Gandrung Berpikir Kritis Akibat Jemawa Logosentris

Judul              : Berpikir Kritis Kecakapan Hidup di Era Digital

Penulis            : Kasdin Sihotang

Tebal              : 264 halaman

Tahun             : I, 2018

Penerbit          : Kanisius

ISBN               : 978-979-21-5675-1

Peresensi        : Anton Suparyanta

Gaung pakar telah mati, intelek telah mati, pun kaum cendekia bisu bukanlah isapan jempol untuk jejak awal era 4.0 ini. Era disrupsi. Era digital. Era maya. Ilmu ternyata candu. Pekik revolusi menjadi umpatan keki. Apa tuaiannya?

Kecenderungan intelektual di tanah air justru menjadi jemawa mengartikan negatif jika para cerdik-cendekia senantiasa menerapkan berpikir kritis. Tengara bodoh mengemuka, yakni kritis bergegas dicap negatif karena berseberangan dengan kubu dan melawan arus utama. Padahal kritis menjadi penjaga kewarasan setiap pribadi untuk menalar dengan benar. Kritis menjadi perawat hati ketika sang panglima pikir bertindak dungu.

Pustaka Berpikir Kritis, Kecakapan Hidup di Era Digital ini pintar menyigi situasi dan kondisi peradaban bangsa yang sedang gaduh. Tak ada logika hulu dan hilir yang benar. Tanda-tanda zaman ini sangat memerlukan trik lihai untuk selalu kritis dalam mencerna fenomena hidup yang penuh huru-hara. Tak dapat dielakkan, tak bisa dihindari, tetapi harus diselami.

Gejala ini diungkap Thomas Lickona (seorang profesor pendidikan dari Cortland University). Thomas Lickona jemawa merumuskan 10 (sepuluh) tanda zaman yang menggila. Ancaman ini harus sigap dan sadar diwaspadai karena dapat mengusung bangsa menuju jurang kehancuran. Kasdin Sihotang menyigi teroka zaman Thomas Lickona ini menjadi 8 (delapan) rumusan. Kasdin Sihotang memeras teroka Richard Paul dan Linda Elder yang terjebak logika teknofil (hlm 8-9).

Kesepuluh ancaman ala Thomas Lickona meliputi 1) peningkatan kekerasan atau banalitas di kalangan remaja atau masyarakat; 2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk atau tidak baku; 3) pengaruh peer group (geng) dalam tindak kekerasan semakin tidak terkendali; 4) peningkatan perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol, dan seks bebas; 5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk; 6) penurunan etos kerja; 7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru; 8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan kelompok; 9) membudayanya kebohongan atau ketidakjujuran; serta 10) adanya rasa saling curiga dan kebencian antarsesama.

Kitab Critical Thinking; Tools for Taking of Professional and Personal Life (2014) menjadi karya babon Richard Paul dan Linda Elder. Paul dan Linda pun tak kalah jemawa menderetkan ciri-ciri kondisi dunia terkini: 1) dunia kini gagal mengantisipasi pengetahuan/data dalam pekerjaan, gagal memprediksi jenis pekerjaan yang akan kita serap; 2) kuasa dunia teknologi menjurus pola pikir simplistis untuk isu kompleks (kriminalitas, intoleransi, kejahatan remaja); 3) media nasional menggagahi kuasa lebih atas pikiran masyarakat; 4) privasi selalu digerus penetrasi teknologi: software, tes DNA, kartu kredit, sistem lacak diri; 5) globalisasi tanpa kendali secara virtual dan menjauhkan mutu putusan yang memengaruhi hidup; 6) ideologi demi komunitas eksklusif; 7) banalitas atau kekerasan menjungkirkan keadilan; 8) peradaban semakin dipepet demi perang ideologi.

Monster penggilas pikir inilah yang dirumuskan menjadi teknofilisme (menurut Eric-Schmidt dan Jared Cohen) dan jauh hari telah didefinisikan menjadi nekrofilia (menurut Erich Fromm). Bahasa sederhananya terjadi gegar pola pikir yang memutlakkan teknologi dan mendorong niatan mematikan orang lain.

