Di Mana Kita Bisa Bahagia Hari Ini?

“Surrealism At Perfection”: Haunting Illustrations Of Aykut Aydogdu

Agustus yang dingin—demikian aku mengingatnya—Eleo, kawan karibku, datang ke rumahku dan mengatakan kalau ia akan menikah. Sebelumnya kami sama-sama menertawakan pernikahan. Bagi kami, pernikahan itu sebuah jalan menuju penjara dan menganggap teman-teman yang mendambakannya sebagai golongan perempuan naif. Karenanya, aku cukup terkejut waktu itu dan bilang, Kamu pasti bercanda kan? Temanku itu seorang pemain teater. Ia mengikuti berbagai event, dalam dan luar negeri. Kupikir ia sedang mengerjaiku. Aku tidak yakin apa motifnya (aku sedang tidak ulang tahun atau merayakan hari apa pun), tapi pastilah ia sengaja mau bermain-main dan ingin membuatku panik. Dan kuakui, itu memang benar—bahwa aku panik. Selama ini kami selalu kompak dan saling menyokong bila berdebat dengan kelompok pemuja pernikahan. Kalau Eleo sampai menikah, maka aku akan sendirian. Lebih serius dari itu, aku jadi mencemaskan masa depan kariernya di dunia seni pertunjukan. Kami sudah banyak melihat bagaimana teman-teman kami satu per satu menghilang. Jangankan terus berkarier, untuk pergi minum kopi bersama teman lama saja mereka tidak bisa, sebab katanya seorang istri harus patuh pada suami, sebab bilangnya seorang ibu harus selalu di samping anak-anaknya. Mulanya memang tidak begitu, semua tampak baik dan tidak masalah, tapi lama-lama seorang istri atau ibu akan mengharuskan dirinya sendiri seperti itu dan mudah merasa bersalah atau semacam itu yang, bagiku, tidak masuk akal.

Aku membuat dua cangkir kopi robusta untuk kami berdua.

Mau duduk di mana? tanyaku.

Di sini saja, kata Eleo merujuk pada sofa model minimalis berwarna hitam yang kami temukan di sebuah pusat perbelanjaan khusus menjual properti rumah tangga dengan potongan harga lumayan besar.

Mulanya Eleo yang menginginkan sofa itu, tapi kemudian ia mengalah dan membiarkanku membawanya pulang karena katanya tidak terlalu berguna baginya yang lebih sering berada di luar ketimbang di rumah.

Kami duduk berdampingan. Kami serempak menyesap kopi. Pelan-pelan dan mengulanginya lagi. Kami jadi bersikap aneh sejak Eleo mengaku akan segera menikah itu.

Kamu belum percaya kan? tanya Eleo melepaskan cangkirnya.

Aku ikut melepaskan cangkirku. Sejujurnya, iya, kataku. Sampai sekarang aku masih berpikir kalau kau sedang bercanda.

Aku bertemu dengannya seminggu lalu.

Dan kau langsung ingin menikah dengannya?

Tidak begitu juga, kata Eleo, aku masih berpikir-pikir sebenarnya. Dia berbeda dari yang lain. Dia menyenangkan. Tapi, aku masih berpikir-pikir kok. Mungkin aku memang menginginkannya. Mungkin juga tidak.

Pikiran Eleo sepertinya sedang kacau ketika itu. Maka, aku tidak banyak bertanya. Kubiarkan ia dengan kekacauannya, sementara aku dengan kebingunganku. Aku tidak berani menduga-duga apa yang akan terjadi setelah Eleo menikah (sebab aku mulai yakin pada akhirnya ia menyerah pada lelaki itu). Apakah ia terus menjadi pemain teater yang ikut pementasan ke mana-mana atau meninggalkan dunia itu setelah ia melahirkan anak. Aku tahu sekali, dari cerita-ceritanya kepadaku, Eleo tergila-gila pada dunia seni peran sejak ia kecil. Dengan memerankan karakter tertentu di atas panggung, Eleo merasa bisa lepas dari dirinya yang menyimpan banyak kemarahan dan ketakutan. Ia capek dengan dirinya. Dengan ingatan-ingatan tentang ibunya yang menggantung dirinya di kamar mandi dan Eleo-lah yang pertama kali menemukannya di sana.

Hampir dua jam kami duduk di sofa pada hari itu. Namun, tidak seperti biasa, kami tak banyak membicarakan apa-apa. Setelah Eleo pulang, aku segera menutup semua pintu dan jendela dan keluar seharian dan merasa tidak tahu harus melakukan apa di akhir pekan itu. Biasanya aku dan Eleo pergi hiking ke sebuah gunung karang di dekat laut. Atau pergi ke toko barang bekas. Kadang Eleo menemukan barang yang dibutuhkannya, misalnya sebuah telepon tua yang berguna untuk pertunjukannya. Aku sendiri pernah membawa pulang penangkap mimpi (kata Eleo, dulunya, benda itu digunakan suku Ojibwe untuk melindungi suku mereka dari kejahatan) milik keluarga asli Amerika—itu yang dikatakan pemilik toko—dan kupasang di jendela kamarku.

