat kebahagiaan di Kabupaten Tamala mengalami kenaikan yang signifikan. Dan, salah satu program yang akan saya canangkan adalah: menjadikan seluruh warga Tamala menjadi gila…”

Mereka yang hadir lantas mengeluarkan sorak dan tepuk tangan, seolah takjub atas gagasan mencengangkan itu. Sebuah gagasan yang barangkali belum pernah terpikirkan oleh semua pemimpin di belahan dunia mana pun. Gagasan yang akan diwujudkan melalui Program Subsidi Kegilaan (PSK) itu seketika menggemparkan seluruh warga Tamala. Juga sekaligus membuat lawannya mesti putar otak; mencari program yang sepadan agar tetap menarik simpati warga sekaligus menjaga elektabilitasnya jelang pemilihan.

Tak sampai 24 jam setelah pidato itu disampaikan, program yang disebut-sebut sebagai terobosan paling visioner untuk meningkatkan kebahagiaan seluruh warga Tamala itu juga langsung heboh di jagad maya. Di Twitter, Facebook, Instagram, semuanya turut serta membicarakan program itu. Pro dan kontra sudah pasti ada, tetapi sebagian besar tampak menunjukkan adanya apresiasi yang sama, bahwa program tersebut memang luar biasa.

“Kenapa ide sebrilian ini baru muncul saat ini?” komentar dari akun @malikalsa_25 pada salah satu unggahan di Instagram.

“Bayangkan jika semua warga menjadi gila, hidup kita pasti akan sentosa. Tak perlu pusing oleh persoalan dunia: BBM dan harga kebutuhan pokok yang meningkat atau Upah Minimum Regional (UMR) yang jauh dari kata layak. Apakah kalian pernah melihat orang gila bersedih? Mereka tampak selalu bahagia bukan?” kata salah seorang warga—sepertinya juga seorang buzzer—pada sebuah unggahan di Twitter.

Seorang pengamat politik yang namanya sudah cukup tersohor juga turut buka suara. Ia berkata bahwa program tersebut sudah sangat relevan untuk diterapkan di tengah carut-marutnya kestabilan ekonomi nasional dan melonjaknya harga kebutuhan pokok. “Jika uang sudah tidak bisa membahagiakan manusia, maka menjadikannya gila adalah jalan terakhirnya,” tukasnya, ketika ditanya oleh wartawan.

Hanya saja yang dikhawatirkan oleh pengamat politik itu adalah bahwa program semacam itu sangat rawan untuk dikorupsi. “Kalau bantuan langsung tunai saja bisa dikorupsi, apalagi bantuan subsidi kegilaan semacam ini. Pasti sangat rawan. Karenanya, harus ada pengawasan yang ketat, baik dari daerah maupun pemerintah pusat. Juga dari masyarakat.”

Dan begitulah, sang calon yang diketahui bernama Tuan Bizael itu akhirnya menang telak pada pemilihan bupati. Berkat apa lagi kalau bukan Program Subsidi Kegilaan (PSK) yang ditawarkannya. Maka, hanya beberapa bulan setelah dirinya dilantik di istana Presiden, ia benar-benar akan merealisasikan program gila itu. Ia sudah memperhitungkan dengan matang, bahwa cukuplah dengan mengalokasikan seperempat dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) program itu sudah bisa direalisasikan. Ia juga akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan kabupaten untuk mengadakan program suntik gila secara masal di tiap balai desa.

Tuan Bizael lantas mengundang publik figur. Tujuannya: mengampanyekan kepada seluruh warga agar turut serta dalam program suntik gila secara masal itu. Pada siaran televisi lokal, dengan nada yang sangat persuasif, sang publik figur berusaha meyakinkan seluruh pemirsa agar datang ke balai desa pada hari penyuntikan dilaksanakan.

“Ayo, seluruh warga Tamala. Jadilah pelopor dalam upaya peningkatan angka kebahagiaan tahun ini. Datang dan ikutilah program suntik gila secara masal pada tanggal…”

Lewat akun Instagram pribadinya, Tuan Bizael juga mengunggah sebuah flyer berisi foto dirinya yang tengah memegang jarum suntik. Di bawahnya terdapat sebuah tulisan, “Ikutilah program suntuk gila secara masal dan gratis. Mari, kita wujudkan Kabupaten Tamala yang ceria dan bahagia!”