Wacana terbaru untuk buku Kasdin Sihotang ini layak menginspirasi 2.237 guru (34 provinsi) yang sukarela disurvei PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Rilisnya, guru cenderung intoleran mencapai 53,06%. Sikap intoleran misalnya menolak jika ada tetangga yang berbeda agama mengadakan kegiatan rohani di lingkungan sekitar, tidak setuju pendirian sekolah dan rumah ibadah berbasis agama lain, serta memiliki atasan (kepala sekolah atau pengawas) beda agama. Jumlah guru berpikir toleran 32,99%. Guru sangat toleran hanya 3,93%.

Sikap intoleransi bisa dikendalikan ketika Kasdin Sihotang memeras tata pikir Sharon M. Kaye, John Dewey, Edward Glaser, dan Robert Ennis tentang pola berpikir kritis pada era disrupsi. Berpikir kritis menjadi fondasi humanisasi-hominisasi, tidak mencari salah dan cacat orang, tetapi menggandeng dan membangun. Berpikir kritis itu konkret.

Berpikir kritis membangun kunci unggul keutamaan hidup. Kasuistik guru tersebut sejatinya menjadi petualang keutamaan secara signifikan. Richard Paul dan Linda Elder mengerangkakan 5 (lima) keutamaan intelektual yang diemban guru; yakni kerendahan hati, keberanian, empati, integritas, dan rasionalitas (hlm 40).

1) Kerendahan hati (humilitas) intelektual memfokuskan kesadaran akan keterbatasan diri. Keutamaan ini menghindari egosentrisme dan arogansi. Tidak sembarangan menilai sesuatu yang kabur, termasuk hoaks. Guru berhumilitas akan menyadari opini Socrates (“ia tahu bahwa ia tidak tahu”).

2) Keberanian intelektual dihidupi humilitas. Keutamaan ini membuat guru cakap mengurai nilai positif dan reaksi negatif. Keberanian tidak meruangi konformitas dan stereotipe. Di dunia kerja atau profesi, keutamaan ini mengatasi ketakutan akan penolakan. Intelektual tak gentar berkata benar dan salah.

3) Empati intelektual melebur pribadi pada pihak lain secara etis, tanpa terjerumus sikon orang yang dibantu. Keutamaan ini mengeliminasi egoistis, urakan, dan emotivisme. Justru keutamaan ini menggiring orang menyelesaikan masalah secara rasional.

4) Integritas intelektual menyelaraskan totalitas pikiran dan perbuatan. Guru memiliki karakter kongruen. Guru berintegritas moral pasti menghindari hipokrit. Guru berintegritas sebagai manusia bermutu.

5) Rasionalitas mengunci bahwa rasio adalah modal esensial manusia. Fungsi rasio dihidupkan agar menimang alasan baik dan menjadi kriteria penilaian menerima atau menolak beragam keyakinan. Lima kunci keutamaan ini menjadi ruh-guru untuk berpikir kritis ketika menghadapi gempuran akibat manfaat sesat teknologi tanpa disorientasi (hlm 44). Kecerdasan kritis buku ini justru menepuk kembali survei UIN. Buku bagus untuk pendidik, pelajar, akademisi, dan intelektual muda.

Dengan notabene merah: gegaslah revisi dan editing ulang dengan tata letak yang mumpuni.

Sayang, buku ini memiliki cacat mendasar yang mengganggu. Hipenasi atau pemenggalan kata antarbaris terlalu abai ejaan. Judul fitur terkesan copy paste bentuk dan model yang serupa sehingga berakibat lemah editing penjudulan. Banyak diksi lewah ketika  pengalimatan berstruktur SPOK. Beberapa diksi serapan salah penggunaan dan tidak gramatik. Puluhan lembar jawab esai di bagian penyudah buku justru mengurangi kekritisan dulce et utile isi.***

Anton Suparyanta

Anton Suparyanta

Alumnus FIB UGM Yogyakarta. Sejak tahun 1998-2017 aktif sebagai esais pendidikan-seni-budaya-sastra di beberapa harian pagi (Jawa Pos, Riau Pos, Lampung Pos, Suara Merdeka, Bernas, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Surya) dan mantan dosen di FKIP Universitas Widya Dharma, Klaten. Tahun 2005 hingga kini, aktif sebagai penulis buku dan menjadi staf di penerbit PT Intan Pariwara, Klaten, Jawa Tengah.
Anton Suparyanta

Latest posts by Anton Suparyanta (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.