Dusta Manakah Lagi yang Kau Nikmati?

behance.net

 

MALAM masih cukup lama ketika angin bertiup kencang dari selatan, berputar, menghantam rumahmu, membuat seng-sengnya terangkat dan terlempar. Anehnya, lisus yang bertiup tak lebih dua menit itu hanya menghajar rumahmu. Hanya rumahmu! Peristiwa itu terjadi sehari setelah Ali pergi.

“Ali…. Kanjeng Nabi…. Duh, Gusti!” lenguh ayahmu, sesaat setelah mendongak dan melihat pekat langit dari dalam rumah. Itu bukan kali pertama kau mendengar ayahmu mengait-ngaitkan Ali dengan Kanjeng Nabi. Kau ingin membantah. Tapi kau tahu, Ayah sedang marah padamu. Marah di tengah kesedihan, betapa mengerikan!

Setelah paginya warga bergotong-royong memperbaiki atap rumah, Ayah menyuruhmu menemui Pak RT untuk mengundang warga kenduri. Tepat setelah isya orang-orang-orang bersarung beruyun-duyun, kau dan ayahmu menyambut mereka di depan pintu. Tak seperti kenduri perkawinan atau haul kematian, yang diminta ayahmu pada Pak Kyai bukan bacaan Surat Yasin atau bacaan tahlil, melainkan berjanjen.

Kau terduduk di sebuah sudut, mengenakan sarung dan kopiah hitam, tampak paling kecil di antara para lelaki tua yang duduk mengelilingi ruangan. Rokok-rokok dimatikan sesaat setelah Pak Kyai mengucap salam, dan memimpin jalannya berjanjen.

 

Fi hubbi Sayyidina Muhammad – Nurun libadril huda mutammam [1]

Dipimpin Pak Kyai, syair-syair cinta didendangkan, biografi Nabi dibacakan. Banyak di antara orang-orang yang hadir memejamkan mata, tapi mulut mereka mangap-mangap mengucap, “Allah…. Ya Rasulallah…. Shollu ‘alaih….”

Kau menundukkan kepalamu yang berat oleh bayangan Ali. “Pergi ke manakah bocah sialan itu?” Kalau saja ayahmu tahu yang sebenarnya, bisa jadi kaulah yang malam ini tak ada di rumah ini. Ya, kaulah yang sebenarnya pantas untuk pergi. Kaulah yang membuat ratusan ikan-ikan nila di kolam itu mati, bukan Ali.

Sore itu, ayahmu menugaskan kau dan Ali untuk memberi pakan bagi benih ikan nila yang baru ditebar di kolam. Itu pekerjaan yang ringan dan menyenangkan, pikirmu. Kau sudah tahu, dan ayahmu berkali-kali mewanti-wanti, memberi pakan itu secukupnya saja. Tapi entah setan mana merasukimu, kau malah menumpahkan hampir separuh karung pakan. “Biar cepat besar,” katamu, ketika Ali berusaha mencegahmu.

Begitulah, saat keesokan harinya ayahmu datang ke kolam dan mendapati ratusan ikan seukuran jari mengambang, seketika ia murka. Kau mengelak, mengatakan hanya menebar pakan secukupnya. “Pakan di karung tersisa sedikit, masih mau dusta?” Urat leher ayahmu menyembul seperti cacing. Kau tetap tak mengaku bersalah. Sementara Ali hanya menundukkan kepala. Dan, siapa sangka jika malamnya, saat kau dan ayahmu terlelap, Ali keluar rumah rumah dan menghilang.

Mali habibun siwa Muhammad – Khairir Rasulin Nabiyyil Mukarom [2]

Sementara shalawat terus dilantunkan, bayangan tentang kejadian itu mencekam di kepalamu. Kau mendongak, mengedarkan pandang, dan berhenti pada wajah ayahmu, cukup lama, teringat saat awal kali Ayah membawa Ali ke rumah.

“Ali akan tinggal di sini, bersamamu, bersama kita. Ia akan tidur sekamar denganmu,” terang Ayah. Waktu itu, empat tahun lalu, kau baru kelas dua SD. Sementara Ali menjadi adik kelasmu di sekolah. Kehadiran Ali membuatmu cukup senang, terlebih kau tahu Ali adalah anak mendiang pamanmu. Dan bukankah sebenarnya kau sudah lama memimpikan punya adik?

Tapi lambat laun kehadiran Ali membuatmu jengah. Ali pendiam, tak meyukai sepak bola, dan selalu bersikap manis di depan ayahmu. Terlebih, ayahmu kerap memuji-muji nilainya di depanmu. Bahkan, ayahmu kadang membelikan sesuatu yang tidak dibelikannya untukmu. Diam-diam, kau merawat kekesalan itu.

 

Nasabun tahsibul ‘ula bihulahu – Qalladat ha nujumaha al-jauza’u

Habbadza ‘iqdusu dadi wa fakharin – Anta fihil yatimatu ‘ashma’u[3]

“Ali selalu membuat Ayah teringat Kanjeng Nabi,” ucap ayahmu suatu kali, mungkin ia menyadari bahwa kau kurang suka dengan sikapnya.