Unggahan itu tentu menuai beragam komentar dari warga net. Sebagian besar tampak mendukung dan antusias, meski beberapa ada juga yang kontra.

“Lanjutkan, Pak!” komentar akun @sembadra37.

“Pengalihan isu. Kawal terus kenaikan BBM!” balas akun @matarevolusi19

“Goblok! Justru ini langkah bagus untuk merespons kenaikan BBM.”

“Awas, ntar dikorupsi lagi,”  cuit nyinyir dari akun @syafangati_25

“Harus tepat sasaran. Jangan sampai yang sudah gila dapat juga!” kata @malkandio.

“Iya, betul itu. Harus tepat sasaran karena di Kabupaten Tamala sendiri sudah banyak yang gila. Jangan sampai yang sudah gila itu tetap dapat subsidi juga. Kasihan mereka yang belum gila,” balas @permadinho20, tampak setuju.

Demikianlah, meski ada pro dan kontra, toh pada hari dilaksanakannya program suntik gila secara masal, seluruh warga Tamala tampak sangat antusias. Bahkan, tak ada satu balai desa pun yang tak dipenuhi oleh warga. Saking antusiasnya, mereka bahkan harus mengantre sejak subuh untuk mendapat giliran disuntik. Mereka yang jadi petani memilih tidak pergi ke sawah sekalipun padinya yang mulai menguning itu berada dalam ancaman burung-burung dan hama wereng, yang bisa saja membuat mereka gagal panen. Mereka yang jadi kuli bangunan memilih tidak datang ke proyek sekalipun risikonya adalah dimarahi mandor dan gajinya akan dipotong. Mereka yang bekerja jadi buruh pabrik juga telah bersepakat untuk mengambil cuti sekalipun tanpa seizin pihak perusahaan. Persetan jika yang dilakukan mereka akan membuat kestabilan produksi jadi terganggu.

Lalu, mereka yang jadi guru—entah yang masih honorer atau sudah jadi pegawai negeri—juga memilih tidak datang ke sekolah dan memutuskan untuk sesegera mungkin mengambil nomor antrean di balai desa. Tentu saja seluruh siswa juga memilih untuk pulang ke rumah masing-masing begitu tahu bahwa tak ada satu guru pun yang datang ke sekolah. Mereka, para siswa itu, memang tidak tahu apakah dengan mengikuti program suntik gila akan membuat mereka jadi lebih bahagia. Namun yang jelas, sesampainya di rumah mereka juga segera dipanggil orang tuannya agar ikut ke balai desa.

Jadi, teramat sulit untuk mendeskripsikan bagaimana suasana balai desa yang penuh dengan manusia-manusia yang punya hasrat hidup bahagia itu. Suasananya jelas jauh lebih riuh dibandingkan pada saat pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT) beberapa waktu lalu; bahkan lebih riuh dibandingkan pada saat pemilihan kepala desa. Bayangkan saja, seluruh warga dari setiap nama-nama yang ada di Kartu Keluarga, seluruhnya mengeruduk balai desa. Dan itu terjadi di seluruh balai desa yang ada di Kabupaten Tamala. Bayangkan saja bagaimana suasananya.

Malahan, berdasar liputan di televisi lokal, di sejumlah balai desa sempat terjadi keributan. Warga yang merasa kurang puas dengan kinerja perangkat desa, lantaran tak becus dalam mengurus antrean, melampiaskannya dengan mengeluarkan berbagai umpatan. Sementara di lain tempat, kemarahan dipicu karena adanya sejumlah orang gila yang turut serta mendapatkan jatah suntikan.

“Heh, panitia. Kok bisa orang yang sudah gila tetap dapat jatah suntik gila?”

“Tolong kesadarannya, yang sudah gila tak perlu serakah mau tambah gila!”

“Woy, masih banyak yang belum gila. Jangan ambil jatah mereka!”

“Yang gila maunya tambah gila. Dasar!”

Pemerintah agaknya kurang jeli dalam melakukan pendataan sebelum penyaluran program suntik gila. Lihat saja, mereka yang sudah gila masih bisa mendapatkan jatah suntik gila.

