Eccedentesiast dan Manusia Bertopeng

Sumber gambar: Gerd Altmann

 

Pembahasan soal topeng dalam kajian psikologi memang sudah terlalu usang. Sejak sebelum ia menjadi konstruksi ilmiah sebagai ilmu pengetahuan, “persona” yang diserap dari bahasa Yunani dan menjadi bagian integral dari ilmu psikologi pun bermakna topeng. Meskipun demikian, penyalahgunaan topeng pada kondisi tertentu menjadi masalah lain yang akhirnya berubah sebagai cikal bakal konflik psikologis pada manusia. Salah satunya adalah kepura-puraan untuk menjadi bahagia yang lazim kita temui di beranda media sosial.

Konflik psikologis di atas yang akhir-akhir ini, minimal yang saya temui, menjadi persoalan yang tak bisa dianggap remeh. Sebab pada kenyataannya, keilmuan psikologi memberikan perhatian pada prahara tersebut, dengan istilah eccedentesiast. Secara definitif, eccedentesiast merupakan kondisi di mana manusia menyembunyikan rasa sakit (dengan pemaknaan yang luas; tidak merujuk pada sakit tertentu) melalui respons yang berbeda. Rasa nyeri di dalam dada yang dirasakan seorang pemuda sebab perempuan idaman telah menolak cintanya, namun ia menganggap bahwa dirinya sedang tidak mengalami apa-apa, serta berusaha tetap tegar meski hatinya terkoyak, adalah satu dari banyak perumpamaan.

Sikap represif yang mengejawantah menjadi penyangkalan atas kenyataan, sering dialami oleh manusia, tepat sebelum pada akhirnya ia menyadari bahwa sikap tersebut bukanlah solusi. Sigmund Freud, pentolan aliran psikoanalisa, menyebut bahwa represi rupanya menjadi bagian proses terjadinya konflik batin pada diri manusia. Hal tersebut dilakukan dengan cara menegakkan mekanisme pertahanan diri, untuk melindungi kecacatan ego.

Ego sangatlah menjunjung tinggi nilai ideal yang maha sempurna. Hal ini pun tak luput disampaikan oleh Freud pula, bahwa tabiat manusia memang mencari kesenangan, menghindari kesusahan, serta menginginkan kesempurnaan yang ideal. Hal ini yang melatarbelakangi usaha ego untuk melindungi diri melalui meminimalisir kecacatan dengan segala cara, meskipun dengan cara yang paling ngawur. Sikap represif yang dilakukan terus-menerus akan menimbulkan keganjilan batin sebab sampah emosional yang kian menumpuk. Sampah-sampah inilah yang akhirnya menjadi tunas gangguan psikologis ringan, hingga berat.

Paradigma konsep kepura-puraan untuk bahagia bertolak dari keinginan menghindari masalah. Meskipun dalam kondisi sedih yang tak terperi, manusia melakukan represi sampah emosional ke bawah, ke kedalaman menjauhi kesadaran, sebagai wujud keengganannya untuk berhadapan dengan masalah, apalagi menyelesaikannya. Sikap represif yang dilakukan justru boleh jadi akan menjadi alasan munculnya gangguan psikologis. Kabar buruknya, penyangkalan terhadap realitas bahwa pada dasarnya manusia juga mengalami kesedihan-kesenangan yang berulang kali, juga turut andil dalam memperparah kondisi tersebut.

Ki Ageng Suryomentaram dalam Kawruh Jiwanya menjawab fenomena yang demikian melalui hasil berpikirnya tentang raos langgeng (rasa yang abadi). Ia mengatakan bahwa manusia memang rumahnya rasa, antara lain seperti rasa sedih, senang, susah, kecewa, takjub, dan gembira. Rasa yang datang tidak perlu berusaha untuk ditolak dan tidak perlu untuk segera mengusirnya apabila sudah telanjur masuk.

Tidak ada jalan lain untuk menyelesaikan masalah di atas, selain menempuh perjalanan menuju titik kesadaran rasa, yaitu hadirnya kesadaran manusia tentang karakteristik pada perasaan tertentu. Perasaan yang disadari menjadi emosi positif yang membuat manusia bertindak, perasaan yang tidak disadari menjadi emosi negatif yang membuat manusia berada dalam kebingungan, sehingga tak mampu untuk bertindak.

Kepura-puraan untuk bahagia juga menjadi tidak masuk akal ketika mengalami penanaman sugesti yang bernada toxic positivity (kepositifan yang meracuni). Di mana ketika seorang individu meyakini hal-hal positif selalu memberikan implikasi yang positif pula, padahal tidak. Usaha tersebut akan semakin kentara ketika manusia tidak menyentuh dua kutub perasaan secara seimbang. Dengan kata lain, keyakinan terhadap perasaan positif, seperti senang dan gembira, dianggap sebagai sesuatu yang baik, dan perasaan yang berlawanan dengan hal tersebut dianggap sebagai hal buruk.

Anggapan yang meletakkan gelombang psikologis berada pada dua dimensi hitam dan putih bukanlah sebuah sikap yang bijak. Lagi-lagi, seperti yang saya katakan di atas, perasaan akan menjadi emosi positif ketika disadari dan akan menjadi emosi negatif apabila tidak disadari, terlepas apakah perasaan yang dimaksud berupa perasaan positif atau negatif. Secara sederhananya, ketika suatu waktu perasaan positif hadir, namun tanpa disadari, ia tidak akan menjadi emosi positif yang akan membuat manusia merasa senang. Pada suatu waktu yang lain, ketika perasaan negatif hadir, namun rupanya dapat disadari, tentu ia juga akan menjadi emosi positif sebab mewujudkan tindakan berupa sikap penerimaan diri.

Eccedentesiast atau manusia yang berusaha mengenakan berlapis-lapis topeng untuk menghindari masalah dan kemudian melarikan diri, akan tumbuh subur menjadi tunas gangguan mental ketika sama sekali tidak berusaha menghadirkan kesadaran. Hadirnya kesadaran menjadi bagian yang sangat penting ketika membicarakan psikologi. Tanpa kesadaran, psikologi tidak bisa melakukan apa-apa.

Kukuh S. Aji

Latest posts by Kukuh S. Aji (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.