Empat Menguak Rupa

in Rehal by

Barangkali ini sebuah kebetulan nan mengesankan. Sekira dua tahun belakangan, empat penulis terbilang kondang di gelanggang sastra Indonesia angkatan 90 secara berturutan menerbitkan buku kumpulan esai seni rupa. Itu bukan hanya menunjukkan terbukanya dunia seni rupa dari penilaian, penafsiran, atau pandangan luar, melainkan juga mengisyaratkan bahwa kritik, alih-alih kritikus, seni rupa belum sepenuhnya tamat di republik ini.

Pertama, pada Juni 2016, lewat penerbit Oak Yogyakarta, Nirwan Dewanto (l. 1961) menerbitkan Satu Setengah Mata-Mata setebal 312 halaman. Seperti buku filsuf seni Arthur C. Danto, The Madonna of the Future (1997), dan himpunan tulisan kritikus seni rupa Sanento Yuliman, Dua Seni Rupa (2000), tak selembar halaman pun buku Dewanto berukuran 13,5 x 20,5 sentimeter itu memuat ilustrasi, foto, atau reproduksi karya seni rupawan, alih-alih 32 pameran seni rupa, yang diperbincangkannya. Itu sengaja dibuatnya lantaran dia begitu percaya dengan kemampuan kata-katanya menimbulkan gambar dalam benak pembaca.

Kedua, Wicaksono Adi (l. 1966) bukanlah orang Indonesia pertama yang menjadikan buku sebagai cendera mata. Tapi dialah pengantin Indonesia pertama yang mengadakan antologi esai seni modern Indonesia, 22 esai seni rupa, sastra, dan film, setebal xxii + 890 halaman sebagai kenang-kenangan untuk hadirin dalam resepsi pernikahannya kali pertama di sebuah rumah peristirahatan berhalaman rumput hijau segar lagi jembar di kaki Gunung Merapi Yogyakarta pada Sabtu malam, 23 Desember 2017.

Atas soal tersebut, saya kira, antologi berjudul Menyangkal Surga yang diterbitkan oleh Ruas Media Yogyakarta dengan ukuran 15,5 x 24 sentimeter itu layak dapat penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia alias MURI.

Ketiga, sekalipun hanya memuat sedikit esai seni rupa, 4 ulasan pameran-karya Agus Suwage, Teguh Ostenrik, Yuswantoro Adi, dan Mella Jaarsma, serta 1 resensi buku Ugo Untoro karangan Omi Intan Naomi, buku Semesta Manusia Nirwan Arsuka (bahkan Google yang mahatahu sekalipun tak tahu tanggal, bulan, dan tahun kelahiran pendiri Pustaka Bergerak ini), terbitan Ombak Yogyakarta, April 2018, diperlakukan istimewa seolah galeri seni rupa dengan tata letak dan desain sampul yang “nyeni”, yang dirancang-bangun oleh kurator Mikke Susanto dari belasan reproduksi karya seni rupawan terkemuka Yogyakarta, utamanya karya pematung Abdi Setiawan.

Tak kurang dari itu, Mikke Susanto, Anam Choirul, dan Tomi Firdaus mengusung pameran sepuluh hari bertajuk Dialog Dua Anak Haram, yang diikuti oleh perupa Ugo Untoro, Andre Tanama, Alfin Rizal, Enka Komariah, Media Legal, Adit Here-Here, Susiyo Guntur, dan Adi Ardiansyah, untuk mengiringi peluncuran buku setebal xiv + 809 halaman dan berukuran 16 x 24 sentimeter itu di markas penerbit Ombak, Perumahan Nogotirto III, Jalan Progo B-15, Yogyakarta, pada Kamis malam, 19 April 2018.

Keempat, Kris Budiman (l. 1964) dengan buku Bentang Tubuh Batu dan Hasrat yang bersampul foto karya instalasi sabut kelapa bertajuk Ruh Pande Ketut Taman. Dibandingkan dengan buku Arsuka, Adi, dan Dewanto, buku yang diterbitkan oleh Nyala Yogyakarta pada April 2018 ini terbilang paling tipis dan mungil. Tebalnya, x + 107 halaman. Ukurannya, 13 x 20 sentimeter.

Tapi, di antara ketiga lainnya itu, buku inilah yang “terilmiah” dengan “pembacaan cermat” (close reading) dan “pendekatan semiotika”-nya. Itu disadari Budiman sebagai “pilihan metodologis” untuk “menjauh dari kecenderungan dominan dalam telaah-telaah dan tinjauan-tinjauan seni rupa di Indonesia yang sampai sejauh ini masih mengedepankan pendekatan “biografis” (dalam tanda petik), tafsir-tafsir parafrastik, dan kadang sedikit dipercanggih dengan permainan jargon.” (hlm. ii)

Dengan “pilihan metodologis” itu, Budiman menelaah lukisan dan instalasi Putu Sutawijaya, lukisan Nyoman Masriadi, objek dan instalasi Pande Ketut Taman, instalasi Sunaryo, Nindityo Adipurnomo, dan Titarubi yang terdapat dalam film Opera Jawa Garin Nugroho (2006) sebagai objek intelektual yang mengandung tanda-tanda visual nan bermakna ihwal tubuh dan hasrat manusia.

Hasilnya adalah delapan tafsir nan budiman, yang menunjukkan kecakapan memahami, menjelaskan, dan mengamalkan suatu teori, konsep, dan pengertian “ilmiah” tertentu untuk karya seni rupawan kontemporer Indonesia.

Sayangnya, mungkin konsekuensi logis dari “pilihan metodologis”, selain salah ketik yang berhamburan di halaman-halaman penghabisan, dan sedikit komentar kritis di ujung tinjauan karya Sunaryo, buku dengan sembilan belas gambar berwarna ini sengaja menghindar, kalau bukan luput, untuk menjelaskan dengan meyakinkan konteks atau tempat karya-karya keenam perupa tersebut, terutama sebagai implikasi dari telaah, tinjauan, dan tafsir atas perangkat material dan formal serta gagasan atau makna mereka, dalam khazanah seni rupa kontemporer Indonesia.

Wahyudin

Kurator seni rupa, tinggal di Yogyakarta.

Latest posts by Wahyudin (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.