Fenomena Penyair Perempuan Indonesia

bibliophilefiles.tumblr.com

“Sepi mengajariku, mengenal cintamu.” Linda Elizabeth[i]

Eksistensi Perempuan

Helena Cixous dalam “Le Sexe ou la lete?”[ii] menceritakan kalau Sigmund Freud pernah bertanya: “Apa yang diinginkan perempuan?” Jawabannya: “Tidak ada!” Perempuan adalah ‘keinginan itu sendiri’. Bila ada perempuan yang memiliki keinginan, ‘keinginan terbesarnya hanyalah menjadi yang diinginkan’ oleh orang lain, misalnya laki-laki. Kemudian Freud mendefinisikan perempuan sebagai “she lacks lack (kurang akan kekurangan).[iii] Definisi ini tentu cukup propagandis, tetapi demikianlah perempuan.

 

Kierkegaard sempat membuat analogi menarik perihal eksistensi perempuan. Baginya perempuan adalah penidur. Mula-mula cinta memimpikan dia, kemudian dia memimpikan cinta. Dari mimpi ke mimpi, dia selalu berada dalam posisi yang kedua: memimpikan cinta. Helena—menjelaskan tesis Kierkegaard—lebih parah lagi dengan mengatakan; jika mencari seorang perempuan yang hilang, kemungkinan besar akan ditemukan di satu tempat yang biasa: tempat tidur dan sedang berbaring.[iv]

Dari Freud, Kierkegaard, sampai Helena, semua seakan menopang kebenaran bahwa Hawa—sebagai perempuan pertama di dunia—diciptakan dari tulang rusuk Adam. Saat Adam merasa sendiri dan sepi di surga tanpa teman. Itulah alasan pertama—selain alasan lainnya—perempuan diciptakan untuk menemani kesendirian dan mengisi kesepian. Alasan tersebut kemudian berlanjut sampai hari ini, sampai ke dalam dunia puisi.

Simone de Beauvoir dalam “Women and Creativity”[v] menyadari bahwa dalam sejarah kesusastraan dunia, dibanding laki-laki, perempuan lebih sedikit dikenal sebagai penyair dengan karya yang hebat, baik secara kuantitas maupun kualitas.[vi] Tanpa bermaksud menolak feminisme, kita sering menyaksikan banyak penyair perempuan di Indonesia pada awal kemunculannya begitu ‘cetar membahana’. Namun kemudian, perlahan, lenyap seperti ditelan bumi. Dari kabar ke kabar, ketika kita bertanya, alasannya selalu sama: “dia sudah menikah, dia sibuk mengurus anak dan suami, dia sudah menjadi ibu rumah tangga.”

Dalam hidupnya—apalagi sudah berumah tangga, perempuan tidak bisa memiliki dirinya sendiri seutuhnya. Dia adalah ‘milik bersama’: suami, anak, cucu, dan keluarga besarnya. Menemani kesendirian dan mengisi kesepian. Dari sinilah, kita bisa melihat, mendengar, dan merasakan bagaimana sulitnya menjadi seorang perempuan. Sesuatu yang jarang disadari oleh kaum laki-laki, termasuk oleh suaminya sendiri. Dengan demikian, adakah cara agar perempuan yang suka menulis puisi tetap ‘cetar membahana’ dan bertahan sebagai penyair di tengah kesibukannya?

Ruang Pribadi

Cara memang tidak bisa menjamin sebuah keberhasilan, tetapi setidak-tidaknya, ada 4 hal yang bisa dilakukan oleh seorang perempuan agar tetap menyair:

Pertama, memiliki Ruang Pribadi. Simone mencontohkan Virgiana Woolf dengan “A Room  of  One’s Own”,[vii] bagaimana seorang perempuan bisa melakukan apa saja yang dicintainya dalam ruang pribadi, misalnya menulis dan membaca. Ruang pribadi bisa bermakna tersurat, seperti kamar, beranda, atau halaman belakang rumah, dan bisa juga bermakna tersirat misalnya sendiri dan suasana sepi. Di ruang pribadi itulah, dia bisa memanfaatkan waktu yang ada secara berkualitas untuk terus berproses kreatif.

