Evolusi Pertengkaran

Iván Tamás

Pertengkaran rupanya berevolusi. Dulu pertengkaran pada masa Yunani pernah dibuat semacam hiburan. Begitupun sebagai hiburan, pertengkaran itu ternyata mematikan. Pertengkaran tak akan tuntas jika belum menebas nyawa. Para petengkar (maksud saya, petarung) harus saling mematikan. Namanya gladiator. Mereka umumnya sudah dikebiri. Mereka tak bisa lagi berketurunan. Jadi, kalau saja mereka meninggal, tak ada keluarga yang sedih. Maka, dengan bangga dan merasa pahlawan, mereka akan bertarung habis-habisan tanpa ampun.

Hampir tidak ada maaf. Malah kalau memaafkan, bisa saja justru dia yang terbunuh. Maka itulah, pertarungan hanya akan selesai ketika salah satu dari mereka terbunuh. Tujuan pertengkaran itu sebenarnya mulia: menghibur penonton. Tetapi, hiburan akan benar-benar ada jika dan hanya jika ada kematian. Begitulah paradoks hiburan: melihat orang mati, kita pun bahagia. Melihat orang masih hidup, kebahagiaan kita belum memuncak. Kalau dalam bahasa Rocky Gerung, tunggu ada yang keok, baru kita bahagia.

Setelah ada yang keok, penonton pun berteriak histeris penuh euforia. Kala itu, harga darah seakan tidak ada, kecuali sebagai pengabdian dan kegembiraan. Walau demikian, mereka sesungguhnya sudah punya etika. Lawannya sebanding. Tak ada main keroyokan. Peralatan yang diberikan pun setimpal. Dan, para petarung sangat sportif. Di arena mereka memang saling mematikan, tetapi di “asrama” mereka saling menerima, memuji, bahkan saling melatih dan mengembangkan diri.

Tidak Ada Spotivitas

Kini, dunia berkembang. Konon norma dan etika pun katanya ikut berkembang. Tetapi, merunut pada Charles Darwin, Karen Amstron justru mengkonstatir bahwa manusia sesungguhnya tak pernah berkembang atau katakanlah tak pernah berhasil “berevolusi” secara utuh. Alasannya sederhana. Jika dulu nenek buyut kita ibarat reptil yang liar, sampai kini, kita sesungguhnya tetap saja demikian. Hukum, norma, dan etika memang berkembang, tetapi semua itu hanyalah urusan normatif, bahkan formalitas.

Formalitasnya, jika ada yang meninggal, ya, kita menangis dan mungkin juga berpakaian warna hitam. Akan tetapi, itu hanya semata simbol. Tangisan tak berasal dari hati, hanyalah agar orang lain melihat kita mengikuti norma-norma yang normatif. Maka lihatlah (saya tak mau menyinggung pilpres dengan membuatnya sebagai contoh meski itu menjadi contoh yang faktual dan kongruen, pasalnya pilpres kali ini sudah benar-benar menjemukan) ketika Polri menangkap Novel Baswedan.

Secara normatif, Jokowi sudah menginstruksikan agar Polri “menahan” diri, tetapi Polri berjalan dulu untuk beberapa lama hingga kemudian berhenti. Jokowi diam saja melihat itu. Wilayahnya cukup menginstruksikan dan itu normatif, bukan? Polri pun demikian. Mereka berhenti bukan karena dari hatinya, melainkan dari normatifnya. Mereka suatu saat juga akan mencecar yang lain. Seperti kata Amstrong tadi, manusia hingga kini tetap saja liar. Maka, peristiwa ini selalu berulang—memang bukan untuk semua—ada peperangan, dendam, teror-meneror, tak ada kasih, kecuali formalitas.

Entah apa yang mereka perebutkan. Untunglah W.S. Rendra punya syair yang tepat untuk menggambarkannya. Kata Rendra, “…hidup cemar oleh basa-basi dan orang-orang mengisi waktu dengan pertengkaran edan yang tanpa persoalan ….” Catat sekali lagi, pertengkaran tanpa persoalan. Conor McGregor bertengkar di atas ring dengan Khabib Nurmagomedov. Sebelum pertengkaran itu resmi, mereka sudah terlebih dahulu bertengkar hanya karena alkohol. Penggemarnya pun ikut-ikutan bertengkar. Setelah pertengkaran itu tuntas di ring, penggemarnya juga kembali bertengkar. Untuk apa? Lihat Rendra di atas.

Serupa dengan Conor vs Khabib, kita juga pernah dihebohkan pertarungan Manny Pacquiao (36) melawan Floyd Mayweather Jr, (38). Meski diperankan tokoh yang berbeda, kedua pertengkaran ini sebenarnya identik: tidak gratis. Banyak unsurnya, ada bisnis, nasionalisme, gengsi, trofi, dan sebagainya. Dalam perkelahian tersebut, Pacquiao, misalnya, dibayar USD 100 juta dan Floyd USD 150 juta. Kalau dirupiahkan, nilainya lebih dari Rp 1,2 triliun dan Rp 1,8 triliun. Saya kira, itu jumlah yang pantas untuk diperebutkan. Sah, halal, sportif, dan bayar pajak pula.

