Ekspektasi yang Kandas dalam Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald (2018)

in Hibernasi by

Dari awal rumor kalau kisah petualangan Newt dilanjutkan, penulis hampir merasa kecewa sebab ekspektasi awal untuk melihat monster-monster yang menakjubkan yang terdapat di bukunya hampir sama sekali tidak ada. Meski visualnya bisa dibilang bagus dan bumbu cerita yang agak berlebihan karena judulnya cuma mendompleng nama tenar dunia sihir Harry Potter, penulis kembali melirik kelanjutan film karena satu hal. Jacob Kowalski.

Karena punya nama mirip dengan penulis dan kisah cinta yang hampir mirip juga—tak perlu diceritakan, kembalinya karakter ini sewaktu di teaser pertama muncul langsung menarik perhatian penulis. Jacob Kowalski adalah muggle atau No-Maj di film pertama, kini dengan mengusung embel-embel Grindelwald yang cuma jadi kameo di film pertama, rasa-rasanya agak aneh jika pria tambun berkumis ini perlu berhubungan dengan penyihir jahat sebelum era Voldemort berkuasa.

Nyatanya memang ada hubungannya. Adalah Queenie, perempuan yang menaksir Jacob dan harus menarik Jacob kembali ke dunia sihir padahal mantra sihir yang dikeluarkan Newt di akhir film pertama begitu hebat dan romantis—jika kita ingat efeknya pada keluarga Hermione, tampak seperti mantra yang dikeluarkan Ron Weasley sewaktu belajar di pelajaran pertahanan terhadap ilmu hitam.

Kisah film kedua dimulai ketika Grindelwald yang ditahan oleh pihak Kementrian Sihir Amerika harus ditransfer ke Inggris untuk diadili. Plot klise yang bakal ketebak hasilnya bakal seperti apa karena juga digunakan di film Hollywood lain untuk mentransfer seorang Iko Uwais namun saking cupunya yang nganter, harus baku hantam lebih dulu. Lalu dengan alasan yang tidak jelas, Dumbledore muda—atau tua karena sangat relatif akibat wajah pemerannya, yang diperankan oleh Jude Law menemui Newt yang tidak mendapatkan visa berpergiannya karena belum nonton filmnya Ahok, dengan alasan bahwa Newtlah yang bisa menghentikan Grindelwald. Dan harus. Lha emangnya nggak punya kenalan penyihir hebat lain? Atau cuma karena sosok Newt sebagai seorang penggerak plot saja?

Saat itulah Newt tetiba bingung kedatangan tamu Jacob dan Queenie yang kasmaran dan akan melangsungkan pernikahan namun beberapa menit kemudian Jacob dan Newt menjadi dua orang lelaki yang harus mendapatkan cinta mereka kembali sembari memburu penyihir paling mematikan.

Sayangnya ini bukan kisah sederhana seorang pangeran dan pendampingnya harus menyelamatkan sang putri dari kawalan naga, motif Grindelwald yang mencari Credence yang diperankan Ezra Miller juga tak tampak sampai ke penghujung film.

Sepanjang film, penonton hanya diberi kepingan puzzle tentang siapa masa lalu Credence, kenapa Grindelwald sangat bernafsu untuk mendapatkan dia, binatang ajaib yang keren hanya muncul tiga jenis, serta wajah ayu Nagini yang kurang mendapat porsi! Ayolah, Produser! Anda sudah memberi seisi bioskop takjub sewaktu memperkenalkan Nagini itu aslinya Indonesia—tapi sama sekali tidak bicara dengan bahasa Indonesia, tapi kenapa dia cuma sedikit sekali tampilnya dan tertutup dengan Ezra Miller yang kaku?!