Kedua, menulislah puisi sebagai penyair, bukan sebagai perempuan. Dengan demikian, kata Simone, menulis bukan hanya mengisi waktu luang, tetapi menulis untuk dunia sebagai panggilan jiwa.[viii] Menulis puisi adalah menulis apa yang ‘harus’ ditulis, bukan saja apa yang ‘ingin’ ditulis sebagai seorang perempuan. Jadikan puisi sebagai “suara eksistensi” dari balik jeruji yang bernama rumah tangga. Hentikan tangisan dan ratapan, karena memang bukan itu yang dibutuhkan proses kreatif kepenyairan.

Ketiga, jangan takut mempublikasikan karya. Apa yang dihasilkan dari ruang pribadi, lemparkanlah ke luar sebagai sebuah karya yang siap dinikmati pembaca. Baik dengan cara mengirimkannya ke media, atau menerbitkannya menjadi buku. Hal ini penting dilakukan, karena barangkali nasib kita tidak seberuntung Emily Dickinson. Perawan tua yang menulis ratusan puisi, sebagian besar hanya disimpan dalam laci. Baru setelah kematiannya, seseorang yang menemukan puisi-puisi tersebut menyiarkannya secara luas, dan jadilah dia penyair perempuan ternama Amerika abad 19.

Keempat, ciptakan psikologi literasi dalam keluarga. Kerja menulis dan membaca adalah virus yang bisa menular, dan perlu ditularkan dalam keluarga, misalnya pada suami, dan anak. Dengan cara begitu, paling tidak mereka bisa mengerti bahwa menulis dan membaca membutuhkan waktu dan ruang yang khusus. Selain itu, sekurang-kurangnya mereka bisa menghargai waktu kita saat berada dalam ruang pribadi. Menularkan virus literasi, bisa dimulai dengan menceritakan isi buku, atau memberikan hadiah buku sesuai kesukaan mereka. Menularkan virus literasi adalah perlu, sebab itu bisa menyelematkan mereka dari kebiasaan buruk.

Itulah empat hal yang bisa diterapkan, namun bagian manakah yang paling utama?

Perasaan Estetis

Satu dari empat cara di atas yang paling utama adalah memiliki ruang pribadi. Kenapa? Di dalam ruang pribadi itulah, apa yang disebut Lorens Bagus sebagai “perasaan estetis” bisa tumbuh dengan subur. Perasaan estetis merupakan tanggapan atas suatu keadaan emosional yang timbul dari gejala kemanusiaan. Suatu perasaan yang bisa diungkapkan dengan cara yang indah atau luhur, tragis atau kocak.

Perasaan estetis tidak terbatas pada pengalaman estetis kemanusiaan, tetapi lebih luas pada tingkat kesadaran kita sebagai manusia.[ix] Perasaan murni yang diliputi keindahan setelah proses mengambil jarak dari emosi. Perasaan yang hanya bisa dirasakan dalam sepi-sendiri—khususnya—oleh seorang perempuan.

Lantas di manakah tempat bersemi paling semai perasaan estetis itu? Di dalam puisi! Puisi merupakan ‘perasan’ akhir dari ‘perasaan estetis’ yang bisa menjadi sumber kegembiraan dan ilham bagi manusia. Selain itu, menurut Maman S Mahayana, puisi—mengingat bentuknya yang lebih padat dan ekspresif—konon paling mewakili kegelisahan emosional. Konon juga, manusia sering kali merasa lebih mudah mengungkapkan kegalauan perasaan dan pikirannya lewat puisi daripada ragam karya sastra yang lain.[x]

Jakarta, 30 April 2019

 

[i] Potongan lirik lagu karya Noorady yang dinyanyikan Linda Elizabeth dengan judul “Hati Sepi Seorang Perempuan”, 1985.

