George Orwell, Esai, dan Sastra Politik

in Esai by
wikipedia.org

George Orwell pertama kali saya kenal lewat novel tipisnya yang berjudul Animal Farm. Novel itu terbit pertama kali tepat di tanggal kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. Bagi saya, novel itu merupakan sebuah karya yang kaya atas proses refleksi. Meski terbilang tipis, novel tersebut mempunyai kekuatan besar untuk kita pelajari dengan saksama. Sebagai bentuk kritik atas era Stalin yang ditolak Orwell dengan tegas, Animal Farm hadir sebagai sikap politik yang tegas. Dalam novel tersebut, secara tidak langsung, Orwell mencoba memperlihatkan kondisi atau proses berjalannya sebuah relasi kekuasaan dalam sebuah negara. Peternakan menjadi simbol negara yang disusun dengan sistem serta kondisi sesuai dengan keinginan Tuan Jones.

Melalui esai “Why I Write” yang ditulis Orwell setahun setelah terbitnya Animal Farm, kita dapat melihat bagaimana Orwell menghadirkan novelnya dengan sebuah motif tertentu. Sebuah pandangan yang semestinya menjadi pelajaran bagi siapa saja yang hendak menyampaikan keresahan atau gagasan dalam karyanya. Kekuatan politik dalam karyanya itu tidak terlepas dari pengalaman Orwell dalam melihat dan bersentuhan langsung dengan kondisi yang ada. Politik bagi Orwell menjadi sesuatu yang tak dapat dilepaskan dalam kehidupan ini, bahkan tidak memilih politik sama sekali pun menjadi bagian dari politik itu sendiri.

Bagaimana pandangan sikap politik Orwell selama ini? Esai yang ditulis merupakan sebuah gagasan yang bertujuan untuk memperlihatkan sekaligus memperkenalkan gaya berpikir dari seorang Goerge Orwell yang teguh. Pada esai yang berjudul “Negara Saya Kiri atau Kanan” kita mendapatkan gambaran atas kondisi hidup Orwell yang berada pada dua situasi. Apakah Orwell seorang yang lebih memilih kiri atau kanan? Jawaban itu dapat Anda telaah dalam esai yang membiarkan Orwell melepaskan kenangan yang ada di kepalanya, sekaligus pandangan politiknya sendiri.

Membaca sejumlah esai Orwell pun membawa kita pada kehidupan sehari-hari yang dilalui dan direkam dalam beberapa catatan penting. Salah satu esainya yang berjudul “Just Junk” memperlihatkan bagaimana toko barang bekas menarik di London. Di dalam toko barang bekas itu terdapat berbagai barang yang dijelaskan seperti kotak tembakau yang terbuat dari bubur kertas, hiasan yang terbuat dari bola kaca dengan kertas warna-warni di dalamnya, sebentuk teko yang mengkilap dan benda-benda unik lainnya. Berbeda lagi dengan esai tentang buku yang berjudul “Books v. Cigarettes” Terlihat jelas bahwa Orwell merawat dan merekam sejumlah buku yang dia miliki. Terdapat catatan khusus hingga perkiraan terkait harga dan sumber dalam mendapatkan buku-bukunya. Perhitungan itu dilakukan lantaran Orwell tengah melihat perilaku merokok dan dihubungkan dengan kebiasaan membeli buku.

Selain itu, esai yang berjudul “Good Bad Books” juga memberikan gambaran Orwell tentang beberapa buku yang menurutnya buruk namun terbilang baik untuk dibaca dan mungkin akan bertahan lebih lama. Beberapa buku yang disebutkan yang akan bertahan lama ternyata mampu hadir di tengah kita dan melawan perkembangan waktu sesuai dugaan Orwell. Ada juga esai Orwell yang berbicara tentang makanan. Dalam esai yang berjudul “In Defence of English Cooking” pembaca akan bertemu dengan deretan makanan khas di Inggris yang menurut Orwell penting dan berbeda dengan negara lainnya. Pembelaan ini hadir lantaran anggapan makanan Inggris kurang menarik dan kalah dengan beberapa negara.

Orwell dan esai yang sempat dituliskan memberikan ruang kepada kita untuk memahami apa yang menjadi gagasan dari karya-karya besar yang dihasilkannya. Seperti halnya dengan novel 1984 yang kemudian kembali mencuat di tangan para pembaca saat salah seorang kepercayaan Donald Trump, Kellyanne Conway, menggunakan istilah  “fakta alternatif” saat acara bincang-bincang “Meet the Press”di stasiun televise NBC.

Frasa tersebut merupakan ungkapan yang ada di dalam buku George Orwell. Kata “Fakta alternatif” memiliki makna memanipulasi atau mempropagandakan. Salah satu kutipan yang terkenal dari novel 1984 adalah, “Perang adalah perdamaian. Kebebasan adalah perbudakan. Ketidaktahuan adalah kekuatan.”  Pada bagian ini, kita bisa melihat kembali sebuah kekuatan distopia yang Orwell tawarkan dalam memperlihatkan pandangan politiknya. Sebuah gagasan serta pandangan yang mungkin tak akan lekang oleh waktu.

Beberapa esai lain Orwell yang menarik tentu saja dapat kita temukan di “What is Science?” Sebuah pandangan berbeda tentang konsep pengetahuan dari Orwell. “You and the Atomic Bomb” juga menjadi salah satu pandangan politiknya dalam menyikapi kehadiran bom atom dan kepemilikan beberapa negara serta ancaman yang mungkin tidak kita sadari. Ada juga “Reflection on Gandhi” yang dari sudut pandang Orwell mencoba merekam sosok Gandhi dengan konsep anti kekerasan yang dimilikinya sebagai alat politik.

Berangkat dari sejumlah esai yang pernah Orwell tuliskan, kita bisa belajar tentang perenungan serta pemikiran mendalam atas sebuah peristiwa yang ada. Seperti yang pernah disampaikan Michel de Montaigne, seorang filsuf yang membawa esai sebagai genre sastra, dalam bukunya yang berjudul Of the Vanity of Words menjelaskan bahwa esai merupakan cerminan, sebentuk meditasi, serta percobaan dalam menjelaskan gagasan yang diekspresikan secara licin dengan Bahasa yang “lentur”. Esai yang baik tentu lahir dari proses berpikir serta niat yang kuat dalam memandang sesuatu. Bersama esai Orwell, kita memasuki dunia yang di dalamnya sebentuk suara yang khas dari sejumlah percobaan yang cenderung berhasil ketimbang gagal.

Wawan Kurn

Wawan Kurn

Sering menggunakan nama Wawan Kurn, lahir di Pinrang, namun kini menetap di Makassar, Sulawesi Selatan. Karya-karyanya di antaranya pernah dimuat Koran Tempo Makassar, Harian Fajar Makassar, Cakrawala Makassar, Tribun Timur Makassar, Republika, Serambi Indonesia.
Wawan Kurn

Latest posts by Wawan Kurn (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.