Dunia di Ujung Tanduk Abad 21

Judul: 21 Lessons, 21 Adab untuk Abad 21

Penulis: Yuval Noah Harari

Penerjemah: Haz Algebra

Penerbit: CV. Global Indo Kreatif

Cetakan: I, September 2018

Tebal: 392 hlm

ISBN: 978-602-61663-5-7

Peresensi: Zaim Yunus

Dunia memasuki abad baru. Modernisme tidak lagi sekadar truk angkut. Lebih dari itu, modernisme menjelma kereta cepat otomatis, siap menggilas siapa saja yang menghalanginya.

Artificial intelligence (AI) dan algoritma buatan memupuk manusia menuju kesadaran yang kian “kerdil”. Dengan algorirma; Facebook lebih tahu di mana teman masa kecil kita tinggal; YouTube paham musik favorit dan Google dapat menebak orientasi seksual lebih baik dari siapa pun. Algoritma buatan terus belajar memahami pola pikir manusia dengan menyerap data dari kebiasaan yang dilakukan.

Pikiran manusia tidak lebih dari algoritma organik yang memiliki pola berulang. Jika emosi dan keinginan pada kenyataannya tidak lebih dari algoritma biokimia maka tidak ada alasan bagi komputer dan teknologi tidak dapat memanipulasinya. Maka, tidak heran jika Harari mengatakan, “Keinginan pada kenyataan tidak lebih dari algoritma biokimia.”. Contoh sederhana, sering melihat iklan bisa jadi arus pertama yang menyeret pada konsumerisme. Atau propaganda gerakan terorisme yang menyasar pada orang-orang yang bertendensi memiliki ideologi serupa. Pada situasi semacam ini data adalah kunci. Sebab, algoritma belajar darinya dan memahami pola perilaku manusia melaluinya.

*

Pasca revolusi kognitif, imajinasi manusia berperan penting mengangkat derajatnya dari seekor kera menuju penguasa bumi. Dahulu, manusia hanya berusaha membendung aliran sungai, tetapi kini mereka berupaya mencegah kematian. Dahulu, manusia terbatas pada merekayasa irigasi, tetapi kini mereka berusaha merekayasa pikiran yang mengalir di kepala para tentara.

Seiring waktu, imajinasi dan cita-cita manusia makin liar. Imajinasi hidup seperti lengan yang menjulur panjang dan kian bercabang. Lengan-lengannya merangkul teknologi dan mengenggam keinginan dengan kencang—dari teknologi paling sederhana hingga mesin penembus waktu—meski, sekalipun jari-jarinya tak pernah sedikit pun mampu menyentuh Tuhan.

Akibatnya, lengan-lengan itu kian menyesaki ruang waktu tanpa arah yang jelas. Pun lajunya tidak bisa dibendung, manusia terdisrupsi dari eksistensi yang dirumuskan nenek moyangnya, dan mendekat pada pemahaman baru: segumpal daging dan tulang yang bisa berpikir—tidak ada lagi “diri sejati”, keabadian, dan diri tunggal yang autentik.

Bukan saja berubahnya konsep tentang “tujuan hidup” dan pertanyaan “siapa aku”, tekonologi yang berkembang pada abad ini akan menguasai setiap sudut kehidupan manusia. Di dunia ritel, misalnya, marketplace seperti Amazon, Bukalapak, dan Tokopedia lebih besar dibanding pasar tradisional dan mal sekalipun. Teknologi AI pun dimanfaatkan Uber untuk membuat taksi otomatis tanpa sopir. Artinya, banyak pekerjaan yang tidak lagi relevan bagi manusia. Maka dari itu, homo sapiens harus beradaptasi dengan situasi, jika tidak ingin senasib dengan homo erectus yang punah karena kemalasannya beradaptasi dengan lingkungan baru.

Hal tersebut mendasari perkataan Harari dalam buku sebelumnya (Homo Deus), masa depan akan berbeda sama sekali. Mungkin jika seorang Mongolian berhibernasi dan terbangun pada Perang Dunia I, ia tidak akan terlalu asing. Namun, apa jadinya jika Napoleon Bonaparte berhibernasi dan bangun di abad 21? ketika seorang menggenggam Iphone dan berbelanja tanpa beranjak dari rumah. Ini artinya, peradaban abad 20 ke 21 melaju lebih cepat dari perkembangan abad-abad sebelumnya.

Buku ini sedikit berbeda dengan buku Harari terdahulu. Jika Homo Sapiens mengupas perjalanan peradaban manusia dan Homo Deus berisi ramalan masa depan jangka panjang, buku dengan gambar iris mata berwarna biru ini memperbesar gambaran buku Homo Deus, yaitu: mengupas tantangan teknologi yang sedang atau segera berlangsung di masyarakat.