[ii] Teks transkip percakapan yang terbit pertama kali di majalah Les Cashier du GRIF, Nomor 13 (1976) dan diterjemahkan oleh Haniah dengan judul “Pengebirian atau Penggal Kepala”.

[iii] Helena Cixous, “Pengebirian atau Penggal Kepala” dalam Hidup Matinya Seorang Pengarang, Editor: Toeti Heraty (Jakarta: Obor, 2000), 127-128.

[iv] Cixous, “Pengebirian atau Penggal Kepala”, 121-122.

[v] Tesk kuliah umumnya di Jepang pada tahun 1966, dan diindonesiakan oleh Haniah dengan judul “Perempuan dan Kreativitas”.

[vi] Simone de Beauvoir “Perempuan dan Kreativitas” dalam Hidup Matinya Seorang Pengarang, Editor: Toeti Heraty (Jakarta: Obor, 2000), 91.

[vii] de Beauvoir “Perempuan dan Kreativitas”, 92.

[viii] de Beauvoir “Perempuan dan Kreativitas”, 105.

[ix] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia 2000), 824.

[x] Maman S Mahayana, 9 Jawaban Sastra Indonesia, (Jakarta: Bening Publishing 2005), 259.

Sofyan RH. Zaid

Lahir di Jenangger, Batang-batang, Sumenep 08 Januari 1986. Alumni PP Annuqayah Lubra Guluk-Guluk, Sumenep, dan Falsafah Agama, Universitas Paramadina Jakarta. Karya-karyanya berupa puisi dan esai terbit di sejumlah media, sepertiMedia Indonesia, Jawa Pos, Bali Post, Indopos, Padang Ekspres, Pikiran Rakyat, Riau Pos, Seputar Indonesia, Solopos, Merapi, Suara NTB, Banjarmasin Post, Metro Jambi, Minggu Pagi, Radar Bekasi, Radar Madura, Horison, Annida, Sahabat Pena, Kuntum, BasaBasi, dan sebagainya.

Sejumlah karyanya juga tergabung dalam buku bersama, semisal Empat Amanat Hujan (DKJ, 2010), Narasi Tembuni (KSI, 2012), Suara 5 Negara (Tuas Media, 2012), Tifa Nusantara I,II & III (TKSN, 2013, 2015, 2016), Negeri Langit (DNP V, 2014), Negeri Laut (DNP VI, 2015), Negeri Awan (DNP VII, 2017), Bersepeda ke Bulan (Indopos, 2014), Nun (Indopos, 2015) Lentera Sastra II (Antologi Puisi 5 Negara, 2014), Pengantin Langit (KSI, 2014), Gelombang Puisi Maritim (DKB, 2016), Pasie Karam (DKAB, 2016), dan lainnya.

Buku puisi tunggal pertamanya Pagar Kenabian (TareSI, 2015) mendapat banyak ‘perhatian’ sebagai ‘puisi pagar’ dan masuk 15 nominasi Anugerah Hari Puisi Indonesia (2015). Kini tinggal di Bekasi sebagai editor, konsultan, redaktur, dan berproses kreatif di Hari Puisi Indonesia.
Sofyan RH. Zaid

Comments

  1. Uki Bayu Sedjati Reply

    mmm, memang priyayi santri dari Sumenep ini walau usianya relatif muda namun wis “menep.” Karya-karya tulisnya memiliki ragam referensi menunjukkan pejelajahan literasinya sudah siap “mbludus/menyusup” sela-sela pagar kenabian. Zaid, pahlawan muslim di era Muhammad SAW – pilihan nama orangtuanya yang pas, dan dia terus ikhtiar menjunjung amanah keluarga besarnya. Barokah, indya Allah. Aamiin🤗👍

  2. Anonymous Reply

    Kutipannya dari luar semua. Padahal kalau diambil misal yang terjadi pada kepenulisan Woolf disandingkan dengan contoh-contoh proses kreatif penyair Indonesia seperti Isma Sawitri misalnya, atau Dina Oktaviani, atau generasi terkini seperti Mia Indria, pasti akan lebih menarik dan mendalam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.