***

Aku tidak lagi saling berkabar dengan Eleo. Setelah memberi tahu hari pernikahannya lewat panggilan telepon dan aku memutuskan tidak datang, Eleo tak pernah berusaha menghubungiku lagi. Namun, aku mendengar cerita tentangnya dari teman-teman yang mengenalnya. Dua tahun setelah menikah, Eleo melahirkan anak pertama. Seorang perempuan. Aku tidak ingat namanya. Namun, aku yakin pasti ia tumbuh menjadi anak perempuan yang cantik. Eleo sudah meninggalkan dunia teater bahkan sebelum ia hamil. Konon, ia pindah ke sebuah kota yang memang diimpikannya. Teman-temanku yang menceritakan tentang Eleo itu mengaku sering ditelepon atau bahkan diajak janji ketemu jika Eleo datang ke kota ini. Mereka minum kopi bersama dan Eleo banyak bercerita. Kata teman-temanku, tidak sekali pun Eleo menanyakan kabarku. Mungkin ia sengaja menghindarinya. Mungkin mendengar tentangku akan membuatnya merasa tidak enak hati. Bagaimanapun, ia barangkali masih menganggap dirinya sebagai seorang pengkhianat. Paling tidak itu yang pernah dikatakannya saat meneleponku terakhir kali. Aku sekarang seorang pengkhianat, katanya. Meski berkali-kali kubilang kalau itu tidak benar, ia tetap saja bersikeras menyebut dirinya dengan julukan demikian. Kalau saja ia tahu, sekarang, setelah lima tahun ia menikah dan kabarnya sudah melahirkan anak kedua dan tidak pernah lagi berkunjung ke kota ini, aku akhirnya bertemu dengan seseorang yang kupikir aku bisa saja menikah dengannya, sebab ia lelaki yang menyenangkan, yang bilang bahwa pernikahan bukan bertujuan memenjarakan seseorang, melainkan tempat belajar banyak hal. Aku tertarik dengan kata “belajar” itu yang mengingatkan pada ketekunanku atas rasa penasaran terhadap sesuatu dan tidak bisa berhenti sebelum aku menemukan jawabannya.

Aku dan lelaki itu pertama kali bertemu di sebuah gunung—aku tidak tahu bagaimana warga menamainya gunung, padahal itu hanya sebuah bukit karang kecil di dekat laut—pada suatu pagi di awal Agustus. Kami sama-sama datang ke sana untuk berolahraga seperti yang dulu biasa kulakukan bersama Eleo. Dari atas gunung itu, kami bisa memandangi kota di belahan lain dan laut di belahan lainnya. Lelaki itu yang pertama kali mengajakku bicara. Bukan menanyakan nama, melainkan apakah aku punya persediaan air mineral berlebih. Aku mengambil satu botol air mineral ukuran kecil dalam tas punggungku. Aku masih punya yang lain. Jadi tidak apa-apalah. Aku memberikan botol air mineral itu kepadanya. Kami berdiri berdekatan memandangi kota. Ia lebih tinggi sekitar sepuluh senti dari tinggiku yang 165. Ia menunjuk beberapa gedung dan aku menyebut nama gedung-gedung itu, kemudian kami tertawa bersama. Kami lalu membicarakan hasil penelitian tentang potensi gempa berkekuatan besar dan tsunami yang mengancam kota ini dan ia bertanya, Kau tidak berpikir untuk pindah tempat tinggal?

Setengah bercanda, aku bilang, Pergi ke bulan?

Sekali lagi kami tertawa bersama.

Kami membuat lelucon demi lelucon dan untuk itu tidak perlu waktu lama aku menyimpulkan kalau ia lelaki yang menyenangkan. Aku tentu banyak bertemu lelaki yang menyenangkan, tapi aku tidak tahu bagaimana bisa aku menganggap ia berbeda dari yang lainnya. Mungkin karena ia punya sepasang telinga yang indah. Mungkin karena tawa lepasnya. Mungkin karena aroma parfumnya. Mungkin karena pekerjaannya sebagai data analyst. Mungkin karena bola mata hitamnya yang bukan hitam biasa.  Bisa saja pendapatku dipengaruhi hal-hal semacam itu kan?

Dan aku pun ingat lagi pada Eleo. Ya, kupikir aku sudah melupakannya selama ini. Aku terpaksa berpikir keras untuk mengingat kapan tepatnya Eleo datang ke rumahku di hari itu. Aku mencoba mengumpulkan lagi cerita teman-teman tentang kabar Eleo setelah kami tak berhubungan lagi. Pendek kata, aku kembali tertarik dengan kehidupan Eleo sebab ini caraku untuk menenangkan diri, menganggap bahwa aku akan baik-baik saja, seperti Eleo yang pernah melakukan pengkhianatan dan berbahagia dan aku yang akan segera menyusulnya.