Sampai pada malam hari, ketika hampir semua warga di tiap desa sudah disuntik gila dan hanya menyisakan panitia, petugas, serta perangkat desa, aku masih duduk menyendiri di kamar sambil menulis cerita ini. Ibu, bapak, dan kedua kakakku sudah kembali dari balai desa sedari sore. Mereka tak langsung menunjukkan reaksi apa-apa selain gelagatnya yang tampak lebih mirip orang linglung. Menurut berita yang kubaca, orang yang baru disuntik gila memang tak akan langsung menjadi gila, melainkan secara berangsur-angsur. Setidaknya, butuh waktu 1 kali 24 jam sampai mereka benar-benar menjadi gila—dan tentu saja bahagia.

Aku lain dengan keluargaku. Bila keluargaku begitu yakin bahwa dengan suntik gila otomatis akan membuat hidup mereka bahagia, aku malah sebaliknya. Sampai paragraf ini ditulis, aku bahkan masih bingung mendefinisikan apa itu bahagia. Aku masih ragu apakah bahagia yang diyakini oleh Tuan Bizael itu, yang biasa dicirikan dengan bibir yang merekah, gigi yang tampak, dan suara kekehan itu adalah sebenar-benarnya bahagia. Sungguh aku tak yakin. Jangan-jangan, mereka yang tertawa sepanjang hari; mereka yang mengeluarkan senyum ceria di laman media sosialnya tidak benar-benar bahagia. Ah, sesungguhnya aku menulis cerita ini sambil terus mempertanyakan apakah bahagia itu benar-benar ada atau tidak.

Ibu dan bapak sebenarnya sudah menyuruhku agar ikut serta dalam program suntik gila itu, tetapi aku tak menggubrisnya. Kamu harus disuntik gila agar kami bisa melihatmu tertawa, bujuk bapak pagi tadi. Namun, sesegera mungkin aku masuk ke kamar, mengunci pintu rapat-rapat, dan menulis cerita ini.

Aku tahu, cepat atau lambat, para petugas penyuntikan di balai desa itu akan datang ke sini, mencariku.

Dan tentu saja dugaanku benar.

Ketika aku sampai pada paragraf ini, tiba-tiba dua orang petugas penyuntikan itu, dengan wajah yang mulai linglung dan cara bicara yang sedikit melantur, tiba-tiba merangsek masuk ke rumahku, tanpa salam, tanpa permisi. Aku tak paham mereka tengah meracau apa tetapi aku bisa mengerti bahwa tujuan mereka adalah mencariku. Bersamaan dengan itu, kudengar bapak berkata dengan nada seperti orang mabuk, “Cepatlah, Nak. Tinggal kamu di desa ini, atau bahkan di kabupaten ini yang belum disuntik gila.” Oh, Tuhan, betapa tinggal aku sendiri di kabupaten ini yang belum bahagia.

Sebentar kemudian, kudengar dua petugas itu sudah mulai mengetuk pintu kamarku sambil meracau tak jelas. Maka, sesegera mungkin, lekas-lekas kuselesaikan cerita ini dan mengirimkannya ke salah satu media sebelum dua petugas itu benar-benar mendobrak pintu kamar dan menyeretku ke balai desa. Persetan apakah cerita ini nantinya akan dimuat atau tidak. Persetan.

Namun, satu hal yang ingin aku sampaikan kepada kalian, segenap pembaca sastra di mana pun kalian berada. Esok, lusa, minggu depan, bulan depan, atau bahkan tahun depan, bila kalian mendapati cerita ini di salah satu media—entah lokal ataupun nasional, cetak ataupun daring—percayalah, bahwa di Kabupaten Tamala, semua orang telah menjadi gila. Tak terkecuali yang menulis cerita ini.

Ikrom Rifa’i
Latest posts by Ikrom Rifa’i (see all)

Comments

  1. Ntong Reply

    Maksa.

  2. Hernanes Reply

    Maksa (2).

  3. liychan Reply

    keren sih

  4. Om. Zhon Reply

    Berkehendak banget… Dech…

  5. Art Cancertha Reply

    kamu yakin karya mu orisinil? kalo terinspirasi dari karya oranglain lebih baik ditulis di catatan kaki.

  6. Sobat Senja Reply

    Pembukaannya kek pernah baca. Endingnya kurang, dan iya agak maksa. Tapi semangat buat sarkasnya boleh-boleh lah

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!