Persetan, batinmu. Memang kau sedikit banyak tahu riwayat Rasulullah dari gurumu di sekolah. Rasulullah yang yatim-piatu sejak anak-anak. Dan salah satu sahabat sekaligus menantu Rasulullah sendiri bernama Ali.

Mahalul qiyam!” Pak Kiai memberi aba-aba. Orang-orang membuka mata dan bangkit berdiri.

 

Anta syamsun anta badrun – Anta nurul fauqan-nuri

Anta iksiruw wa ghaliy – Anta mishbhush-shuduri[4]

 

Kau pandangi lagi ayahmu, tampak khusyuk, seperti tengah menyambut kehadiran Rasul dan rombongan muhajirin memasuki Madinah. Meski tak hafal benar syair-syair itu, paling tidak kau bisa ikut melantunkan bagian syair yang diulang-ulang untuk dilantunkan bersama.

Kadang kau heran, kenapa orang-orang terus-menerus menyanjung-nyanjung Kanjeng Nabi seakan-akan ia adalah Tuhan. Kau pernah tanyakan itu kepada guru agama di sekolah. “Rasullullah itu manusia, tapi tidak seperti manusia biasa.” Itu saja yang kau dapatkan. Membuatmu terbayang sosok Superman, Power Rangers, dan Capten America. Dan ketika kau bertanya pada ayahmu, apakah Kanjeng Nabi Muhammad lebih sakti dari Superman, ayahmu nyaris tertawa. Ali yang waktu itu ada bersamamu, ikut penasaran menunggu jawaban ayahmu.

“Yang membuat Kanjeng Nabi hebat bukan kekuatan fisiknya, tetapi akhlaknya. Dan mestinya kita bersyukur, Kanjeng Nabi telah menjadi perantara diberikannya nikmat terbesar kepada kita. Kebenaran. Fabiayyiallah irabbikuma tukadziban.”

Kau tidak heran dengan penjelasan ayahmu yang terdengar seperti seorang ustaz. Sebab kau telah tahu, ayahmu, meski sehari-harinya bertani dan berjualan ikan di pasar, tapi semasa mudanya pernah nyantri. Beberapa surat al-Qur’an yang panjang bahkan ia hafal. Ayahmu bukan imam masjid atau mushala, tapi ia selalu menyuruhmu untuk serius belajar al-Qur’an agar kau bisa mendoakan ibumu yang meninggal di perantauan.

 

Wa shallatullah ‘ala Ahmad ‘adda tahriri suthur

Ahmadal hadi Muhammad shohibul wajihil munir[5]

Setelah bait itu dibaca, orang-orang kembali duduk. Kau mengembuskan napas lega. Sebentar lagi acara berjanjen akan usai, pikirmu. Malam ini, kau berpikir, akan nonton televisi sendirian, tanpa Ali. Ini akan menjadi sesuatu yang belum pernah kau lakukan selama empat tahun terakhir.

Kau tak habis pikir, bagaimana mungkin Ali bisa senekat itu? Pergi pada malam hari, tanpa pamit, tanpa meninggalkan pesan apa-apa? Ke mana sebenarnya ia pergi? Selama tinggal serumah dengan Ali, kau tak pernah mengira Ali punya kenekatan sejauh itu. Sebaliknya, kau kerap melihat Ali menangis diam-diam. Sejauh ini Ali tak pernah melawanmu, tak pernah mengelak saat kau memperdayanya, menjadikannya benteng dari dusta-dustamu.

“Jika tak percaya, tanyalah pada Ali.” Kerap benar kau mengatakan kalimat itu untuk membuat ayahmu percaya. Dan Ali tidak membuka dustamu, mungkin takut. Saat kau membolos dan mengatakan sekolah pulang lebih awal karena guru-guru ada rapat, Ali juga menjadi saksi kebohonganmu. Kau juga kerap meminta uang saku Ali sementara Ali tak pernah mengatakan kelakuanmu pada ayahmu. Betapa kau menikmati dustamu seperti menjilati lelehan es krim sehabis bermain kejar-kejaran pada siang terik.

Ah, kau bahkan sudah mulai lupa dengan serentetan dusta yang kau lakukan. Dan kau tak pernah menyadari bahwa bisa jadi dusta-dusta itu lahir akibat apa yang kau tonton; semisal breaking news yang menampilkan senyum para koruptor. Yang jelas, kau menganggap dirimu lebih patut mendapat perhatian ayahmu ketimbang Ali, dan kehadiran Ali di rumahmu telah merebut sebagian besar kasih sayang ayahmu.

Lihatlah, setelah berjanjen usai, dan dus-dus berisi ayam goreng dibagikan, ayahmu segera mengganti sarungnya dengan celana, memakai mantel tebal dan menenteng senter. Kau mengira, ayahmu akan melongok kolam ikan yang letaknya tak jauh dari rumah. “Ali harus kembali ke rumah ini secepatnya,” katanya sebelum menutup pintu dan menguncinya dari luar.