Puzzle itu semakin lengkap ketika pola filmnya mulai terlihat; Grindelwald ingin Credence sebab dia kuat di film pertama karena untuk mengalahkan Dumbledore yang posisinya penyihir paling kuat saat itu, Kementrian menginginkan Dumbledore menangkap Grindelwald tapi Dumbledore menolak dan dia menyuruh Newt, Newt terpaksa terjun dalam kasus karena tahu wanita yang ia sukai di film pertama—padahal di film ini diceritakan juga tentang cinta sejati si Newt namun bukan karakter ini—Tina mengejar Credence karena diutus oleh Kementerian, Credence ingin tahu masa lalunya bertemu Nagini yang akhirnya mempertemukan dirinya dengan Grindelwald, lantas Jacob… Jacob selalu berakhir dengan tragis. Berengsek.

Dengan plot yang terlalu berputar, nama karakter yang aneh sekaligus ada banyak sekali, tidak mengurangi keseruan kisah film ini. Dari awal film sudah disajikan aksi yang menarik namun sekali lagi demi jenggot Merlin, penulis masih dikecewakan oleh judul filmnya karena hanya tiga hewan fantastik yang muncul! Bahkan porsi hewan-hewan ini cukup sedikit meski ada hewan-hewan lain yang menarik akhirnya cukup jadi pemanis film saja. Tapi semuanya tak semanis Nagini—jika ia juga dikategorikan sebagai hewan.

Mungkin jika Anda seorang Potterhead, film ini jadi film melepas rasa kangen Anda terhadap dunia sihir rekaan Bunda JK Rowling. Yah… daripada buku kedelapan Harry Potter yang setelah penulis baca ternyata ceritanya jauh lebih kacau dan munafik dari dua film Fantastic Beast, untungnya serial Fantastic Beast berada di semestanya sendiri. Tidak ada peran yang memukau. Grindelwald menjadi penyihir yang kurang berkarisma layaknya Voldemort, Dumbledore yang masih sering memberi petuah-petuah tak penting, karakter Newt masih kaku meski dibawakan brilian, Nagini yang cantik dan Jacob Kowalski yang ngenes. Ada beberapa sedikit easter egg yang mengingatkan Anda terhadap film Harry Potter terdahulu—penulis cuma menemukan dua dan itu pun masih ragu apakah item terakhir benar-benar muncul di film Harry Potter.

Tentu saja, tanpa spoiler lebih lanjut, film ini akan berlanjut ke seri berikutnya. Karena di akhir cerita, jika Anda jeli, Anda harusnya berada di satu lini dengan penulis untuk menghujat para produser film ini karena tertipu dengan judul! Tapi semoga saja seri ini tidak terlalu panjang karena penulis tidak ingin film ini mengalahkan serial Star Wars. Walau begitu, jika serial ketiga dibuat atau serial lain yang jauh lebih banyak, penulis tetap akan menonton tanpa disuruh dan kewajiban partai apa pun karena alasan penulis menantikan serial ini adalah tentu saja… Jacob Kowalski.

Kepada Tuan Jacob Kowalski.

Kita tahu air dan api memisahkan kisah cintamu dari yang tersayang Queenie. Air dan api yang lebih kejam daripada statusmu atau agamamu dengan dirinya. Anda tahu meski ada air dan mantra yang memengaruhimu, Anda lebih percaya dengan ingatan senyum dan tawanya. Air dan api tak akan mudah menghapus kebahagiaan cintamu. Percayalah Tuan Jacob, cinta tidak akan datang sendirinya. Begitu pula jodoh. Jika tahu jika dia memilih jalan itu, kenapa Anda tidak memilih yang lain saja? Toh Nagini meski belum berbentuk ular seutuhnya, bentuknya masih wanita ayu—meski tak seayu Pai Su Cen. Jadi Tuan Jacob, kita harap meski cintamu sering kandas, segeralah bergerak dan dekati Nagini!

Salam dari sesama penyandang namamu,

Jacob Julian.

PS: Jacob di serial Twilight juga kandas juga lho kisah cintanya. Kamu jangan mau kalah!

Jacob Julian

Jacob Julian

Penulis, penggemar film yang merangkap sebagai detektif partikelir, juga pandit sepak bola antar kampung.
Jacob Julian

Leave a Reply

Your email address will not be published.