Misal perihal media sosial. Pada Februari 2017, Mark Zuckber menjelaskan dalam manifestonya, bahwa aktivitas daring mendorong bergeraknya komunitas luring (hlm. 96). Dalam masyarakat kita fenomena tersebut pun telah tampak. Gerakan populisme 212, misal, bisa jadi berawal dari komunitas jejaring media sosial menuju dunia luring. Meski memang hal tersebut ditunjang oleh framing media dalam memainkan isu. Namun, bukankah media juga anak dari teknologi. Jika boleh menambahkan, mudahnya akses dan penyebaran informasi di abad ini juga berefek transenden bagi perubahan yang signifikan dalam masyarakat.

Fakta aktual menjadi titik tekan dalam buku ini. Salah satunya referendum Brexit dan terpilihnya Donald Trump di AS. Tetapi bagi saya, itu tidak terlalu menarik. Saya lebih tertarik menyoroti kemungkinan-kemungkinan lain yang dipaparkan buku ini. Salah satunya tentang kemungkinan krisis liberalisme dan demokrasi di dunia modern. Kenapa demikian?

Satu abad terakhir, demokrasi menjadi ideologi yang dominan di muka bumi. Demokrasi menang telak dari ideologi orang-orang Bolshevik. Liberalisme untuk sementara sebagai sebuah jalan paripurna bagi setiap negara. Betapa tidak, demokrasi dan liberalisme menitikberatkan kebebasan individu. Di mana hal tersebut terkesan menampakkan keadilan yang seutuhnya—setiap orang adalah sama; setiap suara adalah setara. Tetapi, ternyata hal tersebut adalah bumerang bagi liberalisme.

Sebab dalam tradisi humanisme liberal dikatakan, ikutilah suara hati dan bebaslah dalam berpendapat. Sedangkan kini suara hati bisa dimanipulasi, baik secara langsung dengan menyerang neuron otak atau tidak langsung melalui media yang menggiring opini publik—inilah yang pernah Noam Chomsky sebut media sebagai thought control. Pembaca akan dibawa pada negasi keparipurnaan liberalisme. Dan bahwa pemilihan umum pun referendum akhirnya hanyalah drama pengambilan keputusan yang seolah-olah adil.

*

Kisah kejayaan liberalisme akan selesai dan kebenarannya menjadi mitos yang tak lebih besar dari Kelinci Paskah. Sebab membaca Harari adalah mencerna bagaimana sejarah akan menggilas segala yang berstatus quo. Tuhan pun, barangkali akan bernasib demikian. Buku ini mencoba menampilkan momen-momen nihilistik manusia, ketika banyak orang menanggalkan cerita lama, tetapi belum sepenuhnya percaya pada kisah-kisah baru. (hlm. 18)

21 Lessons, memang membahas masa depan lebih mengerucut daripada dua buku sebelumnya. Namun, buku setebal 392 halaman ini membahas masa depan lebih general jika disejajarkan dengan buku-buku serupa. Seperti What’s the Future and Why it’s Up to Us, karya Tim O’reilly yang berfokus pada disrupsi ekonomi di dunia modern.

*

Mengambil garis besar, narasi dalam buku ini khas karya Harari. Agama bisa menjadi sesuatu yang buruk, tetapi memiliki sesuatu yang tidak dapat dirumuskan robot. Nasionalisme bisa menjadi Nazisme, tetapi pun adalah spirit pembebasan. Atau liberalisme yang berada di ujung tanduk. Jika mau melihat posisi Harari, ia bisa ditempatkan seperti peramal melankolis yang memberitahu kita kemungkinan-kemungkinan baik dan buruk.

Betapapun itu, buku ini, terlepas dari kritik yang dilontarkan oleh John Sexton dalam A Reductionist History of Humandkind. Harari adalah guru pertama saya mengenal psikologi evolusioner. Di mana seekor kera yang dilatih berabad-abad oleh sabana menjadi makhluk yang dapat merekayasa irigasi, cuaca, hingga memanipulasi penuaannya. Sampai akhir, kita akan dibawa melarutkan diri dengan algoritma dan AI. Tentu, hal ini kian meyakinkan kita pada pernyataan: “Mungkin di abad 21 ini, manusia akan melahirkan mahakarya yang diprediksi mengubah tatanan abad-abad sebelumnya.” Tetapi, pernyataan itu tidak lebih mengerikan dari pertanyaan, “Apakah manusia juga akan dibawa pada irelevansi?” Tanyakan pada Harari.

Zaim Yunus

Pegiat di LPM Arena dan aktif di Komunitas Kutub Yogyakarta.

Latest posts by Zaim Yunus (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.