Benar, ketika itu, awal Agustus yang dingin, desisku. Sekarang, aku benar-benar meyakininya.

***

Akulah yang menghubungi Eleo. Perlu waktu bagi Eleo untuk mengingat suaraku (aku tahu ia pura-pura) sampai ia berseru, Ini betul kamu? Tanalia? Kamu ke mana saja? Runtutan pertanyaan Eleo tidak sempat kujawab, sebab ia kembali berkata, Seharusnya kamu meneleponku sejak lama. Aku memang mengkhianatimu. Tapi, tidak seharusnya kamu menghukumku terlalu berat.

Ketika aku punya kesempatan bicara, aku langsung berkata, Apa kau bahagia, El?

Eleo diam. Aku ikut-ikutan diam. Lalu aku mendengar tangisnya pecah begitu saja. Ia bilang, akhirnya ia bisa mengerti kenapa ibunya memilih mati dengan cara menggantung dirinya di kamar mandi. Ia mengaku, meski tidak menyembuhkan luka dalam hatinya, ia memaafkan ibunya itu. Eleo masih menangis. Dan aku bertanya, Memangnya kau kenapa?

Eleo bilang kami sebaiknya bertemu. Ada banyak yang ingin dikatakannya kepadaku. Ia akan mencari waktu untuk datang ke kota tempat aku tinggal. Aku tidak memaksanya untuk buru-buru. Aku tidak mau keinginannya bertemu denganku menambah masalah hidupnya. Sebenarnya kami cukup saling telepon saja kalau Eleo memang sulit mencari waktu yang tepat. Aku belum sempat menceritakan tentang lelaki yang belakangan hidup bersamaku. Aku jadi ragu-ragu memberi tahu Eleo. Ada yang tidak beres pada pernikahan Eleo dan itu membuatku cemas.

***

Pagi ini, seminggu setelah aku menghubunginya, ponselku berbunyi. Aku jarang mau menerima panggilan telepon sepagi ini, tapi kulihat nama Eleo, dan aku menjawabnya. Aku perlu bicara, kata Eleo.

Ya, El, kataku, aku akan mendengarkanmu.

Eleo kembali menangis. Aku tidak bahagia, katanya.

Ya, El, kataku.

Dia tidak pernah mencintaiku, kata Eleo.

Eleo bilang, Yugos—ya, namanya Yugos—awalnya baik dan menyenangkan, tapi lama-lama ia menunjukkan dirinya yang kejam. Ia pernah terluka dan itu membuatnya ingin menghancurkan orang lain, kata Eleo.

Eleo masih berbicara panjang lebar mengenai kekerasan yang dialaminya dan beberapa kali keinginannya mau menggantung diri di kamar mandi saat aku membalikkan tubuhku ke belakang dan memandangi seseorang yang tertidur di atas sofa dengan bibir menyunggingkan senyum dan aku teringat percakapan kami kemarin; Di mana kita bisa bahagia hari ini? tanyanya, Di bulan, kataku, dan kami tertawa bersama seolah akan selamanya.[]

Rumah Kinoli, 2019

Yetti A.KA

Lahir di Bengkulu. Novel terbarunya, Basirah (2018). Selain menulis, ia bekerja dan menjadi relawan di lembaga nirlaba Yayasan Jortah Indonesia, sebuah lembaga yang fokus melakukan penggalangan dana publik untuk membantu biaya pendidikan anak-anak dari keluarga tidak mampu. Saat ini, ia menetap di Kota Padang, Sumatera Barat.
Yetti A.KA

Latest posts by Yetti A.KA (see all)

Comments

  1. Anonymous Reply

    maasyaAllah tabarakallah. keren mba. walaupun plot twistnya ketebak, tapi terus penasaran untuk lanjut baca karena penyajiannya keren. mantap!!!

    • Yuni Bint Saniro Reply

      Keren cerpennya. Dari awal cerita, tak membuat bosan untuk membaca hingga terus sampai akhir. Giliran udah di kalimat terakhir, lho kok gini?

  2. Anonymous Reply

    GILS!! keren banget. seneng banget bisa baca ceritanya!

  3. Haris Firmansyah Reply

    Saya menikmati ceritanya. Sebuah kontemplasi yang asyik.

  4. Meitantie Reply

    Seakan tersaji di depan mata. Deskripsinya nyampai banget

  5. Anonymous Reply

    teknik menulisnya sangat mengisnpirasi. Terima kasih mba ^^

  6. Puspa IFM Reply

    Suka sekali, sangat relate sama diriku sekarang. Pengen nangis ;(

Leave a Reply

Your email address will not be published.