Ciri inilah yang tak kita temukan pada pertengkaran politik di negara ini. Sportivitas tidak ada, apalagi sopan-santun. Pertengkaran justru main keroyokan, persekusi, ada main intip-intipan, ada main begal-begalan, dan masih banyak lagi. Hari-hari kita pun melulu pertengkaran. Sialnya, itu dapat disamaartikan dengan pertandingan Pacquiao dan Mayweather tadi dari segi materi: berbayar atau tak gratis, bahkan menghabiskan banyak dana. Kalau Anda tak melihatnya, saya khawatir Anda sudah tak mengenal apa itu pertengkaran.

Kita Dikuras

Atau, jangan-jangan bagi Anda keadaan melecehkan dan mencederai bukan lagi sebuah pertengkaran, melainkan sebuah proses dari evolusi yang membuat setiap individu harus bertarung dan beradaptasi. Saksikanlah, sekadar menyebut yang monumental, pernah ada perkelahian yang menjadi tontonan antara Ahok vs DPRD DKI Jakarta, antara KPK vs Polri dengan berbagai jilidnya, antara binatang air dan binatang malam: cebong vs kampret (eh, terpeleset, saya tak mau menyinggung itu lagi, ya: membosankan dan menjijikkan).

Nah, Anda tahu, di balik pertengkaran ini, ternyata kita dikuras. Pasalnya, mereka tak bayar pajak. Bahkan malah sebaliknya, justru menghabiskan pajak. Tetapi anehnya, kita justru disuruh membayarnya. Bayangkan berapa emosi terkuras untuk ini? Kadang memang, mereka yang dibiayai APBN kelihatan bertarung seakan demi memperjuangkan APBN, padahal sesungguhnya mereka sedang memperebutkan APBN. Nyaris di semua tempat serba pertengkaran dan punya tarif masing-masing. Indra Tranggono menyebutnya sebagai garong.

Ada yang konvensional dan ada pula yang inkonvensional. Garong konvensional adalah mereka yang bertengkar dengan kasar. Garong inkonvensional adalah mereka yang bertengkar dengan halus. Baik konvensional maupun inkonvensional sebenarnya bermuara pada hal yang sama: kejahatan. Caranya saja yang berbeda. Yang kasar, misalnya, para begal. Mereka menjarah. Pertengkaran ini tak gratis. bahkan tak jarang justru mengorbankan nyawa di samping harta benda.

Mereka ini main gerombolan dan hanya berani di tempat sunyi dan gelap, sama sekali tak sportif. Dan, korbannya biasanya adalah kaum lemah. Yang halus kurang lebih sama. Mereka ini juga menjarah, cuma caranya sudah elegan. Tempatnya pun sepi, tepatnya sepi dari pemberitaan. Bahkan, sebisa mungkin mereka akan membuatnya menjadi sesuatu yang konspiratif sehingga tak jarang para tersangka mengaku sebagai korban politik. Korbannya? Tak lain tak bukan, kecuali mereka yang lemah.

Bertubrukan Begitu Saja

Memang, korban tidak serta-merta langsung tewas di tempat seperti yang dilakukan para begal. Hanya, di kemudian hari, masa depan para korban tak jelas. Sekadar makan saja tak bisa, konon lagi sekolah dan menjaga kesehatan. Maka, korban di sini “tewas” pelan-pelan secara massal. Apakah itu sportif? Lupakan tentang sportif. Sportivitas di sini sudah menemui kiamatnya. Mana sebanding kalau petarung inkonvensional dihadapkan secara frontal kepada para masyarakat lemah?

Yang ada, masyarakat justru dijadikan sebagai umpan dan peluru. Lebih sadis, jika para petarung inkonvensional berlaga kubu yang satu dengan kubu yang lain. Masyarakat otomatis menjadi korban. Gajah sama gajah berantam, rerumputanlah yang tertindas. Saya tak tahu kapan pertengkaran ini berhenti. Yang saya tahu, bangsa ini kini kurang peduli. Semua sibuk memikirkan diri sendiri dan sibuk melindungi diri sendiri pula. Jadilah bangsa ini bangsa pemberang dan pemarah, sialnya salah arah. Mereka berang pada apa yang mereka tak tahu sehingga sesama saudara pun dibabat atas nama beda agama, misalnya.

Maka, lahirlah pertengkaran massal. Tak tahu trofi apa yang mereka perebutkan. Semua hanya bertubrukan begitu saja. Seperti kata W.S. Rendra tadi, mereka hanya bertengkar. Ya, hanya bertengkar begitu saja. Sialnya, itu tak gratis. Semua berbayar. Apakah ke depan pertengkaran ini akan berhenti? Saya yakin tidak. Manusia memang seperti kata Amstrong tadi, tak berhasil berevolusi. Namun, sikapnya selalu revolutif. Maka, tak heran jika di kemudian hari, pertengkaran berbayar ini justru menjadi pertengkaran prabayar. Bermula di medsos, lalu tuntaskan di dunia nyata. Sudah ada korbannya juga bukan?

Riduan Situmorang

Riduan Situmorang

Pegiat Literasi, Aktif di Pusat Latihan Opera Batak Medan, serta Konsultan Bahasa di Prosus Inten Medan.
Riduan Situmorang

Latest posts by Riduan Situmorang (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.