Ayahmu seakan baru saja mendapatkan semangat baru setelah dua hari lalu menyerah karena tak menemukan Ali di mana-mana. Apakah Ayah sudah tahu di mana Ali sekarang? Bagaimana kalau Ali benar-benar ditemukan dan memberitahukan kejadian yang sebenarnya tentang penyebab matinya ikan-ikan di kolam? Kau belum juga menyalaan tv ketika rentetan pertanyaan itu melesat-lesat seperti peluru.

Aku akan diusir? Apakah Ayah akan setega itu kepada anak satu-satunya? Bisa jadi, jawabmu dalam hati. Ayah pernah sangat marah saat kau ketahuan menyembunyikan petasan di lemari baju. Tapi kau ingat kata guru di sekolahmu, apabila orang tua marah itu tanda bahwa mereka mencintaimu. Kalau Ayah mengusirku, apakah itu juga tanda Ayah mencintaiku?

Dusta, telah menjadi semacam candu yang selalu kau nikmati dalam debar. Tapi kali ini kau merasa tersiksa. Televisi kau nyalakan, berharap bisa melupakan pertanyaan-pertanyaanmu sendiri. Ya, bukankah kau telah berkali-kali selamat dari dustamu? Meski begitu, tak mudah, sungguh tak mudah. Entah kenapa, kali ini kau merasa yakin Ayah akan berhasil menemukan Ali dan membawanya lagi ke rumah. Jika Ali benar-benar pulang, kau takut, Ali bukan seperti Ali yang dulu, yang pandai menyimpan dusta-dustamu, dan membelamu. Entah kenapa kau yakin akan hal itu.

Kau ingat, ada salah seorang kawanmu yang pernah diusir oleh ayahnya karena tidak naik kelas. Ia tak boleh pulang dan akhirnya menginap di rumah kakeknya, sampai seminggu kemudian ayahnya datang menjemput. Tak ada seorang ayah tega megusir anaknya sendiri, senakal apa pun kelakuannya. Ya, kecuali jika sudah sangat keterlaluan, kau membantah sendiri pikiranmu.

Seumur-umur belum pernah kau merasa setakut ini. Kau bangkit dari atas karpet, berdiri dan melangkah ke jendela; tak ada suara dan siapa-siapa di luar. Kau duduk lagi menghadap televisi yang baru saja kau matikan. Bediri lagi, duduk lagi. Kau teringat ibumu, yang terakhir kau lihat saat usiamu enam tahun. Ada fotonya dibingkai pigura di dekat tv. Kau mendekat, menatap foto itu lekat. Ibu belum sempat memberimu adik, tapi Tuhan menghadiahimu Ali, dan kau telah membuatnya kecewa dan pergi.

Di sebelah pigura foto itu ada sebuah buku bersampul biru dengan ornamen kuning muda bertuliskan kaligrafi arab yang sulit kau baca. Itu kitab yang tadi dibacakan. Itulah kali pertama kau tergerak membuka kitab yang sepenuhnya bertuliskan huruf Arab selain sl-Qur’an.

Ya Nabi salam ‘alaika

Ya Rasul salam ‘alaika

Kau melantunkannya lirih. Kau sudah lancar membaca al-Qur’an sehingga tidak begitu kesulitan membaca syair Arab itu. Dua baris. Lima baris. Puluhan baris. Tak satu pun kau pahami. Tapi hatimu asyik-masyuk memanggil-manggil Rasul; begitu menikmati!

Ketika ayahmu pulang, betul-betul bersama Ali, kau sudah lelap di atas karpet dengan kitab bersampul biru tergeletak di dekat kepalamu. Ayah dan Ali terpaku sejenak di dekat pintu masuk. Mereka berdua mengedarkan pandang saat disergap harum kasturi yang memenuhi ruangan.**

Wonosobo, 2019-2020

 

[1] Di dalam cinta kepada Baginda Muhammad – Cahaya bagi petunjuk yang sempurna.

[2] Tidak ada bagiku kekasih selain Muhammad – sebaik-baik utusan Nabi yang dimuliakan

[3] Keturunan (Nabi) kamu yakini akan ketinggiannya sebab kebersihannya – Bintang jauza (aries) telah merangkai bintang-bintangnya // Alangkah indahnya untaian kesempurnaan dan kemegahan – Engkau permata tunggal yang terpelihara.

[4] Engkau bagaikan matahari, bagaikan bulan purnama – Engkau cahaya di atas cahaya // Engkau bagaikan logam yang menjadi emas dan mahal – Engkau penerang jiwa.

[5] Dan shalawat Allah semoga tetap atas Muhammad Ahmad sebanyak tulisan barisan-barisan ini // saya memuji pembawa petnjuk, Muhammad pemilik wajah yang cemerlang.

Latest posts by Jusuf AN (see all)

Comments

  1. Indarka Reply

    Tajam. Cerpen yang keren.

  2. Fadiatris Reply

    Bagusnya

  3. Nita Herawati Reply

    Meaningful

  4. rizky akmalsyah Reply

    Allohumma sholli wasallim wabaraik alaihi…setelah baca cerpen ini jadi makin rindu sama baginda Nabi

  5. Anindya Reply

    kerennn

Leave a Reply

Your email address will not be published.